Thursday, December 31, 2015

Pikiran kecil saya di edisi 24 "Beletra Almanako"


Puji Tuhan! Setelah agak lama "hening" (pascaedisi 12 & 17), tulisan saya bisa terbit lagi di "Beletra Almanako -- Literatura periodaĵo en Esperanto", sebuah majalah sastra berbahasa Esperanto yang berbasis di New York, Amerika Serikat. Kali ini, di edisi 24 (hlm. 91), yang terbit adalah esai saya yang berjudul "Skribi en Esperanto: Penseto mia" (Menulis dalam bahasa Esperanto: Pikiran kecil saya). Semoga tulisan-tulisan lain dalam bahasa Esperanto dan juga bahasa lain bisa segera menyusul. Salam sastra,

(Yogyakarta, 27 November 2015)

Sore ditemani kopi


Anak nelayan tak suka jajan.
Uang dipakai membeli topi.
Sore ini berhiaskan hujan,
makin elok ditemani kopi.


Yohanes Manhitu
Jogja, 14/12/'15

Kamus menurut Samuel Johnson


“Kamus itu ibarat jam tangan. Yang paling buruk lebih baik daripada tidak ada sama sekali, dan yang terbaik tidak dapat diharapkan berfungsi dengan sungguh tepat.”

--Samuel Johnson (1709–1784), pekamus legendaris Inggris
(Kutipan ini adalah terjemahan saya dari bahasa Inggris)

Foto: Kamus bahasa Akkadia, karya tertua di dunia
Sumber: http://www.zmescience.com

Dua puisi Portugis di "Kamus Portugis-Indonesia, Indonesia-Portugis"


Tabik! Sekadar informasi. Pada halaman 1522-1523 (Lampiran 12) "Kamus Portugis-Indonesia, Indonesia-Portugis", terdapat dua puisi penyair kenamaan Portugis. Masing-masing dengan terjemahan Indonesiannya oleh saya.
1. Amor é fogo que arde sem se ver (Cinta itu api yang menyala tanpa rupa), oleh Luís Vaz de Camões (± 1524-1580), dipandang sebagai pujangga terbesar Portugal dan paling termasyhur dalam bahasa Portugis.
2. O amor é uma companhia (Cinta itu teman), oleh Fernando Pessoa (1888-1935), juga penerjemah dan tokoh Modernisme Portugis.

Salam sastra,

TENGAH MALAM (MEDIANOCHE). Oleh/Por: Yohanes Manhitu


Ilustrasi: http://img01.deviantart.net

TENGAH MALAM

…dan keheningan

berhiaskan tanda keberanian
dari suku kata membisu...
António Salvado

Tengah malam di sini,

di kampungku sendiri,
aku ditemani keheningan
dan lagu beberapa serangga
yang dengan riang berpentas
di kolong dedaunan jagung.
Astaga! Kurasa sepi tanpamu. 
-----------------------------

MEDIANOCHE

…y la soledad

viste el gesto osado
de las sílabas calladas...
António Salvado

Medianoche aquí,
en mi propio pueblo,
me acompañan la soledad
y la canción de unos insectos
que interpretan cómodamente
debajo de las hojas de maíces.
¡Dios mío! Me siento solo sin ti. 

------------
* Kedua puisi ini terbit di Um Extenso Continente II, A Ilha, himpunan puisi penghargaan 29 penyair dari berbagai negara kepada penyair Portugis António Salvado (Castelo Branco, Portugal: RVJ Editores, 2014). Informasinya dalam bahasa Spanyol terdapat di sini.

Friday, November 6, 2015

Aneka Catatan


Di lembaran panjang bernama Kehidupan,
terkadang ada catatan ringan dan singkat,
atau catatan berat dan panjang nirpesona.
Ada pula catatan pinggir yang terlupakan.
Catatan kaki jua ada dan 'terinjak' alinea.


