Monday, December 31, 2018

Karya-karya saya yang terbit pada bulan Desember

Foto: www.google.com

Tampaknya, lama-kelamaan, Desember akan menjadi bulan favorit saya untuk penerbitan karya. 😀 Sejauh ini, sudah ada tiga buku saya yang terbit pada bulan Desember. Karya-karya tersebut adalah sebagai berikut:
  1. Kamus Portugis-Indonesia, Indonesia-Portugis (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 14 Desember 2015). Tersedia di toko-toko buku Gramedia di seluruh Indonesia. Teman-teman di Timor bisa dapatkan di Gramedia Kupang.
  2. Feotnai Mapules—Princino Laŭdata (Antwerpen, Belgia: Eldonejo Libera, 31 Desember 2016), sebuah kumpulan puisi Dawan-Esperanto, berisikan 100 puisi Dawan saya yang saya terjemahkan sendiri ke bahasa Esperanto. Total: 200 puisi. Tersedia di http://www.lulu.com/shop/yohanes-manhitu/feotnai-mapules-princino-laŭdata/paperback/product-23010352.html. Versi elektroniknya pun sudah ada di internet dan bisa dibeli.
  3. A WALK AT NIGHT (Une promenade de nuit) (Antwerpen, Belgia: Eldonejo Libera, 12 Desember 2017), sebuah kumpulan puisi asli (karya saya) dalam bahasa Inggris (65 puisi) dan Prancis (45 puisi), tanpa terjemahan. Tersedia di http://www.lulu.com/shop/http://www.lulu.com/shop/yohanes-manhitu/a-walk-at-night/paperback/product-23448701.html.

    Semoga suatu saat nanti, Indonesia punya pemenang Nobel Sastra

    Foto: www.google.com
     
    Ketika membaca berita berbahasa Prancis tentang meninggalnya Amos Oz, pengarang kenamaan Israel (calon penerima Hadiah Nobel Sastra), kemarin (28 Desember 2018), saya langsung teringat pada Pramoedya Ananta Toer (novelis dari Indonesia) dan William Auld (penyair berbahasa Esperanto dari Skotlandia) yang pernah dinominasikan beberapa kali (berturut-turut) untuk menjadi pemenang Nobel Sastra, tetapi tidak sempat meraih hadiah prestisius tersebut karena meninggal dunia. Semoga suatu saat nanti, Indonesia punya pemenang Nobel Sastra. Itu tak berarti menulis semata-mata untuk meraih hadiah, tetapi penghargaan pun bisa berarti pengakuan. Salam sastra! ✍️

    (Tegalyoso, Yogyakarta, 29 Desember 2018)

    Penyair Baldur Ragnarsson Tutup Usia: Nun ripozu en paco, ho granda poeto.


    Turut berdukacita atas meninggalnya penyair kenamaan Esperanto dari Islandia, Baldur Ragnarsson (25 Agustus 1930–25 Desember 2018). Nun ripozu en paco, ho granda poeto. Mi kredas, ke via poezio postvivos. ✍️

    Penyair yang mulai belajar bahasa Esperanto pada tahun 1949 ini pernah menjadi anggota Akademi Bahasa Esperanto, editor majalah Norda Prismo, dan memegang sejumlah jabatan penting yang berkaitan dengan bahasa dan sastra Esperanto di samping pekerjaannya sebagai guru. Pada tahun 2007, ia diusulkan oleh Asosiasi Pengarang Berbahasa Esperanto (Esperantlingva Verkista Asocio) untuk mendapatkan Hadiah Nobel Sastra tahun itu setelah meninggalnya William Auld, penyair Esperanto tersohor dari Skolandia, pada tahun 2006. (Menurut https://eo.wikipedia.org/wiki/Baldur_Ragnarsson)

    Saya mengenal Baldur Ragnarsson beberapa tahun silam, segera setelah saya bisa "menjangkau" dan menerjemahkan sejumlah puisi William Auld ke bahasa Indonesia. Karya-karya Ragnarsson dan saya terbit bersama dalam edisi 12 (Oktober 2011) Beletra Almanako, majalah terkemuka di dunia sastra berbahasa Esperanto yang terbit di New York, AS.

