Friday, March 30, 2007

Surat dari Ibu: Versi Indonesia dan Esperanto

Surat dari Ibu

Karya Asrul Sani

Pergi ke dunia luas anakku sayang
Pergi ke hidup bebas
Selama angin masih angin buritan
dan matahari pagi menyinari daun-daunan
dalam rimba dan padang hijau.

Pergi ke laut lepas anakku sayang
Pergi ke alam bebas
Selama hari belum petang
dan warna senja belum kemerah-merahan
menutup pintu waktu lampau.

Jika bayang telah pudar
dan elang laut pulang ke sarang
angin bertiup ke benua

Tiang-tiang akan kering sendiri
dan nahkoda sudah tahu pedoman,
boleh engkau datang padaku.
 

--------------------------

Letero de Patrino

de Asrul Sani

Iru tra la vasta mondo, mia kara infano
Esploru la liberan vivon!
Dum ankoraŭ blovas la vosta vento
kaj la matensuno lumigas la foliojn
en la arbaro kaj la verda kampo.

Iru tra la plena maro, mia kara infano
Vidu la senliman universon!
Dum la tago ankoraŭ estas hela
kaj la krepusko ankoraŭ ne estas duberuĝa,
fermanta la pordon de la estinto

Kiam la ombroj estos paliĝintaj
kaj la mara aglo reiros al sia nesto
la vento blovanta al la tero,

Kiam la fostoj estos sekaj
kaj la ŝipestro trovos markon,
mi lasos vin por reveni al mi.

Diterjemahkan ke bahasa Esperanto
oleh Yohanes Manhitu
Yogyakarta, 1 Maret 2006

Thursday, March 29, 2007

Dios se hizo pájaro, de Alfredo Pérez Alencart


Dios se hizo pájaro

Por Alfredo Pérez Alencart

DE por vida nos une
un reino fuera
del tiempo,
un reino
que trasfiere palabras
contra la desesperanza,
alas para nosotros
mismos.

Voz del arribo
llenando el alma
de pájaros que comen
frutas lumínicas
o se refugian
a la diestra del árbol
de la vida.

Nos une
un metódico maestro
que transpira creación
cada instante vagabundo
donde se sostiene
lo presente.

Dios se hizo pájaro
y, al amanecer,
vuelve descalzo
para posarse
en la ladera amable
de tu corazón.

(Citado de Pájaros bajo la piel del alma)

>>>>>======<<<<<

Tuhan telah menjadi burung

Oleh Alfredo Pérez Alencart

SEUMUR hidup, kita disatukan
sebuah kerajaan di luar
jangkauan sang waktu,
sebuah kerajaan
yang alihkan kata-kata
melawan keputusasaan,
sayap-sayap bagi
diri kita sendiri.

Suara kedatangan
memenuhi sukma
burung-burung yang memakan
buah-buahan cahaya
atau berlindung
di sisi kanan pohon
kehidupan.

Kita dipersatukan
seorang guru teratur
yang pancarkan ciptaan
tiap saat yang mengembara
di mana masa kini
bertahan hidup.

Tuhan telah menjadi burung
dan, tatkala fajar menyingsing,
Ia kembali bertelanjang kaki
untuk bertengger
di lereng manis
hatimu.


Traducción al indonesio por Yohanes Manhitu
Yogyakarta, Indonesia, 25 de enero de 2007

Wednesday, March 28, 2007

Some Poems of Rabindranath Tagore with Indonesian Translations by Yohanes Manhitu



Rabindranath Tagore lahir di Kalkuta, India, 1861, tokoh terpenting dalam sastra modern India. Dengan karya-karyanya, ia telah memberi pengaruh yang kuat kepada para pengarang India dari segenap bahasa, juga kepada pengarang-pengarang Barat. Pada tahun 1913, ia menjadi satu-satunya pengarang non-Eropa yang menerima hadiah Nobel untuk Sastra berkat terjemahan puisinya sendiri yang berjudul Gitanjali. Sebagian terbesar karyanya ditulis dalam bahasa Bengali dan kemudian diterjemahkan ke bahasa Inggris. Tampaknya bahasa terjemahannya semasa dengan yang digunakan dalam Alkitab King James Version. Sebagai pendidik, ia berhasil mendirikan sebuah universitas yang bernafaskan humanisme, Visva-Bharati, di Santiniketan, pada tahun 1918. Sang Gurudeva (guru yang terhormat) meninggal dunia pada bulan Agustus 1941.

==========

HANYA DIKAU

Bahwa dikau kudambahkan, hanya dikau…
biarkanlah hatiku mengalun selamanya.
Seluruh hasrat yang mengusikku, siang dan malam,
sesungguhnya palsu lagi hampa.

Walau bila malam selubungi doa akan cahaya dengan suramnya,
di relung-relung ketaksadaranku muncul pekikan:
"Kudambakan dikau, hanya dikau".

Meski ketika badai masih mencari tujuannya dalam damai
dan menerjang kedamaian dengan seluruh kuasanya,
dan durhakaku melanda cintamu,
pekikan itu masih tetap sama:
"Kudambakan dikau, hanya dikau".

Diterjemahkan di Jogja
24 Desember 2004


ONLY THEE

That I want thee, only thee---let my heart repeat without end.
All desires that distract me, day and night,
are false and empty to the core.

As the night keeps hidden in its gloom the petition for light,
even thus in the depth of my unconsciousness rings the cry
---`I want thee, only thee'.

