Monday, September 16, 2019

Definisi "Esperantis" Menurut Deklarasi Boulogne


According to the Declaration of Boulogne, a document agreed upon at the first World Esperanto Congress in 1905, an Esperantist is someone who speaks Esperanto and uses it for any purpose. (https://en.wikipedia.org)

Menurut Deklarasi Boulogne, sebuah dokumen yang disetujui pada Kongres Esperanto Dunia pada tahun 1905, Esperantis adalah seseorang yang berbicara bahasa Esperanto dan menggunakannya untuk tujuan apa pun.

Tuir Deklarasaun Boulogne, dokumentu ida-ne'ebé hetan akordu iha Kongresu Esperantu Mundiál iha tinan 1905, Esperantista mak ema ida-ne'ebé ko'alia esperantu no uza nia ba kualkér objetivu. (Tetun Ofisiál Timór-Leste nian)


Terjemahan Indonesia & Tetun: Yohanes Manhitu
Gambar/Imajen: www.youtube.com

Video saya yang ditayangkan kepada pengunjung pada acara "Serba-Serbi Esperanto" di Perpustakaan Nasional Jakarta, 15 September 2019

https://www.youtube.com/watch?v=VpQMV5qxFfc&t=225s&fbclid=IwAR08oX3oCblpxJD2OVLGHpXWaCukXkTO6pGGervlIE7k0I34z0ijyBhYmA0
Silakan klik foto ini atau klik di sini.

Ini adalah video singkat yang mencakup perkenalan saya sebagai Esperantis, pengalaman saya belajar bahasa Esperanto (sejak Januari 2001), dan karya-karya tulis saya dalam bahasa Esperanto dan juga bahasa lain, baik yang terbit di dalam maupun luar negeri. Video singkat ini telah ditayangkan pada acara "Serba-Serbi Esperanto" di Perpustakaan Nasional Jakarta dalam rangka Perpusnas Expo 2019. Senang bisa terus belajar dan berbagi. 

Terima kasih banyak saya ucapkan kepada ketiga orang ini:
  1. Sdri. Ilia (Mi Nomiĝas Ilia) dari Perhimpunan Esperanto Indonesia (Indonezia Esperanto-Asocio) yang telah mengundang saya untuk ikut "hadir" melalui video sebagai seorang Esperantis, penulis dan penerjemah;
  2. Sdr. Adrianus Manhitu (Ardhy Manhitu), yang sudah merekam video ini walaupun sebenarnya lagi sibuk dengan berbagai aktivitasnya;
  3. Sdr. Arman Yusuf, seorang Esperantis, yang sudah membantu meramu video ini dengan baik dan membagikannnya di kanal YouTube. 
Semoga bermanfaat ya. Setelah menonton video ini, silakan berikan komentar di kolom komentar YouTube. 

Terima kasih dan salam mesra! ☕️

Acara "Serba-Serbi Esperanto" di Perpusnas Jakarta


Senang mengetahui bahwa acara "Serba-Serbi Esperanto" dalam rangka Perpusnas (Perpustakaan Nasional) Expo 2019 di Jakarta berjalan dengan lancar dan sukses! Walaupun tidak sempat ikut secara tatap muka, saya cukup senang karena saya bisa turut "hadir" melalui video singkat yang mencakup perkenalan sebagai Esperantis, pengalaman belajar bahasa Esperanto (sejak Januari 2001), dan karya-karya tulis saya dalam bahasa Esperanto dan juga bahasa lain, baik yang terbit di dalam maupun luar negeri. Senang bisa terus belajar dan berbagi. Belajar bahasa Esperanto itu amat menyenangkan. 🌺

Foto: Majalah "Intisari" vol. 41 no. 508 (Nov. 2005), hlm. 128-133

Paŝon post paŝo, post longa laboro


"Ni paŝon post paŝo, post longa laboro,
Atingos la celon en gloro."
(Esperanto)

