Wednesday, October 10, 2018

Disertasi di Mancanegara yang Mengutip "Kamus Indonesia-Tetun, Tetun-Indonesia" (Juli 2007)


Sekadar info kebahasaan: Telah ada tiga disertasi di universitas-universitas mancanegara yang mengutip Kamus Indonesia-Tetun, Tetun-Indonesia (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, Edisi I: Juli 2007). Profil singkat penyusun kamus dicantumkan di dua dari tiga disertasi ini. Masing-masing adalah (judul-nama penulis-universitas-tahun):
  1.  SOUTHEAST ASIA IN THE ANCIENT INDIAN OCEAN WORLD oleh Tom Hoogervorst, LINACRE COLLEGE, UNIVERSITY OF OXFORD, Inggris, 2011 
  2. ATTITUDES TOWARD TETUN DILI, A LANGUAGE OF EAST TIMOR oleh Melody Ann Ross, UNIVERSITY OF HAWAI‘I, Amerika Serikat, 2017 
  3. TETUN IN TIMOR-LESTE: THE ROLE OF LANGUAGE CONTACT IN ITS DEVELOPMENT oleh Zuzana Greksáková, FACULDADE DE LETRAS DA UNIVERSIDADE DE COIMBRA, Portugal, 2018
Setiap karya tulus hadir bukan untuk kesia-siaan. 
Salam basastra!

Sira-nia klamar loke dalan

Retratu: www.google.com

Liafuan sira mosu ona iha neon
bele iha loron, bele iha kalan.
Poezia sai sira-nia isin-lolon.
Sira-nia klamar loke dalan.


Autór: Yohanes Manhitu
Yogyakarta, 10-9-2018

Profil Singkat dan Foto Saya di Buletin "Usona Esperantisto" (Maret-April 2011)

Foto: esperanto-usa.org

Hmmm... Senang menemukan info di internet bahwa pada tahun 2011, "Usona Esperantisto" (buletin dua bulanan Esperanto di Amerika Serikat, edisi Maret-April; lihat hlm. 20), sama seperti majalah "The Esperanto Association of Britain" (majalah Perhimpunan Esperanto di Inggris), memuat profil singkat dan foto saya. Di terbitan itu, terdapat informasi ringkas namun jelas dalam bahasa Esperanto tentang kumpulan puisi perdana (160 puisi asli) saya dalam bahasa Esperanto, "Sub la vasta ĉielo" (Candelo, New South Wales, Australia: Mondeto, 2010). Semoga buku baru dalam bahasa ini lekas menyusul. Salam basastra! 🙏

Profil Singkat dan Foto Saya di Terbitan "The Esperanto Association of Britain" (2011)

Foto: https://esperanto.org.uk

Hmmm... Ternyata pada tahun 2011, ada profil singkat dan foto saya di terbitan "The Esperanto Association of Britain". Di situ, terdapat informasi ringkas dalam bahasa Esperanto tentang kumpulan puisi perdana (160 puisi asli) saya dalam bahasa Esperanto, "Sub la vasta ĉielo" (Candelo, New South Wales, Australia: Mondeto, 2010), yang kini tersedia dan dapat dibaca di katalog Perpustakaan Nasional Australia (https://catalogue.nla.gov.au/Record/5148889) dan tempat lain. Semoga buku baru dalam bahasa ini lekas menyusul. Salam basastra! 🙏

Sunday, September 30, 2018

Bahasa-bahasa Timor yang Digunakan di Dua Negara

Foto: Yohanes Manhitu (Yogyakarta, 2015)

Dengan dialek yang berbeda-beda, empat bahasa Timor berikut ini dipakai di Indonesia (Timor Barat, NTT) dan Timor-Leste: Dawan (Metô, Baikenu), Tetun, Kemak, dan Bunak (Marae). Bahasa-bahasa dwinegara ini masih aktif. Dawan dan Tetun (terlebih Tetun Nasional/Resmi Timor-Leste) adalah bahasa-bahasa Timor yang terbesar di antara ± 22 bahasa yang masih dikenal dan digunakan.

