Saturday, July 11, 2009

Beberapa Istilah Turunan Dari Kata "Dawan"

Oleh: Yohanes Manhitu


Berikut ini adalah beberapa istilah baru yang merupakan turunan dari kata “Dawan”. Istilah-istilah ini tidak dipaksakan kepada siapa pun, tetapi dimaksudkan untuk merumuskan suatu konsep baru yang mengandung kejelasan makna. Barangkali masih diperlukan tambal-sulam dalam perjalanan waktu.

  1. Antidawan (Antidawan) : Tidak suka atau menolak orang atau hal yang bersifat Dawan.
  2. Dawanis (Dawanist) : Orang asing yang memiliki minat untuk meneliti dan mempelajari kebudayaan (masyarakat penutur bahasa) Dawan.
  3. Dawanisasi (Dawanization/dawanisation) : Pendawanan, yaitu proses atau cara menjadikan seperti orang Dawan.
  4. Dawanitas (Dawanity) : Kedawanan atau sifat dan ciri khas yang melekat pada seorang penutur bahasa Dawan, atau pada seseorang yang belajar bahasa Dawan.
  5. Dawanofil (Dawanophile) : Orang yang sangat mengagumi bahasa Dawan dan segala sesuatu yang berhubungan dengan kedawanan.
  6. Dawanofob (Dawanophobe) : Orang yang memiliki rasa takut berlebihan akan orang Dawan atau hal-hal yang berhubungan dengan bahasa, kebudayaan dan lain-lain yang bersifat Dawan.
  7. Dawanofobia (Dawanophobia) : Rasa takut berlebihan akan orang Dawan atau hal-hal yang berhubungan dengan bahasa, kebudayaan dan lain-lain yang bersifat Dawan.
  8. Dawanofobis (Dawanophobic) : Bersifat dawanofobia.
  9. Dawanofon (Dawanophone) : Sesuatu yang berhubungan dengan masyarakat penutur bahasa Dawan, atau tentang penutur bahasa Dawan. Jadi, seorang dawanofon sama artinya dengan seorang penutur bahasa Dawan.
  10. Dawanografer (Dawanographer) : Orang yang menulis dalam bahasa Dawan.
  11. Dawanografi (Dawanography) : Penulisan dalam bahasa Dawan.
  12. Dawano-Jawa (Dawano-Javanese) : Bersifat Dawan-Jawa.
  13. Dawanolog (Dawanologist) : 1. Pakar atau orang yang memiliki pengetahuan yang mendalam tentang dawanologi. 2. Budayawan Dawan.
  14. Dawanologi (Dawanology) : Ilmu tentang bahasa Dawan (Uab Metô) dari seluruh dialek dan segala aspeknya sebagai alat komunikasi masyarakat penutur bahasa Dawan. Kajian ini dapat diperluas untuk mencakup studi tentang kebudayaan, sejarah, seni, musik, ilmu pengetahun tentang masyarakat Dawan (Atoin-Metô).
  15. Dawanologis (Dawanological) : Bersifat atau memiliki ciri dawanologi.
  16. Dawanosentris (Dawanocentris) : Berpusat pada orang atau kebudayaan Dawan.
  17. Dawanosentrisme (Dawanocentrisme) : Pemusatan pada orang atau kebudayaan Dawan.
  18. Didawanisasi (Dawanized/dawanised) : Dijadikan seperti orang Dawan.
  19. Didawankan (Dawanized/dawanised) : 1. Dialihkan ke bahasa Dawan; diterjemahkan ke bahasa Dawan 2. Dijadikan seperti orang Dawan.
  20. Kedawan-dawanan (Acting like a Dawan-speaking person; Dawan-like): Bertingkah atau berlagak seperti orang Dawan.
  21. Mendawanisasi (To dawanize/dawanise) : Menjadikan seperti orang Dawan.
  22. Mendawankan (To dawanize/dawanise) : 1. Mengalihkan ke bahasa Dawan; menerjemahkan ke bahasa Dawan 2. Menjadikan seperti orang Dawan.
  23. Prodawan (Prodawan) : Setuju dan mendukung orang atau hal yang bersifat Dawan.
  24. Terdawanisasi (Dawanizde/dawanised) : Dapat/sudah dijadikan seperti orang Dawan.
  25. Terdawankan (Dawanized/dawanised) : 1. Dapat/sudah dialihkan ke bahasa Dawan; diterjemahkan ke bahasa Dawan 2. Dapat/sudah dijadikan seperti orang Dawan.


Yogyakarta, 11 Juli 2009

Friday, July 10, 2009

Ai-funan (Flower), Hosi/By Rabindranath Tagore

Hosi: Rabindranath Tagore

Ku’u ai-funan ne’e no foti, keta hakleur! Ha’u ta’uk keta nia
namlaik no monu iha rai-rahun.

Karik ha’u la hetan fatin iha Ita-nia koroa ai-funan,

maibé respeita nia ho Ita-nia liman nia moras i ku’u.

Ha’u ta’uk keta loron julgamentu to’o mai molok ha’u-nia
laran-moris, no tempu atu hanai liu tiha.

Maski ninia kór la kle’an no ninia iis la maka’as karik,

uza took nia iha Ita-nia servisu no ku’u nia kuandu sei iha tempu.

.
Tradusaun ba lia-tetun hosi Yohanes Manhitu, iha Yogyakarta


==================

Flower

By: Rabindranath Tagore


Pluck this little flower and take it, delay not! I fear lest it
droop and drop into the dust.