(Kita setapak demi setapak, setelah lama berkarya,
Akan mencapai tujuan dengan jaya.) (Indonesia)

---(L.L. Zamenhof, dua baris terakhir dari
puisi La Vojo [bahasa Esperanto, "Jalan"],
dalam Esperanta Antologio [1958])

Foto: stevehendersonfineart.com

Thursday, August 29, 2019

Puisi-puisi asli saya dalam bahasa Spanyol di tiga situs puisi Spanyol


Syukur! Ternyata puisi-puisi asli saya dalam bahasa Spanyol telah tercantum di tiga situs puisi berikut. Beberapa di antaranya telah terbit di Salamanca, Spanyol, dan diterjemahkan ke bahasa Rumania dan terbit di New York.
  1. https://poesia-espanola.com/yohanes-manhitu
  2. http://www.poetaspoemas.com/yohanes-manhitu
  3. http://espanol.agonia.net/index.php/author/0009165/Yohanes_Manhitu
Padahal, awalnya puisi-puisi itu cuma tercantum di situs nomor 3 di atas. Ternyata ada insan sastra yang berbaik hati. ¡Muchas gracias! 🌺

Gambar: Dicuplik dari film "Way of the Dragon" (1972)

Kesempatan Terbaru untuk Terus Belajar: Menerjemahkan Puisi Penyair El Salvador

 
Setelah menerjemahkan puisi Santo Yohanes dari Salib (San Juan de la Cruz, pelindung para penyair berbahasa Spanyol) ke bahasa Indonesia, Dawan, Tetun Nasional dan Melayu Kupang, saya kembali mendapatkan kepercayaan dari Salamanca, Spanyol, untuk menerjemahkan puisi penyair El Salvador ke empat bahasa Austronesia di atas. Penyair itu bernama Luis Borja, pemenang "Premio Internacional de Poesía Pilar Fernández Labrador" tahun 2019. Ini adalah sebuah penghargaan bergengsi di dunia kesusastraan berbahasa Spanyol. Terjemahan-terjemahan yang saya buat langsung dari bahasa Spanyol itu akan terbit di Salamanca pada bulan September tahun ini.

Selalu ada kesempatan belajar. Kiranya relasi sastrawi antarbangsa tetap terpelihara. Sastra, terutama puisi, merekatkan hati umat manusia. 🌺

Foto Luis Borja: https://www.laprensagrafica.com

Menerjemahkan Puisi Santo Yohanes dari Salib


Napas lega! Akhirnya, terjemahan puisi Santo Yohanes dari Salib (San Juan de la Cruz, pelindung para penyair berbahasa Spanyol) ke bahasa Indonesia, Dawan, Tetun Nasional dan Melayu Kupang telah rampung dan dikirim ke Salamanca, Spanyol. Terjemahan-terjemahan yang dibuat langsung dari bahasa Spanyol ini akan terbit di Salamanca pada bulan Oktober tahun ini. Selalu ada kesempatan belajar. Kiranya relasi sastrawi antarbangsa tetap terpelihara. Sastra, terutama puisi, merekatkan hati umat manusia. 🌺

Gambar: https://www.theelephant.info

Lil au nol dael banan" (Bangunlah aku dengan hati yang tulus): Semboyan Kota Kupang (NTT)


Tabik! Ternyata, seperti Kabupaten Malaka (dengan semboyan Tetun Belu "Neon Ida, Hader Ita Rai, Diak no Kmanek"---Sepikiran, Membangun Tanah Kita, [Menjadi] Elok dan Sejahtera), Kota Kupang (dibentuk pada tahun 1999) pun secara jelas mencantumkan semboyan dalam sebuah bahasa Timor pada lambangnya. Perhatikan semboyan dalam bahasa Helong ini: "Lil au nol dael banan" (Bangunlah aku dengan hati yang tulus). Masihkah ada yang lain?