(Yohanes Manhitu, Jogja, 3 Nov. 2015)

Hari Peringatan Arwah Semua Orang Beriman


Ya Tuhan Yang Mahapengasih dan Mahapenyayang, perkenankanlah arwah leluhur, sanak saudara, dan sahabat kami tercinta yang telah mendahului kami ke rumah-Mu yang kudus mendapatkan istirahat dan kebahagiaan surgawi. Semoga dosa-dosa mereka Engkau ampuni, ya Tuhan. Amin.

(Hari Peringatan Arwah Semua Orang Beriman, 2 Nov. 2015)

Embun di ujung rumput


Ketika orang lagi berjuang menerjang kabut,
kau asyik membungkus diri dengan selimut.
Hingga seluruh wajahmu itu dihiasi keriput,
kau tak melihat embun di ujung rumput.


Yohanes Manhitu, 2 November 2015

Kemandirian seorang pemelajar


Guru adalah sosok penting yang patut dihormati, tetapi tak selamanya orang membutuhkan guru untuk segala sesuatu. Bila sanggup, belajarlah sesuatu, misalnya bahasa baru, secara autodidak alias menjadi guru untuk diri sendiri. Kemandirian seorang pemelajar akan terbentuk dalam proses belajar itu. (Yohanes Manhitu, Yogyakarta, 30 Oktober 2015)

Kita menjunjung tinggi bahasa persatuan


Dua minggu lalu, saya ikut latihan kor dalam bahasa Jawa. Malam ini, saya akan ikut latihan kor lagi, dalam bahasa Indonesia. Kali ini kebetulan sekali bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda. Kita memelihara bahasa-bahasa daerah agar lestari. Dan sebagai warga Indonesia, kita menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia, sesuai dengan butir ketiga Sumpah Pemuda 1928. Dirgahayu bahasa Indonesia, bahasa persatuan RI! (Yohanes Manhitu, Yogyakarta, 28 Oktober 2015)

Sastrawan Facebook


Andaikan ada julukan "sastrawan Facebook". Semoga tidak ada. Mungkin julukan ini (dianggap) boleh berlaku kalau memang karya-karyanya sama sekali tidak pernah nongol di luar Facebook. Tetapi untuk apa dirisaukan. Debutnya bisa dimulai di Facebook atau media siber lainnya. Orang bebas memilih mau mulai di mana. Facebook adalah salah satu media bagus untuk berbagi karya. Patut diapresiasi dan disyukuri. Tiada yang salah kok kalau karya-karya setiap insan kreatif dihadirkan di dua dunia sekaligus, baik di dunia riil maupun dunia maya. Ada karya yang keluar dari dunia riil ke dunia maya dan ada pula yang keluar dari dunia maya ke dunia riil. Santai sajalah. Yang penting adalah giat berkarya dan bersedia berbagi. Soal (t)anggapan orang, kita kembalikan saja kepada yang (suka) mengambil posisi "hakim". (Yohanes Manhitu, Yogyakarta, 27 Oktober 2015)

Mengajari bocah menghargai alamnya


Bilamana orang dapat menikmati indahnya hutan, atau minimal sederet pohon rindang, dan mendengarkan nada-nada pelanginya yang bisa menimbulkan kerinduan di hati, barulah ia mungkin akan peka dan menghargai hutan dan segala isinya. Ketika sudah bukan bocah lagi, saya mengerti mengapa dahulu orang-orang tua di kampung melarang kami, para bocah, mematahkan ranting sesuka hati kami. Ada begitu banyak hal yang saya syukuri sebagai mantan bocah kampung yang akrab dengan hutan dan sabana. Di hutan, kami, para bocah, tidak pernah kelaparan. Kami diajar untuk tahu bahwa Sang Pencipta sungguh baik hati dengan menghadirkan pepohonan dan mata air di hutan. Ah! Ternyata jauh lebih mudah mengajari bocah menghargai alamnya. (Yohanes Manhitu, Yogyakarta, 26 Oktober 2015)

Ngobrol dengan peziarah dari Ermera


Beruntung! Kemarin, sewaktu di Gua Kerep, saya sempat ngobrol akrab dalam bahasa Tetun Nasionál dengan seorang peziarah dari Ermera, Timor-Leste, yang mampir bersama dengan keluarganya di Jawa Tengah dalam perjalanan dari Bandung ke Timor-Leste. Rasanya seakan-akan kami sedang ngobrol dekat "Palácio do Governo" atau di depan Gereja Motael. Itulah bahasa, bisa mengikat atau memisahkan orang di mana pun berada.