Idealnya, siapa pun yang mengaku dirinya orang Timor fasih menggunakan minimal satu bahasa Timor di samping bahasa Indonesia dan/atau Portugis serta bahasa lain. Salam budaya dan bahasa kepada semua pencinta. ✍️

Yogyakarta, 10 September 2018

Pemimpin yang Mencintai Ilmu Pengetahuan

Gambar: www.google.com

Raja Jawa yang menggagas dan menjadi patron mahaproyek penerjemahan "Mahabharata"---wiracarita asli India---dari bahasa Sanskerta ke bahasa Jawa Kuno adalah Dharmawangsa Teguh, seorang prabu yang pernah memerintah di Jawa Timur (985-1007 M). (Lihat https://id.wikipedia.org/wiki/Mahabharata)

Sangat penting untuk memiliki pemimpin yang mencintai ilmu pengetahuan dan terus-menerus mengupayakan pencerahan. Kiranya langkah cerdas Prabu Dharmawangsa (raja terakhir Kerajaan Medang atau Mataram Kuno) ini menginspirasi banyak pemimpin kita dari zaman ke zaman.

Para Penyair yang Karyanya Telah Diterjemahkan

Gambar: www.google.com

Sekadar informasi literasi. Semoga bermanfaat bagi teman-teman yang berminat pada (penerjemahan) sastra, terutama puisi. Sejauh ini, saya telah menerjemahkan ke bahasa Indonesia, Dawan, Tetun Nasional/Resmi, dan/atau Melayu Kupang*—hampir semuanya diterjemahkan langsung dari versi asli—paling sedikit satu karya dari penyair-penyair berikut ini:

1. Alfredo García Valdez (Meksiko)
2. Alfredo Pérez Alencart (Spanyol)
3. Aníbal Núñez (Spanyol)
4. Arthur Rimbaud (Prancis)
5. Charles Baudelaire (Prancis)
6. Claudio Rodríguez Fer (Spanyol)**
7. Elena Liliana Popescu (Rumania)***
8. Emily Dickinson (Amerika Serikat)
9. Fernando Pessoa (Portugal)
10. Fray Luis de León (Spanyol)
11. Gabriela Mistral (Cile)
12. Ingrid Valencia (Meksiko)
13. José Pulido Navas (Spanyol)
14. Juan Cameron (Cile)
15. Juan Carlos Olivas (Kosta Rika)
16. Karol Józef Wojtyła (Polandia)****
17. Lilliam Moro (Kuba)
18. Luís Vaz de Camões (Portugal)
19. María Sanz (Spanyol)
20. Octavio Paz (Meksiko)
21. Pablo Neruda (Cile)
22. Paul Verlaine (Prancis)
23. Paura Rodríguez Leytón (Bolivia)
24. Rabindranath Tagore (India)*****
25. Ramón Hernández-Larrea (Kuba)
26. William Auld (Inggris; berbahasa Esperanto)
----------------------------
*) Sebagaian besar terjemahan ini telah terbit dalam berbagai antologi di mancanegara, terutama di Spanyol, Amerika Latin, dan Rumania.
**) Diterjemahkan dari bahasa Galisia (sebuah bahasa turunan Latin) dengan versi Portugis, Spanyol, Prancis dan Italia sebagai sumber rujuk silang.
***) Diterjemahkan berdasarkan versi Prancis, Spanyol, Portugis, dan Inggris yang telah diterjemahkan langsung dari versi asli (berbahasa Rumania).
****) Diterjemahkan dari versi Inggris yang masih terdapat di internet.
*****) Diterjemahkan dari versi Inggris yang dibuat Tagore sendiri.


Hatene belun be loos

Image: www.google.com

Belun di'ak mak belun laran-moos.
Se nia nafatin lohi ema, nia la'ós.
Bainhira hasoru moris be toos,
ita sei hatene belun be loos.

Autór: Yohanes Manhitu
Yogyakarta, 28-9-2018

Dalan nakloke ona

Image: www.google.com

Dalan iha oin ne'e, nakloke ona.
Ba laran nia lian, ha'u sei rona.
Maski ain seidauk bele kona,
dalan nia rohan moos ona.

Autór: Yohanes Manhitu
Yogyakarta, 28-9-2018

Friday, August 31, 2018

TWO HEARTS AT TWO PIERS

Image: www.google.com

A poem by: Yohanes Manhitu

The beginning was just a hello
accompanied by a plain smile.
No one was able to tell the sun
how time would make a change
by leading two hearts to a stage.

Time flew as it wished, really fast.
The two hearts began to take a test
to look at themselves in a big mirror.
They both enjoyed undressing in verses
and learned the fact of hope sacrifice.

They are now standing at two piers,
waiting for boats to two destinations.
One pure disciple; one pure vagabond.
Both love mystery, but detest betrayal.
Understanding was their true consoler.

