Sunday, March 27, 2016

Hari ini saya mengucapkan (dalam 15 bahasa) ....


Prospera Pascha sit!
Joyeuses Pâques!
¡Felices Pascuas!
Páskua Kmanek!
Selamat Paskah!
Sugeng Paskah!
Feliĉan Paskon!
Buona Pasqua!
Happy Easter!
Frohe Ostern!
Tabê Paskah!
Feliz Páscoa!
Kaló Páscha!
Paște Fericit!
Fish Sa'id!

----------------

"Anak Bandel" dan "Anak Penurut"

Foto: http://images.wisegeek.com
Ini sesuatu yang (termasuk) menggelikan. Tak jarang orang bersikap sebagai "anak bandel" ketika menulis dalam bahasanya sendiri (baca: bahasa nasional), tetapi menjadi "anak penurut" tatkala menulis dalam bahasa asing. Begitulah! (Yogyakarta, 26 Maret 2016)

Gereja Portugis di Oekusi-Ambeno, Timor-Leste

Foto: Dulce da Cunha, Oekusi
Gereja Portugis di Oekusi-Ambeno, Timor-Leste. Sekarang sudah direnovasi. Ini gereja yang saya datangi pada masa remaja saya. Di gereja ini pula, untuk pertama kali di kota, saya belajar menjadi pengiring lagu misa dengan petikan gitar ketika sekolah kami (SMPN Pantai Makasar) mendapat giliran menyanyi. Walaupun sangat grogi pada awalnya, terlebih pada saat intro, semuanya bisa berjalan dengan baik. Untuk hal ini, saya masih berproses, bahkan hingga kini. Letak gereja tua ini dekat pantai dan sangat indah. Ingin berkunjung ke sana. (Yogyakarta, 23 Maret 2016)

Sekuntum Mawar Merah

Ilustrasi: www.google.com
Terkadang kita seperti menghabiskan banyak waktu yang berharga hanya untuk menjelaskan kepada seorang buta tentang keindahan dan sekaligus bahaya sekuntum mawar merah. Untuk menjelaskan konsep warna merah saja kepadanya, kita seakan tenggelam dalam kata-kata kita sendiri. (Yogyakarta, 18 Maret 2016)

Berawal dari Sebuah Situs Puisi Berbahasa Spanyol

Gambar halaman depan situs www.poesiahispana.com
Untuk partisipasi saya dalam dunia puisi berbahasa Spanyol, saya berutang budi kepada tim redaksi situs http://www.poesiahispana.com (berbasis di Amerika Latin) yang ± 11 tahun lalu memuat beberapa puisi awal saya yang ditulis dalam bahasa Spanyol. Sayangnya, saat ini situs ini sudah nonaktif. Ada kebahagiaan tersendiri bagi saya karena situs tersebut menerbitkan karya-karya para penyair berbahasa Spanyol dari berbagai belahan dunia. Bagus untuk belajar dari para penutur asli bahasa Spanyol. Harus diakui bahwa situs inilah pintu masuk saya ke dunia sastra (berbahasa) Spanyol. Beberapa puisi saya yang diterbitkan di situs di atas, kemudian---atas undangan penyair Alfredo Pérez Alencart dari Salamanca, Spanyol---diterbitkan di antologi Los Poetas y Dios (León, Spanyol: Excma. Diputación Provincial de León, 2007). Puisi-puisi asli saya dalam bahasa Spanyol dapat dibaca di http://espanol.agonia.net/index.php/author/0009165/Yohanes_Manhitu. (Yogyakarta, 18 Maret 2016; dari dinding Facebook saya)

Ibarat Memandang dari Atap Rumah

Ilustrasi: www.google.com
Setiap bahasa yang telah diperoleh dan/atau dipelajari seseorang bisa saja memainkan peranan yang berbeda dalam kehidupan orang tersebut. Misalnya bahasa daerah untuk komunikasi sehari-sehari dan urusan adat/tradisi, bahasa Indonesia untuk mengajar di kelas sebagai guru sejarah, bahasa Inggris untuk berkorespondensi aktif dengan orang asing, dan bahasa Belanda atau Portugis untuk membaca naskah sejarah. Tidak ada yang sia-sia. Semuanya bermanfaat pada waktu yang tepat. Dan dengan bahasa-bahasa ini, orang bisa melihat lebih jelas dan jauh, ibarat seseorang yang sedang memandang dari atap rumah. (Yogyakarta, 14 Maret 2016)

Tentang Tempat dan Makna Belajar

Foto: banjarmasin.tribunnews.com
Apabila orang beranggapan bahwa belajar hanya bisa dilakukan dengan duduk terpaku di kursi dan serius menghadap ke meja dengan buku terbuka di tangan, tampaknya bagi dia, menelusuri sungai atau duduk di tepinya sambil meniup suling bambu, menjelajah hutan dan padang rumput sambil bernyanyi-nyanyi kecil, dan mendaki gunung dengan kelompok yang kompak dan mencintai alam tiada kaitannya dengan belajar. Makna belajar itu tidak sempit dan gersang. (Yogyakarta, 13 Maret 2016)

Selamat jalan, Pak J.S. Badudu!

Foto: https://scontent.cdninstagram.com
Bangsa Indonesia dan bahasa Indonesia kehilangan salah satu ahli bahasa (Indonesia) terbaiknya. Semoga arwah sang bahasawan kawakan ini beristirahat dalam damai surgawi. Selamat jalan, Pak J.S. Badudu! Jasa besar Anda akan senantiasa dikenang dan semangat juang Anda bakal diteladani.

