Tuesday, July 31, 2018

Rona Múzika Kalan Nian



Hakerek-na'in: Yohanes Manhitu

Kleur ona ha’u gosta kalan be hamaluk ha’u
ho nonook naruk be halo ha’u hakmatek,
ho múzika kapás be haksolok tebes.
Karik ha’u fuan-monu ba rai-kalan.

Ema dehan katak rai-kalan besik ho nakukun
no buat oioin be dala ruma fó laran-taridu.
Maibé rai-kalan ne’e tempu furak ida
hodi hetan an iha fulan nia okos.

Durante rai-loro, susar hodi rona múzika furak
be mosu moos hosi raiklaran tarutu nian.
Se ó hakarak rona natureza nia lian,
hamaluk de’it fulan ho fitun-lubun.

Yogyakarta, fulan-Jullu 2007
------------------------------

Menyimak Musik Malam

Penulis-penerjemah: Yohanes Manhitu

Telah lama kusukai malam yang menemaniku
dengan keheningan panjang yang membuatku tenang,
dengan musik indah yang amat menyenangkan.
Barangkali kujatuh cinta pada malam hari.

Kata orang, malam itu akrab dengan kegelapan
dan berbagai hal yang terkadang merisaukan.
Tapi malam hari itu suatu saat yang indah
untuk temukan diri di bawah rembulan.

Selama siang, sulit ‘tuk menyimak musik indah
yang timbul dengan jelas dari dunia kebisingan.
Jika kauingin mendengarkan suara alam,
temani saja rembulan dan galaksi.

Yogyakarta, Juli 2007
--------------------------
*) Puisi Tetun ini terbit di "Jornál Semanál Matadalan", mingguan berbahasa Tetun di Dili, ibu kota Timor-Leste (Edisi 107, 09–15 September 2015).

Belajar Bahasa Jauh Sebelum Dibutuhkan

Gambar: www.google.com

Tentang belajar bahasa (asing), sudah sering saya sarankan kepada teman-teman untuk belajar bahasa (asing) jauh-jauh hari, lama sebelum bahasa itu sungguh-sungguh dibutuhkan, baik untuk belajar maupun bekerja. Tentu tidak bisa pakai cara ngebut semalam langsung "cas-cis-cus" (sangat fasih). 
(Yogyakarta, 13 Juli 2018)

Selamat Jalan, Kardinal Jean-Louis Pierre Tauran!


Turut berdukacita atas meninggalnya Kardinal Jean-Louis Pierre Tauran (1943–2018), yang wajahnya tak asing lagi bagi orang-orang Katolik yang suka menonton acara pemberkatan "Urbi et Orbi" langsung dari Vatikan. Kardinal Tauran yang berasal dari Prancis ini meninggal dunia di Amerika Serikat pada tanggal 5 Juli 2018. Beliau pernah berkunjung ke Indonesia dengan Pastor Markus Solo SVD pada tahun 2009. Kiranya arwah beliau memperoleh istirahat dan damai surgawi. Terima kasih banyak atas jasa-jasanya bagi Gereja dengan menjalankan berbagai tugas penting semasa hidup, di antaranya sebagai Presiden Dewan Kepausan untuk Dialog Antarumat Beragama dan Pemimpin Seksi Kearsipan dan Perpustakaan Vatikan. (Yogyakarta, 15 Juli 2018)

Foto: Kardinal Jean-Louis Tauran (paling kiri) di Masjid Istiqlal Jakarta (Sumber: https://penakatolik.com)

Hadomi Loro-toban

Imajen: www.google.com

Loraik mós nafatin iha biban,
no ó sei bele hetan dalan.
Se tebetebes ó soi laran,
ó sei hadomi loro-toban.

Autór: Yohanes Manhitu
Yogyakarta, 27-07-2018

Mari Katóng Pi


Gambar: www.google.com

Dari: Yohanes Manhitu

Ini kapal baro’o
ada barang tapo'a
ma panumpang kuat
dan pegang satu tekad
sampe di pulo harapan.