I am the only witness; I take no sides.
I adore the disciple; love the vagabond.
Only God who may strike His hammer.
He is the One to turn a worry to a smile.
He is to grant the two hearts a paradise.

Tuktuk, Samosir Island, 26 May 2003
---------------------------------

*) This poem is taken from my newest book, "A WALK AT NIGHT (Une promenade de nuit)", that has been published in Antwerp, Belgium, by Eldonejo Libera. The book is a collection of 110 life inspired original poems: 65 in English and 45 in French. Some of the French poems have won poetry contests in the Indonesian city of Yogyakarta. The price of the book is $10.41. You can order the poetry book FROM HERE.

PAGES OF A STORY BOOK

Image: www.google.com

A poem by: Yohanes Manhitu

The days pass quickly just like the pages
of a story book turned fast by a reader
hoping for a happy ending for himself
though the plot is uneasy, he knows.

He has opened the book like a blind.
The beginning flows like river water
moving toward the ocean of ecstasy
that turns into what he calls agony.

The book is still open; he is reading.
While trying to reach the final page,
he finds there much sadness and joy;
and keeps hoping for a happy ending.

Chapter by chapter he now has passed,
and still many more chapters to touch.
Though the story is still far to complete,
a happy ending is all he wants to enjoy.

Yogyakarta, Indonesia, 9 March 2005
---------------------------------
*) This poem is taken from my newest book, "A WALK AT NIGHT (Une promenade de nuit)", that has been published in Antwerp, Belgium, by Eldonejo Libera. The book is a collection of 110 life inspired original poems: 65 in English and 45 in French. Some of the French poems have won poetry contests in the Indonesian city of Yogyakarta. The price of the book is $10.41. You can order the poetry book FROM HERE.

Tuesday, July 31, 2018

Rona Múzika Kalan Nian



Hakerek-na'in: Yohanes Manhitu

Kleur ona ha’u gosta kalan be hamaluk ha’u
ho nonook naruk be halo ha’u hakmatek,
ho múzika kapás be haksolok tebes.
Karik ha’u fuan-monu ba rai-kalan.

Ema dehan katak rai-kalan besik ho nakukun
no buat oioin be dala ruma fó laran-taridu.
Maibé rai-kalan ne’e tempu furak ida
hodi hetan an iha fulan nia okos.

Durante rai-loro, susar hodi rona múzika furak
be mosu moos hosi raiklaran tarutu nian.
Se ó hakarak rona natureza nia lian,
hamaluk de’it fulan ho fitun-lubun.

Yogyakarta, fulan-Jullu 2007
------------------------------

Menyimak Musik Malam

Penulis-penerjemah: Yohanes Manhitu

Telah lama kusukai malam yang menemaniku
dengan keheningan panjang yang membuatku tenang,
dengan musik indah yang amat menyenangkan.
Barangkali kujatuh cinta pada malam hari.

Kata orang, malam itu akrab dengan kegelapan
dan berbagai hal yang terkadang merisaukan.
Tapi malam hari itu suatu saat yang indah
untuk temukan diri di bawah rembulan.

Selama siang, sulit ‘tuk menyimak musik indah
yang timbul dengan jelas dari dunia kebisingan.
Jika kauingin mendengarkan suara alam,
temani saja rembulan dan galaksi.

Yogyakarta, Juli 2007
--------------------------
*) Puisi Tetun ini terbit di "Jornál Semanál Matadalan", mingguan berbahasa Tetun di Dili, ibu kota Timor-Leste (Edisi 107, 09–15 September 2015).

Belajar Bahasa Jauh Sebelum Dibutuhkan

Gambar: www.google.com

Tentang belajar bahasa (asing), sudah sering saya sarankan kepada teman-teman untuk belajar bahasa (asing) jauh-jauh hari, lama sebelum bahasa itu sungguh-sungguh dibutuhkan, baik untuk belajar maupun bekerja. Tentu tidak bisa pakai cara ngebut semalam langsung "cas-cis-cus" (sangat fasih). 
(Yogyakarta, 13 Juli 2018)

Selamat Jalan, Kardinal Jean-Louis Pierre Tauran!


