Thursday, September 30, 2021

Yang Ditulis Itu Puisi Atau Bukan

Terkadang tidak diketahui secara pasti---seperti sesuatu yang matematis---apakah yang ditulis itu puisi atau bukan. Jangan-jangan cuma mirip dengan puisi. Yang lebih penting, (masih) tahu bahwa menulis itu berguna alias tidak sia-sia. Mungkin dengan terus-menerus menulis, akan lebih jelas apakah yang ditulis itu puisi atau bukan. Lalu bagaimana dengan definisi puisi? Semoga jelas. Sebab kalau belum jelas, entah siapa yang akan merumuskannya.

Happy International Translation Day!

Sem tradução, não há nenhuma historia do mundo.
Without translation, there is no history of the world.
Sin traducción, no hay ninguna historia del mundo.
Son ada terjemahan, son ada dunia pung sejara.
Ka nmuï tlakab uab, ka nmuî fa pah-pinan in piöt.
Sans traduction, il n'y a pas d'histoire du monde.
Sen traduko, ne ekzistas historio de la mondo.
Senza traduzione, non c'è historia del mondo.
Ora ono terjemahan, ora ono sejarah dunyo.
Tanpa terjemahan, tidak ada sejarah dunia.
Lahó tradusaun, la iha istória mundu nian.
Sine translatio, historia mundi non est.

---L. G. Kelly (2004)
(The other sentences in eleven languages are translated from the English version by Yohanes Manhitu, 30 September 2016). Carpe diem!

Sunday, August 8, 2021

Selamat Jalan, Novelis Unu Ruben Paineon! Berbahagialah di Alam Seberang

Foto: https://web.facebook.com

Kemarin, Sabtu, 7 Agustus 2021, novelis Ruben Paineon telah pergi meninggalkan kita untuk selamanya. Ia mengembuskan napas terakhir di TTU, NTT. Terima kasih banyak, Bung Ruben, atas kebersamaan kita di Yogyakarta dan Timor dan atas karya-karyamu yang mengisi rak buku kami. Ini sebuah kehilangan besar bagi dunia sastra, terutama dunia sastra NTT. Nama dan karyamu bakal tetap dikenang. 🌺

-----------------------------------------------------

RUBEN PAINEON (nama pena: Unu Ruben Paineon), seorang novelis Timor dari TTU yang sering juga menulis dan menerbitkan puisi. Novel pertamanya berjudul "Unu" (2009), sebuah novel motivasi; novel keduanya adalah "Benang Merah" (2015), dan novel ketiganya muncul dengan judul "Foek Susu" (2019). Namanya pun telah tercatat dengan sejumlah penulis sebagai sastrawan NTT dalam buku "Mengenal Sastra dan Sastrawan NTT" karya Yohanes Sehandi (Yogyakarta: Penerbit Universitas Sanata Dharma, 2012). ✍️

Catatan: Profil singkat ini adalah bagian sebuah naskah saya.

Monday, August 2, 2021

Blog Puisi Esperanto Saya dalam Daftar Blog Esperanto Dunia

Foto: Dokumen pribadi

Wow! Ternyata ada 2711 blog dalam bahasa Esperanto di jagat maya yang bernama internet, termasuk blog puisi saya, yang berada pada urutan ke-370. Ini adalah blog puisi saya secara total dalam bahasa Esperanto. Puisi-puisi di blog ini berasal dari tiga buku puisi saya berikut ini (baik sebagai puisi asli maupun terjemahan oleh saya dari karya-karya saya sendiri):

  1. Sub la vasta ĉielo (Kumpulan puisi asli saya dalam bahasa Esperanto; Candelo, Australia: Mondeto, 2010);
  2. Feotnai Mapules—Princino Laŭdata (Kumpulan puisi Dawan-Esperanto; Antwerpen: Eldonejo Libera, 2016);
  3. A WALK AT NIGHT (Une promenade de nuit): A Collection of English and French Poems (Kumpulan puisi berbahasa Inggris dan Prancis; Antwerpen: Eldonejo Libera, 2017).
Kepada yang berbahasa Esperanto, selamat membaca!

