Tuesday, December 30, 2014

Kelenturan Penerjemahan ke Bahasa Tetun


"Menerjemahkan ke bahasa Tetun itu ibarat menari balet. Perlu kelenturan yang tinggi. Kalau kaku dan salah langkah, bisa terlempar dari arena."

(Yohanes Manhitu, Yogyakarta, 23 September 2014)

Lu ana kici ju mau ajar beta

Sumber foto: Klik di sini.

"Lu ni ana kici satu baru lahir kemarin ju mau ajar beta yang su idop lama." (Kau ini anak kecil yang baru lahir kemarin kok mau mengajari saya yang sudah lama hidup.)

Tanpa disadari, baik kalimat dalam bahasa Melayu Kupang maupun terjemahannya dalam bahasa Indonesia, ini mematikan daya pikir atau membunuh karakter anak sejak kecil. Orang dewasa cenderung mengklaim bahwa dia paling tahu walaupun dalam ketidaktahuannya tentang banyak hal.

(Yohanes Manhitu, Yogyakarta, 18 November 2014)

Tinan nia rohan to'o odamatan

 
Tinan nia rohan to'o odamatan.
Tempu semo, no semo liután.
Ita buka no hein atu hetan,
dala ruma hanesan atan.

(Yogyakarta, 29/12/2014)

Penyair Sitor Situmorang Telah Menghadap Sang Pujangga Maha Agung

 

Penyair Indonesia Sitor Situmorang (91 tahun) telah menghadap Sang Pujangga Maha Agung pada hari Minggu, 21 Desember 2014, di Negeri Kincir Angin (Belanda). Selamat jalan penyair pengembara! Kiranya arwah sang penyair angkatan '45 kelahiran Harianboho, Sumatra Utara, ini memperoleh istirahat dan kedamaian di alam puitis firdaus.

Saya teringat kepada puisi indah Sitor Situmorang berjudul "Angin Sepoi di Pagi Tahun Baru" (1998) yang saya terjemahkan ke bahasa Esperanto pada tanggal 31 Agustus 2007 di Yogyakarta dengan judul "Malpeza Brizo je la Novjara Mateno" (http://ymanhitu.blogspot.com/2009/11/malpeza-brizo-je-la-novjara-mateno.html). Sang penyair pergi sebelum bersentuhan dengan angin sepoi di pagi tahun baru 2015. Terjemahan ini menjadi kenangan. Salam sastra,

Diskusi Buku Puisi "Catatan Sunyi" Karya Monika N. Arundhati, Yogyakarta, 28 November 2014


Foto bersama setelah acara bedah buku puisi "Catatan Sunyi" karya perdana Monika N. Arundhati (ke-8 dari kiri), penyair perempuan asal Lembata, NTT, di kampus Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Jumat, 28 November 2014. Karya perdana Oa Monika tersebut dibedah dengan apik oleh Bung Chris Woodrich (ke-9 dari kiri) dari Kanada dan Bung Maxianus Nitsae (ke-5 dari kiri) dari Indonesia. Syukur, nama beberapa sosok dalam barisan ini "terjaring" sebagai pegiat sastra NTT di dalam buku "Mengenal Sastra dan Sastrawan NTT" karya Yohanes Sehandi, pengamat sastra NTT (Penerbit Universitas Sanata Dharma, 2012). Jadi, berdiri di dalam barisan ini juga merupakan bagian dari tanggung jawab atas sastra NTT...hahahaha. Salam sastra,

Anggun C. Sasmi Kembali ke Vatikan


Ternyata penyanyi kenamaan asal Indonesia berkewarganegaraan Prancis Anggun C. Sasmi kembali ke Vatikan untuk tampil di "Concerto di Natale" (Konser Natal) 2014 atas undangan Sri Paus Fransiskus. Dilaporkan bahwa ini adalah kali kelima ia tampil hadir di "Città del Vaticano" (Kota Vatikan) sehingga ia mendapat julukan "penyanyi kesayangan Vatikan". Ini adalah foto Anggun pada konser "La Fête de l'Espoir" di Jenewa, Swiss, 26 Mei 2005. (Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Anggun_C._Sasmi)

Thursday, November 20, 2014

Keindahan Berdasarkan Karya Terjemahan


Ketika seseorang mengatakan bahwa puisi-puisi Khalil Gibran itu sangat indah setelah ia membaca terjemahannya dalam bahasa Indonesia, maka penilaiannya semata-mata berdasarkan terjemahan ke bahasa Indonesia. Sebagai pembaca, terkadang kita tidak tahu karya itu diterjemahkan dari bahasa asli atau dari terjemahan lain. Tak perlu berprasangka buruk tentang kualitas terjemahannya. Kita apresiasi saja secara kritis. Seorang penerjemah yang sanggup dan berhasil membaca versi asli sebuah karya (dalam bahasa yang digunakan si penulis untuk menghasilkan karya tersebut) akan lebih terbantu. Cara lain yang tidak kalah baiknya adalah membandingkan terjemahan yang sudah dihasilkan itu dengan beberapa versi dalam bahasa-bahasa lain--bukan terjemahan orang lain dalam bahasa Indonesia--yang telah dibuat penerjemah lain langsung dari bahasa asli karya tersebut. (Yohanes Manhitu, Yogyakarta, 20 November 2014)

Monday, November 17, 2014

Di Balik Nama Polano Safarie Nagari, M.A., M.Pd.


Tersebutlah Polan, seorang perantau di luar negeri. Setelah sekian lama tinggal di sana, ia pun kembali ke tanah air. Dahulu, ketika berangkat, namanya Polan Safari dan cuma tamat SMP. Tetapi begitu kembali dari luar negeri, namanya cukup berubah dan ada embel-embel di belakang namanya itu, sehingga terbaca: Polano Safarie Nagari, M.A., M.Pd. 

Yang menjadi isu bin gosip di seantero desa dan bahkan hingga desa tetangga adalah ketika berada di luar negeri, si Polan melanjutkan sekolah hingga perguruan tinggi dan berhasil menyandang dua gelar magister sekaligus. Sungguh membanggakan! Warga dan aparat desa semakin penasaran tentang hal ini, apalagi setelah si Polan menuliskan namanya secara lengkap pada papan nama yang ditempelkan di bagian atas pintu rumah besar peninggalan orang tuanya. Hal ini cukup membingungkan petugas sensus kependudukan. Nah, pada suatu pertemuan bulanan di desa, kepala desa, atas nama warga desa, menanyakan hal itu secara langsung kepada si Polan. Setelah berbasa-basi, ia pun menjelaskan dengan santai bahwa ketika merantau di mancanegara, ia pernah ikut wajib militer dan juga bakti mengajar di sebuah daerah pelosok negeri itu. Karena telah berhenti, dia menganggap dirinya pensiunan. Dan untuk mengenang semua pengalaman berharga itu, status mantan peserta wamil disingkatnya menjadi M.A. (Mantan Angkatan [Perang]) dan status mantan pengajar sukarela disingkatnya menjadi M.Pd. (Mantan Pendidik). Lalu ada seorang sesepuh yang bertanya tentang perubahan namanya itu (dari Polan Safari ke Polano Safarie Nagari), ia menjawab secara singkat juga bahwa nama barunya itu menujukkan jiwa petualang tinggi serta lebih layak jual di era persaingan global ini. 