Gambar, moto, dan terjemahan Helong: http://daonlontar.blogspot.com

Tuesday, July 30, 2019

Puisi-Puisi Esperanto Saya Terbit dalam Majalah-Majalah Esperanto di Berbagai Negara

Sejak tahun 2006, setelah puisi perdana saya dalam bahasa Esperanto, Sub la vasta ĉielo (ditulis setelah gempa bumi di Yogyakarta), terbit dua kali dalam buletin Esperanto en Azio di Jepang, sering kali puisi Esperanto saya terbit dalam majalah-majalah Esperanto di berbagai negara atau cuma dibacakan di sebuah radio Esperanto mancanegara. Di antara majalah-majalah itu adalah La Karavelo (Portugal), Sennaciulo (Prancis), dan Vesperto (Hungaria). Misalnya dalam edisi 1 Januari 2007 majalah Sennaciulo (yang berpusat di Avenue Gambetta, FR-75020 Paris, Prancis), terbit dua puisi asli saya dalam bahasa Esperanto. Masing-masing berjudul "La nokto, la silento" (Malam, keheningan) dan "Mondo sen milito" (Dunia tanpa perang). Sastra tidak mengenal batas geografis. Mari kita menulis dalam bahasa apa saja. ✍️

Percakapan Indonesia-Portugis dan Gramatika Dasar Bahasa Portugis di Kamus Dwibahasa


Sekadar info buat Bung Mull Kanni yang telah menganjurkan agar saya menyusun buku percakapan Indonesia-Portugis. Terima kasih atas anjuran ini. Tetapi saya pikir, saya tak perlu menyusun buku itu karena baik percakapan Indonesia-Portugis maupun gramatika dasar bahasa Portugis telah tercantum di “Kamus Portugis-Indonesia, Indonesia-Portugis” (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, Edisi I: Desember 2015; Edisi II: Juli 2017). Percakapan Sehari-hari Indonesia-Portugis terdapat pada Lampiran 1 (hlm. 1463-1479) dan Gramatika Dasar Bahasa Portugis tercantum pada Pendahuluan (hlm. xxiv-lxviii). Teman-teman yang tinggal di Timor-Leste dan Timor Barat, silakan dapatkan karya perdana di Indonesia tersebut di Toko Buku Gramedia Kuanino, Kupang, NTT. Salam bahasa dan sastra dari Jogja! ✍️
-------------------------------------------
 
KETERANGAN PRODUK

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 9786020308333
Berat: 1.90 kg
Negara Produsen: Indonesia
Penyuplai: PT Gramedia Pustaka Utama

Tanggal Terbit: 14 Desember 2015
Lebar: 15 cm
Panjang: 23 cm
Tebal: 0 (tidak dihitung)
Halaman: 1616
Bahasa: INDONESIA
Tipe Jilid: HARD COVER (Sampul Tebal)

Sunday, June 30, 2019

Di Makam Raja Ambenu João da Cruz dan Permaisuri Keduanya


Berpose di makam raja Ambenu João da Cruz dan permaisuri keduanya, Maria A. da Cruz M., di Desa Bakitolas, Kecamatan Naibenu, Kabupaten Timor Tengah Utara, Provinsi Nusa Tenggara Timur, dalam sebuah kunjungan pada tanggal 29 Juni 2019. Menurut catatan Pastor Norberto Augusto Parada (1940-an) dan I. Toto (1976), Raja João da Cruz dan permaisuri pertamanya, Bi Sani Taeki Meko, serta sejumlah besar pengikutnya meninggalkan Ambenu pada tahun 1912 sebagai akibat perang sengit di Enklave Ambenu melawan pihak Portugis Putih yang persenjataannya jauh lebih unggul. Dilaporkan bahwa permaisuri Bi Sani Taeki Meko wafat di Oepoli pada tahun yang sama.

Foto: Apris Tefa (29 Juni 2019).