Sunday, August 1, 2021

Dua Puisi Esperanto Saya dalam Majalah "Penseo"


Hari ini, Minggu, 1 Agustus 2021, dua puisi Esperanto saya terbit dalam PENSEO (No. 358), sebuah majalah sastra bulanan Esperanto yang didirikan di Republik Rakyat Cina (RRC) pada tahun 1990. Puisi-puisi itu berjudul "En la spegulo" dan "Bonvenon al mia animo".
---------------------------------------------------------------------

Hodiaŭ, dimanĉe, la 1-an de aŭgusto 2021, du el miaj esperantaj poemoj estas eldonitaj en PENSEO (N-ro 358), monata esperanta literatura revueto fondita en 1990 en la Ĉina Popola Respubliko (ĈPR). La poemoj estas titolitaj "En la spegulo" kaj "Bonvenon al mia animo".

EN LA SPEGULO

de Yohanes Manhitu

Mi sopiras paroli vizaĝon kontraŭ vizaĝo al mi mem.
Mi pensas dividi iujn dolorojn kun mi mem.
Mi ne konas alian spacon, krom tiu en la spegulo.
Estas en la spegulo, ke mi eble trovos mian kunparolanton.

Mi staras antaŭ mia mezgranda spegulo
rigardante figuron kontraŭ mi, kiu ridetas dum mi ridetas.
Ni ambaŭ parolas samtempe; neniu aŭskultas.
Ni samaspektas, sed neniu el ni estas klonita.

Mi ekkomprenas, ke aferoj ne ĉiam devas esti samaj.
Oni bezonas koni ion aŭ iun alian
por kunparoli aŭ dividi dolorojn dumaniere.
Paroli enspegule ne estas la sola maniero.

Tradukita de la aŭtoro mem el sia angla
poemo “In the Mirror” (3an de julio 2003)
Yogyakarta, 18an de oktobro 2020
-------------------------------------

BONVENON AL MIA ANIMO

de Yohanes Manhitu

Ni diru, ke mia animo estas reĝa palaco,
kie vi povas ripozi sendube.
Ni diru, ke vi estas atendata vizitanto,
kies alveno alportos al mi feliĉon.
Ni diru, ke la tempo estas la gastiganto ĉe la palaco,
kiu gvidos vin vidi ĉi tiun lokon.
La tempo lasos vin preterpasi la pordon.

Tradukita de la aŭtoro mem el sia angla
poemo “Welcome to My Soul” (2003)
Yogyakarta, 18an de oktobro 2020

Saturday, July 31, 2021

Puisi-Puisi Esperanto Saya dalam Media-Media Sastra Esperanto Internasional

Foto: Dokumen pribadi

SEJAUH INI, puisi-puisi saya dalam bahasa Esperanto terbit dalam media-media sastra Esperanto internasional berikut ini:

1. Beletra Almanako (majalah di New York, AS);
2. Esperanto en Azio (buletin di Jepang);
3. La Karavelo (majalah di Portugal);
4. Sennaciulo (buletin di Prancis); dan
5. Vesperto (buletin di Hungaria).
Di samping itu, puisi-puisi Esperanto saya juga pernah dimunculkan di sebuah situs web Esperanto RRC (http://esperanto.china.org.cn) dan dibacakan dalam siaran Radio 3ZZZ di Melbourne, Australia.
Semoga terbit lagi dalam media Esperanto lain.

