Saturday, July 28, 2007

Kamus Indonesia-Tetun -- Tetun-Indonesia (Indonesian-Tetum -- Tetum-Indonesian Dictionary). Penyusun/Compiler Yohanes Manhitu

==<><><>==
Bahasa Tetun di Timor-Leste berkembang pesat. Hal ini dibuktikan dengan kian bertambahnya jumlah kosakata baru –terutama dari bahasa Portugis – yang diadopsi ke dalam bahasa Tetun dari hari ke hari, terlebih setelah berdirinya negara baru Timor-Leste. Kamus ini hadir untuk menjadi saksi "kristal" bagi perkembangan bahasa tersebut. Dengan penjelasan yang ringkas dan mudah dimengerti, serta isi yang informatif dan contoh kalimat juga percakapan, para pembaca akan merasakan mudahnya menggunakan kamus ini dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam komunikasi lisan.

Lia-tetun iha Timór Lorosa’e dezenvolve lalais. Ne’e ita prova ho vokabuláriu foun sira ne’ebé mosu hetok barak – liuliu hosi lia-portugés – mak haktama ba lia-tetun hosi loron ba loron, liuliu depois nasaun foun Timór Lorosa’e hakrii. Disionáriu ida-ne’e iha atu sai sasin "kristál" ba dezenvolvimentu língua nian ne’ebé naktemi. Ho esplikasaun be badak i kamaan atu komprende no konteúdu be informativu, nomos ezemplu fraze sira no konversa be hakfó iha laran, lee-na’in sira sei sente lasusar uza disionáriu ida-ne’e iha situasaun moris loroloron nian, liuliu iha komunikasaun orál.
.
Untuk membaca detail buku, klik di sini.
Untuk membaca resensi kamus ini oleh Dr. Aone van Engelenhoven, klik di sini.

Dawan (Uab Meto): The tongue of the Atoni Pah Metô

By Yohanes Manhitu
.
Dawan (Uab Meto) is an Austronesian language spoken by about 600,000 people mainly in the western part of Timor Island, including the enclave of Oecusse (Oekusi) that belongs to East Timor. The language is sometimes called Meto, Uab Atoni Pah Meto, Uab Pah Meto, Timor, Timorese, Timol, Timoreesch, Timoreezen, Dawan, Timor Dawan, or Rawan. And the dialect spoken in the enclave of Oecusse is called Baikenu although the local people simply call it Uab Meto. Dawan has the following dialects: Amfoan-Fatule'u-Amabi (Amfoan, Amfuang, Fatule'u, Amabi), Amanuban-Amanatun (Amanuban, Amanubang, Amanatun), Mollo-Miomafo (Mollo, Miomafo), Biboki-Insana (Biboki, Insana), Ambenu (Ambeno, Vaikenu, Vaikino, Baikenu, Bikenu, Biqueno), Kusa-Manlea (Kusa, Manlea). And it has been classified as Austronesian, Malayo-Polynesian, Central-Eastern, Central Malayo-Polynesian, Timor, Nuclear Timor, West.
.
So far there has not been any accurate and reliable information regarding the origin of this indigenous language. However, it said that Dawan (Uab Meto) is closely related to Tetum, and to some extent, to Rotenese. The language did not take its written form until some zealous Catholic and Protestant missionaries began to make use of it for teaching the Christian belief to the locals. Some of the written materials produced, original or in translation, such as missals, catechisms, prayer books and hymns, are still found today, especially in the villages, but very rare. The rarity is presumably due to damage and discontinued publication. Nowadays, materials of this kind are more available in the official languages, Bahasa Indonesia, in the Indonesian part, and probably Portuguese and Tetum in Oecusse. Serious efforts are really necessary to maintain the language.