Akhirnya, misteri nama Polano Safarie Nagari, M.A., M.Pd. terjawab sudah.

Catatan: Kisah ini semata-mata karangan Yohanes Manhitu di Yogyakarta pada tanggal 13 November 2014...hahaha

Lembut bagaikan kelopak bunga


Dalam (bahasa) sastra, dari yang tua sekalipun, manusia melambangkan tubuhnya dengan meminjam isi alam sekitarnya. Pohon, bunga, bukit, ngarai, lembah, mayang, dan lain-lain digunakan untuk melambangkan berbagai sisi tubuh insani, terutama tubuh wanita. Di samping supaya menjadi indah secara sastrawi, tentu agar mudah dipahami, karena referensinya jelas. Walaupun ini bukan isu baru, tidak dapat disangkal bahwa ungkapan-ungkapan ini masih menjadi magnet. Terkadang rasanya lucu, karena walaupun belum pernah merasakan manisnya kelopak bunga (awas bunga yang beracun!), kepada wanita, seorang pria mungkin tidak ragu mengatakan atau menulis dalam sajaknya, "Bibirmu terasa lembut bagaikan kelopak bunga." (Yohanes Manhitu, 13 November 2014)

Jembatan komunikasi antargenerasi


Sedikit bicara tentang "bahasa arwah". Jangan merasa ngeri ya...hahaha. Sekalipun roh-roh di alam baka mungkin bisa berbahasa apa saja (mungkin semuanya hiperpoliglot), sampai saat ini, saya tetap merasa lebih nyaman menggunakan bahasa leluhur saya, bahasa Dawan (Uab Metô), ketika berdoa di makam. Dengan bahasa itulah saya bercakap-cakap dengan kakek-nenek ketika mereka masih hadir secara fisik. Bahasa daerah adalah jembatan komunikasi antargenerasi dahulu dan sekarang, dan semoga masih bisa menjadi penghubung pikiran dengan generasi yang akan datang. (Yohanes Manhitu, Yogyakarta, 13 November 2014)

Kaya akan kemiskinan


Ada orang yang kelihatan sangat miskin, tetapi sebenarnya kaya: kaya akan kemiskinan. Apakah kemiskinan harus disikapi sebagai kekayaan? Saya belum tahu dan tidak berharap saya miskin--cukup sampai taraf bersahaja. Apakah ini tidak lebih baik daripada kelihatan kaya raya, tetapi sebenarnya amat miskin, karena seluruh kekayaannya dari korupsi? Maaf, saya tidak sedang menghakimi, cuma berpikir tentang isu kaya-miskin. Yang pasti, orang-orang yang kaya secara jujur itu diberkati Sang Mahakaya. (Yohanes Manhitu, Yogyakarta, 13 November 2014)

Mau sampai kapan?


Sebuah pekerjaan walaupun tampak enteng, kalau tidak dikerjakan dengan tekun, teliti, dan penuh kesabaran, tidak akan pernah selesai, apalagi dengan hasil yang bagus. Terkadang orang menjadi eskapis dengan mencari-cari urusan yang mudah untuk menghindari pekerjaan yang terasa berat itu. Tetapi sekalipun berusaha menghindar, mau sampai kapan? Pekerjaan itu tetap setia menanti kok. Dan hanya pribadi itu saja yang bisa merampungkannya. (Yohanes Manhitu, 13 November 2014)

Jari dong tendes lancar ma inga ko jaga badan


Baca ais di internet ni, beta rasa ke bulu badan badiri é. Sakarang ni kalo katóng pake Facebook sonde hati-hati te, sonde lama lai katóng pi sese diri di bui ko nasib son jadi doi. Yang pasti, katóng sonde bisa kasi sala ini barang. Di mana-mana sa, alat teknologi sonde sala--katóng manusia sa yang sonde jaga jari dong yang tendes kasi masok ini kata dong. Andia, kalo mau tulis, na pikir bae-bae dolu. Nanti repot kalo sonde kontrol emosi ko taro-taro sa. Ini yang orang biasa bilang, "Jari dong tendes lancar ma inga ko jaga badan." (Yohanes Manhitu, Yogyakarta, 3 November 2014)

Wednesday, November 12, 2014

AU PARADIS DES RICHES

Source: http://id.wikipedia.org/wiki/Amanjiwo_Borobudur_Resort

Par Yohanes Manhitu

Je ne savais pas quoi dire, ma bouche ne savait pas nombrer…..…
(Pablo Neruda, La poesía)
 

C’était presque après-midi lorsque notre l’autobus s’est arreté près d’un grand bâtiment rond, blanc et très beau. Ce bâtiment se trouve dans une grande jungle, presque encerclé par des collines vertes, comme des forts naturels protégant un vieux château. C’est un lieu de villégiature qui s’appelle Amanjiwo. Ce nom signifie l’âme en sécurité, pleine de tranquillité et de bonheur.

À vrai dire, j’y suis arrivé par hasard, je n’avais pas de plan pour y aller. C’est mon amie, Nusya, qui m’a invité. Par chance elle y accompagnait des touristes japonais, des femmes pour la plupart. Moi, j’étais là pour accompagner un professeur japonais de l’Univesité de Ryukoku, à Tokyo, Monsieur Siga Renzo, qui était le seul homme et le seul tourtiste qui parlait très bien l’anglais ainsi que le français pendant notre visite du Temple Borobudur et de Amanjiwo.

À propos, lorsque nous sommes descendus de l’autobus,  nous sommes allés à pied pendant 50 mètres environ, suivant une allé bordée de fleurs sur ses côtes pour arriver au bâtiment. Là-bas, exactement devant le bâtiment, nous sommes entrés en passant par un grand couloir. Les marches et les murs étaient blancs et gardés par certains réceptionnistes s’habillant en blanc. Ils nous ont acceilli en souriant. Tout à coup, j’ai entendu Monsieur Renzo a salué les réceptionnistes en italien.

«Buon giorno! Come sta?», dit-il.
«Buon giorno, Signore! Molto bene. Grazie!», dit un des réceptionnistes.
«Prego! Arrivederci!», répondit le professeur.