Catatan: Terima kasih banyak atas kesediaan Bung Sevsenko Ukraina (dari Sunsea) untuk mengantar ke makam sang raja dan permaisurinya.

Daftar Sementara Terjemahan "Gitanjali (Song Offerings)" (1912) ke Berbagai Bahasa


Gitanjali (Song Offerings) (1912) karya pemenang Nobel Sastra 1913 oleh Rabindranath Tagore, pujangga terkemuka dari India, telah diterjemahkan ke berbagai bahasa di dunia. Berikut adalah daftar singkat yang terdiri atas bahasa sasaran penerjemahan Gitanjali, nama penerjemah, judul terjemahan, dan tahun terbit. Daftar ini masih perlu dilengkapi.

1. Terjemahan Dawan oleh Yohanes Manhitu: “Gitanjali (Sítnatas)” (2019).
2. Terjemahan Indonesia oleh Saut Pasaribu: “Kidung Persembahan” (2000).
3. Terjemahan Italia oleh P.M. Rigon: “Canti di offerta” (1999).
4. Terjemahan Jerman oleh Kurt Wolff: “Gitanjali (Sangesopfer)" (1914).
5. Terjemahan Melayu oleh A. Latiff Mohidin: “Gitanjali” (1987).
6. Terjemahan Portugis oleh Rafael Arrais: “Oferenda Lírica” (2014).
7. Terjemahan Prancis oleh André Gide: “L’offrande lyrique” (1917).
8. Terjemahan Rumania oleh George Ulieru: “Prinos de cantece” (2019).
9. Terjemahan Rusia oleh Boris Pasternak: “Gitanjali” (1950-1960).
10. Terjemahan Spanyol oleh Juan Ramón Jiménez dan Zenobia Camprubí Aymar: “Ofrenda lírica” (1918).

Semoga informasi ini bermanfaat. Salam sastra, 🌺

"Kamus Portugis-Indonesia, Indonesia-Portugis" Menjadi Referensi Penulisan Buku Hukum

Wow! Ternyata karya saya Kamus Portugis-Indonesia, Indonesia-Portugis (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2015) menjadi salah satu referensi untuk buku PERBANDINGAN REGULASI TINDAK PIDANA TANPA KORBAN DI KAWASAN ASIA (INDONESIA, MALAYSIA, DAN ARAB SAUDI) yang ditulis oleh Duwi Handoko, S.H., M.H. dan Beni Sukri, S.H., M.H. (2018) Semoga kamus dwibahasa "dua arah" tersebut semakin bermanfaat.

KETERANGAN PRODUK

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 9786020308333
Berat: 1.90 kg
Negara produsen: Indonesia
Penyuplai: Gramedia Pustaka Utama, Pt.
Tanggal terbit: 14 Desember 2015
Lebar: 15 cm
Panjang: 23 cm
Tebal: 0 (tidak dihitung)
Halaman: 1616
Bahasa: Indonesia
Tipe jilid: Sampul tebal

Penerjemahan sebuah puisi Santo Yohanes dari Salib (San Juan de la Cruz)


Informasi literasi. Puji Tuhan! Kini saya kembali mendapat kepercayaan dari Salamanca, Spanyol, untuk menerjemahkan sebuah puisi Santo Yohanes dari Salib (San Juan de la Cruz, pelindung para penyair berbahasa Spanyol) ke bahasa Indonesia, Dawan, Tetun Nasional, Melayu Kupang, dan Esperanto. Terjemahan-terjemahan yang dibuat langsung dari bahasa Spanyol ini akan terbit di Salamanca pada bulan Oktober tahun ini. Selalu ada kesempatan belajar. Kiranya relasi sastrawi antarbangsa tetap terpelihara. 🌺