Uab Meto has plenty of stresses in many of its words. And to indicate them, people simply use apostrophes, either in front, in the beginning, or at the end of a word. This is acceptable. However, it makes the word longer because of the many apostrophes used. So, to make a word shorter and more efficient to use, using certain accents (those available in the international computer keyboards) put on the top of the accented vowels is simpler, and hopefully clearer. Many of them are applied in French and Portuguese. However, those used in Uab Meto have different functions. I hope that the following modifications would be acceptable. Example:
  1. Fun-ahunut i au uhakeb ume mese’. = Fun-ahunut i au uhakeb ume mesê.
    Last month I built a house.
  2. In a-nmui’ oto nua. In lof na’sosa’ es. = In a-nmuî oto nua. In lof nâsosâ es.
    (S)he has two cars. (S)he will sell one (of them).
  3. Au fe’ oum u’ko kota. = Au fê oum ûko kota. I have just been to the city/town.
  4. Ho tataf a’naet nato’. = Ho tataf ânaet natô. Your elder brother/sister is angry.
  5. In olif akliko’ nahín. = In olif aklikô nahín. Your youngest brother/sister knows.
  6. Kaisa’ maiti kle’o-kle’o! = Kaisâ maiti kleö-kleö! Don’t take it little by little.
  7. Li’ana’ i nah neik palu’. = Liänâ i nah neik palû. This child eats greedily.

Stresses also appear before a word that begins with a consonant. They are indicated with an opening apostrophe (‘). E.g. Au pao ko talantea nokâ. I will wait for you until tomorrow.

Dawan (Uab Meto) alphabet

Notable features:

  • The letter g is used in loanwords, such as guru (teacher), often pronounced kulu.
  • The letter l is replaced with r in some dialects, e.g. lene (garden) with rene.
  • The letters q, v, x, and z are used in loanwords from Europe.

Sources:
Ethnologue data from Ethnologue: Languages of the World, 14th Edition
Understanding Uab Meto (Dawan Language): A General Description,
by Yohanes Manhitu, Unpublished
.
Sample Text

Ain-fatin iha rai-henek


Hosi Yohanes Manhitu

Bainhira ita la’o dook ona iha tasi-ibun ho rai-henek mutin
no soe matan ba tasi nia luan be liman-fuan la sukat,
ita laran-moris kona-ba ita-nia an ki’ik no lotuk,
iha lalehan nia okos be kakutak la kona loos.

Rai-henek musan be ita sama metru ba metru,
dala ruma bokon, dala ruma maran, nonook.
Loron no kalan liu, tuir Na’i Nia futar ukun,
maibé sira, nafatin, sei hafutar tasi-ibun.

Dadeer ida ó liu ho hamnasa no ain todan,
ain-fatin sira marka kle’an iha rai-henek.
Lokraik, ho serteza, ó mai buka tuir,
ó sei hakfodak hanesan ema foun.

Yogyakarta, 12 fulan-Jullu 2007

Dalan ida-ne’e sei naruk


Hosi Yohanes Manhitu

Tempu nia roda fila nafatin, lori ita ba futuru,
loron be liu tiha sai lembransa be la more,
no loron-aban, mistériu seidauk nakloke.
No ohin loron, ne’e tranzisaun badak.

Nu’udar ai-tahan nurak sira be nadikin
iha dadeer-saan kuandu maha sei ukun,
moris ne’e mosu ho ksolok no hamnasa,
hakonu laran kle’an sira ho esperansa.

Livru moris nian foin nakloke ba mundu,
no faefaen maibé sertu, tahan ba tahan
ita sei lee hodi hetan hatán ba ai-sasi’ik
be dala ruma hela to’o loromatan monu.

Karik ita tenke husik hela an, hanesan
kudaku be husik ninia uma toos maran
hodi bele halai lalais iha raiklaran ne’e
be luan ho foho aas be ita tenke sa’e.

Nu’udar karau-baka sira be husik luhan
baihira loromatan sa’e atu lori ba natar,
kriatura sira sei ba mundu liman rohan,
no loron ruma sei simu glória iha altár.

Maibé ohin loron, dalan sei naruk hela,
no rai-rahun manas sei taka ninia oin,
fatuk-musan sira mós la fó toleránsia.
Maski todan, lalehan hamaho nafatin.