J’ai pensé que Monsieur Renzo était vraiment polyglotte. Il aime bien parler en mélangant des langues. Parfois, il parlait l’anglais en utilisant certains mots français, italiens, et parfois les autres. C’était amusant de lui parler.

Lorsque nous sommes entrés dans le grand restaurant de luxe, nous avons été  acceillis par six petites filles javanaises très jolies. Elles étaient en habit  traditionnel et se sont mise à genoux sur les deux côtes du couloir en nous lancant des fleurs avec de grands sourires, comme si nous étions d’une famille royale. À ce moment-là, j’ai pensé que j’était la seule personne sans un sou, mais c’était un bonheur imprévu et gratuit.

Tout le monde s’est assis autour d’une table luxueuse que je n’avais jamais vu avant, en regardant le panorama très pittoresque – le mur en marbre précieux, les sculptures magnifiques, et dehors, la nature avec sa beauté inoubliable. Nous nous sommes bien amusés. Le vent sufflait doucement et faisait bouger les roses rouges et blanches qui étaient fleuries. J’ai vu de jolies serveuses courtoises qui servaient les clients avec grand sourire.

Quand une d’entre elles est passée à côté de moi, j’ai bien utilisé le moment pour lui demander:

«Excusez-moi, Mademoiselle. Est-ce que je peux vous demander quelque chose?».
«Oui, Monsieur. S’il vous plaît», dit-elle.
«Est-ce que vous travaillez ici depuis longtemps?», demande-je.
«Oui, Monsieur. Je travaille ici depuis trois ans», répondit-elle.
«Merci. Vous avec de la chance de travailler dans ce bâtiment de luxe», félicite-je.
«Merci. J’aime bien travailler ici. Au revoir!», dit-elle en me laissant.
«Au revoir», dis-je en espérant qu’elle reviendrait.

De ce restaurant on peut voir le Temple Borobudur de loin. Il ressemble à un petit temple noir plastic qu’on peut trouver à Malioboro. Pour le voir clairement, certaines personnes ont utilisé les jumelles.

Tout de suite, un beau jeune serveur est arrivé à notre table et nous a demandé ce que nous voulions. Malheureusement, il ne parlait pas bien l’anglais. Par conséquent, Monsieur Renzo n’a pas bien compris. Alors, je les ai aidé à comprendre en traduisant l’indonésien en anglais, et vice versa. On a mis quelques minutes pour faire la réservation, parce que Monsieur Renzo a dû traduire tout ce que le serveur a dit en japonais pour les femmes japonaises. C’est-à-dire, on parlait l’indonésien, l’anglais, et le japonais.

À cause de cette difficulté, j’ai pensé à une langue mondiale que tout le monde comprend. Comme cela, il n’aurait plus de difficulté. J’espère que l’indonésien sera langue mondiale. Si c’est possible, je n’aurai plus besoin d’apprendre d’autres langues.

Je pense que c’est le plat du jour  que nous avions réservé. Nous avons mangé en bavardant et en discutant des choses. Le professeur japonais m’a reconté beaucoup de choses en rapport avec la culture japonaise, par exemple la vie éducative. Il y a eu une femme japonaise qui a essayé de parler l’indonésien avec moi. Mais, tout de suite, nous avons dû demander l’aide de Monsieur Renzo, parce que nous ne nous sommes plus compris. Elle ne parlait que le japonais.

Lorsque nous avons presque terminé de manger, mon amie, Nusya, est arrivée. J’étais sûr qu’elle était occupée finir toute les affaires en rapport avec l’excursion. Elle s’est assise et a bu quelque chose. J’ai oublié ce qu’elle a pris à ce moment-là, peut-être un jus d’orange.

Nous avons pris queques photos de nous-mêmes et aussi du panorama autour du bâtiment. C’est un serveur qui nous a aidé de prendre les photos. Après cela,
les femmes ont visité une boutique de luxe très chère dans le bâtiment. Je suis resté avec le professeur, en nous promenant devant le bâtiment où j’ai vu cinq vélo tout-terrains qui étaient gardés par un homme.

«Excusez-moi, Monsieur! Est-ce que ces vélos sont pour louer aux visiteurs?», demande-je.
«Non, Monsieur. Ce sont pour les visiteurs qui veulent faire du vélo. C’est gratuit», reponde-t-il.
«Vous pouvez essayer, si vous voulez», dit-il.
«Non, merci beaucoup. Je n’ai pas le temps», dis-je.

Lorsque les femmes sont revenues, j’ai vu qu’elles avaient acheté beaucoup de vêtements malgré le prix trés élevé. Pour moi, c’était presque incroyable et impossible d’acheter les vêtements comme cela dans une boutique aussi couteuse.

Cet après-midi-là, à deux heures environ, nous sommes sortis du «paradis des riches» en espérant que nous aurions le visité de nouveau un jour ou l’autre. Ca dépend du temps, mais, en realité, ca dépend plutôt  de l’argent.

Comme j’ai dit, ce n’est pas un endroit pour tout le monde, mais uniquement pour cuexqui sont riches. Dans l’autobus en route pour Yogya, mon amie m’a dit, en me donnant un reçu, que pour le repas chacun aurait dû payer 400 mil roupies. C’était vraiment incroyable pour moi, mais vrai. Il y a eu un femme japonaise qui avait payé le repas. J’ai eu de la chance d’avoir visité cet entroit avec les gentils riches.

Yogyakarta, le 4 avril 2002

Monday, October 27, 2014

"Klera Edzino", versi Esperanto novel karya Upendronath Gangopaddhae

 

"Klera Edzino", versi Esperanto novel karya Upendronath Gangopaddhae, pengarang India, yang diterjemahkan dari bahasa Bengali oleh linguis dan Esperantis kawakan asal India Probal Dasgupta ini sangat menarik. Kisahnya seputar posisi perempuan dalam masyarakat India dan kaitannya dengan pengaruh bahasa Inggris dalam masyarakat bekas koloni Inggris tersebut. Buku ini saya dapatkan secara gratis dari sebuah lembaga Esperantis mancanegara pada beberapa tahun silam. Havu bonan tagon!

Selamat bekerja ya, Kabinet Kerja! Semoga sukses.


Setelah penetapan dan pengumuman Kabinet Kerja Presiden Jokowi, banyak pengamat mulai angkat bicara, bahkan sangat lantang, seputar kabinet baru tersebut. Ada yang bernada positif, ada pula yang sebaliknya. Bagi saya, itu sah-sah saja. Namanya saja pengamat atau observator. Tugasnya sudah jelas: mengamati dan menyampaikan hasil pengamatannya kepada publik. Jadi, bila ada yang 10 orang mengamati hal yang sama sekalipun, sangat mungkin kita akan mendapat 10 versi pendapat yang boleh jadi saling bertolak belakang sama sekali. Itu setali tiga uang dengan memberikan sebuah puisi berbahasa asing kepada 10 orang penerjemah untuk menerjemahkannya ke bahasa Indonesia. Kita bakal mendapat 10 terjemahan yang berbeda. Itu wajar saja, 'kan? Selamat bekerja ya, Kabinet Kerja! Semoga sukses.