Penyair Berbahasa Spanyol yang Karyanya Saya Baca dan Terjemahkan (02)

Foto: edukalife.blogspot.com

PENYAIR perempuan pertama berbahasa Spanyol yang karyanya sering saya baca dengan kagum di awal kemuridan saya (di tahun-tahun pertama di Yogyakarta) adalah Gabriela Mistral (1889–1957), si penyair perempuan ternama dan pemenang Hadiah Nobel Sastra (1945) dari Cile (satu negara asal dengan Pablo Neruda). Dia juga seorang diplomat kawakan. Syukur, saya sudah menerjemahkan beberapa karya hebatnya ke bahasa Indonesia, langsung dari bahasa Spanyol (Ini bagus untuk belajar!). Dalam proses kreatif yang panjang, hampir pasti kita pernah, entah secara langsung atau tidak langsung, berutang budi kepada seseorang. Kita harus jujur mengakui itu. Kalau dihitung, "utang" saya sudah banyak. ...hahaha. Karena itu, saya perlu terus belajar dan menulis untuk "bayar utang". Salam sastra!

Penyair Berbahasa Spanyol yang Karyanya Saya Baca dan Terjemahkan (01)

Foto: https://www.theparisreview.org

PENYAIR berbahasa Spanyol yang karyanya cukup sering saya baca di awal kemuridan saya (di tahun-tahun pertama di Yogyakarta) adalah Pablo Neruda (1904–1973), si penyair hebat dan pemenang Hadiah Nobel Sastra (1971) dari Cile itu. Syukur, saya sudah menerjemahkan sejumlah karya hebatnya ke bahasa Indonesia, langsung dari bahasa Spanyol (ini sungguh disyukuri!). Dalam proses kreatif yang panjang, hampir pasti kita pernah, entah secara langsung atau tidak langsung, berutang budi kepada seseorang. Kita harus jujur mengakui itu. Kalau dihitung, "utang" saya sudah banyak. ...hahaha. Karena itu, saya perlu terus belajar dan menulis untuk "bayar utang". Salam sastra! 💖

Menerjemahkan Puisi Pemenang Nobel Sastra

Foto: Diandra Kreatif (2019)


SEJAUH INI, sudah ada sejumlah puisi yang saya terjemahkan sendiri dari karya-karya para pemenang Nobel Sastra, baik secara langsung dari bahasa asli maupun melalui bahasa asing lain. Karya-karya itu diterjemahkan ke bahasa Indonesia, Dawan, dan/atau Tetun Resmi. Para pemenang Nobel Sastra itu adalah sebagai berikut (negara asal dan tahun penerimaan Hadiah Nobel terdapat dalam kurung):

1. Gabriela Mistral (Cile; 1945)
2. Octavio Paz (Meksiko; 1990)
3. Pablo Neruda (Cile; 1971)
4. Rabindranath Tagore (India; 1913)

CATATAN: Karya-karya Gabriela Mistral (1889–1957) diterjemahkan langsung dari bahasa Spanyol ke bahasa Indonesia; karya-karya Octavio Paz (1914–1998) diterjemahkan langsung dari bahasa Spanyol ke bahasa Indonesia; karya-karya Pablo Neruda (1904–1973) diterjemahkan dari bahasa Spanyol ke bahasa Indonesia; dan karya-karya Rabindranath Tagore (1861–1941) diterjemahkan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia, Dawan, dan Tetun Resmi.

Foto "Gitanjali" (Dawan): Diandra Kreatif, 2019

"Kamus Portugis-Indonesia, Indonesia-Portugis" di Beberapa Perpustakaan Dalam dan Luar Negeri

Tabik! Berdasarkan informasi siber, kini "Kamus Portugis-Indonesia, Indonesia-Portugis" (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama; Edisi I: 2015; Edisi II: 2017) terdapat di katalog perpustakaan lembaga-lembaga berikut ini.