Yogyakarta, 16 fulan-Jullu 2007

Pembakuan Istilah-Istilah Informatika

Oleh Yohanes Manhitu*

Tidak dapat disangkal bahwa kemajuan teknologi informatika telah memberi pengaruh yang tidak sedikit terhadap perkembangan bahasa Indonesia yang kita cintai, khususnya terhadap pengayaan kosakata bahasa kita. Kehadiran istilah-istilah dalam bidang informatika, mau tidak mau, perlu mendapat perhatian serius, baik dari para ahli bahasa kita, maupun dari masyarakat pemerhati bahasa. Ini berarti perlu ada langkah-langkah yang tepat untuk menertibkan penggunaan istilah-istilah tersebut agar tidak menimbulkan kerancuan dalam penulisan yang dapat menyebabkan ketidakseragaman dan ambiguitas.

Dewasa ini, kehadiran istilah-istilah baru dalam bidang informatika belum mendapat perhatian yang proaktif. Ini terbukti dengan belum hadirnya buku yang berisikan penetapan penggunaan istilah-istilah tersebut secara baku, sehingga masih terjadi kesimpangsiuran di sana-sini. Kehadiran sebuah ketetapan bagi penggunaan istilah-istilah itu tentunya sangat diharapkan oleh seluruh lapisan masyarakat yang menginginkan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Ambil saja contoh, sampai hari ini belum ada padanan yang pasti untuk kata-kata seperti homepage, web site, password, drive, CD-ROM, browsing, booting, dan masih banyak lagi istilah lain yang berstatus sama.

Di beberapa negara yang memiliki kepedulian besar terhadap perkembangan bahasanya, misalnya di Prancis dan Spanyol, selalu ada upaya proaktif untuk membakukan istilah-istilah teknologi yang selalu bermunculan bak jamur di musim hujan. Hal ini tentunya sangat baik demi tercapainya kesamaan konsep pemikiran dan penegakan wibawa bahasa negara itu sendiri. Bahkan di kepulauan Feroes yang milik Denmark, ada lembaga independen yang selalu aktif mengajukan istilah-istilah padanan untuk setiap istilah asing yang hadir di wilayah tersebut. Jadi, usaha untuk membakukan istilah-istilah asing, khususnya istilah-istilah dalam bidang informatika, bukan semata-mata tanggung jawab pemerintah, tetapi juga merupakan tanggung jawab masyarakat pengguna bahasa. Bukankah bahasa nasional adalah milik seluruh lapisan masyarakat dalam sebuah negara?

Pembakuan istilah-istilah komputer tentu saja harus mengacu pada Pedoman Ejaan Yang Disempurnakan. Dengan demikian akan tercipta suatu keseragaman dengan istilah-istilah yang telah hadir lebih dahulu. Memang kebanyakan istilah informatika yang digunakan selama ini telah mengalami perubahan ejaan, tetapi bentuknya tidak terlalu jauh dari bentuk aslinya. Ada juga istilah yang kemudian disingkat, misalnya milis, yang disingkat dari mailing list. Menurut hemat penulis, ada dua cara penertiban penggunaan istilah-istilah komputer.

Pertama, dengan mempertahankan bunyi istilah asli, tetapi mengubah ejaannya. Cara ini memang dapat dilihat sebagai peng-indonesia-an kata-kata asing tersebut. Keuntungannya adalah tidak terjadi perubahan besar yang dapat menimbulkan kebingungan di kalangan pengguna bahasa. Di samping itu membantu generasi muda bangsa yang akan belajar bahasa asing – mereka akan lebih cepat mengenal istilah-istilah itu dalam bentuk aslinya, sehingga mereka tidak perlu belajar dua kali. Hemat energi, hemat ongkos.

Kedua, dengan menerjemahkan istilah-istilah asing itu ke dalam bahasa Indonesia. Dengan cara ini, bentuk aslinya akan hilang dan yang tinggal hanya bentuk terjemahannya. Di satu pihak, hal ini akan menguntungkan pemakai bahasa karena mereka lebih mengenal bahasa yang digunakan. Tetapi di lain pihak, hal ini menuntut generasi muda kita untuk bekerja keras demi memahami istilah-istilah untuk objek yang sama dalam bahasa-bahasa asing. Ini bisa dianggap mempersulit.