Turut berdukacita atas meninggalnya Kardinal Jean-Louis Pierre Tauran (1943–2018), yang wajahnya tak asing lagi bagi orang-orang Katolik yang suka menonton acara pemberkatan "Urbi et Orbi" langsung dari Vatikan. Kardinal Tauran yang berasal dari Prancis ini meninggal dunia di Amerika Serikat pada tanggal 5 Juli 2018. Beliau pernah berkunjung ke Indonesia dengan Pastor Markus Solo SVD pada tahun 2009. Kiranya arwah beliau memperoleh istirahat dan damai surgawi. Terima kasih banyak atas jasa-jasanya bagi Gereja dengan menjalankan berbagai tugas penting semasa hidup, di antaranya sebagai Presiden Dewan Kepausan untuk Dialog Antarumat Beragama dan Pemimpin Seksi Kearsipan dan Perpustakaan Vatikan. (Yogyakarta, 15 Juli 2018)

Foto: Kardinal Jean-Louis Tauran (paling kiri) di Masjid Istiqlal Jakarta (Sumber: https://penakatolik.com)

Hadomi Loro-toban

Imajen: www.google.com

Loraik mós nafatin iha biban,
no ó sei bele hetan dalan.
Se tebetebes ó soi laran,
ó sei hadomi loro-toban.

Autór: Yohanes Manhitu
Yogyakarta, 27-07-2018

Mari Katóng Pi


Gambar: www.google.com

Dari: Yohanes Manhitu

Ini kapal baro’o
ada barang tapo'a
ma panumpang kuat
dan pegang satu tekad
sampe di pulo harapan.


Ombak son bisa lu masparak,
biar-ko dia tarús bermaen.
Gelombang, sapa bisa tahan?
Biar-ko dia tetap bagulung;
biar-ko ini idop ada warna;
biar katóng yang pasang mata.


Ada menara tua di sablá laut.
Di sana, ada lampu yang taráng.
Dari jao, tacium bau cendana
dari akar bésar yang tabakar.
Ada suara orang maen sasando;
anak kici manyanyi Bolelebo;
ada pesta deng daging se'i;
ada acara minum tuak laru;
jagung katemak menu utama;
samua orang tawar sanyúm.


Yogyakarta, 9 Oktober 2004

Saturday, June 30, 2018

Menerima Paket "A Cabeleira (Fragmentos)" dari Claudio Rodríguez Fer, Penyair Galisia-Spanyol


Untuk kesekian kalinya, saya menerima paket berisikan buku puisi multibahasa yang di dalamnya terdapat paling kurang satu terjemahan saya dan juga paraf penulis atau editor. Hal bagus ini berlangsung sejak tahun 2007 ketika saya menerima paket dengan buku Los Poetas y Dios (antologi puisi para penyair Hispanik; León, Spanyol, 2007). Antologi ini memuat tiga puisi asli saya dalam bahasa Spanyol dan sebuah terjemahan saya dari bahasa Spanyol ke bahasa Indonesia untuk puisi Alfredo Pérez Alencart. Kali ini, di dalam A Cabeleira (Fragmentos) karya Claudio Rodríguez Fer (sastrawan dan profesor dari Galisia, Spanyol; https://en.wikipedia.org/wiki/Claudio_Rodriguez_Fer) juga ada paraf penulis karya asli sebagai ucapan terima kasih atas kerja sama penerjemah. Semoga dialog sastra antarbangsa melalui puisi bisa lestari. (Yogyakarta, 13 Juni 2018)

Sungguh Beruntung Bisa Banyak Belajar Dari Dua Maestro Sastra Dunia

Foto: www.google.com

Keuntungan lain dari menerjemahkan Gitanjali (kumpulan 103 puisi Inggris karya Rabindranath Tagore, pemenang Nobel sastra 1913) ke bahasa Dawan (rampung pada 2016 dan akan terbit) adalah saya memperoleh kesempatan bagus untuk membandingkan dengan cukup teliti seluruh versi Prancis dan Spanyol karya Nobel tersebut, yang saya gunakan sebagai pembanding bagi terjemahan Dawan saya. Ternyata terjemahan Prancis oleh André Gide (L'Offrande Lyrique, 1917) lebih 'setia' kepada Gitanjali versi Inggris---terjemahan Tagore sendiri pada tahun 1912---daripada terjemahan Spanyol oleh Juan Ramón Jiménez dan istrinya Zenobia Camprubí (Ofrenda lírica, 1918). Terjemahan pasangan suami-istri sastrawan ini lebih bebas, terkadang lebih singkat. Sebagai catatan, André Gide (1869–1951; sastrawan Prancis) adalah pemenang Nobel sastra 1947 dan Juan Ramón Jiménez (1881–1958; sastrawan Spanyol) adalah pemenang Nobel sastra 1956. Jadi, sungguh beruntung bisa banyak belajar dari dua maestro sastra dunia ini. Asyik!