Noemuti, Timor Barat, 10 Juni 2019
 

Friday, May 31, 2019

"Gitanjali (Sítnatas)" Berkunjung ke Candi Borobudur: Napak Tilas Tagore


Pada bulan Juli 1927, Rabindranath Tagore (7 Mei 1861–7 Agustus 1941), sastrawan pertama dari Asia yang menerima Hadiah Nobel Sastra (1913), datang ke Hindia Belanda dan berkesempatan mengunjungi Candi Borobudur di Jawa Tengah. Menurut catatan sejarah, pujangga kenamaan India ini tak pernah menginjakkan kakinya secara fisik di Tanah Timor pada zaman itu. Akan tetapi, syukurlah, pada masa kini (2019), ia bisa "sampai" di Timor, di tengah-tengah para penutur bahasa Dawan (Uab Meto), dalam wujud buku, yakni terjemahan "Gitanjali (Song Offerings)"----karya pemenang Nobel Sastra 1913---ke bahasa Dawan, yang berjudul "Gitanjali (Sítnatas)", terbitan Diandra Kreatif di Yogyakarta (tak begitu jauh dari Borobudur). Semoga ada lagi karya dunia yang hadir dalam bahasa Dawan, bahasa Timor terbesar (menurut jumlah penutur asli). Salam mesra bahasa & sastra ke seluruh jagat! 🌺

Foto: Rabindranath Tagore di Candi Borobudur (1927); sumber: https://www.malangtimes.com

"Gitanjali (Sítnatas)", Terjemahan "Gitanjali" (1913) ke Bahasa Dawan, Bahasa Timor yang Terbesar


Sekilas kisah. Pada bulan Januari 2006, saya menemukan sebuah situs web resmi yang membuat terjemahan-terjemahan Inggris oleh Rabindranath Tagore dari "Gitanjali" (1913). Karena sangat tertarik, setelah membaca sejumlah puisinya, saya menerjemahkan beberapa puisi dari kumpulan itu ke bahasa Indonesia dan Tetun Nasional (Timor-Leste). Tetapi tak lama kemudian, saya memutuskan saja untuk menerjemahkan sendiri seluruh puisi "Gitanjali" (1913) yang berjumlah 103 puisi itu ke bahasa Dawan (Uab Meto). Penerjemahan "Gitanjali" ke bahasa Dawan ini dimulai pada tanggal 28 Januari 2006 dan rampung pada tanggal 24 Mei 2016 (membutuhkan 10 tahun). Tetapi karena berbagai kesibukan, akhirnya terjemahan itu baru bisa terbit sekarang.

Syukur, sekarang Rabindranath Tagore "fasih berbahasa" Dawan! 🌺

Seluruh terjemahan saya ke bahasa Dawan di dalam buku ini telah saya bandingkan sendiri dengan terjemahan André Gide ke bahasa Prancis ("L'Offrande lyrique", 1917) dan terjemahan Ramón Jiménez dan istrinya, Zenobia Camprubí, ke bahasa Spanyol ("Ofrenda lírica", 1918) untuk "rujuk konstruktif antarterjemahan". Untuk diketahui, André Gide (1869–1951) adalah sastrawan terkemuka Prancis dan penerima Hadiah Nobel Sastra tahun 1947, sedangkan Juan Ramón Jiménez (1881–1958) adalah sastrawan terkemuka Spanyol dan penerima Hadiah Nobel Sastra tahun 1956. Salam sastra,
------------------------------------------------

Yang berminat untuk memesan buku puisi dwibahasa ini, silakan kontak saya melalui kotak pesan (inbox) Facebook. Terima kasih atas perhatian Anda.

KETERANGAN PRODUK

Penerbit: Diandra Kreatif, Yogyakarta
ISBN (13): 978-602-336-824-2
Ukuran: 14 X 20,5
Tanggal terbit: 17 Mei 2019
Halaman: 245
Bahasa: Dawan dan Inggris
Tipe jilid: Sampul tipis
Harga: Rp 80.000,-
-----------------------
Desain kover: Diandra Kreatif (Mei 2019)

"Lirik Santalum: Kumpulan Puisi Dawan dan Tetun dengan Terjemahan Indonesia"


Kini untuk ketiga kalinya jepretan saya sendiri dipakai sebagai foto sampul buku saya, yakni buku Lirik Santalum: Kumpulan Puisi Dawan dan Tetun dengan Terjemahan Indonesia (Yogyakarta, Diandra Kreatif, Mei 2019).

