Saturday, June 30, 2018

Menerima Paket "A Cabeleira (Fragmentos)" dari Claudio Rodríguez Fer, Penyair Galisia-Spanyol


Untuk kesekian kalinya, saya menerima paket berisikan buku puisi multibahasa yang di dalamnya terdapat paling kurang satu terjemahan saya dan juga paraf penulis atau editor. Hal bagus ini berlangsung sejak tahun 2007 ketika saya menerima paket dengan buku Los Poetas y Dios (antologi puisi para penyair Hispanik; León, Spanyol, 2007). Antologi ini memuat tiga puisi asli saya dalam bahasa Spanyol dan sebuah terjemahan saya dari bahasa Spanyol ke bahasa Indonesia untuk puisi Alfredo Pérez Alencart. Kali ini, di dalam A Cabeleira (Fragmentos) karya Claudio Rodríguez Fer (sastrawan dan profesor dari Galisia, Spanyol; https://en.wikipedia.org/wiki/Claudio_Rodriguez_Fer) juga ada paraf penulis karya asli sebagai ucapan terima kasih atas kerja sama penerjemah. Semoga dialog sastra antarbangsa melalui puisi bisa lestari. (Yogyakarta, 13 Juni 2018)

Sungguh Beruntung Bisa Banyak Belajar Dari Dua Maestro Sastra Dunia

Foto: www.google.com

Keuntungan lain dari menerjemahkan Gitanjali (kumpulan 103 puisi Inggris karya Rabindranath Tagore, pemenang Nobel sastra 1913) ke bahasa Dawan (rampung pada 2016 dan akan terbit) adalah saya memperoleh kesempatan bagus untuk membandingkan dengan cukup teliti seluruh versi Prancis dan Spanyol karya Nobel tersebut, yang saya gunakan sebagai pembanding bagi terjemahan Dawan saya. Ternyata terjemahan Prancis oleh André Gide (L'Offrande Lyrique, 1917) lebih 'setia' kepada Gitanjali versi Inggris---terjemahan Tagore sendiri pada tahun 1912---daripada terjemahan Spanyol oleh Juan Ramón Jiménez dan istrinya Zenobia Camprubí (Ofrenda lírica, 1918). Terjemahan pasangan suami-istri sastrawan ini lebih bebas, terkadang lebih singkat. Sebagai catatan, André Gide (1869–1951; sastrawan Prancis) adalah pemenang Nobel sastra 1947 dan Juan Ramón Jiménez (1881–1958; sastrawan Spanyol) adalah pemenang Nobel sastra 1956. Jadi, sungguh beruntung bisa banyak belajar dari dua maestro sastra dunia ini. Asyik!

Dalam menerjemahkan karya sastra, akan lebih baik bila menggunakan lebih dari satu versi sebagai sumber atau pembanding. Dan tentu hal ini hanya bisa terjadi kalau sang penerjemah sempat menekuni lebih dari dua bahasa.

A.D.M. Parera: Poliglot dan Sejarawan dari Timor


Tampaknya, berdasarkan catatan di buku Sejarah Pemerintahan Raja-Raja Timor (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1994; Drs. Gregor Neonbasu, SVD [ed.]), poliglot pertama dari Timor Barat, NTT, yang menulis buku tentang Timor adalah penulis buku tersebut di atas, yakni Anselmus Dominikus Meak Parera (Tubaki, 21 Mei 1916–Kupang, 18 Februari 1973). A.D.M. Parera hidup di tiga zaman (zaman Belanda, zaman Jepang, dan zaman kemerdekaan) dan menguasai bahasa Dawan, Tetun, Rote, Sabu, Kemak, Indonesia, dan Belanda. Berdasarkan daftar bacaan di bukunya itu, sangat mungkin ia juga berbahasa Inggris.

Ia pernah memegang beberapa jabatan penting pada masa hidupnya, di antaranya juru tulis Raja Camplong (1944-1946) dan asisten dosen luar biasa jurusan sejarah daerah pada FKIP Universitas Nusa Cendana Kupang (tahun 1960-an). 