Dalam menerjemahkan karya sastra, akan lebih baik bila menggunakan lebih dari satu versi sebagai sumber atau pembanding. Dan tentu hal ini hanya bisa terjadi kalau sang penerjemah sempat menekuni lebih dari dua bahasa.

A.D.M. Parera: Poliglot dan Sejarawan dari Timor


Tampaknya, berdasarkan catatan di buku Sejarah Pemerintahan Raja-Raja Timor (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1994; Drs. Gregor Neonbasu, SVD [ed.]), poliglot pertama dari Timor Barat, NTT, yang menulis buku tentang Timor adalah penulis buku tersebut di atas, yakni Anselmus Dominikus Meak Parera (Tubaki, 21 Mei 1916–Kupang, 18 Februari 1973). A.D.M. Parera hidup di tiga zaman (zaman Belanda, zaman Jepang, dan zaman kemerdekaan) dan menguasai bahasa Dawan, Tetun, Rote, Sabu, Kemak, Indonesia, dan Belanda. Berdasarkan daftar bacaan di bukunya itu, sangat mungkin ia juga berbahasa Inggris.

Ia pernah memegang beberapa jabatan penting pada masa hidupnya, di antaranya juru tulis Raja Camplong (1944-1946) dan asisten dosen luar biasa jurusan sejarah daerah pada FKIP Universitas Nusa Cendana Kupang (tahun 1960-an). 


Foto: Hasil repro saya dari sampul belakang buku tersebut

(Tegalyoso, Yogyakarta, 4 Juni 2018)

Belajar Bahasa Asing dengan Penuh Kesadaran

Foto: www.google.com

Kalau dilakukan dengan penuh kesadaran, belajar bahasa asing apa pun tak akan mengancam keberlangsungan bahasa ibu yang sudah biasa digunakan. Justru bahasa asing itu akan membantu untuk "meneropong" bahasa ibu kita. Kata-kata Johann Wolfgang von Goethe (sastrawan dan negarawan Jerman) berikut ini kembali menggema: Wer fremde Sprachen nicht kennt, weiß nichts von seiner eigenen. (Jerman, Barang siapa tidak mengenal bahasa asing, tidak tahu apa-apa tentang bahasanya sendiri.) Mari kita terus belajar! (Yogyakarta, 2 Juni 2018)

Menerbitkan Kembali Kumpulan Puisi "Nenomatne Nbolen: Puisi Uab Metô Sin Lê Mabuab (Sebuah Antologi Puisi Dawan)"


Ingin sekali saya membaca ulang, memoles secara ortografis, dan menerbitkan kembali kumpulan puisi Nenomatne Nbolen: Puisi Uab Metô Sin Lê Mabuab (Sebuah Antologi Puisi Dawan). Ini adalah kumpulan perdana berbahasa Dawan (tanpa terjemahan) saya yang diterbitkan dengan edisi terbatas di Yogyakarta oleh Genta Press pada tahun 2009. Semoga niat baik ini bisa terwujud dalam waktu dekat dan membuahkan hasil. Deo volente!

Catatan: "Nenomatne Nbolen" berarti "Matahari Telah Terbit". Kumpulan puisi asli saya dalam bahasa Dawan (bahasa Timor terbesar) ini kini terdapat di katalog perpustakaan-perpustakaan mancanegara berikut ini:

  1. Cornel University Library, Amerika Serikat
  2. Northern Illinois University Library, Amerika Serikat
  3. Ohio University Library, Amerika Serikat
  4. Yale University Library, Amerika Serikat
  5. The Library of Congress, Washington DC, Amerika Serikat (Library of Congress Control Number: 2009332653)
Foto: Dokumen pribadi penulis

Wednesday, May 30, 2018

SEKILAS SAJA TENTANG ARTI "TAIM HINE": NAMA SEBUAH YAYASAN DI TIMOR BARAT, INDONESIA


"Istilah Taim Hine, dijelaskan lebih lanjut, diadopsi dari perbendaharaan bahasa timor yang artinya rumah belajar." (Kutipan dari kupang.tribunnews.com)

SECARA pribadi, saya sambut baik kehadiran Yayasan Taim Hine Aleta Baun dengan "visi alam NTT yang hijau, lestari dan masyarakat yang berdaulat dari sisi lingkungan adat dan budaya". Ini patut diapresiasi dan didukung. Yang menggangu bagi say---sebagai penutur bahasa Dawan---adalah arti nama "Taim Hine" yang tercantum di kupang.tribunnews(.)com