Ombak son bisa lu masparak,
biar-ko dia tarús bermaen.
Gelombang, sapa bisa tahan?
Biar-ko dia tetap bagulung;
biar-ko ini idop ada warna;
biar katóng yang pasang mata.


Ada menara tua di sablá laut.
Di sana, ada lampu yang taráng.
Dari jao, tacium bau cendana
dari akar bésar yang tabakar.
Ada suara orang maen sasando;
anak kici manyanyi Bolelebo;
ada pesta deng daging se'i;
ada acara minum tuak laru;
jagung katemak menu utama;
samua orang tawar sanyúm.


Yogyakarta, 9 Oktober 2004

Saturday, June 30, 2018

Menerima Paket "A Cabeleira (Fragmentos)" dari Claudio Rodríguez Fer, Penyair Galisia-Spanyol


Untuk kesekian kalinya, saya menerima paket berisikan buku puisi multibahasa yang di dalamnya terdapat paling kurang satu terjemahan saya dan juga paraf penulis atau editor. Hal bagus ini berlangsung sejak tahun 2007 ketika saya menerima paket dengan buku Los Poetas y Dios (antologi puisi para penyair Hispanik; León, Spanyol, 2007). Antologi ini memuat tiga puisi asli saya dalam bahasa Spanyol dan sebuah terjemahan saya dari bahasa Spanyol ke bahasa Indonesia untuk puisi Alfredo Pérez Alencart. Kali ini, di dalam A Cabeleira (Fragmentos) karya Claudio Rodríguez Fer (sastrawan dan profesor dari Galisia, Spanyol; https://en.wikipedia.org/wiki/Claudio_Rodriguez_Fer) juga ada paraf penulis karya asli sebagai ucapan terima kasih atas kerja sama penerjemah. Semoga dialog sastra antarbangsa melalui puisi bisa lestari. (Yogyakarta, 13 Juni 2018)

Sungguh Beruntung Bisa Banyak Belajar Dari Dua Maestro Sastra Dunia

Foto: www.google.com

Keuntungan lain dari menerjemahkan Gitanjali (kumpulan 103 puisi Inggris karya Rabindranath Tagore, pemenang Nobel sastra 1913) ke bahasa Dawan (rampung pada 2016 dan akan terbit) adalah saya memperoleh kesempatan bagus untuk membandingkan dengan cukup teliti seluruh versi Prancis dan Spanyol karya Nobel tersebut, yang saya gunakan sebagai pembanding bagi terjemahan Dawan saya. Ternyata terjemahan Prancis oleh André Gide (L'Offrande Lyrique, 1917) lebih 'setia' kepada Gitanjali versi Inggris---terjemahan Tagore sendiri pada tahun 1912---daripada terjemahan Spanyol oleh Juan Ramón Jiménez dan istrinya Zenobia Camprubí (Ofrenda lírica, 1918). Terjemahan pasangan suami-istri sastrawan ini lebih bebas, terkadang lebih singkat. Sebagai catatan, André Gide (1869–1951; sastrawan Prancis) adalah pemenang Nobel sastra 1947 dan Juan Ramón Jiménez (1881–1958; sastrawan Spanyol) adalah pemenang Nobel sastra 1956. Jadi, sungguh beruntung bisa banyak belajar dari dua maestro sastra dunia ini. Asyik!

Dalam menerjemahkan karya sastra, akan lebih baik bila menggunakan lebih dari satu versi sebagai sumber atau pembanding. Dan tentu hal ini hanya bisa terjadi kalau sang penerjemah sempat menekuni lebih dari dua bahasa.

A.D.M. Parera: Poliglot dan Sejarawan dari Timor


Tampaknya, berdasarkan catatan di buku Sejarah Pemerintahan Raja-Raja Timor (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1994; Drs. Gregor Neonbasu, SVD [ed.]), poliglot pertama dari Timor Barat, NTT, yang menulis buku tentang Timor adalah penulis buku tersebut di atas, yakni Anselmus Dominikus Meak Parera (Tubaki, 21 Mei 1916–Kupang, 18 Februari 1973). A.D.M. Parera hidup di tiga zaman (zaman Belanda, zaman Jepang, dan zaman kemerdekaan) dan menguasai bahasa Dawan, Tetun, Rote, Sabu, Kemak, Indonesia, dan Belanda. Berdasarkan daftar bacaan di bukunya itu, sangat mungkin ia juga berbahasa Inggris.

