Saturday, March 31, 2018

Kutipan-kutipan terjemahan saya dalam buku "Menyemai Benih Cinta Sastra" (2015)

Foto: https://www.tokopedia.com
Saya merasa senang saja bahwa kini sejumlah terjemahan saya dari bahasa asing (Prancis, Spanyol dll.) telah dikutip dalam buku-buku pelajaran bahasa dan sastra di Indonesia. Kali ini, penggalan dari puisi Kidung Musim Gugur (terjemahan saya untuk puisi Chanson d'Automne karya Paul Verlaine [penyair Prancis]) dan Ulurkan Tanganmu (terjemahan saya untuk puisi Dame la mano karya Gabriela Mistral [penyair Cile]) dikutip dalam buku Menyemai Benih Cinta Sastra tulisan Sony Sukmawan (Malang: Universitas Brawijaya Press, 2015). Semoga terjemahan-terjemahan saya itu---yang dibuat langsung dari bahasa-bahasa aslinya---ikut memperkaya wawasan para peserta didik yang menekuni bahasa dan sastra.

Menulis berangkat dari kebiasaan membaca

Gambar: www.google.com

Lebih baik mengajak orang untuk lebih tekun membaca sesuatu yang berguna dan dapat menikmati bacaannya itu daripada menyodorinya setumpuk buku tentang kunci menulis A-Z. Belum apa-apa, dia sudah mabuk dengan buku pedoman. Sejatinya, menulis berangkat dari kebiasaan membaca.

Bahasa menunjukkan (suku) bangsa

Peta: http://seasite.niu.edu/EastTimor/language.htm

Tentu seseorang tidak harus menjadi orang Dawan terlebih dahulu untuk (mau) belajar bahasa Dawan hingga fasih. Tetapi mencoba memahami orang Timor Dawan tanpa bahasa Dawan (dengan berbagai dialeknya) adalah sebuah ketidakutuhan atau ketidaktuntasan, Kawan. Begitu pula dengan suku dan bahasa lain di tempat lain. Bahasa menunjukkan (suku) bangsa.

Se mosu abuabu kalan

Imajen: www.google.com

Se ó fiar metin, ó sei hetan
maski ai-tarak nakonu dalan.
Iha viajen, ó tenke tau matan,
liuliu se mosu abuabu kalan.

Autór: Yohanes Manhitu 

Noemuti, 19-02-2018

Ita la'o tuir dalan

Imajen: www.google.com

Ema la haluha loron tuan
maski só hela iha liafuan.
Loron sei mai troka kalan.
Nafatin, ita la'o tuir dalan.

Autór: Yohanes Manhitu

Noemuti, 18-02-2018

Kalau akrab dengan korupsi

Gambar: www.google.com

Anak kecil membeli terasi.
Dari pasar, lewat jembatan.
Kalau akrab dengan korupsi,
jangan heran panen gugatan.

Karya: Yohanes Manhitu

Noemuti, 12-02-2018

Haka'as an atu hetan dalan

Imajen: www.google.com

Hanesan manu bá buka hahán,
ó luta nafatin atubele manán.
Iha tempu loron ka iha kalan,
ó haka'as an atu hetan dalan.

Autór: Yohanes Manhitu

Noemuti, 12-02-2018

Tuesday, January 30, 2018

Mampir di Perpustakaan Daerah Timor Tengah Selatan (TTS) di Soe


Sekadar info pustaka. Pada pagi hari tanggal 16 Januari 2018, saya sempat mengunjungi perpustakaan daerah Timor Tengah Selatan (TTS) di Soe untuk menyerahkan kumpulan puisi "Catatan Sunyi" karya penyair Lembata Monika N. Arundhati dan juga brosur "Kamus Portugis-Indonesia, Indonesia-Portugis" karya saya. Sambil sarapan bersama dengan menu teh dan pisang luan rebus, saya dan para pegawai perpustakaan berbincang tentang ketersediaan buku tentang Timor dalam berbagai bidang dan pentingnya generasi NTT, terutama orang Timor, menulis dan terus menulis. Obrolan kami harus berakhir karena sederet objek foto masih menanti di luar, dan saya tak sempat mendapatkan buku-buku tentang Timor di perpustakaan tersebut. Semoga lain kali sempat. 