(Yohanes Manhitu, Yogyakarta, 27 Oktober 2014; dikutip dari status Facebook saya

"Omnia tempus habent" bagi yang terus berproses

Gambar: http://www.writebynight.net

Ada orang yang putus asa dan berhenti total menulis puisi karena setelah sekian lama, tak satu pun puisi karyanya berhasil diterbitkan di media massa, terutama koran. Melihat kenyataan ini, saya hanya bisa bertanya dalam hati, "Sebenarnya dia menulis puisi untuk apa? Menulis karena dia suka (menulis) puisi atau menulis sekadar untuk menerbitkannya?" Ini sama juga dengan orang yang putus asa menekuni sastra karena setelah sekian lama bersastra, ia tidak pernah diberi penghargaan. Mengharapkan perhargaan itu wajar dan manusiawi. Tetapi apabila belum layak untuk menerima penghargaan, harap sadar dan tidak usah paksa diri. Nanti malah terasa lucu dan menggelikan. Berpuisi, yang merupakan salah satu cara bersastra, adalah suatu modus untuk memahami dan melukiskan kehidupan. Mari terus berproses kreatif. "Omnia tempus habent" dan semuanya bakal ditambahkan seiring dengan waktu ke perbendaharaan orang-orang yang terus membuka ruang kreasi.

(Yohanes Manhitu, Yogyakarta, 26 Oktober 2014; dikutip dari status Facebook saya)

Wednesday, October 22, 2014

Tak Kemana-Mana (Iri Nenie): Esperanto-Indonesia, Puisi Monika N. Arundhati

Bildo: https://www.caminodesantiago.me

Iri Nenie

De: Monika N. Arundhati*

Post tiu prezento, vi malaperis. 
Aŭ eble estis mi, kiu forlasis vin. 
Dum longa tempo vi ne min memoris.
Aŭ eble estis mi, kiu forgesis vin.
Timante sur la vojo nun sendirekta, 

subite mi sopiras al vi. 
Mi serĉas vian adreson, kiun vi donis al mi 
kiam ni renkontiĝis por la unua fojo. 
Mi plurfoje vokas vin, "Karulo! Karulo!"

"Kie vi iris dum
ĉi tuta tempo? Mi ankoraŭ estas ĉi tie atendante. 
Vi tre mankas al mi," subite vi flustras dum vi ĉirkaŭprenegas 
kaj kisas min de malantaŭe.
Mi estas surprizita kaj embarasita.
"Dank' al Dio, vi ankoraŭ gardas mian nomkarton," 

mi diras tion en viaj brakoj post kiam 
vi intime kisas mian frunton.

Enesperantigis Yohanes Manhitu
Jogjakarto, Indonezio, 22/10/2014
 ---------------------------------------

Tak Kemana-Mana

Karya: Monika N. Arundhati

Setelah perkenalan itu, kau menghilang.
Atau mungkin aku yang meninggalkanmu. 
Sekian waktu engkau tak mengingatku.
Atau barangkali aku yang lupa padamu.
Sebab aku takut di jalanan tiada arah kini, 
tiba-tiba aku kangen padamu.
Kucari alamatmu yang kauberi ketika pertama bertemu. 
Aku memanggilmu berulang;
Kekasih! Kekasih!

“Kemana saja kau selama ini? Aku masih di sini. Menunggu. 
Aku  sangat  merindukanmu.” Bisikmu tiba-tiba seraya mendekap dan menciumku dari belakang. Aku terkejut, tersipu malu.
“Terima kasih Tuhan, Kau masih menyimpan kartu namaku,” 
kataku dalam pelukmu sehabis kaukecup keningku mesra.

Saat Teduh, 09 September 2010 
-----------------------------
*) Monika N. Arundhati estas indonezia poetino, kiu naskiĝis la 27-an de aŭgusto de 1990 en Lembata, najbara insuleto de Flores, Indonezio. Ŝi finis siajn studadojn ĉe la Departamento de Indonezia Literaturo de la Universitato Sanata Dharma Yogyakarta. La originala versio de ĉi tiu poemo aperis en Isis dan Musim-Musim (Isis kaj Sezonoj, 2014), la unua poemaro de la poetinoj el la orienta parto de Indonezio, kaj Catatan Sunyi (Silenta Noto, 2014), ŝia unua poemaro, kiu aperos baldaŭ. 

Monday, October 13, 2014

Istória-badak 02: Laran Haktuir iha Aeroportu

Hosi: Yohanes Manhitu*

E é tão lento o teu soar,
tão como triste da vida,
que já a primeira pancada
tem o som de repetida.
 

(Fernando Pessoa, “Ó sino da minha aldeia”) 