    Foto: Diramu dari potret di https://eo.wikipedia.org/wiki/Baldur_Ragnarsson dan gambar sampul Beletra Almanako (Edisi 12, Oktober 2011).

    (Tegalyoso, Yogyakarta, 28 Desember 2018)

    SELAMAT JALAN, Bung Emanuel Beli Naikteas Bano (Emanuel Paulus)!

    Foto: Dari album Alm. Bung Emanuel Paulus

    SELAMAT JALAN, Bung Emanuel Beli Naikteas Bano (Emanuel Paulus)! Terima kasih banyak atas kebersamaan kita dan semua kebaikanmu di Kota Gudeg ini dan tempat lain selama beberapa tahun. Kebaikanmu akan selalu dikenang oleh saya dan orang-orang yang pernah mengenalmu. Saya dan teman-teman berdoa agar dirimu memperoleh istirahat dan kebahagiaan surgawi. Kiranya pintu surga terbuka bagimu, Pahlawan Pembangunan! Semoga darah mudamu yang tumpah di Bumi Cenderawasih tidak sia-sia.

    Untuk menandai kepergianmu yang sungguh mengagetkan dan jauh di luar dugaan kami, kubagikan puisi ini. Kutahu, engkau suka puisi dan kita pernah bicara santai tentang puisi sambil ngopi. Kita juga pernah asyik berpuisi lisan secara berantai di Pantai Sadranan dan juga Kaliurang. Dan Oa Monika Liman Arundhati, penyair Lembata itu, pernah bilang secara spontan di hadapanmu sambil tersenyum manis, "Kak Eman itu orang teknik yang sangat puitis." Dan untuk menanggapi hal-hal yang pura-pura kauanggap sulit, termasuk omongan tentang puisi, kaugunakan selalu senjata pemungkasmu, yakni kalimat favorit ini: "Saya punya otak tidak sampai." Kami akrab dengan kalimatmu ini. ✍️
    --------------------------
    -------------------------------

    MENYINGKIRKAN CAWAN DERITA*

    Oleh: Yohanes Manhitu

    Andaikan kita kuasa mengatakan tidak,
    kita tak ‘kan mau minum dari cawan
    yang penuh dengan kegetiran—
    ikatan alam penderitaan.

    Andaikan kita kuasa memperkirakan
    hal yang mengancam kehidupan,
    kita ‘kan siap ‘tuk menjauhkan
    bahaya dan mungkin jua maut.

    Adakalanya seperti dalam drama,
    kita berperan hanya menurut skenario
    yang telah disiapkan sang pengarang.
    Ini membuat kita tak bisa memilih.

    Andaikan manusia bisa menebak
    dan memahami misteri-misteri
    dengan kebebasan luas dari surga,
    ia ‘kan lebih siap menyelamatkan hidup.

    Noemuti, Timor Barat, Januari 2011

    --------------------------
    ------------
    *) Terjemahan Indonesia dari puisi Tetun, HASEES KALIX TERUS NIAN (2011), yang pernah terbit di "Jornál Semanál Matadalan" di Dili, ibu kota Timor-Leste (Edisi 29, 3–9 Februari 2014).

    (Tegalyoso, Yogyakarta, 7 Desember 2018)

    Kata Turunan atau Derivat "Tetun"


    Foto Peta Bahasa Timor: www.google.com
     
    Adalah benar bahwa setiap kata lahir karena kebutuhan para penggunanya.