Keterangan: Foto Gunung Mutis (gunung tertinggi di Timor Barat dan Provinsi Nusa Tenggara Timur dengan ketinggian 2.427 mdpl) pada sampul buku puisi ini adalah karya Yohanes Manhitu; diambil pada tanggal 7 Januari 2018 dari arah Jln. El Tari, Desa Sallu, Eban, Kecamatan Miomaffo Barat, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Provinsi Nusa Tenggara Timur.
------------------------------------------------

Yang berminat untuk memesan buku puisi tribahasa ini, silakan kontak saya melalui kotak pesan (inbox) Facebook. Salam mesra bahasa dan sastra,

KETERANGAN PRODUK

Penerbit: Diandra Kreatif, Yogyakarta
ISBN (13): 978-602-336-823-5
Ukuran: 14 X 20,5
Tanggal terbit: 17 Mei 2019
Halaman: 298
Bahasa: Dawan, Tetun Nasional, dan Indonesia
Tipe jilid: Sampul tipis
Harga: Rp 90.000,-
-----------------------
Desain kover: Diandra Kreatif (Mei 2019)

Tuesday, April 30, 2019

Wawancara "El País" dengan Ngugi Wa Thiong’o

Foto: https://www.nepad.org

Ngugi Wa Thiong’o adalah singa sastra Afrika, seorang sastrawan (novelis) besar dari Kenya dan calon penerima Nobel Sastra (yang sudah dicalonkan beberapa kali). Saya senang membaca tentang dia dan juga perjuangannya, terutama tentang kesungguhannya untuk melestarikan bahasa-bahasa asli Afrika. Asyik sekali bisa membaca wawancaranya dalam bahasa Spanyol, berjudul "Ngugi Wa Thiong’o: “Yo quiero competir con Cervantes”". 🌺

"Cien años de soledad" dalam bahasa Esperanto

Foto: https://www.amazon.com

Tak dapat dipungkiri bahwa sudah ada sederet panjang karya sastra dunia yang diterjemahkan ke bahasa Esperanto, bahasa "ajaib" yang dirancang sendiri oleh L.L. Zamenhof (1859–1917) dan diperkenalkan kepada dunia pada tahun 1887 di Polandia. Salah satu dari karya-karya itu adalah Cent jaroj da soleco (2015) yang merupakan terjemahan Fernando de Diego dari Cien años de soledad (Spanyol, Seratus Tahun Kesunyian; versi Indonesianya sudah beredar di Indonesia), karya Gabriel García Márquez (1927–2014), novelis kenamaan Meksiko dan pemenang Nobel Sastra 1982. Di samping karya-karya terjemahan, sudah banyak karya asli berbahasa Esperanto yang menjangkau para pembaca di lima benua. Bila tertarik, belajarlah bahasa Esperanto dan jadilah Esperantis. "Venu! Venu lerni Esperanton!" 🌺

Tekan tombol "Enter", muncul kata "Author"


Terima kasih banyak, Dr. Google! Sekarang, begitu nama saya ditulis di kotak pencarian dan tombol "Enter" ditekan, langsung muncul kata "Author" (Penulis, Pengarang). Semoga ini menjadi motivasi kuat bagi saya untuk semakin giat berkarya dan berbagi. Tampaknya hal ini terjadi karena promosi yang lumayan luas (oleh penerbit dan agen) di berbagai situs mancanegara untuk buku saya "Tetum, A Language For Everyone-Tetun, Lian Ida Ba Ema Hotu-Hotu" (New York: Mondial, Agustus 2016). Salam mesra bahasa dan sastra! 🌺 (Yogyakarta, 15 April 2019)