AVIAUN nia roda sira foin kona rai asfaltu, bobar iha kampu luan ne’e, depois hakmatek iha fatin ida, la dook hosi uma naruk ne’ebá. Ha’u tun hosi aviaun no la’o neineik de’it iha ema sira-nia kotuk. To’o tiha uma naruk ne’e, ha’u bá foti mala-viajen iha bagajen-fatin, i depois sai hosi fatin ida-ne’e. La kleur, ha’u telefona ba ha’u-nia alin-feto atu ninia la’en mai hosoru ha’u iha aeroportu. Telefona tiha, ha’u hamriik iha ema sira-nia leet, besik loja-oan ida hodi hein ha’u-nia kuñadu mai hasoru ha’u ho motór. Iha li’ur, udan tau boot lahalimar no fase moos jardín aeroportu nian. I ha’u sente hanesan rai simu ha’u ho liman bokon. Tinan hirak ona ha’u la sama rai morin ida-ne’e. Maski moris nu’udar lemo-rai iha tasi-balun, rai-Timór nia naran no morin hetan fatin iha ha’u-nia laran. Du’ut iha uma aeroportu nia matan dulas no sai moos tanba udan-been ne’ebé rega hanesan lalehan hirus tebetebes ona. Iha rai alfatu luan iha li’ur ne’ebá, aviaun sei hein hela ema sira atu sa’e. Aviaun-na’in sira tun mai hosoru pasajeiru sira ho sombrelu no oin-midar.
Kuandu ha’u hamriik hela iha uma naruk nia varanda luan, feto-oan ida mai besik ha’u. Ha’u fiar katak nia feto Timór. Ho oin-midar ha’u koko husu nia.
“Deskulpa, Ita-Boot foin mai hosi rai-Java ka?”
“Lae, ha’u foin mai hosi rain viziñu iha tasi-balun i atu bá fronteira.”
“Entaun, Ita-Boot serbisu iha-ne’ebá?” “Iha Malázia ka?”
“Siñ, ha’u serbisu iha-ne’ebá, maibé foin fulan rua de’it. Ha’u fila fali mai tanba la tahan ona, Maun,” nia haktuir uitoan. I ha’u mós la hatene loos nia la tahan saida.
“Dala ruma ita presiza tempu naruk uitoan atubele adapta an ba moris foun iha rain seluk,” ha’u ko’alia sasi’ik de’it, la hatene ne’e loos ka lae.
“Adapta an ne’e la susar ida ba ha’u, Maun. Buat be todan maka oinsá tahan susar ne’ebé kona ita beibeik hanesan udan be agora rega rai-klaran i lakohi para,” nia responde. “Ha’u ho kolega balu be serbisu iha rai-sorin moris ho opresaun boot. Ami hanesan atan de’it i kuaze nunka iha ema ruma be hakarak defende ami,” nia hatutan ho lian todan.
“Ha’u dala barak haree iha televizaun, lee iha jornál, no mós rona iha rádiu. Foin daudauk, ema rega feto ida ho bee manas. Buat ne’e halo ha’u mós laran-susar.”
“Obrigada, Maun. Lia-foun iha meiu komunikasaun sira-ne’e dala ruma loos, maibé dala ruma lae. Dala barak, sira la informa realidade ne’ebé feto wa’in hasoru hela iha li’ur ne’ebá, dook hosi sira-nia família rasik. Susar be ami sofre ne’e todan demais. I nu’udar ema-kriatura, ami-nia pasiénsia mós iha ninia baliza.”
“Entaun, lia-loos ne’e oinsá?” ha’u koko buka-hetene. Entretantu, ema balu be ohin hamriik dook uitoan hosi ami, mai hakbesik atu rona kedas hosi sasin loos.
“Primeiru, ema sira bá buka no ko’alia buat midar ba ami iha kanua ho promesa oioin. Sira dehan katak ami sei hetan serbisu di’ak no saláriu boot. Liután, sira promete katak ami sei hetan hela-fatin di’ak no hakmatek, no mós seguru serbisu nian. Tuir sira-nia promesa, feriadu mós sei iha ba serbisu-na’in sira. Tanba presiza serbisu kapás hodi hadi’ak moris família nian, ami simu de’it oferta ne’e. Ema balu, tanba fiar loos ema sira-ne’e, obriga sira-nia oan-feto atu simu de’it biban di’ak ne’e.”
Feto ne’e para uitoan i depois hatutan istória, be la hatene atu to’o ne’ebé loos.
“Maibé promesa midar be sira halo ne’e lahó prova iha loron ikus. Sira haruka tiha ami bá ne’ebá. Ami to’o ho to’o, ajénsia serbisu husu ami-nia dokumentu pesoál sira, katak ne’e importante atubele trata buat administrativu ho governu lokál. Tuir loloos, ne’e dalan ida be sira uza beibeik atubele hanehan ami, feto uma-laran. Entaun, ami kbiit-laek ona, i sira, iha kontráriu, soi fali podér boot atu kontrola ami,” nia haktuir ho oin susar tebes.
“Ha’u mós rona katak dala ruma uma-na’in sira bele baku feto uma-laran sira,” señora ida be hamriik iha ha’u-nia kotuk ko’alia ba feto ida-ne’e ho lian sériu.
“Ne’e loos. Dala barak, uma-na’in sira baku ami arbiru de’it, maski ami la sala ida. Dala ida, señora uma-na’in baku ha’u to’o desmaia tanba nia fiar katak ha’u mak na’ok ninia korrente hosi murak-fatin. Tuir loloos, ninia oan-mane maka foti no fa’an hodi konvida ninia kolega sira atu han iha restaurante. Maibé nia la hasala ninia oan rasik.”
Feto ida-ne’e mós haktuir katak dala ida señora uma-na’in la fó nia han tanba nia haluha estrika roupa balu. Tuir ninia istória, dala barak, uma-na’in sira hatais roupa dala ida de’it i lailais haruka serbisu-na’in uma-laran sira atu fase no estrika roupa. Depois, nia hateten katak dala ida ninia maluk-feto ida tanis i koko haksoit hosi andár dahitu tanba señór uma-na’in forsa nia atu “serve” bainhira ninia feen bá supermerkadu. Feto barak ema forsa sira sai feto-aat iha tasi-balun ne’ebá. Ne’e la’ós segredu ona. Dala barak ona televizaun no jornál sira fó informasaun oioin kona-ba problema ida-ne’e.
“Dezafiu mai la’ós hosi tasi-balun de’it. Dala ruma, ami-nia família rasik mós fó ami todan, tanba sira moris di’ak ona kuandu ami serbisu iha tasi-balun hodi haruka osan mai. Ne’e hanesan ami fó-mimu ba sira, i sira lakohi no ta’uk fila fali ba moris susar.”
Nia mós dehan katak nia ta’uk fila fali ba uma, tanba ajénsia be uluk haruka nia no ninia maun sira ameasa atu kastigu nia se nia lakohi fila ba tasi-balun. Entaun, nia la sente hakmatek ida maski nia to’o ona iha ninia rain rasik–ninia moris-fatin. Atu fó-hatene makaer seguransa mós nia la barani ida. Koitadu! Se ita la bele hetan moris-dame iha ita-nia rain rasik, entaun ita atu buka iha ne’ebé loos? Nu’usá maka dala barak ema-kriatura sai lobu ba ninia maluk rasik? Karik du’ut fuik bokon sira maka bele hatán ha’u.
Ha’u hamriik hakmatek de’it rona feto-oan ida be loke no fahe ninia susar ba ema seluk. Ha’u la bele imajina se ha’u maka iha ninia fatin. Rona istória ne’e, ha’u-nia neon to’o ba feto-oan sira hosi kanua balu be foin daudauk ha’u rona halo tiha festa boot ho inan-aman no kanua-na’in sira molok atu bá serbisu iha tasi-balun. Ha’u husu an se sira mós sei hasoru moris hanesan ne’e i la kleur fila fali mai. Ema la bele naran entrega ninia oan-feto ba ema seluk be nia la fiar. Maibé ha’u hanoin katak problema sosiál, hanesan krize ekonomia nian, maka dala barak obriga ema atu simu oferta be depois hasusar.
Udan sei tau boot hela iha aeroportu, i la hatene bainhira maka nia sei para no husik ami hakat ba li’ur. Derrepente de’it, katuas ida mai i lolo sombrelu foun balu ho kór oioin ba ami. Ema balu sosa, maibé ha’u lae. Maski rona hela feto-oan ida-ne’e nia istória todan be halo laran-susar, ha’u la haluha atu tau matan ba dalan. Sé maka hatene ha’u-nia kuñadu mai ona i buka hela ha’u. La kleur, mane ida besik mai i husu ha’u-nia naran.
“Deskulpa, Ita-Boot Maun José, loos ka lae?”
Ha’u fihir nia didi’ak i depois hatán ho lian moos.
“Loos duni, ha’u José.” “Ita-Boot, Pedro ka?”
“Tebes, Maun, ha’u Pedro, Maria nia la’en.”
“Inaferik! Ita nunka hasoru malu, entaun ha’u la koñese Ita. Deskulpa!”
“La buat ida, Maun. Agora ita bá ona; ha’u tau motór iha sorin ne’ebá.”
Molok atu la’o hela aeroportu Kota Karang nian iha loraik triste ne’e, ha’u la haluha atu dehan adeus ba feto-oan lutadora ba justisa ne’e, no mós ba ema lubun be ha’u hasoru tiha ona iha-ne’ebá.
  