Pengadaptasian istilah-istilah asing memang sering menghadapi tantangan yang tidak sedikit dari masyarakat pengguna bahasa kita sendiri, karena banyak di antara kita yang lebih cenderung untuk menggunakan istilah-istilah bahasa asing yang terkesan lebih keren dan funky. Dengan demikian kita menyepelekan kata-kata baku yang telah memperkaya kosakata bahasa kita. Kita masih dapat menemukan penyedia jasa internet yang lebih suka menggunakan nama "Laris Internet Café" daripada "Warung Internet Laris". Apakah tidak akan lebih baik bila kita menggunakan nama yang dwibahasa. Lihat saja nama-nama jalan di Kota Jogja yang kebanyakan dwibahasa – di bagian atas bahasa Indonesia dan di bagian bawah bahasa Jawa. Tidak banyak kita menemukan nama lembaga atau kantor yang menggunakan nama Indonesia di bagian atas dan nama Inggris di bagian bawah. Semoga hal ini tidak menjadi sinyal ketidakbanggaan kita terhadap bahasa nasional kita sendiri. Bila hal ini terus berlanjut, baik dalam kebiasaan menulis maupun bertutur, maka tidak mengherankan bila suatu saat nanti kita menyandang tuna harga diri. Penulis yakin bahwa tidak satupun di antara kita yang mengharapkan munculnya fenomena tak sedap seperti ini dalam kebiasaan berbahasa kita. Oleh karena itu, kita perlu mengadakan penertiban penggunaan istilah dan nama, baik secara lisan maupun tulisan.

Sehubungan dengan kerinduan akan hadirnya ketetapan pembakuan istilah-istilah komputer, kita diharapkan untuk menghargai kerja keras lembaga bahasa nasional, seperti Pusat Penelitian dan Pengembangan Bahasa, yang telah bertahun-tahun berusaha keras melakukan standardisasi bahasa kita lewat berbagai cara yang amat mengesankan. Tetapi seperti yang telah disinggung di atas, seluruh lapisan masyarakat kita pun harus turut berusaha secara aktif dan, bila perlu, proaktif dalam menyukseskan pembakuan dan standardisasi istilah-istilah asing, khususnya istilah-istilah bidang informatika, dalam kehidupan sehari-hari. Penulis pikir akan lebih baik bila kita, masyarakat pengguna bahasa, dapat mengusulkan istilah-istilah tertentu kepada lembaga bahasa yang berwewenang lewat surat atau e-mail, jika itu memang memungkinkan.

Terlepas dari pembakuan istilah-istilah teknis, penggunaan bahasa yang baik dan benar mestinya terus kita tumbuh-kembangkan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga kita dapat menggunakan bahasa Indonesia sesuai dengan situasi dan aturan yang berlaku. Sesuai dengan situasi, misalnya di pasar, kita sebaiknya menggunakan bahasa yang dapat dengan mudah dimengerti di lingkungan pasar, dan di sebuah seminar, kita sebaiknya menggunakan bahasa yagn santun di lingkungan seminar. Sesuai dengan aturan, seperti misalnya kita menulis atau berbicara sesuatu dengan pola kalimat yang diterima secara umum.

Sebagai akhir kata, penulis berharap agar segera hadir ketetapan tentang pembakuan istilah-istilah informatika yang dikeluarkan pemerintah negara kita. Penulis yakin bahwa kebijakan ini akan membantu mengatasi banyak persoalan yang telah dihadapi banyak pihak selama ini. Sebagai seorang penerjemah, penulis berharap agar hadirnya ketetapan ini dapat membantu mengatasi kesulitan penerjemahan yang kemungkinan besar dihadapi banyak penerjemah di seluruh Nusantara tercinta. Semoga bahasa Indonesia, bahasa kebanggaan kita bersama, senantiasa menjadi suara pemersatu (unifying voice) bagi berlaksa-laksa suku dari Sabang sampai Merauke dengan bahasa yang berbeda-beda. Bangga menjadi bangsa Indonesia, bangga berbahasa Indonesia dengan baik dan benar.

* Penulis adalah leksikografer dan penerjemah, tinggal di Yogyakarta.