    Kata turunan atau derivat "Tetun" belum tercantum dalam kamus-kamus di Indonesia, terutama KBBI. Tetapi karena dibutuhkan, mau tidak mau, kata-kata turunannya harus dibuat agar bisa digunakan, baik untuk berbicara, menulis, maupun menerjemahkan. Berikut adalah kata "Tetun" dan turunannya (disusun sebagai entri [*] dan subentri [---] dalam kamus) yang saya buat---sembari menikmati secangkir kopi panas pada malam hari di Kota Gudeg ini---dan bagikan di sini. Kiranya bermanfaat bagi pengguna. Salam basastra!

    *Tetun n., adj. suku bangsa, budaya, bahasa yang ada di Pulau Timor (di Timor-Leste dan Indonesia [di Provinsi NTT])
    ---menetuntan v. menjadikan Tetun (ttg kata, ungkapan dll.);
    ---penetunan n. proses, cara, perbuatan menetunkan;
    ---ketetunan n. perihal Tetun; yang bersangkutan dengan Tetun

    * tetunis n. ahli, pakar, atau peneliti (budaya, bahasa) Tetun;
    * tetunisasi n. proses, cara, perbuatan menetunkan

    Catatan: Orang Tetun sendiri menyebut bahasa mereka "Tetun", sedangkan dalam literatur berbahasa Inggris, "Tetum" lebih lazim, karena mengikuti ejaan Portugis: "Tétum". Huruf "m" di akhir kata bahasa Portugis biasanya berbunyi sengau. Dan tidak lazim kata Portugis berakhiran dengan huruf "n". Karena itulah, "Tetun" menjadi "Tétum" atau "tétum" dalam bahasa Portugis.

    Rujukan utama penyusunan kata-kata turunan Tetun ini adalah Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2008).
     
    Tegalyoso, Yogyakarta, 5 Desember 2018

    Monday, November 12, 2018

    Bahasa Kristang (Portugis Malaka, Kreol Portugis) dan Puisi Dwibahasa Kristang-Indonesia


    Papia Kristang atau Kristang adalah sebuah bahasa kreol yang muncul dari kontak orang-orang Portugis dengan penduduk asli Malaka, Malaysia (setelah 1511). Menurut Wikipedia, di masa kini, bahasa ini---yang jumlah penuturnya terus berkurang---mempunyai ± 750 orang penutur di Malaka (Malaysia) dan 100 orang penutur di Singapura. Berikut adalah sebuah puisi dalam bahasa Kristang (dari Wikipedia), yang telah saya terjemahkan ke bahasa Indonesia. Silakan baca!


    -------------------------------------------

    POEM OF MALACCA


    Keng teng fortuna fikah na Malaka,
    Nang kereh partih bai otru tera.
    Pra ki tudu jenti teng amizadi,
    Kontu partih logu fikah saudadi.

    Oh Malaka, tera di San Francisku,
    Nteh otru tera ki yo kereh.
    Oh Malaka undi teng sempri fresku,
    Yo kereh fikah ateh mureh.
    -------------------------------------

    SAJAK DARI MALAKA

    Siapa yang beruntung tinggal di Malaka,
    Tak ingin beranjak ke negeri lain.
    Di sini, semua orang bersahabat,
    Bila bertolak, orang lekas merindu.

    Oh Malaka, negeri Santo Fransiskus,
    Tiada negeri lain yang kukehendaki.
    Oh Malaka, tempat yang selalu sejuk,
    Kuingin tinggal di sini hingga kumati.

    Terjemahan Indonesia: Yohanes Manhitu
    Yogyakarta, 12 November 2018


    Catatan: Dalam puisi di atas, sangat mungkin, Malaka disebut sebagai negeri Santo Franskusis karena, menurut catatan sejarah, Santo Fransiskus Xaverius, salah seorang pendiri Yesuit dan misionaris di Maluku, pernah tinggal selama beberapa bulan di Malaka pada tahun 1545, 1546, dan 1549.

    Foto peta kuno Benteng Malaka: www.google.com