* ) Yohanes Manhitu ne’e hakerek-na’in no tradutór ne’ebé hadomi lian no literatura. Nia maka hakerek Kamus Indonesia-Tetun, Tetun-Indonesia (PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, Jullu 2007) no livru sira seluk; hela iha Yogyakarta, Indonézia

"Laran Haktuir iha Aeroportu" -- Ha'u-nia istória-badak (kontu) daruak ne'ebé mosu tiha iha "Jornál Semanál Matadalan", Dili, Timor-Leste, Edisaun 62, 08-14 Outubru 2014


Friday, October 3, 2014

Pulau Samosir: Surga Pewaris Tano Batak Yang Butuh Perhatian

Sumber foto: http://pad16.com/blog/indo/toba/ferry2.jpg

Oleh: YOHANES MANHITU*

Pulau Samosir yang terletak di tengah Danau Toba, Provinsi Sumatera Utara, merupakan daerah pariwisata yang mempesonakan dan telah terkenal, baik secara nasional maupun internasional. Hal ini terbukti dengan berdatangannya cukup banyak wisatawan domestik dan mancanegara, lebih-lebih pada saat musim panas, walaupun pada saat ini jumlah wisatawan asing tampak menurun secara drastis. Pulau yang merupakan asal-usul Suku Batak ini menyimpan segudang misteri dan daya tarik bagi setiap pengunjungnya. Banyak orang menjulukinya "surga dunia para pewaris Tano Batak". Pulau ini dengan danaunya akan selalu mengingatkan orang akan dongeng petani miskin dengan istrinya yang menjelma dari seekor ikan ajaib serta anak mereka yang kurang patuh pada nasehat orang tua. Sekalipun ini hanya sebuah dongeng, ia telah begitu melekat dengan nama pulau dan danau ini.

Danau Toba yang mengelilingi Pulau Samosir menjadi daya tarik utama bagi pulau ini. Danau ini tampak seperti samudera air tawar yang tak bertepi, dan merupakan yang terluas dan terdalam di dunia dengan ketinggian 906 meter di atas permukaan laut, luas permukaan 1,265 km2, dengan panjang 90 km, dan kedalaman rata-rata sekitar 450 meter. Danau Toba telah sejak lama menjadi jalan lalu-lintas air bagi setiap orang yang datang dan pergi ke Pulau Samosir. Setiap jam ada kapal motor yang datang dan pergi dari Pulau Samosir. Tambahan pula, danau ini merupakan sumber air minum, tempat mencuci dan mandi bagi sebagian besar penghuni Pulau Samosir, khususnya mereka yang tinggal di tepi danau.

Beberapa Kendala Pariwisata di Pulau Samosir 

Agar prospek pariwisata di Pulau Samosir dan Danau Toba menjadi lebih cerah di masa-masa yang akan datang, pemerintah pusat maupun daerah – dalam hal ini pemerintah Provinsi Sumatera Utara dan pemerintah kabupaten di pulau Samosir – perlu mempertimbangkan beberapa hal penting yang berhubungan dengan penyediaan fasilitas umum, yang telah lama menjadi kendala utama setiap wisatawan di Pulau Samosir. Hal-hal penting ini, menurut penulis, adalah sebagai berikut: 1) kwalitas jalan umum yang belum memadai. Ini terbukti dengan kondisi jalan jurusan Tomok-Pangururan yang masih memprihatinkan, dan rusaknya dua jembatan kayu pada jalur jalan Ambarita-Pangururan yang perlu segera ditangani; 2) instalasi listrik yang sering sekali macet. Ini justru sering sekali terjadi di kawasan Tuktuk, yang nota bene merupakan basis utama pariwisata Pulau Samosir; 3) hampir tidak tersedianya hubungan komunikasi – saluran telepon umum dan jaringan Internet. Ini merupakan kendala utama yang membuat para wisatawan tidak cukup betah. Ketika berada di pulau ini kurang dari dua bulan yang lalu, untuk menelepon, penulis harus berjalan kaki dari Tuktuk ke Tomok, yang memerlukan waktu 45 menit. Penulis terpaksa tidak menggunakan akses Internet sama sekali. Sekalipun ada, harganya sangat mahal (sekitar Rp. 25.000,- per jam) dan aksesnya terlalu lambat dan macet sekali; 4) kurangnya promosi budaya lewat kegiatan-kegiatan budaya diadakan secara reguler dengan menarik perhatian wisatawan domestik dan mancanegara. Kegiatan budaya seperti Pesta Rakyat Danau Toba perlu tetap dilestarikan; dan 5) adanya ketidakseragaman tarif penginapan. Terkadang ditemukan perbedaan tarif yang sangat menyolok antara dua penginapan dengan kelas yang sama. Menurut pendapat penulis, perlu dibentuk suatu asosiasi pemilik penginapan yang nantinya dapat berfungsi untuk mengatasi persoalan-persoalan seperti ini.

Salah satu faktor pendukung lain yang tidak kalah penting bagi pembenahan pariwisata di Danau Toba dan Pulau Samosir adalah masa berlakunya visa para wisatawan asing, yang terkesan begitu singkat. Ini tentunya merupakan hak sepenuhnya pemerintah karena pemerintahlah yang memiliki wewenang penuh untuk mengaturnya. Tetapi, seandainya saja para wisatawan asing diberi visa wisata yang masa berlakunya lebih lama dari dua bulan, maka mereka akan dapat tinggal lebih lama, tanpa harus sering-sering meninggalkan daerah pariwisata kita hanya untuk mengurus visa baru. Bukankah dengan tinggal lebih lama di Pulau Samosir uang mereka akan dibelanjakan di sana, dan dengan demikian pendapatan penduduk di pulau terpencil itu akan lebih memadai? Akhir-akhir ini jumlah wisatawan asing di "surga dunia para pewaris Tano Batak" ini menurun dengan drastis. Akibatnya, banyak pengusaha penginapan yang mengeluh. Banyak wisatawan asing yang berpendapat bahwa kebijakan visa wisata di Thailand yang lebih longgar membuat mereka nyaman. Apakah benar demikian?