1. Badan Bahasa Kemendikbud Republik Indonesia
2. Badan Nasional Penanggulangan Bencana di Jakarta
3. Balai Besar Inseminasi Buatan Singosari, Jawa Timur
4. Dinas Kearsipan Provinsi Sumatera Barat (Sumbar)
5. Kementerian Luar Negeri Portugal di Kota Lisabon
6. Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional Yogyakarta
7. Universitas Negeri Solo (UNS) di Jawa Tengah

CATATAN: Kamus dwibahasa pertama di Indonesia ini tersedia di toko-toko buku Gramedia di seluruh Indonesia. Jika berminat, segera dapatkan. Untuk para peminat di Timor Barat dan Timor-Leste, kamus ini tersedia di toko buku Gramedia Kuanino, Kupang. Para peminat di Flores dan sekitarnya bisa mendapatkannya di toko buku Gramedia Maumere. Harap stoknya masih cukup. 🌺

Semoga karya ini semakin bermanfaat bagi para pengguna.

Wednesday, June 30, 2021

El Belgio kun espero


Bona novaĵo! Mia nova verko titolita Multlingva Frazlibro (reviziita kaj pligrandigita eldono) jam estas eldonita en Antverpeno, Belgio. La libro nun eldonita de Eldonejo Libera estas reviziita kaj pligrandigita eldono de la libro kun la sama titolo, eldonita de Universala Esperanto-Asocio (UAE) en Roterdamo, Nederlando, en 2009.

En tiu ĉi libro, vi trovos diversajn specimenfrazojn, kiujn vi povas rekte uzi por fari komunikadon en diversaj situacioj. Tiu ĉi frazlibro estas skribita por praktika uzo kaj enhavas dek lingvojn: Esperanton, indonezian, davanan, oficialan tetuman, kupang-malajan, anglan, francan, hispanan, portugalan, kaj italan (kiun la unua eldono ne enhavas). Krom la indonezia, troviĝas ĉi tie tri aŭstroneziaj lingvoj aktive uzataj en Timoro, nome la davana, la oficiala tetuma, kaj la kupang-malaja. 

PRODUKTO-DETALOJ Maldika helbruna kovrilo: 240 paĝoj Verkinto (memstara): Yohanes Manhitu Eldonejo: Eldonejo Libera (15an de junio 2021) Urbo & lando: Antverpeno, Belgio Internaj koloroj: Nigra & blanka Prezo: 16 eŭroj (20.05 USD) Instrua lingvo: Esperanto ISBN-13: 978-1-008-94339-1 Dimensioj: 216 x 279 mm Bonvolu kontakti Lode Van de Velde per lodchjo@gmail.com aŭ Facebook, aŭ viziti www.lulu.com, por mendi la libron.

Sekilas tentang Semboyan Kabupaten/Kota dalam Bahasa Daerah di Timor Barat, Prov. NTT

Gambar: https://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Malaka

Di antara semua daerah tingkat II (kabupaten atau kota) di Timor Barat, NTT, tampaknya hanya Kabupaten Malaka (dimekarkan dari Kabupaten Belu dan diresmikan oleh Menteri Dalam Negeri RI, Gamawan Fauzi, pada tanggal 22 April 2013) dan Kota Kupang (dibentuk pada tahun 1999) yang secara jelas mencantumkan semboyan/motonya dalam bahasa daerah pada lambangnya.
 
Semboyan Kabupaten Malaka adalah Neon Ida, Hader Ita Rai, Diak no Kmanek (Tetun dialek Belu-Malaka, Sepikiran, Membangun Tanah Kita, [Menjadi] Elok dan Sejahtera), dan semboyan Kota Kupang adalah Lil au nol dael banan (bahasa Helong, Bangunlah aku dengan hati yang tulus). Ataukah masih ada yang lain? Semoga masih ada. 

Salam mesra bahasa, sastra, dan budaya ke segala penjuru!

Asyik! Jepretan Sendiri Menjadi Foto Sampul Buku Lagi: Lokasi Wisata Alam Fatu Un, Kolbano


Kini untuk keempat kalinya foto jepretan saya sendiri dengan kamera saku (kali ini foto yang diambil di lokasi wisata alam Fatu Un, Kolbano, Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur, pada tanggal 4 Februari 2018, dalam penjelajahan Timor Barat) digunakan sebagai foto sampul buku saya (buku yang ke-11). Yang pertama adalah potret bunga anggrek di sampul kumpulan puisi Dawan-Esperanto Feotnai Mapules—Princino Laŭdata (Antwerpen, Belgia: Eldonejo Libera, 31 Desember 2016). Salam bahasa dan sastra ke segala penjuru!