Ia pernah memegang beberapa jabatan penting pada masa hidupnya, di antaranya juru tulis Raja Camplong (1944-1946) dan asisten dosen luar biasa jurusan sejarah daerah pada FKIP Universitas Nusa Cendana Kupang (tahun 1960-an). 


Foto: Hasil repro saya dari sampul belakang buku tersebut

(Tegalyoso, Yogyakarta, 4 Juni 2018)

Belajar Bahasa Asing dengan Penuh Kesadaran

Foto: www.google.com

Kalau dilakukan dengan penuh kesadaran, belajar bahasa asing apa pun tak akan mengancam keberlangsungan bahasa ibu yang sudah biasa digunakan. Justru bahasa asing itu akan membantu untuk "meneropong" bahasa ibu kita. Kata-kata Johann Wolfgang von Goethe (sastrawan dan negarawan Jerman) berikut ini kembali menggema: Wer fremde Sprachen nicht kennt, weiß nichts von seiner eigenen. (Jerman, Barang siapa tidak mengenal bahasa asing, tidak tahu apa-apa tentang bahasanya sendiri.) Mari kita terus belajar! (Yogyakarta, 2 Juni 2018)

Menerbitkan Kembali Kumpulan Puisi "Nenomatne Nbolen: Puisi Uab Metô Sin Lê Mabuab (Sebuah Antologi Puisi Dawan)"


Ingin sekali saya membaca ulang, memoles secara ortografis, dan menerbitkan kembali kumpulan puisi Nenomatne Nbolen: Puisi Uab Metô Sin Lê Mabuab (Sebuah Antologi Puisi Dawan). Ini adalah kumpulan perdana berbahasa Dawan (tanpa terjemahan) saya yang diterbitkan dengan edisi terbatas di Yogyakarta oleh Genta Press pada tahun 2009. Semoga niat baik ini bisa terwujud dalam waktu dekat dan membuahkan hasil. Deo volente!

Catatan: "Nenomatne Nbolen" berarti "Matahari Telah Terbit". Kumpulan puisi asli saya dalam bahasa Dawan (bahasa Timor terbesar) ini kini terdapat di katalog perpustakaan-perpustakaan mancanegara berikut ini:

  1. Cornel University Library, Amerika Serikat
  2. Northern Illinois University Library, Amerika Serikat
  3. Ohio University Library, Amerika Serikat
  4. Yale University Library, Amerika Serikat
  5. The Library of Congress, Washington DC, Amerika Serikat (Library of Congress Control Number: 2009332653)
Foto: Dokumen pribadi penulis

Wednesday, May 30, 2018

SEKILAS SAJA TENTANG ARTI "TAIM HINE": NAMA SEBUAH YAYASAN DI TIMOR BARAT, INDONESIA


"Istilah Taim Hine, dijelaskan lebih lanjut, diadopsi dari perbendaharaan bahasa timor yang artinya rumah belajar." (Kutipan dari kupang.tribunnews.com)

SECARA pribadi, saya sambut baik kehadiran Yayasan Taim Hine Aleta Baun dengan "visi alam NTT yang hijau, lestari dan masyarakat yang berdaulat dari sisi lingkungan adat dan budaya". Ini patut diapresiasi dan didukung. Yang menggangu bagi say---sebagai penutur bahasa Dawan---adalah arti nama "Taim Hine" yang tercantum di kupang.tribunnews(.)com

Penutur bahasa Dawan mana pun---tidak harus saya---akan terganggu dengan "rumah belajar" sebagai terjemahan Indonesia untuk nama Dawan "taim hine", yang sesungguhnya berarti "mencari ilmu/pengetahuan" (bandingkan dengan "buka matenek" dalam bahasa Tetun). Cobalah menggali lebih dalam tentang arti sebuah nama, apalagi dalam bahasa daerah, jika hendak menjelaskannya, terutama kepada masyarakat di kampung halaman bahasa tersebut. Jika kita menghargai bahasa daerah sebagai kekayaan budaya bangsa, marilah kita tunjukkan itu secara nyata, termasuk melalui informasi di media massa.