Kearifan lokal: mutiara yang ditemukan kembali

Oleh Yohanes Manhitu *

BELAKANGAN ini istilah "kearifan lokal" (local wisdom) mengemuka dan cukup akrab di telinga masyarakat Indonesia. Bukan hanya di layar televisi, radio, melainkan juga dalam pidato dan bahkan dalam debat kusir di warung kopi kita mendengar istilah ini digunakan dengan bergairah, terlepas dari fakta apakah si pengguna benar-benar memahami makna di balik istilah keren tersebut. Tak dapat dipungkiri bahwa kadang-kadang muncul begitu banyak istilah ‘mutakhir’ yang digunakan dengan bangga tanpa peduli akan ketepatan maknanya, sesuai dengan konteks. Misalnya istilah "deportasi" dan "ekstradisi" yang seringkali digunakan secara serampangan. Tak kurang bijak bila acap kali, guna memastikan ketepatan arti kata yang digunakan dalam berkomunikasi, kita membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia yang telah dihasilkan dengan susah payah.

Kearifan lokal dapat didefinisikan sebagai kebijaksanaan atau nilai-nilai luhur yang terkandung dalam kekayaan-kekayaan budaya lokal berupa tradisi, petatah-petitih dan semboyan hidup (Pikiran Rakyat, 4 Oktober 2004). Misalnya ungkapan alon-alon waton kelakon (biar lambat asal tujuan tercapai) dalam budaya Jawa. Atau semboyan marsiadap ari (saling membantu dalam melakukan suatu pekerjaan) dalam budaya Batak.

Kembali ke alam

Kearifan lokal boleh jadi merupakan salah satu wujud nyata slogan "kembali ke alam" (back to nature) yang sering didengungkan di mana-mana. Mengamati istilah ini secara lebih saksama, secara kritis kita juga boleh berasumsi bahwa jika ada ‘kearifan lokal’, maka mungkin juga ada ‘kearifan nasional’ dan ‘kearifan internasional’. Dan orang boleh dengan ironis bertanya mengapa justru di era globalisasi di mana dunia seakan-akan telah menjadi dusun global (global village) orang justru beramai-ramai kembali memperbincangkan hal-hal yang bercitra lokal. Apakah hal ini bukan suatu langkah mundur di era siber yang serba canggih ini? Apakah kaum cerdik pandai sudah jemu mengutak-atik konsep-konsep agung yang berlevel mondial? Atau apakah konsep-konsep tersebut sudah tidak sanggup lagi mengobati berbagai penyakit sosial zaman ini? Agaknya masih ada sebaris panjang pertanyaan yang dapat kita ajukan sehubungan dengan munculnya "kampanye" kearifan lokal yang cukup gencar akhir-akhir ini.

Sebagai masyarakat yang beradab tentu kita tahu bahwa kita memiliki kekayaan budaya, terlepas dari perbedaan istilah yang digunakan untuk menyebutnya. Mutiara-mutiara budaya itu berserakan dan tersebar luas dalam segala aspek kehidupan masyarakat. Dan terutama ditemukan dalam kosakata bahasa daerah/ibu. Setiap kelompok masyarakat memiliki cara yang khas dalam mengungkapkan kandungan kearifan lokalnya, yang mencerminkan cara pandangnya tentang dunia. Dalam kaitannya dengan hal ini, George Steiner, pakar sastra komparatif kampiun, menyatakan, "Chaque langue humaine constitue une expérience, une perception, une construction intégrales du monde" (terjemahan bebas dari bahasa Prancis, Setiap bahasa manusia merupakan suatu pengalaman, persepsi, dan konstruksi integral tentang dunia; Le Magazine littéraire, Juni 2006: 41).

Dalam bahasa Dawan (Uab Meto), untuk tidak menyebut seluruhnya, dikenal ungkapan tmeup onlê ate, tah onlê usif (bekerjalah kita seperti budak supaya makan seperti raja) yang penuh dengan ajakan tegas. Ungkapan yang senada mungkin juga dapat ditemukan dalam berbagai bahasa daerah di Indonesia dan benua lain. Dalam bahasa Indonesia kita mengenal peribahasa berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian yang kurang lebih sepadan dengan ungkapan bahasa Dawan di atas. Ungkapan-ungkapan yang pendek dan sederhana, karena bersifat lokal, sangat menyentuh bagi masyarakat penutur bahasa tersebut. Kita boleh berharap banyak bahwa dengan diangkatnya kembali bentuk-bentuk kearifan lokal yang demikian kita mulai bercermin pada realitas di lingkungan hidup kita selama ini dan terdorong untuk melakukan perubahan-perubahan yang konstruktif guna menghadapi tantangan global yang makin besar dan beragam.