CATATAN: Multlingva Frazlibro (reviziita kaj pligrandigita eldono) adalah buku percakapan dalam 10 bahasa (Esperanto, Indonesia, Dawan, Tetun Resmi, Melayu Kupang, Inggris, Prancis, Spanyol, Portugis, dan Italia) yang baru-baru ini terbit di Antwerpen, Belgia. Buku yang diterbitkan oleh Eldonejo Libera ini merupakan edisi hasil revisi dan perluasan dari buku berjudul sama yang diterbitkan oleh Universala Esperanto-Asocio (UEA) di Rotterdam, Belanda, pada tahun 2009. Edisi lama mencakup 9 bahasa, kecuali bahasa Italia. Buku baru ini mencakup 38 tema percakapan dalam berbagai situasi.

PERINCIAN PRODUK Sampul tipis: 240 halaman Penulis (sendiri): Yohanes Manhitu Penerbit: Eldonejo Libera (15 Juni 2021) Kota & negara: Antwerpen, Belgia Warna interior: Hitam & putih Harga: 16 euro (20.05 dolar AS) Bahasa pengantar: Esperanto ISBN: 978-1-008-94339-1 Dimensi: 216 x 279 mm Silakan kontak Lode Van de Velde via lodchjo@gmail.com atau Facebook, atau kunjungi www.lulu.com, untuk membeli buku. Terima kasih banyak kepada Bung Apris Tefa yang menemani dalam beberapa kali penjelajahan di Timor Barat, termasuk sewaktu mengunjungi Kolbano dan sekitarnya (2018).

Wednesday, June 9, 2021

LEWAT "PINTU" VALDEZ DI BULAN JUNI MENUJU LAUTAN PUISI

Foto: https://crownsofvirtue.com

Tanggal 9 Juni adalah hari yang bersejarah bagi saya secara pribadi. Setidaknya saya menganggapnya begitu. Sembilan belas tahun silam, tepatnya tanggal 9 Juni 2002, di Jln. Pugeran Timur, Yogyakarta, saya berusaha menerjemahkan puisi "LA PUERTA" karya Alfredo García Valdez, seorang penyair Meksiko, yang saya baca dengan asyik dan kagum di majalah "Biblioteca de México", nomor 40, Juli-Agustus 1997, hlm. 18. Inilah penerjemahan puisi pertama kali dalam hidup saya. Penerjemahan puisi berbahasa Spanyol ke bahasa Indonesia dengan judul "PINTU" tersebut telah membawa saya memasuki dunia penulisan dan penerjemahan puisi. Oleh karena itu, secara pribadi, saya berutang budi kepada sastra berbahasa Spanyol, terutama kepada Valdez, yang membukakan pintu elok menuju lautan puisi.

Tentu saja, saya, seperti teman-teman lain, sudah mengenal puisi Indonesia (pantun, gurindam, dll.) sejak di bangku sekolah. Dan di bangku kuliah pun, saya sempat berjumpa dengan puisi berbahasa Inggris. Akan tetapi, puisi Valdez yang saya terjemahkan dari versi asli ke bahasa Indonesia sebagai terjemahan puisi pertama itulah yang kuat mendorong saya ke alam kata. Sebenarnya, pengalaman seperti ini bukan hal baru. Insan-insan sastra lain pun pernah mengalaminya. Sitor Situmorang, misalnya, mengawali kepenyairannya setelah ia berhasil menerjemahkan sebuah puisi Belanda ke bahasa Batak.

