Friday, November 6, 2015

Mengajari bocah menghargai alamnya


Bilamana orang dapat menikmati indahnya hutan, atau minimal sederet pohon rindang, dan mendengarkan nada-nada pelanginya yang bisa menimbulkan kerinduan di hati, barulah ia mungkin akan peka dan menghargai hutan dan segala isinya. Ketika sudah bukan bocah lagi, saya mengerti mengapa dahulu orang-orang tua di kampung melarang kami, para bocah, mematahkan ranting sesuka hati kami. Ada begitu banyak hal yang saya syukuri sebagai mantan bocah kampung yang akrab dengan hutan dan sabana. Di hutan, kami, para bocah, tidak pernah kelaparan. Kami diajar untuk tahu bahwa Sang Pencipta sungguh baik hati dengan menghadirkan pepohonan dan mata air di hutan. Ah! Ternyata jauh lebih mudah mengajari bocah menghargai alamnya. (Yohanes Manhitu, Yogyakarta, 26 Oktober 2015)

No comments:

Post a Comment