Dengan berpegang teguh pada pesan ungkapan pendek di atas, misalnya, kita akan senantiasa sadar untuk tidak berperilaku instan dan harap gampang dalam mencapai sesuatu, baik kecil maupun besar. Ini berarti kita hanya layak memperoleh sesuatu bila kita sungguh-sungguh bekerja keras dan benar-benar pantas mendapatkannya. Tindak korupsi dan cara-cara tak jujur yang lain untuk memperoleh kekayaan instan seolah-olah hanya dengan berucap bim-sala-bim tentu saja tidak mencerminkan semangat ungkapan di atas. Dan dengan bekerja keras dan cerdas (bdk. dengan semangat kerja keras bangsa Jepang) kita dapat bersaing dan berjaya di era globalisasi yang penuh tuntutan mencemaskan.

Bersikap selektif dalam menerima nilai-nilai baru

Dewasa ini, dengan adanya arus informasi global yang sangat deras, terlalu banyak tawaran nilai yang datang dari segala penjuru dunia hanya dalam hitungan detik. Dan membangkitkan kembali kearifan lokal di setiap daerah di tanah air boleh jadi diartikan secara keliru sebagai gerakan membangun benteng yang tangguh guna menangkis serangan nilai-nilai asing yang merupakan produk globalisasi. Hal ini dapat menimbulkan sikap dan pendirian a priori yang mendorong kita untuk serta merta menolak segala bentuk pengaruh global, termasuk yang baik dan berguna bagi kemaslahatan bangsa dan negara kita. Sebagai solusi, kita perlu bersikap kompromistis, yaitu memandang promosi kearifan lokal dewasa ini sebagai upaya menciptakan saringan yang bagus bagi nilai-nilai asing tersebut. Dengan demikian, kita semua dituntut untuk bersikap semakin selektif dalam menanggapi kehadiran nilai-nilai impor dan bersama-sama terus-menerus memupuk kesadaran akan betapa pentingnya pelestarian dan kelestarian lingkungan hidup, tradisi setempat, dan berbagai kekayaan budaya yang tak boleh sampai ditelan arus deras globalisasi.

Disadari ataupun tidak, bersama-sama dengan berlaksa manusia di planet ini kita sedang berada dalam gerbong kereta waktu yang terasa berjalan makin cepat. Kita memang perlu berubah, namun jangan sampai atas nama perubahan itu sendiri kita menjadi subjek yang buta bagi wujud perubahan yang memudarkan jati diri kita. Yang kiranya layak untuk direnungkan bersama adalah mencari format yang adaptif bagi pelestarian kearifan lokal yang kita miliki sebagai kekayaan budaya. Dalam arti, kearifan lokal, bersama-sama dengan nilai-nilai keagamaan yang dianut, harus bisa turut melandasi perubahan (yang positif) itu sendiri. Dengan kata lain, kearifan lokal turut menjadi landasan perubahan global, paling kurang di lingkungan kita sendiri. ‘Perkawinan’ unsur-unsur inilah yang akan memungkinkan kita untuk terus maju tanpa merasa berdosa secara budaya.

Mewaspadai paham-paham pada era globalisasi

Menurut hemat penulis ─ dalam kaitannya dengan kearifan lokal ─, kapitalisme, materialisme, dan individualisme adalah isme-isme yang paling gencar menyerang kehidupan manusia di era globalisasi (bukan gombalisasi!) ini. Kapitalisme melebarkan jurang pemisah antara si miskin dan si kaya. Akibatnya, yang kaya makin kaya; yang miskin tambah miskin. Dan suatu bangsa besar yang berdaulat secara politis pun dapat bertekuk lutut kepada para pemodal raksasa tanpa mengindahkan nilai-nilai luhur bangsanya dan menyengsarakan rakyatnya sendiri. Materialisme pada gilirannya menyebabkan manusia terpacu untuk terus-menerus mengumpulkan materi dan menempatkannya di peringkat teratas dalam pencapaiannya dengan mengesampingkan nilai-nilai yang baik dalam masyarakat, misalnya kebiasaan hidup sederhana. Dan individualisme, yang sudah lama dikenal dan diterapkan di negara-negara Barat, pada era sekarang pengaruhnya sudah sangat terasa di negara kita, terutama di daerah perkotaan.