Semoga bahasa-bahasa kita lestari. Salam mesra budaya! 🙏

Catatan: Tulisan singkat ini saya tulis di dinding Facebook saya pada tanggal 22 Mei 2018 dan telah ditanggapi Ibu Aleta Baun, ketua yayasan tersebut.

Foto: Yohanes Manhitu (Kapan, 18 Januari 2018)

Iman Tak Akan Hangus

Foto: www.google.com

Pergi ke kota ditemani si om,
akhirnya dapat sepatu bagus.
Rumah ibadat dihantam bom,
tetapi iman tak akan hangus.
 

Penulis: Yohanes Manhitu
Yogyakarta, 13 Mei 2018

Nama Saya Disebut di Situs Multibahasa untuk "A Cabeleira", Karya Claudio Rodríguez Fer

Foto sampul: www.google.com

Hmmm... Ternyata nama saya tercatat bersama-sama dengan nama berbagai penerjemah antarbangsa dari berbagai bahasa (60 bahasa) di situs acabeleira sebagai penerjemah "A Cabeleira", karya Claudio Rodríguez Fer, seorang penyair tersohor dari Galisia, Spanyol. Silakan baca terjemahan saya sendiri di acabeleira-indonesio. Puisi terjemahan Indonesia itu tersedia juga di buku dengan judul yang sama, "A Cabeleira", yang terbit di Spanyol pada tahun 2016. (Jogja, 16-05-2018)

Catatan: Puisi asli "A Cabeleira" ditulis dalam bahasa Galisia.

Musikalisasi Puisi Tetun oleh Abe Barreto Soares, Penyair Timor-Leste


Musikalisasi puisi berbahasa Tetun oleh Abe Barreto Soares (bernama pena Jenuvem Eurito; sastrawan, musisi, dan penerjemah dari Timor-Leste) di sela-sela perbincangan tadi malam, yang bertopik "Perkembangan dan Wajah Sastra di Timor-Leste". Perbincangan menarik dan akrab tersebut diikuti sejumlah anggota Forum Batu Tulis Nusantara Yogyakarta.

Foto: Dokumen pribadi (RG COFFEE, Yogyakarta, 7 Mei 2018)

Kumpulan Cerpen "Eroi Loromatan" (karya Cancio Ximenes) Diterima di Yogyakarta


Senang menerima buku kumpulan cerpen "Eroi Loromatan" (2018) karya penulis Timor-Leste Cancio Ximenes sebagai oleh-oleh dari Timór Lorosa'e. Terima kasih banyak kepada Bung Cancio Ximenes (sang penulis) dan Bung Jenuvem Eurito (penulis dan musisi yang telah menyampaikannya setelah diskusi tadi malam (7 Mei 2018) di RG COFFEE, Mrican, Yogyakarta). Salam sastra! (Yogyakarta, 8 Mei 2018)

Catatan: Nama saya disebut pada hlm. iv buku tersebut. Obrigadu!

Tibanya Antologi Multibahasa "DACĂ" (karya Elena Liliana Popescu) dari Bukares, Rumania


Tabik! Sekadar informasi sastra mancanegara. Akhirnya sore ini, tiba juga di alamat saya di Yogyakarta, buku puisi multibahasa (80 bahasa, terjemahan dari puisi "DACĂ", karya penyair Rumania, Elena Liliana Popescu) yang diterbitkan oleh Pelerin di Bukares, Rumania, Oktober 2017. Dalam buku itu, terdapat 4 terjemahan saya ke bahasa Indonesia, Dawan, Tetun Resmi (Timor-Leste), dan Melayu Kupang. Terjemahan-terjemahan ini (masing-masing berjudul "ANDAI", "KALU", "SE", dan "KALO") telah dibuat berdasarkan versi Spanyol, Prancis, Portugis, Italia, dan Inggris. Maklum, kemampuan bahasa Rumania saya belum memadai untuk menerjemahkan langsung dari versi asli. Semoga ketika sudah cukup belajar, hal mengasyikkan itu bisa dilakukan. (Jogja, 4 Mei 2018)