Foto: Diambil seorang ibu pegawai perpustakaan di ruang deposit budaya.

"Kamus Pengantar ALKITAB BAHASA KUPANG" (Kupang: UBB-GMIT, 2008)

 

Sekadar informasi pustaka. Dalam ekspedisi Timor Barat (11 Januari 2018, dengan jurusan Noemuti-Eban-Kapan-Soe-Noemuti), saya sempat mampir di Toko Buku "Sinar Putain" (satu-satunya toko buku di Soe?) dan sempat membeli buku mungil ini, berjudul "Kamus Pengantar ALKITAB BAHASA KUPANG" (Kupang: UBB-GMIT, 2008). Ini untuk "mendampingi" kitab "Tuhan Allah Pung Janji Baru" (Alkitab Perjanjian Baru dalam bahasa Kupang yang diterbitkan Lembaga Alkitab Indonesia pada tahun 2007) yang saya sudah punya lebih dari 10 tahun. Sebuah karya bagus! Terima kasih banyak kepada Pdt. Dr. Adriana Dukabain Tunliu, M.T.S. dan anggota timnya atas tersedianya karya ini. Semoga lebih banyak karya bagus tersedia dalam bahasa-bahasa Nusantara. Salut atas berbagai upaya penerjemahan yang telah dibuat! 🙏

Foto sampul: Dokumen pribadi

Hatudu kbiit liuhosi dalan furak


Afinál, ema koñese ita tanba knaar ne'ebé ita hala'o nafatin. Entaun, bainhira hetan hela biban kapás, ita tenke uza didi'ak hodi hatudu ita-nia kbiit liuhosi dalan furak. Ema ida-idak serve umanidade ho dalan oioin. Kmanek!

Retratu: © Yohanes Manhitu (Noemuti, Timór, 23 Janeiru 2018)

Berkeliling dan berbagilah dengan banyak orang


Berkeliling dan berbagilah dengan banyak orang dari berbagai latar belakang. Belajarlah dari mereka. Guru ada di mana-mana, begitu pula murid. Tanggal 16 Januari 2018, dalam ekspedisi Timor Barat, saya mampir di sebuah rumah peninggalan Belanda di Air Besi, Kampung Sabu, Kota Soe. Karena terjebak hujan deras, obrolan awal tentang status rumah itu pada zaman Belanda (yakni penginapan pejabat Belanda) itu berlanjut dengan informasi menarik tentang pertanian dan perikanan. Bapak Moses L.N. Mone, tuan rumah yang juga seorang praktisi pertanian dan perikanan, membagikan pengalaman tentang dunianya. Kopi hangat yang disajikan Mama Mone yang ramah membuat obrolan di rumah tua tersebut semakin asyik. Seakan-akan saya minum kopi di zaman C.Th. van Deventer. Saya pikir, orang seperti Bapak Moses L.N. Mone ini patut dijadikan dosen luar biasa di Fakultas Pertanian. Salam budaya!

Foto: Apris Tefa (Air Besi, Kampung Sabu, 16 Januari 2018)

"Feotnai baiboki" yang tampak menawan


Senang melihat bunga anggrek liar yang telah "dijinakkan" ini berbunga dan tampak begitu indah, terutama di pagi hari. Kira-kira 10 tahun silam, anggrek ini saya sendiri pindahkan dari hutan di belakang rumah ke kebun di samping rumah kami di Noemuti, TTU. Pada masa silam, di Desa Sunu, Amanatun Selatan, pada generasi kakek saya, Simon Petrus Tunliu (dari garis ibu), bunga anggrek dijuluki "feotnai baiboki" (bahasa Dawan, putri yang berayun). Nama yang sangat indah. Masuk akal! Anggrek liar itu indah, namun tak terjangkau, karena bergelantung memesona di atas pohon. Foto anggrek jepretan saya sendiri telah menghiasi sampul antologi puisi Dawan-Esperanto saya Feotnai Mapules—Princino Laŭdata (Antwerpen, Belgia: Eldonejo Libera, 31 Desember 2016). Salam bunga anggrek dari Nusa Cendana!

Foto: © Yohanes Manhitu (Noemuti, 20 Januari 2018)