Penutur bahasa Dawan mana pun---tidak harus saya---akan terganggu dengan "rumah belajar" sebagai terjemahan Indonesia untuk nama Dawan "taim hine", yang sesungguhnya berarti "mencari ilmu/pengetahuan" (bandingkan dengan "buka matenek" dalam bahasa Tetun). Cobalah menggali lebih dalam tentang arti sebuah nama, apalagi dalam bahasa daerah, jika hendak menjelaskannya, terutama kepada masyarakat di kampung halaman bahasa tersebut. Jika kita menghargai bahasa daerah sebagai kekayaan budaya bangsa, marilah kita tunjukkan itu secara nyata, termasuk melalui informasi di media massa.

Semoga bahasa-bahasa kita lestari. Salam mesra budaya! 🙏

Catatan: Tulisan singkat ini saya tulis di dinding Facebook saya pada tanggal 22 Mei 2018 dan telah ditanggapi Ibu Aleta Baun, ketua yayasan tersebut.

Foto: Yohanes Manhitu (Kapan, 18 Januari 2018)

Iman Tak Akan Hangus

Foto: www.google.com

Pergi ke kota ditemani si om,
akhirnya dapat sepatu bagus.
Rumah ibadat dihantam bom,
tetapi iman tak akan hangus.
 

Penulis: Yohanes Manhitu
Yogyakarta, 13 Mei 2018

Nama Saya Disebut di Situs Multibahasa untuk "A Cabeleira", Karya Claudio Rodríguez Fer

Foto sampul: www.google.com

Hmmm... Ternyata nama saya tercatat bersama-sama dengan nama berbagai penerjemah antarbangsa dari berbagai bahasa (60 bahasa) di situs acabeleira sebagai penerjemah "A Cabeleira", karya Claudio Rodríguez Fer, seorang penyair tersohor dari Galisia, Spanyol. Silakan baca terjemahan saya sendiri di acabeleira-indonesio. Puisi terjemahan Indonesia itu tersedia juga di buku dengan judul yang sama, "A Cabeleira", yang terbit di Spanyol pada tahun 2016. (Jogja, 16-05-2018)

Catatan: Puisi asli "A Cabeleira" ditulis dalam bahasa Galisia.

Musikalisasi Puisi Tetun oleh Abe Barreto Soares, Penyair Timor-Leste


Musikalisasi puisi berbahasa Tetun oleh Abe Barreto Soares (bernama pena Jenuvem Eurito; sastrawan, musisi, dan penerjemah dari Timor-Leste) di sela-sela perbincangan tadi malam, yang bertopik "Perkembangan dan Wajah Sastra di Timor-Leste". Perbincangan menarik dan akrab tersebut diikuti sejumlah anggota Forum Batu Tulis Nusantara Yogyakarta.

Foto: Dokumen pribadi (RG COFFEE, Yogyakarta, 7 Mei 2018)

Kumpulan Cerpen "Eroi Loromatan" (karya Cancio Ximenes) Diterima di Yogyakarta


Senang menerima buku kumpulan cerpen "Eroi Loromatan" (2018) karya penulis Timor-Leste Cancio Ximenes sebagai oleh-oleh dari Timór Lorosa'e. Terima kasih banyak kepada Bung Cancio Ximenes (sang penulis) dan Bung Jenuvem Eurito (penulis dan musisi yang telah menyampaikannya setelah diskusi tadi malam (7 Mei 2018) di RG COFFEE, Mrican, Yogyakarta). Salam sastra! (Yogyakarta, 8 Mei 2018)

Catatan: Nama saya disebut pada hlm. iv buku tersebut. Obrigadu!

Tibanya Antologi Multibahasa "DACĂ" (karya Elena Liliana Popescu) dari Bukares, Rumania


Tabik! Sekadar informasi sastra mancanegara. Akhirnya sore ini, tiba juga di alamat saya di Yogyakarta, buku puisi multibahasa (80 bahasa, terjemahan dari puisi "DACĂ", karya penyair Rumania, Elena Liliana Popescu) yang diterbitkan oleh Pelerin di Bukares, Rumania, Oktober 2017. Dalam buku itu, terdapat 4 terjemahan saya ke bahasa Indonesia, Dawan, Tetun Resmi (Timor-Leste), dan Melayu Kupang. Terjemahan-terjemahan ini (masing-masing berjudul "ANDAI", "KALU", "SE", dan "KALO") telah dibuat berdasarkan versi Spanyol, Prancis, Portugis, Italia, dan Inggris. Maklum, kemampuan bahasa Rumania saya belum memadai untuk menerjemahkan langsung dari versi asli. Semoga ketika sudah cukup belajar, hal mengasyikkan itu bisa dilakukan. (Jogja, 4 Mei 2018)