J.S. Badudu lahir di Gorontalo pada 19 Maret 1926. Ia adalah guru besar linguistik di Universitas Padjadjaran Bandung. Badudu dikenal luas sebagai pembawa acara Pembinaan Bahasa Indonesia (1974-1979) di TVRI. Ia juga menyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia. (https://nasional.tempo.co)
Secara pribadi, saya mengucapkan banyak terima kasih kepada alm. Bapak J.S. Badudu karena karya beliau Kamus Peribahasa (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2008) turut membantu saya dalam penyusunan "Kamus Portugis-Indonesia, Indonesia-Portugis (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 14 Desember 2015) dan tercatat pada pustaka acuan karya tersebut. 
(Yogyakarta, 13 Maret 2016; dari dinding Facebook saya)

Ikut Serta Dalam Antologi Puisi Multibahasa

Ilustrasi: www.google.com
Sekadar berbagi. Ketika diundang untuk ikut serta dalam sebuah antologi puisi multibahasa dengan menyediakan sebuah puisi bilingual, yang perlu dilakukan adalah menulis sebuah puisi (dalam bahasa asing) dan kemudian berusaha menerjemahkannya ke bahasa lain (bahasa nasional/daerah). Sudah beberapa kali saya mengalami hal ini, dan ternyata lebih baik menulis langsung dalam bahasa asing (sejauh ini lebih banyak dalam bahasa Spanyol) dan setelah itu menerjemahkan puisi itu ke bahasa Indonesia. Terkadang juga ke bahasa daerah. Kegagalan biasanya terletak pada rima puisi terjemahan. (Yogyakarta, 12 Maret 2016)

Kata-Kata Latin Dengan Bunyi Bahasa Inggris

Ilustrasi: www.google.com
Telinga saya lebih nyaman dengan suara orang Italia atau Spanyol yang berbahasa Latin ketimbang suara orang Amerika Serikat. Ketika berbahasa Latin, kebanyakan orang Amerika Serikat dan penutur asli bahasa Inggris---berdasarkan beberapa video dan film berbahasa Latin yang pernah saya tonton---mengucapkan kata-kata Latin dengan bunyi bahasa Inggris. (Yogyakarta, 12 Maret 2016)

Tentang Menerjemahkan Puisi

Ilustrasi: www.google.com
Tidak bisa dibilang mudah menerjemahkan puisi walaupun itu puisi sendiri yang terjemahannya kemudian dianggap sebagai karya sekunder. Terkadang ada elemen atau nuansa tipis yang diabaikan saja dalam proses kreatif ini. Jika pembaca tidak punya akses memadai ke bahasa asli puisi itu, ia tak akan pernah tahu elemen atau nuansa apa yang absen dalam terjemahannya. (Yogyakarta, 10 Maret 2016)

Pentingnya Gramatika

Ilustrasi: http://www.venderlivros.com.br
Mungkin ada orang yang mengira bahwa dengan memberi perhatian khusus pada gramatika suatu bahasa yang dipelajari, orang akan menjadi kaku dalam penggunaan bahasa tersebut. Tak selamanya benar. Secara empiris, tanpa memahami dengan benar gramatika sebuah bahasa, sulit dibayangkan bahwa orang akan bisa menggunakan bahasa itu sesuai dengan kaidah-kaidah yang benar. Gramatika adalah aturan atau kerangka berpikir setiap bahasa. (Yogyakarta, 4 Maret 2016)

Di Kota yang Bernama New York

Ilustrasi: www.google.com
Memang saya belum pernah menginjakkan kaki di kota yang bernama New York di Negara Paman Sam. Entah kapan saya bisa. Namun, puji Tuhan, beberapa karya saya pernah terbit di kota tersebut, yakni di majalah sastra aktif berbahasa Esperanto "Beletra Almanako" (berupa karya asli dan terjemahan oleh saya sendiri) dan kini di majalah sastra berbahasa Rumania "Lumină Lină" (berupa dua puisi terjemahan oleh penyair Rumania Elena Liliana Popescu). 

Dalam hal tulis-menulis, apresiasi memang penting, tetapi tak perlu merengek-rengek untuk minta diapresiasi. Biarkanlah karya yang ditulis dalam bahasa apa pun itu berbicara untuk dirinya sendiri. "Omnia tempus habent" (Latin: Untuk segala sesuatu ada waktunya). "Jodoh" tak 'kan lari ke mana. ...hahaha (Yogyakarta, 2 Maret 2016)

Puisi "Vii Amintiri" dan "Floare de ieri" di majalah "Lumină Lină" edisi Januari-Maret 2016


Sekadar informasi sastra yang diperoleh dari dinding Facebook penyair Rumania Elena Liliana Popescu​ (sudah dikonfirmasi oleh penyair hebat ini melalui e-mail berbahasa Spanyol): Poezii de Yohanes Manhitu - traducere de E.L. Popescu - in Revista Lumină Lină, Nr.1, ianuarie-martie, NY, 2016

Terjemahan Rumania oleh Elena Liliana Popescu (http://www.elena-liliana-popescu.ro/en/about.htm) dari dua puisi Spanyol saya (Vii Amintiri dari Recuerdos vivos dan Floare de ieri dari Flor de ayer) telah terbit di edisi Januari-Maret 2016 majalah sastra berbahasa Rumania Lumină Lină (Inggris: Gracious Light) yang berbasis di New York, Amerika Serikat. Vă mulţumesc foarte mult, dragă E.L. Popescu!

Versi PDF lengkap edisi Lumină Lină itu terdapat di http://www.romanian-institute-ny.org/images/LL_1-2016_mic_c.pdf. Salam sastra,