Foto: Hasil repro saya dari sampul belakang buku tersebut

(Tegalyoso, Yogyakarta, 4 Juni 2018)

Belajar Bahasa Asing dengan Penuh Kesadaran

Foto: www.google.com

Kalau dilakukan dengan penuh kesadaran, belajar bahasa asing apa pun tak akan mengancam keberlangsungan bahasa ibu yang sudah biasa digunakan. Justru bahasa asing itu akan membantu untuk "meneropong" bahasa ibu kita. Kata-kata Johann Wolfgang von Goethe (sastrawan dan negarawan Jerman) berikut ini kembali menggema: Wer fremde Sprachen nicht kennt, weiß nichts von seiner eigenen. (Jerman, Barang siapa tidak mengenal bahasa asing, tidak tahu apa-apa tentang bahasanya sendiri.) Mari kita terus belajar! (Yogyakarta, 2 Juni 2018)

Menerbitkan Kembali Kumpulan Puisi "Nenomatne Nbolen: Puisi Uab Metô Sin Lê Mabuab (Sebuah Antologi Puisi Dawan)"


Ingin sekali saya membaca ulang, memoles secara ortografis, dan menerbitkan kembali kumpulan puisi Nenomatne Nbolen: Puisi Uab Metô Sin Lê Mabuab (Sebuah Antologi Puisi Dawan). Ini adalah kumpulan perdana berbahasa Dawan (tanpa terjemahan) saya yang diterbitkan dengan edisi terbatas di Yogyakarta oleh Genta Press pada tahun 2009. Semoga niat baik ini bisa terwujud dalam waktu dekat dan membuahkan hasil. Deo volente!

Catatan: "Nenomatne Nbolen" berarti "Matahari Telah Terbit". Kumpulan puisi asli saya dalam bahasa Dawan (bahasa Timor terbesar) ini kini terdapat di katalog perpustakaan-perpustakaan mancanegara berikut ini:

  1. Cornel University Library, Amerika Serikat
  2. Northern Illinois University Library, Amerika Serikat
  3. Ohio University Library, Amerika Serikat
  4. Yale University Library, Amerika Serikat
  5. The Library of Congress, Washington DC, Amerika Serikat (Library of Congress Control Number: 2009332653)
Foto: Dokumen pribadi penulis

Wednesday, May 30, 2018

SEKILAS SAJA TENTANG ARTI "TAIM HINE": NAMA SEBUAH YAYASAN DI TIMOR BARAT, INDONESIA


"Istilah Taim Hine, dijelaskan lebih lanjut, diadopsi dari perbendaharaan bahasa timor yang artinya rumah belajar." (Kutipan dari kupang.tribunnews.com)

SECARA pribadi, saya sambut baik kehadiran Yayasan Taim Hine Aleta Baun dengan "visi alam NTT yang hijau, lestari dan masyarakat yang berdaulat dari sisi lingkungan adat dan budaya". Ini patut diapresiasi dan didukung. Yang menggangu bagi say---sebagai penutur bahasa Dawan---adalah arti nama "Taim Hine" yang tercantum di kupang.tribunnews(.)com

Penutur bahasa Dawan mana pun---tidak harus saya---akan terganggu dengan "rumah belajar" sebagai terjemahan Indonesia untuk nama Dawan "taim hine", yang sesungguhnya berarti "mencari ilmu/pengetahuan" (bandingkan dengan "buka matenek" dalam bahasa Tetun). Cobalah menggali lebih dalam tentang arti sebuah nama, apalagi dalam bahasa daerah, jika hendak menjelaskannya, terutama kepada masyarakat di kampung halaman bahasa tersebut. Jika kita menghargai bahasa daerah sebagai kekayaan budaya bangsa, marilah kita tunjukkan itu secara nyata, termasuk melalui informasi di media massa.

Semoga bahasa-bahasa kita lestari. Salam mesra budaya! 🙏

Catatan: Tulisan singkat ini saya tulis di dinding Facebook saya pada tanggal 22 Mei 2018 dan telah ditanggapi Ibu Aleta Baun, ketua yayasan tersebut.

Foto: Yohanes Manhitu (Kapan, 18 Januari 2018)