Pengaruh individualisme tersebut di atas masih jarang ditemukan di daerah-daerah yang masih menjunjung tinggi semangat berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Di Yogyakarta, misalnya, terbukti bahwa semangat gotong-royong ini masih cukup kuat karena setelah terjadinya musibah letusan Gunung Merapi dan gempa bumi, kehidupan masyarakat dapat kembali normal berkat kearifan lokal yang masih terpelihara. Kita berharap agar hal yang terpuji ini dapat ditemukan juga di seluruh persada nusantara.

Manifestasi berwajah baru

Munculnya isu kearifan lokal yang seiring dengan bergulirnya otonomi daerah (otoda) tentu tidak diharapkan untuk mengobarkan spirit sukuisme. Justru sebaliknya patut dipandang sebagai manifestasi berwajah baru dari kebinekaan kita. Tak dapat dipungkiri bahwa kita memiliki ketunggalikaan yang kokoh di samping kebinekaan yang kaya.

Di era otoda ini, ketika banyak pihak tengah sibuk mencari model pembangunan daerah yang representatif dan mengharapkan pemerintah lokal yang sanggup merangkul segala lapisan masyarakat dan bersama-sama memelihara kekayaan budaya dan sumberdaya alam, kearifan lokal dapat berfungsi sebagai salah satu sumber nilai-nilai yang luhur bagi maksud tersebut. Dengan kata lain, kearifan lokal bisa menjadi sumur yang tak kunjung kering di musim kemarau panjang nilai-nilai kebijaksanaan bagi perwujudan cita-cita pembangunan daerah yang seimbang, baik secara lahiriah maupun batiniah.

Penangkal konflik-konflik intern

Di samping berfungsi sebagai penyaring bagi nilai-nilai berasal dari luar, kearifan lokal dapat juga digunakan untuk meredam gejolak-gejolak yang bersifat intern. Misalnya konflik masyarakat yang sesuku atau antarsuku. Upaya promosi nilai-nilai luhur dalam kebudayaan tertentu secara formal akan menimbulkan apresiasi dan rasa bangga terhadap nilai-nilai tersebut. Dengan demikian akan timbul semangat yang kuat untuk menerapkannya dalam kehidupan bermasyarakat. Semangat maun-alin (kakak-adik, bersaudara) yang cukup kental dalam masyarakat berbahasa Tetun, misalnya, bisa menjadi penangkal konflik intern (karena adanya rasa persaudaraan) hanya jika hal ini diarahkan untuk maksud positif dan tak ditunggangi kepentingan sepihak. Masih banyak ungkapan lain yang diharapkan dapat berfungsi efektif dalam mengantisipasi segala kemungkinan konflik intern. Ungkapan seperti nekaf mesê, ansaof mesê (sehati sejiwa) yang umum dikenal masyarakat penutur bahasa Dawan akan turut memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa serta terpeliharanya semangat gotong-royong jika jiwa barisan kata-kata indah ini dapat diejawantahkan dengan tepat dalam kehidupan bermasyarakat.

Kesimpulannya, kearifan lokal yang digali, dipoles, dikemas dan dipelihara dengan baik bisa berfungsi sebagai alternatif pedoman hidup manusia Indonesia dewasa ini dan dapat digunakan untuk menyaring nilai-nilai baru/asing agar tidak bertentangan dengan kepribadian bangsa dan menjaga keharmonisan hubungan manusia dengan Sang Khalik, alam sekitar, dan sesamanya (tripita cipta karana). Dan sebagai bangsa yang besar pemilik dan pewaris sah kebudayaan yang adiluhung pula, bercermin pada kaca benggala kearifan para leluhur dapat menolong kita menemukan posisi yang kokoh di arena global ini.
.
* Penulis, alumnus Undana, tinggal di Yogyakarta