Foto sampul buku puisi "DACĂ": Dokumen pribadi

Rampungnya Penerjemahan "Gitanjali" (karya Rabindranath Tagore) ke Bahasa Dawan


Tabik! Dua tahun lalu, saya sempat informasikan rampungnya penerjemahan "Gitanjali" ke bahasa Dawan---bahasa Timor yang terbesar. Tetapi maaf, berhubung kesibukan saya dengan beberapa urusan penulisan dan penerjemahan urgen, penerbitan buku puisi dwibahasa Dawan-Inggris tersebut belum bisa terwujud. Meskipun demikian, teman-teman yang berminat untuk membeli karya terjemahan langka ini dapat menyebutkan nama di kotak komentar dan akan saya catat dalam daftar. Begitu buku puisi ini terbit (dengan swadana), akan saya kabari. Semoga bisa terbit dalam tahun ini. OK? Terima kasih atas perhatian yang diberikan.

Catatan: Antologi "Gitanjali" yang terdiri atas 103 puisi adalah karya hebat Rabindranath Tagore---penyair besar dari India---yang diterjemahkannya sendiri dari bahasa Bengali (Bangla) ke bahasa Inggris (ragam "King James' Bible") pada tahun 1912 dan kemudian berhasil menjadikannya pemenang Nobel Sastra tahun 1913. Tagore adalah orang Asia pertama yang menerima hadiah prestisius tersebut. "Gitanjali" telah tersedia dalam berbagai bahasa. (Tegalyoso, Yogyakarta, 2 Mei 2018)

Foto: Tampilan sementara sampul depan (karya sendiri).

Monday, April 30, 2018

Demi tanahmu sejengkal

Gambar: http://www.google.com

Demi tanahmu sejengkal,
peluru meluncur tanpa akal,
memaksa nyawa ke alam kekal.
Walau kauhidup, barangkali dicekal.

(Buat korban kasus tanah di Sumba Barat)

Atu moris bele buras

Imajen: www.google.com

Atu ó-nia moris bele buras,
ó-nia kakutak tenke dulas.
Selae, ó-nia ulun sei moras
no karik ó sei bele lakon ilas.

Autór: Yohanes Manhitu 

Yogyakarta, 17-04-2018

Jika cintamu bukan fiksi

Foto: www.google.com

Pergi ke kampung naik taksi
karena gagal pakai kereta.
Jika cintamu bukan fiksi,
hadirmu harus nyata.

Oleh: Yohanes Manhitu

Yogyakarta, 14-04-2018

Selamat Jalan, Pak Danarto!

Foto: https://metro.sindonews.com

Turut berdukacita atas meninggalnya Pak Danarto, seorang sastrawan dan pelukis Indonesia. Semoga arwahnya menikmati istirahat dan damai di alam surgawi sana. Bacalah profilnya di https://id.wikipedia.org/wiki/Danarto.

Tegalyoso, Yogyakarta, 11 April 2018

Kelor dan Kampanye

Foto: kaltim.tribunnews.com

Jalan-jalan ke Pulau Solor,
lautnya biru, bukan oranye.
Dulu pun orang tanam kelor,
jauh sebelum ada kampanye.

(Sekadar pantun pagi progizi)

SEKILAS TENTANG NAMA "DAWAN"

Foto: http://epress.anu.edu.au/oota/ch1.htm

Tadi siang, saya "disenggol" oleh Leko Kupang (maaf, saya tidak tahu nama aslinya!) dan dilibatkan dalam obrolan di dinding Facebooknya tentang nama "Dawan", terutama sebagai nama bahasa. Terima kasih banyak ya atas ajakan untuk berdiskusi. Tetapi maaf ya, saya cuma pengguna bahasa, bukan ahli.