Foto sampul buku puisi "DACĂ": Dokumen pribadi

Rampungnya Penerjemahan "Gitanjali" (karya Rabindranath Tagore) ke Bahasa Dawan


Tabik! Dua tahun lalu, saya sempat informasikan rampungnya penerjemahan "Gitanjali" ke bahasa Dawan---bahasa Timor yang terbesar. Tetapi maaf, berhubung kesibukan saya dengan beberapa urusan penulisan dan penerjemahan urgen, penerbitan buku puisi dwibahasa Dawan-Inggris tersebut belum bisa terwujud. Meskipun demikian, teman-teman yang berminat untuk membeli karya terjemahan langka ini dapat menyebutkan nama di kotak komentar dan akan saya catat dalam daftar. Begitu buku puisi ini terbit (dengan swadana), akan saya kabari. Semoga bisa terbit dalam tahun ini. OK? Terima kasih atas perhatian yang diberikan.

Catatan: Antologi "Gitanjali" yang terdiri atas 103 puisi adalah karya hebat Rabindranath Tagore---penyair besar dari India---yang diterjemahkannya sendiri dari bahasa Bengali (Bangla) ke bahasa Inggris (ragam "King James' Bible") pada tahun 1912 dan kemudian berhasil menjadikannya pemenang Nobel Sastra tahun 1913. Tagore adalah orang Asia pertama yang menerima hadiah prestisius tersebut. "Gitanjali" telah tersedia dalam berbagai bahasa. (Tegalyoso, Yogyakarta, 2 Mei 2018)

Foto: Tampilan sementara sampul depan (karya sendiri).

Monday, April 30, 2018

Demi tanahmu sejengkal

Gambar: http://www.google.com

Demi tanahmu sejengkal,
peluru meluncur tanpa akal,
memaksa nyawa ke alam kekal.
Walau kauhidup, barangkali dicekal.

(Buat korban kasus tanah di Sumba Barat)

Atu moris bele buras

Imajen: www.google.com

Atu ó-nia moris bele buras,
ó-nia kakutak tenke dulas.
Selae, ó-nia ulun sei moras
no karik ó sei bele lakon ilas.

Autór: Yohanes Manhitu 

Yogyakarta, 17-04-2018

Jika cintamu bukan fiksi

Foto: www.google.com

Pergi ke kampung naik taksi
karena gagal pakai kereta.
Jika cintamu bukan fiksi,
hadirmu harus nyata.

Oleh: Yohanes Manhitu

Yogyakarta, 14-04-2018

Selamat Jalan, Pak Danarto!

Foto: https://metro.sindonews.com

Turut berdukacita atas meninggalnya Pak Danarto, seorang sastrawan dan pelukis Indonesia. Semoga arwahnya menikmati istirahat dan damai di alam surgawi sana. Bacalah profilnya di https://id.wikipedia.org/wiki/Danarto.

Tegalyoso, Yogyakarta, 11 April 2018

Kelor dan Kampanye

Foto: kaltim.tribunnews.com

Jalan-jalan ke Pulau Solor,
lautnya biru, bukan oranye.
Dulu pun orang tanam kelor,
jauh sebelum ada kampanye.

(Sekadar pantun pagi progizi)

SEKILAS TENTANG NAMA "DAWAN"

Foto: http://epress.anu.edu.au/oota/ch1.htm

Tadi siang, saya "disenggol" oleh Leko Kupang (maaf, saya tidak tahu nama aslinya!) dan dilibatkan dalam obrolan di dinding Facebooknya tentang nama "Dawan", terutama sebagai nama bahasa. Terima kasih banyak ya atas ajakan untuk berdiskusi. Tetapi maaf ya, saya cuma pengguna bahasa, bukan ahli.

Saya sudah sering ditanya tentang hal ini. Setahu saya dan berdasarkan pengalaman nyata (baik sebagai penutur maupun penulis aktif bahasa Dawan), nama "Dawan" sudah lama sekali dipakai---di samping nama "Metô" (tulisan menurut ejaan yang saya pakai secara opsional) untuk merujuk kepada baik orang maupun bahasa. Dalam kehidupan sehari-hari, nama "Dawan" lebih banyak dipakai dalam bahasa Indonesia, sedangkan nama "Metô" digunakan dalam bahasa Dawan (ketika berbicara bahasa Timor terbesar ini).