(Yohanes Manhitu, Yogyakarta, 26 Oktober 2015)

Mengupas

Ketika masih kecil, sebagai seorang bocah, saya cuma kenal mengupas buah, seperti mengupas mangga. Setelah bukan bocah lagi, eh, ternyata ada juga "mengupas masalah", "mengupas kepribadian", "mengupas peristiwa", dll. Ketika seseorang asyik mengupas masalah orang lain seakan-akan ia sosok nirmala, pada saat yang sama, mungkin saja masalahnya dikupas tuntas oleh orang lain di tempat lain dengan pisau yang berbeda jenis. Semoga positif.

(Yohanes Manhitu, Yogyakarta, 19 Oktober 2015)

Mengiringi lagu-lagu dalam ibadat berbahasa Jawa


Acara ekstra di "TKP" bersama dengan Mas Jarwanto (kedua dari kiri) setelah Bung Dariuz Nabunome (keempat dari kiri; tadinya memegang orgen), Bung Benny BoySh (pertama dari kiri; tadinya memegang gitar) dan saya (tadinya memegang gitar) mengiringi lagu-lagu dalam ibadat sabda berbahasa Jawa di Lingkungan St. Rafael, Berbah, Yogyakarta, pada Sabtu malam, 17 Oktober 2015. Setelah memegang gitar, rasanya irama malam akan lebih lincah dan indah mengalir dari rongga-rongga harmonika. Terima kasih banyak atas bantuan para musisi Timor (Benny BoySh, Dariuz Nabunome, Boyz'one Easterlight, Frids Themayers) untuk Lingkungan St. Rafael selama ini. Bantuan teman-teman ini sungguh berarti. Mari kita terus berbagi.

(Yohanes Manhitu, Yogyakarta, 19 Oktober 2015)

Mampir di makam Pater Prof. Dr. Petrus Josephus Zoetmulder, S.J.


Adalah sebuah kegembiraan tersendiri bahwa tadi sore, dalam perjalanan pulang ke Jogja dari Gua Kerep, Ambarawa, Jateng, saya sempat mampir di makam Pater Prof. Dr. Petrus Josephus Zoetmulder, S.J. (di nisan tertulis: P. Prof. Piet Zoetmulder SJ) di Muntilan, Jateng. Walaupun sudah beberapa kali "main" ke atau melewati Muntilan, hari ini saya baru sempat berziarah.
-------------------------------------------------------
Pater (Romo) Prof. Dr. Petrus Josephus Zoetmulder, S.J. adalah ahli sastra Jawa Kuno dan penyusun Kamus Jawa Kuno-Inggris (sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia) yang dianugerahi Bintang Budaya Parama Dharma oleh Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Jakarta, pada Kamis, 13 Agustus 2015. Semoga semangat kerja Romo yang luar biasa itu menjadi lokomotif bagi gerak langkah setiap pencinta bahasa dan sastra di negeri ini.  

(Yohanes Manhitu, Yogyakarta, 18 Oktober 2015)

Makna kata "mantan"


Akhir-akhir ini, tampaknya makna kata "mantan" cenderung dipersempit menjadi "eks kekasih". Ketika seseorang ditanya, "Tadi kamu terima telepon dari siapa?" Dia jawab, "Dari mantan." Yang tak tahu maksudnya, akan berpikir jangan-jangan dia menerima telepon dari mantan presiden. (Yohanes Manhitu, Yogyakarta, 9 Oktober 2015)

Pembebasan


Kata orang, dengan membebaskan orang lain, engkau membebaskan dirimu sendiri. Tetapi ada kalanya, dengan membebaskan diri sendiri, disadari atau tidak, engkau membebaskan orang lain juga. Tentu ada konteksnya. (Yohanes Manhitu, Yogyakarta, 9 Oktober 2015)

Puisi selalu memanggilku



Oleh: Yohanes Manhitu

Banyak kali kumerasa letih dan sungguh lemah

untuk menyahut suara puisi yang tiada henti
laksana gelombang keras yang menerpa
yang memaksaku menuangkan tiap kata.