Tentang kata "pacar"

Foto: https://en.wikipedia.org

Sebenarnya, sejak zaman dahulu, kata "pacar" sudah terdapat dalam kosakata Melayu, tetapi hanya merupakan nama tanaman, yang dalam bahasa Latin disebut "Lawsonia inermis". Nama lainnya adalah "inai". Bila ditilik, kata "pacar" yang berarti "kekasih" belum populer sederet tahun silam. 🌺

Ternyata Omar Sharif adalah seorang poliglot

Foto: Cuplikan dari film "Doctor Zhivago"
Sebagai penggemar film, saya telah menonton beberapa film yang diperankan dengan apik oleh Omar Sharif (April 1932–Juli 2015; nama lahir: Michel Dimitri Chalhoub, berasal dari Mesir), baik sebagai pemeran utama maupun pemeran pendukung. Film-filmnya yang telah ditonton adalah (1) Doctor Zhivago (2) The Tamarind Seed (3) Monsieur Ibrahim, (4) Hidalgo, dan (5) Lawrence of Arabia. Ternyata Omar Sharif adalah seorang poliglot, yang fasih berbicara bahasa Arab (bahasa ibu), Inggris, Prancis, Spanyol, dan Italia. Baca profil lengkap Omar Sharif di sini. Salam, 🌺

Sunday, March 31, 2019

LA POÉSIE ET MOI*

Image: http://doctorofcontent.com

Par: Yohanes Manhitu

La poésie me saisit la main
et m’embrasse avec tendresse
comme un joli voilier qui avance
et accueille le vent avec chaleur divin.

Le rideau de mots m’enveloppe
lorsque l’air froid règne la nuit
comme un roi sans clémence
dans son royaume de vent.

La poésie me saisit la main
et me conduit à une savane
où sont perchés les papillons
et s’amusent les criquets jaunes.

La rosée au matin lave mon courage,
les sternes se précipitent dans mes bras
et les feuilles de palmier se balancent
quand la poésie est sur mon passage.

Yogyakarta, le 6 septembre 2004
------------------------------------------
*) Ce poème original se trouve à la page 97 dans "A Walk at Night-Une promenade de nuit", mon recueil de poèmes en anglais (65 poèmes) et en français (45 poèmes) (Anvers: Eldonejo Libera, décembre 2017).

Sunday, March 10, 2019

Nama Saya Tercatat di Situs "Enciclopedia de la literatura en México"

Wow! Ternyata nama saya telah tercatat di situs Enciclopedia de la literatura en México (Ensiklopedia sastra di Meksiko) karena puisi Indonesia-Spanyol saya "Persahabatan Puitis-Amistad Poética" yang tercantum dalam buku Arca de los afectos : escritores y artistas en homenaje al poeta Alfredo Pérez Alencart por su cincuenta Aniversario (lihat dlm. 105) yang diterbitkan oleh Editorial Verbum di Madrid, Spanyol, pada tahun 2012. Sastra adalah perekat kemanusiaan. ✍️

Logo: http://www.elem.mx

Thursday, February 28, 2019

Lihatlah Manusia!


Foto: https://www.huffingtonpost.ca

Oleh: Yohanes Manhitu

Lihatlah sang manusia!
Lihatlah perempuan ini!
Ia yang tak lagi berbentuk,
didera telaga air mata duka.
Tubuhnya dihujani air mendidih,
kemolekannya disapu setrika aktif.

Ia hanya bungkam seribu satu bahasa,
nantikan sabda sang dipertuan agung
yang kembalikan bentuk raga utuh,
yang pulihkan kemolekan lenyap,
yang teteskan minyak cendana
dari buli-buli keadilan negeri.