Perhatikanlah contoh-contoh kalimat berikut:

1. Hit ka kase kit fa, Aokbian. Hit Metô kit. = Kita bukan orang asing, Kawan. Kita orang Dawan.
2. In ka namolok fa Metô, alakun Labit. = Ia tidak berbahasa Dawan, hanya bahasa Indonesia.

Dalam buku Di Bawah Naungan Gunung Mutis karya P. Andreas Tefa Sa’u, SVD, disebutkan bahwa secara ilmiah, nama "Dawan" untuk pertama kalinya muncul dalam artikel yang berjudul "Die Landschaft Dawan oder West-Timor" karangan J.G.F. Riedel yang diterbitkan dalam "Deutsche Geographische Blätter (DGB) pada tahun 1887. Artikel tersebut memuat informasi tentang manusia dan kebudayaan Dawan, meliputi aspek fisik dan sosial budayanya.

Satu hal yang perlu diingat adalah konsistensi dalam bersikap dan berprinsip. Jadi, kalau merasa keberatan atau berniat untuk menolak nama "Dawan" karena dianggap sebagai nama dari luar (bukan nama asli), tolong merasa keberatan juga dengan atau menolak nama "Timor" dan "Indonesia" karena kedua-duanya ini berasal dari atau diberikan orang luar. Bagaimana?

Oh ya, mempersoalkan nama "Dawan" itu mungkin penting, tetapi saya kira jauh lebih penting kita tetap aktif menggunakan bahasa Dawan dengan elok (baik secara lisan maupun tertulis) supaya bahasa ini---bersama-sama dengan bahasa Nusantara lainnya---tetap subur dan lestari. Ini lebih urgen daripada urusan nama. Semoga bahasa kita lestari sehingga tidak tinggal nama!

Kalau sempat, silakan baca tulisan-tulisan Dawan saya di blog bahasa dan sastra Dawan saya dengan alamat http://uabmeto.blogspot.com.

Salam mesra bahasa dan sastra ke segala penjuru!  

Tegalyoso, Yogyakarta, Indonesia, 6 April 2018

Yesus dari Nazaret, Raja Orang Yahudi

Foto: www.google.com

Penulisan "Yesus dari Nazaret, Raja Orang Yahudi" oleh Pontius Pilatus dalam bahasa Ibrani, Latin, dan Yunani menolong kita untuk tahu Sprachenkarte (Jerman, peta kebahasaan) di Israel pada saat Yesus disalibkan. Tentu orang yang kritis akan bertanya, "Mengapa keterangan penting itu harus ditulis dalam ketiga bahasa tersebut?" Selanjutnya, sebagaimana kita ketahui bersama, di atas salib (terutama dengan krusifiks [patung Kristus]), yang paling populer dari ketiganya adalah versi Latinnya, yaitu Iesus Nazarenus Rex Iudaeorum (INRI). Mengapa pula? Ketika orang sungguh-sungguh belajar bahasa, ia sungguh-sungguh pula belajar sejarah (Sine lingua, historia non est). Tentu, tiada sejarah tanpa bahasa, 'kan? Dan Yesus Kristus nyata dalam sejarah. (Yogyakarta, 2 April 2018)

Saturday, March 31, 2018

Kutipan-kutipan terjemahan saya dalam buku "Menyemai Benih Cinta Sastra" (2015)

Foto: https://www.tokopedia.com
Saya merasa senang saja bahwa kini sejumlah terjemahan saya dari bahasa asing (Prancis, Spanyol dll.) telah dikutip dalam buku-buku pelajaran bahasa dan sastra di Indonesia. Kali ini, penggalan dari puisi Kidung Musim Gugur (terjemahan saya untuk puisi Chanson d'Automne karya Paul Verlaine [penyair Prancis]) dan Ulurkan Tanganmu (terjemahan saya untuk puisi Dame la mano karya Gabriela Mistral [penyair Cile]) dikutip dalam buku Menyemai Benih Cinta Sastra tulisan Sony Sukmawan (Malang: Universitas Brawijaya Press, 2015). Semoga terjemahan-terjemahan saya itu---yang dibuat langsung dari bahasa-bahasa aslinya---ikut memperkaya wawasan para peserta didik yang menekuni bahasa dan sastra.