Banyak kali puisi timbul dari mimpi yang indah,
dari suara hujan yang menimbulkan kegaduhan hebat,
dari seorang wanita cantik yang berpayung di jalan,
dari sungai panjang yang penuh dengan sampah.

Suatu ketika bila kuabaikan keindahan tertentu,
puisi segera mendaulat kedua mataku
‘tuk lekas menatap. Kuberpikir dan merasa,
dan baris-baris baru akan lahir bagi dunia.

Pugeran Timur, Yogyakarta, Juli 2007

Terjemahan Yohanes Manhitu dari puisi Tetunnya,
Poezia bolu ha’u nafatin (Juli 2007)

Bila malam lupa waktu



Oleh: Yohanes Manhitu

Aku tak pernah membayangkan bila tiada malam,
aku tak pernah berpikir jika tiada rembulan,
aku tak pernah menantikan bintang tak tampak,
aku tak pernah berharap yang ada hanya hari.

Mengapa siang dekat dengan terang
dan malam tetap merangkul gelap?
Apakah hidup ini hanya terang-gelap?
Tiadakah ruang di antara keduanya?

Bila suatu ketika saja malam lupa waktu
dan siang telah merasa jemu bertandang,
gelap akan memerintah bagai sang raja.
Hanya terang yang akan dicari orang.

Untuk membuat lukisan tampak lebih hidup,
pelukis menggunakan terang dan gelap
dan menyentuhnya dengan tangan yang sama.
Masing-masing ada menurut perintah pelukis.
 

Pugeran Timur, Yogyakarta, Mei 2008

Terjemahan Yohanes Manhitu dari puisi Tetunnya,
Bainhira kalan haluha tempu (Mei 2008)

Saturday, October 10, 2015

Mencoba terus mengakrabi bahasa

Butuh waktu bertahun-tahun untuk bisa "melampaui" bahasa turunan Latin ini, yang lahir di Provinsi Lusitania--provinsi Romawi yang kini bernama Portugal. Bila orang sudah pernah belajar bahasa Spanyol, Italia, Prancis, dan Rumania (saudara-saudara bahasa Portugis), upaya "melampaui" ini akan sedikit lebih mudah. Hingga kini pun, saya mencoba terus mengakrabi bahasa yang satu ini dan jujur saja, masih begitu banyak hal yang saya belum mengerti. (Yogyakarta, 8 Oktober 2015)

Melanesian Roots Festival (Rabu, 7 Oktober 2015)

Menyenangkan! Atas undangan panitia penyelenggara, tadi malam, Rabu, 7 Oktober 2015, bertepatan dengan HUT ke-259 Kota Yogyakarta, saya sempat hadir dan turut berbagi secara interaktif dalam acara "Melanesian Roots Festival" di Arcaf (Kafe Seniman), Babarsari, Yogyakarta. Saya membacakan dua puisi Indonesia saya (berjudul "Jogja, Kota Kenangan" [2003] dan "Kisah Musisi Malam" [2004]) dan berbicara sepintas tentang bahasa, sastra, dan eksistensi insan-insan dari kawasan timur Indonesia (KTI) di Yogyakarta. Semoga semakin banyak acara positif yang dapat mendukung kreativitas insan-insan dari KTI di rantau, terutama di Yogyakarta. Salam budaya,
(Yogyakarta, 8 Oktober 2015)