Yogyakarta, Juli 2004

Bila Fajar Tak Merekah

Foto: https://pxhere.com

Oleh: Yohanes Manhitu

Wajah-wajah yang penuh harap
pandang langkahmu dengan doa
ketika kau angin negeri tuntun
ke arah jalan ‘tuk menuai mimpi.

Sejuta impian padati benak polos
yang intim dengan alam mulus
yang tak ajarkan ngarai redup,
tak tebarkan aroma penyesat.

Waktu ‘kan harus tetap berlalu.
Tapi mengapa engkau pun ikut,
pergi ke arah hadirnya malam?
Tak berdayakah bila diperdaya?

Langit dusun tak akan lagi cerah,
hari-hari ‘kan berlalu tanpa berkah,
wajah pertiwi ‘kan tampak memerah,
bila fajar sang srikandi tak merekah.

Yogyakarta, Juni 2004

Thursday, January 31, 2019

Ungkapan Latin "Nemo dat quod non habet" dalam Enam Bahasa Lain


Nemo dat quod non habet. (Lingua Latina)
Nobody gives what (s)he doesn't have. (English)
Ka tít fa es lê a-nfe sâ lê in ka nmuï. (Dawan/Metô)
Neniu donas ion, kiun oni ne havas. (Lingvo Esperanto)
La iha ema ida be fó saida ne'ebé nia la soi. (Tetun Ofisiál)
Sonde ada orang yang kasi apa yang dia son punya. (Kupang)
Tak seorang pun memberikan apa yang tak dimiliknya. (Indonesia)

Imago/Image/Gambar: "Cewek Kapal Api" (via www.google.com)

Sekilas Pandang tentang Kata Dawan "Namkák"


Tabik! Beberapa hari ini, kata Dawan namkák (tanda pada "a" kedua berarti diberi tekanan) menjadi tenar di media sosial, terutama Facebook, kerena berita di media massa yang berbasis di Kupang, NTT. Silakan cek sendiri mengapa begitu. Di sini, saya, sebagai salah satu pengguna aktif bahasa Dawan, cuma menyoroti arti dan posisi kata kerja itu menurut subjek. Catatan: Kata kerja dan kata sifat bahasa Dawan berubah menurut subjek (au, ho, in, hit, dll.), tetapi tidak berubah menurut waktu dan modus (bandingkan dengan bahasa Latin, Prancis, Spanyol, dll.).

Namkák adalah kata kerja untuk orang ketiga tunggal (ia, dia) dan berarti (ia) membuka mulut, (ia) ternganga, (ia) tercengang, (ia) kagum, (ia) keheranan, (ia) kurang awas/cerdik, atau (ia) berbicara (dengan suara keras). Dan orang yang (sering) namkák disebut amkakat. Untuk benda, terutama pintu dan jendela, namkák berarti terbuka lebar. Dengan demikian, namkák bisa bermakna positif atau negatif. Perhatikan contoh-contoh berikut:

1. In namkák he dokter naloitan in nisin. = Ia membuka mulut supaya dokter memperbaiki giginya. (bermakna positif)
2. Atoni nae namkák tala in bijae* namneuk. = Orang itu kurang awas sehingga sapinya hilang. (bermakna negatif)

* Sebagian varian dialektalnya: bie, bia, bijael, dan birae.

Berikut adalah posisi "namkák" dalam perubahan kata kerja menurut subjek:

Au umkák. = Saya membuka mulut/ternganga.
Ho mumkák. = Engkau/kamu membuka mulut/ternganga.
In namkák. = Dia membuka mulut/ternganga.
Hit tamkák. = Kita/Anda membuka mulut/ternganga.
Hai mimkák. = Kami membuka mulut/ternganga.
Hi/hei mimkák. = Kamu/kalian membuka mulut/ternganga.
Sin namkakan. = Mereka membuka mulut/ternganga.

Semoga penjelasan ini bermanfaat. Salam bahasa dan sastra!

(Tegalyoso, Yogyakarta, 29 Januari 2019)

Gambar: http://manado.tribunnews.com