Saya sudah sering ditanya tentang hal ini. Setahu saya dan berdasarkan pengalaman nyata (baik sebagai penutur maupun penulis aktif bahasa Dawan), nama "Dawan" sudah lama sekali dipakai---di samping nama "Metô" (tulisan menurut ejaan yang saya pakai secara opsional) untuk merujuk kepada baik orang maupun bahasa. Dalam kehidupan sehari-hari, nama "Dawan" lebih banyak dipakai dalam bahasa Indonesia, sedangkan nama "Metô" digunakan dalam bahasa Dawan (ketika berbicara bahasa Timor terbesar ini).

Perhatikanlah contoh-contoh kalimat berikut:

1. Hit ka kase kit fa, Aokbian. Hit Metô kit. = Kita bukan orang asing, Kawan. Kita orang Dawan.
2. In ka namolok fa Metô, alakun Labit. = Ia tidak berbahasa Dawan, hanya bahasa Indonesia.

Dalam buku Di Bawah Naungan Gunung Mutis karya P. Andreas Tefa Sa’u, SVD, disebutkan bahwa secara ilmiah, nama "Dawan" untuk pertama kalinya muncul dalam artikel yang berjudul "Die Landschaft Dawan oder West-Timor" karangan J.G.F. Riedel yang diterbitkan dalam "Deutsche Geographische Blätter (DGB) pada tahun 1887. Artikel tersebut memuat informasi tentang manusia dan kebudayaan Dawan, meliputi aspek fisik dan sosial budayanya.

Satu hal yang perlu diingat adalah konsistensi dalam bersikap dan berprinsip. Jadi, kalau merasa keberatan atau berniat untuk menolak nama "Dawan" karena dianggap sebagai nama dari luar (bukan nama asli), tolong merasa keberatan juga dengan atau menolak nama "Timor" dan "Indonesia" karena kedua-duanya ini berasal dari atau diberikan orang luar. Bagaimana?

Oh ya, mempersoalkan nama "Dawan" itu mungkin penting, tetapi saya kira jauh lebih penting kita tetap aktif menggunakan bahasa Dawan dengan elok (baik secara lisan maupun tertulis) supaya bahasa ini---bersama-sama dengan bahasa Nusantara lainnya---tetap subur dan lestari. Ini lebih urgen daripada urusan nama. Semoga bahasa kita lestari sehingga tidak tinggal nama!

Kalau sempat, silakan baca tulisan-tulisan Dawan saya di blog bahasa dan sastra Dawan saya dengan alamat http://uabmeto.blogspot.com.

Salam mesra bahasa dan sastra ke segala penjuru!  

Tegalyoso, Yogyakarta, Indonesia, 6 April 2018

Yesus dari Nazaret, Raja Orang Yahudi

Foto: www.google.com

Penulisan "Yesus dari Nazaret, Raja Orang Yahudi" oleh Pontius Pilatus dalam bahasa Ibrani, Latin, dan Yunani menolong kita untuk tahu Sprachenkarte (Jerman, peta kebahasaan) di Israel pada saat Yesus disalibkan. Tentu orang yang kritis akan bertanya, "Mengapa keterangan penting itu harus ditulis dalam ketiga bahasa tersebut?" Selanjutnya, sebagaimana kita ketahui bersama, di atas salib (terutama dengan krusifiks [patung Kristus]), yang paling populer dari ketiganya adalah versi Latinnya, yaitu Iesus Nazarenus Rex Iudaeorum (INRI). Mengapa pula? Ketika orang sungguh-sungguh belajar bahasa, ia sungguh-sungguh pula belajar sejarah (Sine lingua, historia non est). Tentu, tiada sejarah tanpa bahasa, 'kan? Dan Yesus Kristus nyata dalam sejarah. (Yogyakarta, 2 April 2018)

Saturday, March 31, 2018

Kutipan-kutipan terjemahan saya dalam buku "Menyemai Benih Cinta Sastra" (2015)