Bulan Bahasa (di) Indonesia

Oktober adalah Bulan Bahasa Nasional di Indonesia, mengingat pada bulan inilah, bahasa Indonesia lahir dalam Sumpah Pemuda. Oktober juga adalah bulan Rosario bagi pemeluk Katolik sedunia. Bagi saya, di lingkungan Katolik di tempat tinggal saya, Oktober pun merupakan "bulan bahasa Jawa" karena setiap malam, secara bergiliran, doa dan kidung pujian dilantunkan dengan indah dalam dialek sosial Jawa yang tertinggi: Kromo Inggil. Syukurlah, saya berkesempatan untuk mengenal budaya dan bahasa lain di negara tercinta, surga para linguis ini. Terlepas dari hal baik yang disyukuri ini, saya tetaplah orang Indonesia dari Timor-Dawan yang tinggal di Jawa. Salam budaya,
(Yogyakarta, 7 Oktober 2015)

Tetap setia berproses kreatif

Soal penyair atau bukan, pujangga atau bukan, sastrawan atau bukan, yang penting tetap setia berproses kreatif dan menikmati proses itu sebagai upaya penempaan atau pembebasan diri, kalau boleh disebut begitu. Predikat apa pun itu hanyalah konsekuensi logis dari tindakan. Tiada reaksi tanpa aksi. (Yogyakarta, 5 Oktober 2015)

"Ratapan Laut Sawu: Antologi Puisi Penyair NTT" (Sekilas info)


Puji Tuhan! Antologi Puisi Penyair NTT "Ratapan Laut Sawu" telah diterbitkan Penerbit Universitas Sanata Dharma. Lima puisi saya yang masing-masing berjudul "Mawar Kota Karang", "Bukan Sebuah Arca", "Pohon Para Pendoa", "Suara Tuhan di Radio", dan "Hari Berwajah Debu" terbit di antologi bersama ini. Yang berminat bisa segera mendapatkan buku ini di Toko Buku Universitas Sanata Dharma Yogyakarta di Mrican. Terima kasih kepada Bpk. Yoseph Yapi Taum yang telah mengupayakan terbitnya antologi ini. Salam sastra,

Tuesday, September 29, 2015

Pages of A Story Book


 
By: Yohanes Manhitu
 
The days pass quickly like the pages
of a story book turned fast by a reader
hoping for a happy ending for himself
though the plot is uneasy, he knows

He has opened the book like a blind
The beginning flows like river water
moving toward the ocean of ecstasy
that turns into what he calls agony

The book is still open and read fast
While trying to reach the final page,
he finds there, much sadness and joy
and still he hopes for a happy ending

Chapter by chapter he now has passed
and still many more chapters to touch
Though the story is still far to complete,
a happy ending is all he wants to enjoy

Yogyakarta, 9 March 2005

Embracing the Wind


By: Yohanes Manhitu

Now I am standing here in a valley
looking at steep hills surrounding it, speechless.
I have named the valley "the valley of self-betrayal",
and the hills "the hills of suicide". That’s it!
I embrace nobody but the wind. Not bad!

In the dark clouds sweeping the valley,
I see a hypocritical couple in false harmony
marching with laughter towards the end of a kiss.
The man loves poison, while the woman loves honey.
Why should I sacrifice my mind for an inferno?

I know that I am still embracing the wind
And trying to persuade her to sing me a song.
Embracing the wind, I don’t break any human law;
embracing the wind, I can do it without self-betrayal.
As I embrace the wind, I am no longer a prisoner.

Yogyakarta, 2 July 2003

A New Day


By: Yohanes Manhitu

Lord, to your holy temple,
Today I thank you for the new day
That comes without complaints
To me, a small man.

From the east, a light is coming out,
Touching the face of the earth.
Everything is always new
For you are new forever.

Yogyakarta, December 2007

Old Latin Book



By: Yohanes Manhitu

There, on the floor, lies an old book.
No beauty it has in the arrogant library,
nobody cares about what existence it has.
I guess it has been asleep without a kiss.
It seems hard to be an ignored old thing.
Should all old things be forgotten?

Its appearance makes me curious.
I take two steps towards the old book.
I take it carefully and begin to examine it.
"My God", I say, "What a nice old book!”
It is a very good old Latin grammar book.
It is my gate to the realm of Latin.