I may not find a place in thy garland,

but honour it with a touch of pain from thy hand and pluck it.

I fear lest the day end before I am
aware, and the time of offering go by.

Though its colour be not deep and its smell be faint,

use this flower in thy service and pluck it while there is time.


Potret di Atas Karang (El Retrato en la Roca) Oleh/Por Pablo Neruda

Oleh: Pablo Neruda


Ya, kukenal dia, dan kulewatkan sederet tahun bersamanya,

dengan hakekatnya yang berasal dari emas dan batu,

ia seorang lelaki yang letih –

di Paraguay ia tinggalkan ayah dan bundanya,

anak-anaknya dan semua keponakannya,

ipar-iparnya yang paling akhir,

pintunya dan ayam-ayamnya,

serta beberapa buku yang setengah terbuka.

Ada suara ketukan pintu.

Ketika ia membukanya, ia disambar polisi

dan mereka menderanya tanpa kata ampun

sehingga ia ludahkan darah di Prancis, di Denmark,

di Spanyol, di Italia, dan bergerak ke sana kemari,

kemudian ia mati dan tak lagi kulihat wajahnya,

tak lagi kudengar kesunyiannya yang dalam;

lalu suatu ketika, pada suatu malam berbadai,

dengan salju yang turun menyelubungi

sebuah mantel licin di daerah pegunungan,

di punggung seekor kuda, di sana, di kejauhan,

kulayangkan pandang dan kulihat sahabatku di sana

parasnya kini terukir di permukaan sebuah batu,

dan raut wajahnya menantang cuaca liar,

dalam rongga hidungnya angin meniupkan

rintihan seorang lelaki yang tanggung siksa.

di sana, pengasingan temukan titik akhir.

kini ia hidup di tanah airnya walau berwujud batu.

.

Diterjemahkan oleh Yohanes Manhitu,

Yogyakarta, 18 Mei 2004

Puisi ini telah tercantum di http://www.geocities.com/johnmanhitu2001/PUISI_PUISI_TERJEMAHAN.html


=======================

El Retrato en la Roca


Por: Pablo Neruda


Yo sí lo conocí, viví los años

con él, con su substancia de oro y piedra,

era un hombre cansado:

dejó en el Paraguay su padre y madre,

sus hijos, sus sobrinos.

sus últimos cuñados,

su puerta, sus gallinas,

y algunos libros entreabiertos.

Llamaron a la puerta.

Cuando abrió la sacó la policía,

y lo apalearon tanto

que escupío sangre en Francia, en Dinamarca,

en España, en Italia, trajinando,

y así murió y dejé de ver su cara,

dejé de oír su hondísimo silencio,

cuando una vez, de noche con chubasco,

con nieve que tejía

el traje puro de la cordillera,

a caballo, allá lejos,

miré y allí estaba mi amigo:

de piedra era su rostro,

su perfil desafiaba la intemperie,

en su nariz quebraba el viento

un largo aullido de hombre perseguido:

allí vino a parar el desterrado:

vive en su patria convertido en piedra.

===============================

Pablo Neruda

Lahir di Parral, Chile, 1904, dengan nama Neftali Ricardo Reyes y Basoalto, dan dipandang sebagai salah satu seorang penyair terbesar abad ke-20. Ia belajar menulis puisi pada usia remaja dan pada tahun 1924 menjadi penyair Amerika Latin yang termuda dan termasyur. Pada mulanya ia menganut aliran Simbolisme, lalu Surealisme, dan akhirnya realisme. Berkat keunggulannya dalam bidang sastra, ia kemudian diangkat sebagai konsul di Asia, Amerika Latin, dan Spanyol. Pernah juga sebagai duta besar Chile untuk Prancis. Pada tahun 1971, ia memenangkan hadiah Nobel Sastra. Sang pemenang meninggal pada tahun 1973.

On est toujours en retard


Par: Yohanes Manhitu


La réalité indique qu’on est toujours en retard pour formuler des nouveaux mots pour les produits d’une nouvelle technologie. Dans ce cas-là, je ne voudrais pas parler d’une situation mondiale compliqué, mais plutôt jeter un coup d’œil sur la réalité en Indonésie, où, comme d’habitude, on commence à utiliser sans aucune adaptation orthographique rapide et correcte les mots comme download (télécharger), blog, spam, Facebook, website, homepage et cetera. En fait, il n’y aurai pas de problème si on continue à utiliser ces mots-ci bien qui’ils ne sont pas correctement adaptés selon les règles de notre langue nationale. Le problème se pose qu’on essaie de donner une traduction indonésienne à chaque mot étranger dont l’usage phonétique est déjà commun pour tout le monde. J’appelle cela l’adaptation tardive pour une utilisation aussi tardive.


Je me demande si on est toujours au courant du développement technologique dans le monde qui finalement donne naissance aux produits ayant besoin des nouveaux mots. Si on est bien informé sur ce type de développement, je suis sûr qu’on est toujous à la même vitesse dans les mesures d’une adaptation rapide et correcte dans le but de faciliter la communication. Mais la réalité nous indique qu’on est presque toujours en retard pour cela. Peut-être on ne produit pas énormément, mais on doit savoir comment être utilisateurs intelligents de chaque produit avec une langue bien réglée et entendue.


Pugeran Timur-Yogyakarta, le 10 juillet 2009