Tiada yang lebih istimewa daripada rasa syukur saya kepada Sang Pujangga Mahaagung, Sang Khalik Mahapuitis, bahwa hingga hari ini, saya masih diberi-Nya kesehatan dan kesempatan yang baik untuk terus mengarungi lautan puisi yang tiada bertepi. Mohammad Ali Sepanlou (1940–2015), seorang penyair Iran termasyhur, pernah menulis begini, "Puisi berawal dari impian dan berakhir dengan pembebasan." Ini sungguh tepat! Salam mesra sastra,
----------------------------------------------------

PINTU Oleh: Alfredo García Valdez* Di mana pun kau berada: di dasar laut, di pucuk bintang, di rongga pepohonan, di dasar batu prasasti, pun di bola mata perempuan, pintu terbuka dan tertutup. Hujan kerinduan atau tegangan hasrat sanggup membukanya. Pasir mimpi menumpuk di ambangnya. Dan di atas pintu, nama sejatimu terukir dengan garam. Di baliknya, ‘kan kaujumpai ia yang lain, sosok sejati, yang pergi berkeluyuran selagi kau menangis, tidur atau bercinta. Pintu melambangkan perjanjian yang mengikatmu dengan dunia kematian, pun dengan alam kehidupan. Di baliknya, tiada selir ataupun perpustakaan: ini bukan ilmu tentang aksara atau daging. Pintulah engsel yang satukan surga dan neraka; pintulah piston yang pompakan lautan teduh, jua berbadai; dan pintulah rongga pengatur alur napasmu sebagai orang mati, pun sebagai orang hidup. Oh harapan, kaulah kepolosan bocah yang langkahi ambang pintu sambil melanjutkan permainan mengasyikkan. Sang kekasih simak cakapmu penuh sabar dan mencari jejak-jejak kata wasiat, mengelusmu di tidurmu dan temukan kunci di antara tulang-belulangmu. Bila ia sanggup lewati pintu itu, ia bakal menjelma jadi sosok utuh, yang berjalan-jalan selagi kau menderita, bekerja atau tertawa. Oh harapan, kaulah kepolosan bocah yang nekat mengusik si macan diam. Diterjemahkan oleh Yohanes Manhitu Yogyakarta, 9 Juni 2002 ----------------------------- LA PUERTA Por: Alfredo García Valdez Donde quiera que estés, la puerta se abre y se cierra: en el fondo del mar, en la punta de una estrella, adentro de un árbol, bajo una lápida, o en las pupilas de una mujer. Puede abrirla la lluvia de la nostalgia o la electricidad del deseo. La arena del sueño se acumula en el umbral. Sobre la puerta está escrito con sal tu verdadero nombre. Detrás de ella está el otro, la persona auténtica, que sale a deambular mientras lloras, duermes o amas. La puerta simboliza el pacto que te liga al pueblo de los muertos y al pueblo de los vivos. Tras de ella no hay un harén ni una biblioteca: este saber no tiene conexión con la letra ni con la carne. Es el quicio que une al cielo y al contracielo, el émbolo que bombea las aguas dormidas y las aguas de la tormenta, el diafragma que regula tu respiración como hombre muerto y como hombre vivo. Oh esperanza, eres la inocencia del niño que traspone el umbral siguiendo un juego ensimismado. La amada escucha pacientemente tu conversación, buscando los rastros de la palabra mágica; te acaricia mientras duermes, buscando entre tus huesos la clave. Si logra trasponer la puerta, regresará convertida en la auténtica persona, la que deambula mientras sufres, trabajas o ríes. Oh esperanza, eres la inocencia del niño empeñado en zaherir al leopardo del silencio. ------------------- *) Alfredo García Valdez lahir di Cedros, Zacatecas, Meksiko tengah, 1964, belajar Sastra Spanyol di Universidad de Coahuila. Ia adalah mantan penerima beasiswa INBA dalam genre esai dan telah menerbitkan puisi dan ulasan di Tierra Adentro, Sábado de Unomásuno, La Jornada Semanal, Los Universitarios, Casa del Tiempo y La Gaceta del Fondo de Cultura Económica. Ia juga pengarang buku kumpulan esai yang berjudul “Máscaras” (Topeng-topeng).