Foto: https://www.tokopedia.com
Saya merasa senang saja bahwa kini sejumlah terjemahan saya dari bahasa asing (Prancis, Spanyol dll.) telah dikutip dalam buku-buku pelajaran bahasa dan sastra di Indonesia. Kali ini, penggalan dari puisi Kidung Musim Gugur (terjemahan saya untuk puisi Chanson d'Automne karya Paul Verlaine [penyair Prancis]) dan Ulurkan Tanganmu (terjemahan saya untuk puisi Dame la mano karya Gabriela Mistral [penyair Cile]) dikutip dalam buku Menyemai Benih Cinta Sastra tulisan Sony Sukmawan (Malang: Universitas Brawijaya Press, 2015). Semoga terjemahan-terjemahan saya itu---yang dibuat langsung dari bahasa-bahasa aslinya---ikut memperkaya wawasan para peserta didik yang menekuni bahasa dan sastra.

Menulis berangkat dari kebiasaan membaca

Gambar: www.google.com

Lebih baik mengajak orang untuk lebih tekun membaca sesuatu yang berguna dan dapat menikmati bacaannya itu daripada menyodorinya setumpuk buku tentang kunci menulis A-Z. Belum apa-apa, dia sudah mabuk dengan buku pedoman. Sejatinya, menulis berangkat dari kebiasaan membaca.

Bahasa menunjukkan (suku) bangsa

Peta: http://seasite.niu.edu/EastTimor/language.htm

Tentu seseorang tidak harus menjadi orang Dawan terlebih dahulu untuk (mau) belajar bahasa Dawan hingga fasih. Tetapi mencoba memahami orang Timor Dawan tanpa bahasa Dawan (dengan berbagai dialeknya) adalah sebuah ketidakutuhan atau ketidaktuntasan, Kawan. Begitu pula dengan suku dan bahasa lain di tempat lain. Bahasa menunjukkan (suku) bangsa.

Se mosu abuabu kalan

Imajen: www.google.com

Se ó fiar metin, ó sei hetan
maski ai-tarak nakonu dalan.
Iha viajen, ó tenke tau matan,
liuliu se mosu abuabu kalan.

Autór: Yohanes Manhitu 

Noemuti, 19-02-2018

Ita la'o tuir dalan

Imajen: www.google.com

Ema la haluha loron tuan
maski só hela iha liafuan.
Loron sei mai troka kalan.
Nafatin, ita la'o tuir dalan.

Autór: Yohanes Manhitu

Noemuti, 18-02-2018

Kalau akrab dengan korupsi

Gambar: www.google.com

Anak kecil membeli terasi.
Dari pasar, lewat jembatan.
Kalau akrab dengan korupsi,
jangan heran panen gugatan.

Karya: Yohanes Manhitu

Noemuti, 12-02-2018

Haka'as an atu hetan dalan

Imajen: www.google.com

Hanesan manu bá buka hahán,
ó luta nafatin atubele manán.
Iha tempu loron ka iha kalan,
ó haka'as an atu hetan dalan.

Autór: Yohanes Manhitu

Noemuti, 12-02-2018

Tuesday, January 30, 2018

Mampir di Perpustakaan Daerah Timor Tengah Selatan (TTS) di Soe


Sekadar info pustaka. Pada pagi hari tanggal 16 Januari 2018, saya sempat mengunjungi perpustakaan daerah Timor Tengah Selatan (TTS) di Soe untuk menyerahkan kumpulan puisi "Catatan Sunyi" karya penyair Lembata Monika N. Arundhati dan juga brosur "Kamus Portugis-Indonesia, Indonesia-Portugis" karya saya. Sambil sarapan bersama dengan menu teh dan pisang luan rebus, saya dan para pegawai perpustakaan berbincang tentang ketersediaan buku tentang Timor dalam berbagai bidang dan pentingnya generasi NTT, terutama orang Timor, menulis dan terus menulis. Obrolan kami harus berakhir karena sederet objek foto masih menanti di luar, dan saya tak sempat mendapatkan buku-buku tentang Timor di perpustakaan tersebut. Semoga lain kali sempat. 

Foto: Diambil seorang ibu pegawai perpustakaan di ruang deposit budaya.

