Friday, September 16, 2016

Ternyata ini siang bolong

Foto: www.google.com

Tiada kalong, serigala tak melolong,
kita di sini, terperangkap di kolong.
Tak perlu minta orang menolong.
Eh...! Ternyata ini siang bolong.

(Sekadar bait penanda waktu)
Yogyakarta, 16 Sept. 2016

Thursday, September 15, 2016

Ungkapan "Mencari Nama"

Foto: Pemerahan susu kerbau; https://1.bp.blogspot.com

Ungkapan "mencari nama" menunjukkan dengan jelas bahwa nama yang diberikan orang tua dan juga sapaan para teman kita belum cukup. "Mencari nama" masih menjadi salah satu butir pencarian insani selama hayat dikandung badan. Tampaknya hal inilah yang mendorong terciptanya peribahasa Indonesia "Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama". Tetapi dalam kehidupan sehari-sehari, terkadang fakta yang digambarkan oleh peribahasa "Kerbau punya susu, sapi punya nama" jauh lebih akrabsudah tak asing lagi.

Salam mesra bagi semua!

Saturday, September 10, 2016

Buku "Tetum, A Language For Everyone / Tetun, Lian Ida Ba Ema Hotu-Hotu" (New York: Mondial, 2016) di berbagai situs internet negara asing

Foto: www.google.com

Akhirnya, harapan saya terkabul juga. Kini informasi dan gambar sampul depan buku Tetum, A Language For Everyone / Tetun, Lian Ida Ba Ema Hotu-Hotu (New York, Amerika Serikat: Mondial, 15 Agustus 2016) muncul di berbagai situs internet negara asing. Hingga kini terdapat di:
  1. https://www.amazon.com (klik)
  2. https://www.amazon.ca (klik)
  3. https://www.amazon.fr (klik)
  4. https://magrudy.com (klik)
  5. www.mediander.com (klik)
  6. https://www.tanum.no (klik)
  7. http://www.alibris.co.uk (klik)
  8. http://foreign.aladin.co.kr (klik)
  9. origin-mnr.barnesandnoble.com (klik)
Informasi lebih lengkap tentang karya ini terdapat di http://ymanhitu-works.blogspot.com/2016/09/tetum-language-for-everyone-tetun-lian.html.

Peduli apa pada gelombang?


(Jawaban buat Lanny Koroh di Facebook)

Ketika raga menemukan ruang
dan jiwa tak merasa terkurung,
segalanya terasa berimbang,
peduli apa pada gelombang?

Yogyakarta, 7 Sept. 2016

Empat buah puisi Tetun Nasional di Edisi 147 "Jornál Semanál Matadalan" (30 Agustus-6 September 2016)

Foto: Kiriman Jornál Semanál Matadalan


Sekadar informasi: Empat buah puisi Tetun Nasional saya baru terbit di Edisi 147 (30 Agustus-6 September 2016) Jornál Semanál Matadalan, sebuah mingguan berbahasa Tetun di Dili, ibu kota Republik Demokratik Timor-Leste (RDTL). Puisi-puisi yang terbit tersebut masing-masing berjudul: HA’U IHA SAUDADES NAFATIN BA Ó (2010); RAI MORIS-FATIN (2010); HOSI ODAMATAN BA ODAMATAN (2011); dan TO’O-FATIN RASIK (2010).

Terima kasih banyak kepada Bung Cancio Ximenes yang dengan ramah mengundang saya pada tahun 2013―setelah Matadalan berdiri―untuk ikut "meramaikan" rubrik Arte & Literatura di Matadalan (Tetun, Pemandu). Sejak saat itu, sejumlah puisi dan cerpen asli saya dalam bahasa Tetun Nasional telah terbit di media ibu kota RDRL tersebut. Semoga tali persahabatan sastrawi ini tetap terpelihara baik, terutama di antara para warga dua negara tetangga.

Teman-teman peminat sastra (puisi) di Timor-Leste, terutama di Kota Dili, dapat menikmati puisi-puisi tersebut langsung di versi cetak Matadalan apabila hasil "scan" yang dimuat di sini kurang jelas. Salam sastra dan salam mesra,

(Yogyakarta, 6 September 2016)

Kisah Tentang Terbitnya Sebuah Buku di New York

Image: www.google.com

Setelah melalui sebuah perjalanan yang panjang (Yogyakarta-Jakarta-Australia-Amerika Serikat), akhirnya buku saya Tetum, A Language For Everyone / Tetun, Lian Ida Ba Ema Hotu-Hotu (Tetun, Sebuah Bahasa Untuk Semua Orang) dapat diterbitkan di New York, AS, oleh Mondial, sebuah penerbit buku berbahasa Inggris, Esperanto, dan Jerman.

Buku tersebut sebenarnya berasal dari bahan per bab yang saya susun sendiri dan gunakan untuk mengajar bahasa Tetun Nasional kepada orang-orang asing di Yogyakarta beberapa tahun silam (2006-2008). Penelusuran dan pengayaan terus-meneruslah yang membawa bahan-bahan tersebut ke status buku. Pada awalnya, naskah itu ditulis dalam bahasa Inggris ragam Britania (British English) dan kemudian ditawarkan kepada sebuah penerbit besar di Jakarta. Tetapi karena alasan peluang pasar, dianjurkan untuk menawarkannya kepada penerbit di Australia. Setelah ditawarkan kepada sebuah penerbit di New South Wales, Australia, ternyata belum beruntung. Akhirnya, saya mencari kemungkinan di Amerika Serikat (AS). Mungkin saya akan mencoba mencari lagi peluang di Kanada dan/atau Inggris kalau belum berhasil di AS. Syukurlah, saya dapat menemukan sebuah penerbit di New York yang memberikan "angin segar". Dan karena akan diterbitkan di AS, isi buku harus saya sesuaikan dengan bahasa Inggris ragam Amerika Serikat (American English). Satu hal yang menarik dari buku ini adalah komunikasi dari awal hingga penerbitannya dilakukan secara total dalam bahasa Esperanto, bahasa hebat rancangan L. L. Zamenhof.

Berbeda dengan beberapa buku saya sebelumnya, buku pelajaran "Tetum, A Language For Everyone / Tetun, Lian Ida Ba Ema Hotu-Hotu" tidak dijual di Indonesia dan/atau Timor-Leste, negara berbahasa Tetun. Tetapi bisa dipesan secara daring (online) di http://www.mondialbooks.com/about-us.html atau https://www.amazon.com/Tetum-Language-Everyone-Tetun-Hotu-Hotu/dp/1595693211.

Tak lupa saya ucapkan banyak terima kasih kepada Bung Herminio Lelan dari Oekusi-Ambeno, Timor-Leste, yang telah membagikan foto indahnya untuk menghias sampul buku saya. Nama Bung tercatat jelas di buku tersebut.

Labor omnia vincit improbus (Latin, Pekerjaan yang dilakukan dengan tekun mengatasi segala rintangan; Tetun: Serbisu ho badinas manán obstákulu hotu-hotu). Semoga karya ini bermanfaat seluas-luasnya. 

Salam mesra,

(Yogyakarta, 2 September 2016)