Di samping beberapa hal penting di atas, ada beberapa hal lain yang, bila diupayakan, akan menambah pesona Danau Toba di mata para wisatawan. Misalnya, diadakannya lomba kapal motor hias pada setiap memperingati Hari Proklamasi Kemerdekaan RI, lomba menyanyi antar kelompok pemuda dan antar kelompok ibu rumah tangga, dan kegiatan budaya lainnya. Penulis cukup yakin bahwa lomba perahu hias akan membuat Danau Toba tampak lebih indah dengan kapal-kapal motor yang dihiasi aneka warna hiasan. Lomba menyanyi pun tidak akan kalah menarik dengan lomba kapal motor hias karena, pada dasarnya, orang-orang Batak memiliki suara yang merdu, apalagi bila yang dinyanyikan itu adalah lagu-lagu Batak. Sebagai akhir kata, penulis berharap agar pariwisata di Danau Toba dan Pulau Samosir semakin maju dengan diadakannya perubahan-perubahan positif yang menguntungkan, baik pihak wisatawan asing dan domestik maupun penduduk setempat. Ada satu harapan besar yang melekat di hati penulis: bila kita merasa bangga memiliki Bali dan Lombok di Kawasan Timur Indonesia, apakah tidak mungkin kita merasa bangga memiliki Danau Toba dengan Pulau Samosir di kawasan barat? Kita patut merasa bangga berdiam di Negara Indonesia yang amat kaya akan keindahan alam. 

Yogyakarta, Juni 2003
-----------------------
*) Yohanes Manhitu adalah penulis dan penerjemah, berdomisili di Yogyakarta.

Cinta Versus Pesona Intelektual


 

Oleh: YOHANES MANHITU*

MENCINTAI seseorang adalah suatu tindakan yang memanifestasikan rasa kasih sayang yang sangat manusiawi dan universal. Setiap insan ciptaan Tuhan memiliki hak, tidak hanya untuk mencintai tetapi juga untuk dicintai. Inilah salah satu wujud hak asasi manusia yang harus dihormati dan dipertimbangkan dengan nurani yang jujur. Semua orang yang menjunjung tinggi kejujuran dan ketulusan akan enggan berkata bahwa mencintai adalah suatu tindakan bodoh, dan bahwa cinta adalah suatu kebodohan.

Mencintai justru merupakan tindakan berahmat, dan cintai itu sendiri merupakan rahmat Ilahi yang patut disyukuri, dipelihara serta dipupuk agar tetap tumbuh dengan subur di petak-petak sanubari yang hijau dan segar, di kedua sisi aliran air sungai kehidupan yang tenang dan damai. Siapa yang ingin hidup tanpa cinta yang tulus di tengah dunia yang semakin dilanda krisis cinta yang tak bertepi? Bukankah banyak orang bersemadi dan menggunakan jasa paranormal atau dukun pelet untuk mengharapkan datangnya cinta yang tulus? Lalu mengapa takut mencinta?

Mencintai seseorang pasti ada pemicunya. Dengan kata lain, rasa cinta itu timbul karena ada faktor penyebabnya. Bukankah ada asap karena ada api? Dan faktor penyebabnya bisa berjumlah lebih dari satu. Salah satunya adalah kekaguman akan pesona intelektual seseorang. Hal ini sangat wajar, menurut pandangan penulis, karena pesona ini cukup menggoda bagi setiap insan.

Kekaguman akan pesona intelektual seseorang dapat menjadi pemicu rasa cinta yang ampuh. Tetapi bila mengagumi pesona intelektual seorang pribadi menjadi satu-satunya pemicu bagi suatu hubungan cinta, maka penulis yakin bahwa ada kemungkinan pada suatu saat bila si dia yang dikagumi kekurangan atau kehilangan pesona intelektualnya sama sekali karena alasan usia lanjut atau kecacatan tak diharapkan, maka si pengagumnya bisa meninggalkannya karena tak ada lagi pesona yang perlu dikagumi. Dan itu berarti cinta mereka pun akan terseret perginya kekaguman akan pesona yang dimiliki. Di mana ada pesona intelektual, di situ ada cinta.

Pada dasarnya, pesona intelektual, sama seperti ketampanan atau kecantikan (pesona rupa), adalah kelebihan yang dimiliki seseorang dan merupakan anugerah Sang Pencipta yang patut disyukuri. Berbeda dengan pesona rupa, pesona intelektual biasanya tidak langsung tampak secara fisik – ia (mungkin) tampak lebih jelas lewat tindakan verbal, dan komunikasilah jembatannya. Setiap orang akan dengan mudah mengatakan si A itu tampan atau si B itu cantik tanpa membutuhkan waktu yang lama. Dengan menatap atau meliriknya sesaat saja, pujian itu bisa meluncur dari mulutnya, bahkan mungkin tanpa disadari. Tetapi untuk mengatakan bahwa si C pandai, seseorang harus menunggu lebih lama untuk mengambil suatu kesimpulan. Orang tersebut harus melakukan kontak sosial dengan si C. Misalnya, dengan mengajaknya bercakap-cakap dua atau tiga kali sampai orang itu yakin bahwa si C patut disebut pandai atau memiliki pesona intelektual.

Bisakah kelebihan-kelebihan yang fana seperti ketampanan, kecantikan, dan kepandaian tidak dijadikan landasan cinta? Ada kekhawatiran bahwa bila kita melandaskan cinta pada kelebihan yang fana, maka cinta yang ditopangnya pun akan bersifat fana. Mungkin ada baiknya bila kita mencintai seseorang, kita mencintainya seutuhnya – menerima, tidak hanya segala kelebihan, tetapi juga segala kelemahananya – segala hitam putih hidupnya, tanpa reserve. Bukankah ini sangat manusiawi dan diharapkan banyak insan? Jadi, kita sebaiknya mencintai seseorang tidak semata-mata karena ia pandai, tampan, cantik, atau kaya. Kita diharapkan untuk beranjak dari kuadran yang fana menuju ke kuadran yang tanpa syarat – kuadran kaum idealis dan puritan.

