Wednesday, May 28, 2008

Ulang tahun dan BBM

Foto: http://www.balitravelholidays.com
Karya: Yohanes Manhitu

Suatu kebetulan telah terjadi:
harga BBM diumumkan naik
ketika kulagi menyiapkan diri
menyambut bertambahnya usia.

Tadi malam ada antrean panjang,
sejuta orang nantikan gilirannya
untuk mengisi tengki-tengki kosong
sebelum harga baru menghiasi koran.

Hari ini semua seakan biasa saja
walau harga barang terus meningkat.
Ada kabar orang miskin menanti
peredam sakit bernilai rupiah.

Saat-saat bahagia trus dinanti
dan bercampur dengan kebingungan.
Kadang keduanya silih berganti.
Semoga lentera harapan trus bernyala.

Yogyakarta, 24 Mei 2008

Tiga Tangkai Mawar

Picture: http://2.bp.blogspot.com
Karya: Yohanes Manhitu

Tiga tangkai mawar merah berseri
kuletakkan di pot dekat kakimu.
Duri-durinya kubiarkan apa adanya
karena mawar selayaknya berduri.

Hidup ini pun terasa kian memerah
dan kadang terancam duri-duri tajam.
Ajarilah aku jadikan semuanya mawar.
Merah atau putih, asal tetap harum.

Tiga tangkai mawar merah segar
kini menghiasi dasar pijakanmu.
Suatu ketika mereka 'kan perlahan layu,
namun mawar tetaplah mawar.

Sendangsono, 24 Mei 2008

Meredam Jeritan dan Kejutan


Karya: Yohanes Manhitu

Belakangan ini jeritan jadi soal lumrah
Dan kejutan pun bukan hal yang jarang.
Bila sempat kauselusuri jalan-jalan sepi
Suara-suara itu lebih nyaring kaudengar.

Jika bilik hatimu masih cukup longgar
Dan tak kauberi tembok kedap suara,
Dari segala penjuru bumi kautangkap
Jeritan yang tak mesti menjadi kejutan.

Ini bukan pekikan karena hadiah besar
Dari lotre asing di kotak berita e-mail,
Juga bukan karena ada hibah anonim.
Ini jeritan karena ulah harga melonjak.

Beramai-ramai kita mencari penawar
Untuk meredam jeritan dan kejutan.
Namun kini tampaknya gelombang
Jeritan kian ramai menerjang kita.

Yogyakarta, 3 April 2008
.
Pos Kupang Minggu, 11 Mei 2008, halaman 6

Masih kauucapkan kata manismu

Karya: Yohanes Manhitu

Untuk dia yang telah berjanji

Tak pernah kusangka bahwa kaulupa,
Lupa memelihara janji di setiap waktu.
Alangkah mudahnya mengucap janji
Ketika hasrat memenuhi jiwa-ragamu.

Kata-katamu lincah di mulut berbusa
Walau maknanya setipis serat buram.
Biarpun di prasasti, kata-kata kauukir,
Hujan kelupaan akan menghapusnya.

Apakah kaumasih jua pandai berdalih
Bahwa beban dunia terlampau berat
Sehingga kau tak sempat merekam
Dan meresapi makna kata-katamu?

Aku sama sekali tak akan keberatan
Mendengar kaupatri surga dan bumi
Asalkan kautiru cara bicara malaikat
Dan tak undang nestapa ke wajahku.

Yogyakarta, 3 April 2008
.
Pos Kupang Minggu, 11 Mei 2008, halaman 6