"Kamus Pengantar ALKITAB BAHASA KUPANG" (Kupang: UBB-GMIT, 2008)

 

Sekadar informasi pustaka. Dalam ekspedisi Timor Barat (11 Januari 2018, dengan jurusan Noemuti-Eban-Kapan-Soe-Noemuti), saya sempat mampir di Toko Buku "Sinar Putain" (satu-satunya toko buku di Soe?) dan sempat membeli buku mungil ini, berjudul "Kamus Pengantar ALKITAB BAHASA KUPANG" (Kupang: UBB-GMIT, 2008). Ini untuk "mendampingi" kitab "Tuhan Allah Pung Janji Baru" (Alkitab Perjanjian Baru dalam bahasa Kupang yang diterbitkan Lembaga Alkitab Indonesia pada tahun 2007) yang saya sudah punya lebih dari 10 tahun. Sebuah karya bagus! Terima kasih banyak kepada Pdt. Dr. Adriana Dukabain Tunliu, M.T.S. dan anggota timnya atas tersedianya karya ini. Semoga lebih banyak karya bagus tersedia dalam bahasa-bahasa Nusantara. Salut atas berbagai upaya penerjemahan yang telah dibuat! 🙏

Foto sampul: Dokumen pribadi

Hatudu kbiit liuhosi dalan furak


Afinál, ema koñese ita tanba knaar ne'ebé ita hala'o nafatin. Entaun, bainhira hetan hela biban kapás, ita tenke uza didi'ak hodi hatudu ita-nia kbiit liuhosi dalan furak. Ema ida-idak serve umanidade ho dalan oioin. Kmanek!

Retratu: © Yohanes Manhitu (Noemuti, Timór, 23 Janeiru 2018)

Berkeliling dan berbagilah dengan banyak orang


Berkeliling dan berbagilah dengan banyak orang dari berbagai latar belakang. Belajarlah dari mereka. Guru ada di mana-mana, begitu pula murid. Tanggal 16 Januari 2018, dalam ekspedisi Timor Barat, saya mampir di sebuah rumah peninggalan Belanda di Air Besi, Kampung Sabu, Kota Soe. Karena terjebak hujan deras, obrolan awal tentang status rumah itu pada zaman Belanda (yakni penginapan pejabat Belanda) itu berlanjut dengan informasi menarik tentang pertanian dan perikanan. Bapak Moses L.N. Mone, tuan rumah yang juga seorang praktisi pertanian dan perikanan, membagikan pengalaman tentang dunianya. Kopi hangat yang disajikan Mama Mone yang ramah membuat obrolan di rumah tua tersebut semakin asyik. Seakan-akan saya minum kopi di zaman C.Th. van Deventer. Saya pikir, orang seperti Bapak Moses L.N. Mone ini patut dijadikan dosen luar biasa di Fakultas Pertanian. Salam budaya!

Foto: Apris Tefa (Air Besi, Kampung Sabu, 16 Januari 2018)

"Feotnai baiboki" yang tampak menawan


Senang melihat bunga anggrek liar yang telah "dijinakkan" ini berbunga dan tampak begitu indah, terutama di pagi hari. Kira-kira 10 tahun silam, anggrek ini saya sendiri pindahkan dari hutan di belakang rumah ke kebun di samping rumah kami di Noemuti, TTU. Pada masa silam, di Desa Sunu, Amanatun Selatan, pada generasi kakek saya, Simon Petrus Tunliu (dari garis ibu), bunga anggrek dijuluki "feotnai baiboki" (bahasa Dawan, putri yang berayun). Nama yang sangat indah. Masuk akal! Anggrek liar itu indah, namun tak terjangkau, karena bergelantung memesona di atas pohon. Foto anggrek jepretan saya sendiri telah menghiasi sampul antologi puisi Dawan-Esperanto saya Feotnai Mapules—Princino Laŭdata (Antwerpen, Belgia: Eldonejo Libera, 31 Desember 2016). Salam bunga anggrek dari Nusa Cendana!

Foto: © Yohanes Manhitu (Noemuti, 20 Januari 2018)