Ada satu ilustrasi mengenai mencintai atas dasar kepintaran orang yang dicintai. Konon, di sebuah fakultas sastra di salah satu universitas terkemuka di Indonesia, terdapat seorang mahasiswi yang sangat pandai, bernama Soneta. Ia menguasai dengan baik sekali sastra Indonesia dan Eropa. Puisi adalah menu pembukanya setiap hari dan prosa menu utamanya. Novel-novel karya Albert Camus, Gabriel García Márquez, Victor Hugo, Charles Dickens, dan beberapa penulis besar lainnya adalah sahabat setianya di manapun ia berada, di kala sedih maupun senang. Penampilan Soneta sederhana dan penuh senyum bersahabat. Pesona intelektualnya itu telah lama membuat kagum seorang pria - rekan kuliahnya yang bernama Tamsil - yang memang pada dasarnya cepat kagum dengan gadis pandai. Tamsil berharap agar ia segera mendapat kesempatan untuk mengungkapkan isi hatinya.

Singkat cerita, akhirnya Soneta menjadi kekasih Tamsil. Pada awalnya, ia menyangka bahwa Tamsil mencintainya apa adanya (the way she is). Ternyata ia keliru, pria itu mencintainya hanya karena pesona intelektualnya saja. Jadi, sebenarnya yang dicintai adalah pesona intelektualnya, bukan dirinya seutuhnya.

Semua kebohongan ini akhirnya terungkap juga. Cerita singkatnya sebagai berikut: Pada suatu hari Soneta yang sedang menderita sakit kepala berjalan menuruni tangga menuju ke lantai bawah rumahnya, karena terlalu pusing, akhirnya ia kehilangan kontrol dan jatuh dari tangga yang cukup tinggi. Kecelakaan ini menyebabkan kerja saraf di otaknya agak terganggu sehingga, walaupun sudah dioperasi pun, ia dinasehati untuk tidak memikirkan hal-hal yang rumit. Ini tentu saja berat bagi seorang mahasiswi sastra seperti Soneta, karena untuk memahami karya-karya sastra ia membutuhkan cukup banyak energi untuk berpikir. Soneta mau tidak mau menuruti segala nasehat dokter demi keselamatan dirinya, walau amat kecewa.

Semua yang telah menimpa Soneta seolah-olah telah menghapus segala impiannya untuk menjadi sastrawan dan kritikus sastra yang handal dalam waktu yang singkat. Sebenarnya tidak separah itu keadaannya karena para dokter bedah menjamin bahwa keadaannya akan menjadi normal kembali dalam waktu kurang dari dua tahun bila ia mematuhi segala nasehat dokter. Karena keadaan ini, secara otomatis prestasinya akademisnya menurun secara drastis.

Lalu di mana gerangan si Tamsil, yang sebelumnya sangat lengket bagaikan perangko? Si Tamsil menunjukkan empatinya dengan menjenguk dan menjaga Soneta di rumah sakit. Tetapi setelah tahu bahwa si Soneta harus berhenti kuliah selama dua tahun dan karena yakin bahwa prestasi akademis si Soneta pasti menurun drastis dan sulit dipulihkan, maka ia segera "mohon diri" dan "mundur secara teratur". Apa yang diharapkan Tamsil, diri si Soneta seutuhnya atau hanya satu titik dari samudera kehidupan si Soneta yang amat luas?

Ada lagi ilustrasi yang lain. Konon, Albert Einstein, pernah bertemu dengan Elvis Presley dan Sultan Hassanal Bolkiah, dari Brunei, dalam suatu kunjungan di Menara Eiffel. Maaf, karena dokumentasi yang kurang rapi, maka waktunya tak pernah diketahui. Pada pertemuan itu, karena didorong oleh kepedulian akan cinta yang terlalu berlandaskan kelebihan-kelebihan yang fana, mereka sepakat untuk mengadakan kampanye "Anti Cinta Karena Kelebihan Fana". Ketiga-tiganya mengimbau seluruh pria dan wanita untuk mencintai dengan melihat diri pribadi yang dicintai seutuhnya tanpa syarat (sans conditions).

Ikrar mereka unik karena dirumuskan dalam bentuk puisi pendek yang terdiri dari empat baris, dengan perincian sebagai berikut: judulnya dibacakan bersama; baris pertama dibacakan oleh Einstein; baris kedua oleh Elvis; baris ketiga oleh Sultan; dan, baris terakhir dibacakan bersama-sama. Versi asli puisi ini masih tersimpan dengan rapi di perpustakaan agung Nyi Roro Kidul, di kawasan Laut Selatan. Di sini penulis hanya menuliskan versi terjemahan bebasnya saja dari bahasa Lintasbuana, yang kurang lebih berbunyi sebagai berikut:

IKRAR CINTA

Jangan aku dikau cintai karena isi kepalaku;
Jangan aku dikau cintai karena tampan rupaku;
Jangan aku dikau cintai karena berat pundi-pundiku.
Cintailah daku laksana seorang buta.


Penulis berpikir bahwa benar tidaknya kedua ilustrasi di atas tidak perlu dipersoalkan. Kita seyogyanya berusaha memetik makna yang ada di balik keduanya. Kita sungguh telah diajak untuk tidak mengukur kedalaman suatu samudera hanya dari satu tepi yang dangkal, yang mungkin sebentar lagi akan semakin dangkal karena perubahan gejala alam. Mari kita telusuri dan layari samudera itu sebelum kita memutuskan untuk "berkubang" di sana selamanya!

Tenyata mencintai dengan mengesampingkan kelebihan-kelebihan yang fana seperti tersebut di atas sulit untuk diwujudkan, kecuali bila kita memang sungguh-sungguh menon-aktif-kan fungsi mata tubuh kita dan hanya mengandalkan mata batin yang jarang kita fungsikan. Banyak kali justru hal-hal seperti di atas-lah yang senantiasa kita jadikan pijakan dan patokan untuk bertolak kepada atau merumuskan perasaan-perasaan yang tatarannya lebih tinggi. Alangkah bijaknya bila kita sadar bahwa yang bersifat fana akan tetap bersifat fana!

Bila kita berprinsip bahwa mencintai seseorang apa adanya adalah suatu idealisme yang mesti diraih, baiklah kita berpacu untuk meraihnya selama kita masih diberi waktu yang cukup. Ingat, waktu terus berlalu, dan belum tentu kita akan peroleh kesempatan yang sama untuk mewujudkannya pada masa-masa yang akan datang!

Sebagai penutup tulisan ini, penulis berharap agar tulisan ini dapat menjadi bacaan yang berkenan di hati para pembaca. Syukurlah bila ada butir-butir mutiara kehidupan yang dapat dipungut darinya.

Yogyakarta, Juni 2003
-----------------------
*) Yohanes Manhitu adalah penulis dan penerjemah, berdomisili di Yogyakarta.