Yogyakarta, 2 July 2003

Por sukceso necesas tri aferoj


« Por sukceso necesas tri aferoj: precize difini la celon, ekiri al ĝi kaj persisti ĝis la fino. » (Angle: Three things are essential for Success: Precisely define the goal, move steadily toward it, and persist and until you have reached it.) --Tibor Sekelj (14 February 1912 – 20 September 1988), a Hungarian born polyglot, explorer, author (mainly in Esperanto), 'citizen of the world'

Credo in unum Deum


I am not a Latin speaker, but am very interested in this great language--mother of all Romances languages--and sometimes say the "Pater Noster" and "Ave Maria". I still remember that the Latin sentence coming to my ears for the very first time (from the mouth of a priest), creating a beautiful tune in the air, was "Credo in unum Deum" (I believe in one God). It happened so many years ago when I attended Sunday morning mass with my father. It was long before I entered elementary school. Now I know that things happen for a reason. (29 September 2015)

Hakiduk uitoan


Hakiduk uitoan ne'e la'ós atu halai ka lakon, 
maibé atu babera ka hanoin kle'an liután; 
hafoin, hakat filafali ba oin, 
ho kbiit ne'ebé boot liután.

Liafuan sira: Yohanes Manhitu
Yogyakarta, 26 Setembru 2015

Monday, August 31, 2015

Disconnected


By: Yohanes Manhitu 

I picked up the phone,
dialed and tried to listen.
A very soft voice answered.
It was the voice of an angle.
Yes, the angel of uncertainty.

A big rain of words came,
I respired a sudden peace.
My lungs formed a choir,
No word described my joy.
The voice was a blessing.

I felt the soft rhythm of it,
I picked every word it said.
My lips danced in harmony,
My words ran in a formula,
My language was colloquial.

A quarter was a like a minute.
Rupiahs flowed like a waterfall.
Laughter and jokes came in turn.
A disaster arrived in the middle:
A cable evil kidnapped the angel.

Samosir, North Sumatra, 26 May 2003


Welcome to My Soul


By: Yohanes Manhitu

Let’s say my soul is a royal palace
where you can rest with no doubt.
Let’s say you are an expected visitor
whose advent will bring me happiness.
Let’s say time is the host at the palace
who will guide you to see this place.
Time will let you pass the door.

Yogyakarta, 12 June 2003

Here We Play


By: Yohanes Manhitu

Yes, here together we play
According to a common rule.
But often, like pirates,
We seize glory with a sword.

It is hard to play without hindrance and bother
In this vast field with no friendship.
But there is no field so bad
That there flowers cannot grow.

Yogyakarta, December 2007

Ohin loron ita-nian


Retratu: http://www.getanswer.org

Hosi: Yohanes Manhitu

Loron tuan troka ho loron foun.
Dala ruma ita ladún hatene
katak ita la'o dook tiha ona,
husik hela loron ne'ebé ita tanis,
husik hela oras ne'ebé ita hamnasa
iha ita-nia inan doben nia liman laran,
liman sira maka book ho domin furak.

Ohin loron, ita tenke semo mesamesak,
hanesan manu be tenke buka hahán rasik.
Maibé keta ta'uk, Maromak fó ksolok nafatin
tanbá Nia rasik haraik tiha ona Liafuan Lulik.

Oras ne'e mak ita-nia biban, ita-nia tempu,
tempu atu hatudu an ba mundu tomak;
tempu atu pinta i hafurak moris naruk.

Pugeran Timur-Yogyakarta, Maiu 2005

Ema la’o-rai


Retratu: http://www.travelhouse.ch

Hosi: Yohanes Manhitu

Loron ba loron nia sei la’o,
kalan ba kalan nia mehi
la’o hela ninia moris-fatin,
la’o hela fitun rai-na’in.

Loron ba loron nia moris,
kalan ba kalan nia moras
hanoin fitun iha rai-balun.

Fulan ba fulan nia serbisu,
tinan ba tinan nia hamulak
husu grasa ba Maromak.

Tinan barabarak liu tiha ona,
tinan ohin ne'e atu lakon ona.
Oras sei to’o atu kaer liman
no dehan adeus ba malu.

Samosir, fulan-Maiu 2003