Thursday, July 30, 2020

Selamat jalan! Semoga beristirahat dalam damai.

Foto: https://seleb.tempo.co

Turut berdukacita sedalam-dalamnya atas meninggalnya sastrawan kawakan Ajip Rosidi (1938-2020)! Sang profesor tanpa ijazah sarjana dan begawan sastra Sunda dan Indonesia itu telah pergi untuk selama-lamanya. Selamat jalan, sang penggagas Hadiah Sastra Rancage! Semoga arwahmu menikmati istirahat dan damai di Alam Mahapuitis! Nama dan karyamu akan abadi. (Piyungan, DIY, 30 Juli 2020). 🌺  

Artikel Saya Dikutip dalam Sebuah Tesis di Universitas Negeri Medan



Dalam tesisnya (untuk memperoleh gelar Magister Humaniora [M.Hum.]) yang berjudul THE ATTITUDES OF UNIVERSITY STUDENTS OF BATUBARA IN MEDAN TOWARDS BATUBARA MALAY LANGUAGE, Julisah Izar, dari Jurusan Linguistik pada Universitas Negeri Medan, Sumatra Utara, mengutip pendapat saya (yang ia terjemahan ke bahasa Inggris), bunyinya begini:

Yohanes Manhitu (2011) states that there are some consideration of using ethnics languages those are : as a tool for showing the culture, as the identity of the nation, part of the Indonesian culture mosaic and world, the bridge between generation, the language introduction in the school such as local content, Attitudes towards a particular language might be either positive or negative. Some the users of language may have negative attitudes towards the second language and want to learn it in order to preveil over people in the community. (Sumber: Silakan klik di sini)

Catatan: Artikel yang menjadi sumber kutipan di atas berjudul Bahasa Daerah: Kekayaan Budaya yang Harus Tetap Lestari dan dapat dibaca di sini. Terima kasih atas kutipan ini. Semoga tulisan-tulisan yang telah dibuat bermanfaat seluas-luasnya bagi yang membutuhkan. Salam mesra buat semua!


Foto Rumat Adat Batubara di Medan: https://travel.detik.com

HA'U HAKARAK (Terjemahan Sebagai Perhormatan kepada Sastrawan Sapardi Djoko Damono

Foto: https://www.skymetweather.com

Ha'u hakarak hadomi ó ho dalan simples
ho liafuan ne'ebé ai la biban atu dehan ba ahi mak halo nia sai ahun
Ha'u hakarak hadomi ó ho dalan simples
ho sinál ne'ebé kalohan la biban atu dehan ba udan mak halo nia lakon

— Sapardi Djoko Damono (1940–2020), poeta boot ida Indonézia nian

---------------------------------------------

*) Tradusaun ba lia-tetun: Yohanes Manhitu (19 Jullu 2020; versaun orijinál hetan iha-ne'e). Ne'e ha'u-nia omenajen ba poeta Sapardi Djoko Damono, ne'ebé ohin hakat ba mundu seluk. Nia bele hanesan kalohan be udan halakon, maibé ninia naran no knaar sei moris nafatin.

"Kamus Indonesia-Tetun, Tetun-Indonesia" Dikutip dalam Sebuah Jurnal Ilmiah di Papua

Gambar: http://kibascenderawasih.kemdikbud.go.id 

INFO LITERASI: Syukur, Kamus Indonesia-Tetun, Tetun-Indonesia (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, Edisi I: Juli 2007; Edisi II: April 2015) sudah lebih sering dijadikan rujukan penulisan karya ilmiah, baik di dalam maupun di luar negeri. Kali ini, bagian karya itu dikutip oleh Antonius Maturbongs, dari Balai Bahasa Papua di Jayapura, dalam tulisannya yang berjudul PERAN SEMANTIS VERBA BAHASA TETUN DI TIMOR LESTE (terbit di jurnal ilmiah "Kibas Cenderawasih", Vol. 15, No. 1, April 2018:33—52). Silakan baca tulisan tersebut di sini.

(Babadan Asri, DIY, 17 Juli 2020, pada masa karantina mandiri)

"Kamus Indonesia-Tetun, Tetun-Indonesia" dalam Sebuah Tulisan di Jurnal Universitas di NTT

Foto: Dokumen pribadi penulis
INFO LITERASI: Catatan-catatan saya tentang bahasa Tetun (dalam Kamus Indonesia-Tetun, Tetun-Indonesia [Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, Juli 2007]) sempat dirujuk Hendrik Bouk (dari Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Katolik Widya Mandira Kupang, NTT) untuk tulisannya yang berjudul KESANTUNAN BERBAHASA TETUN DALAM KOMUNIKASI INTERPERSONAL ANTARA MASYARAKAT RAFA’E DENGAN KAUM BANGSAWAN (baca tulisan tersebut di sini). Semoga bermanfaat ya. Salam literasi,

Sekilas Tentang Buku Percakapan Tanpa Bahasa Belanda ("Multlingva Frazlibro"; Rotterdam, 2009)

Foto: Dokumen pribadi penulis

Oleh: Yohanes Manhitu

Buku saya Multlingva Frazlibro (Rotterdam, Belanda: Universala Esperanto-Asocio [UEA], 2009) adalah sebuah buku percakapan 9 bahasa (Esperanto, Indonesia, Dawan, Tetun Nasional, Melayu Kupang, Inggris, Prancis, Spanyol, Portugis) dengan bahasa Esperanto sebagai bahasa pangantar. Buku ini disusun secara tematis dan dilengkapi dengan sejumlah lampiran.

Sayang, walaupun diterbitkan oleh Asosiasi Esperanto Sedunia di Rotterdam, Negeri Belanda, buku ini tidak mencakup bahasa Belanda. Alasannya adalah pada saat itu, ketika buku itu lagi disusun, saya belum sempat belajar bahasa Belanda, apalagi sanggup menyusun ratusan kalimat percakapan tematis.

Suatu ketika, seorang Esperantis dari Eropa yang telah menggunakan buku tersebut berkunjung ke Yogyakarta, setelah mengunjungi Salatiga, tempat lahirnya. Tatkala kami berjumpa, ia bertanya langsung kepada saya dalam bahasa Esperanto mengapa bahasa Belanda tidak tercantum di buku itu, padahal bahasa itu pernah digunakan di Hindia Belanda selama 350 tahun, dan cukup banyak kosakata serapan dari bahasa Belanda dalam bahasa Indonesia. Dengan tersenyum, saya cuma bilang bahwa tak mungkin saya mencantumkan bahasa yang belum sempat dipelajari cukup mendalam, apalagi dalam sebuah buku percakapan. Lalu, kami terlibat dalam obrolan asyik tentang politik kebahasaan Hindia Belanda dan Indonesia merdeka.

Semoga suatu saat nanti (karena belum bisa sekarang!), setelah saya sudah mahir menggunakan bahasa Belanda, bahasa itu boleh juga ditambahkan.

Catatan: Buku percakapan Multlingva Frazlibro ini sudah dikoleksi oleh Le Centre culturel espéranto (Pusat Kebudayaan Esperanto) di Toulouse, Prancis; perpustakaan Esperanto di Aalen, Jerman; perpustakaan UEA di Rotterdam, Belanda; perpustakaan Kota Yogyakarta, dll.

(Babadan Asri, DIY, 10 Juli 2020, pada masa karantina mandiri)