As the storm still seeks its end in peace
when it strikes against peace with all its might,
even thus my rebellion strikes against thy love
and still its cry is
---`I want thee, only thee'.


==========

KESABARAN

Bila dikau tak bersabda, ‘kan kuisi hatiku dengan sunyimu dan kutanggung. Aku ‘kan tetap diam dan menanti bagai malam bersiagakan bintang-bintang dan kepalanya yang merunduk rendah penuh kesabaran.

Pagi niscaya ‘kan tiba, kegelapan ‘kan berlalu, dan suaramu ‘kan tercurah dalam berkas keemasan yang menembus cakrawala.

Dan sabdamu bersayapkan kidung-kidung dari tiap sarang burung-burungku, dan gitamu ‘kan bersorak dengan tiba-tiba dalam bunga-bunga di belukar hutanku.

Diterjemahkan di Jogja
24 Desember 2004


PATIENCE

If thou speakest not I will fill my heart with thy silence and endure it. I will keep still and wait like the night with starry vigil and its head bent low with patience.

The morning will surely come, the darkness will vanish, and thy voice pour down in golden streams breaking through the sky.

Then thy words will take wing in songs from every one of my birds' nests, and thy melodies will break forth in flowers in all my forest groves.
 

==========

BUNGA

Petiklah bunga kecil ini dan ambillah, jangan kautunda! Kutakut jangan-jangan ia ‘kan layu dan jatuh ke dalam debu.

Mungkin tiada ruang bagiku di karang bungamu, tapi hormatilah dia dengan satu sentuhan perih di tanganmu dan petiklah. Kutakut kalau-kalau kiamat tiba sebelum kusadari, dan saat untuk persembahan berlalu begitu saja.

Walau mungkin pudar warnanya dan tak sedap aromanya, pakailah bunga ini dalam penyelenggaraanmu dan petiklah selagi ada masa.

Diterjemahkan di Jogja
24 Desember 2004


FLOWER


Pluck this little flower and take it, delay not! I fear lest it droop and drop into the dust.

I may not find a place in thy garland, but honour it with a touch of pain from thy hand and pluck it. I fear lest the day end before I am aware, and the time of offering go by.


Though its colour be not deep and its smell be faint, use this flower in thy service and pluck it while there is time.

==========

SAHABAT

Akankah dikau bertolak di malam berbadai ini dalam penjelajahan cintamu, sahabatku? Langit berkeluh bagai insan patah hati.

Tiada bisa kuletakkan kepalaku malam ini. Berkali-kali kubuka pintu dan tengok ke arah gelapnya malam, sahabatku!

Tiada yang tampak di hadapanku. Kubertanya-tanya ke mana arah langkahmu!

Lewat sisi redup sungai hitam pekat yang mana, Lewat tepi luar hutan menyusut yang mana, Melalui kedalaman suram simpang siur yang mana dikau urutkan jalanmu kemari, sahabatku?

Diterjemahkan di Jogja
25 Desember 2004


FRIEND

Art thou abroad on this stormy night on thy journey of love, my friend?
The sky groans like one in despair.


I have no sleep tonight.
Ever and again I open my door and look out on the darkness, my friend!

I can see nothing before me.
I wonder where lies thy path!

By what dim shore of the ink-black river, by what far edge of the frowning forest, through what mazy depth of gloom art thou threading thy course to come to me, my friend?

 

==========

TIDUR

Di malam letih ini biarkanku terbaring dalam damai, istirahatkan percayaku padamu.

Jangan biarkan aku paksakan semangat lesuhku ‘tuk buat persiapan tak apik bagi sembahmu.


Dikaulah yang menarik selubung malam di pucuk mata letih sang hari, ‘tuk perbaharui pandangananya dalam sukacita kesadaran nan lebih segar.

Diterjemahkan di Jogja
25 Desember 2004


SLEEP

In the night of weariness let me give myself up to sleep without struggle, resting my trust upon thee.


Let me not force my flagging spirit into a poor preparation for thy worship.

It is thou who drawest the veil of night upon the tired eyes of the day to renew its sight in a fresher gladness of awakening. 


==========

SERULING KECIL

Aku telah kaujadikan abadi, begitulah kesenanganmu. Bejana rapuh ini kaukosongkan berulang kali, dan selalu kauisi dengan hidup segar.

Seruling buluh kecil ini telah kaubawa menyusuri bukit dan lembah, dan kauembusi alunan yang senantiasa baru.

Sentuhan abadi tanganmu membuat hati kerdilku larut dalam sukacita dan lahirkan ucapan tak terlukiskan.

Anugerahmu yang tak terhingga padaku hanya berlabuh di kedua tangan kecilku. Abad-abad berlalu, dan masih kaucurahkan, dan tetap ada ruang untuk diisi.

Diterjemahkan di Jogja
10 Januari 2004


LITTLE FLUTE

Thou hast made me endless, such is thy pleasure. This frail vessel thou emptiest again and again, and fillest it ever with fresh life.


This little flute of a reed thou hast carried over hills and dales, and hast breathed through it melodies eternally new.

At the immortal touch of thy hands my little heart loses its limits in joy and gives birth to utterance ineffable.

Thy infinite gifts come to me only on these very small hands of mine.
Ages pass, and still thou pourest, and still there is room to fill.

Literatura: Língua nia “anju-mahein”

Hosi YOHANES MANHITU*

Literatura nia signifikadu luan uitoan. Tuir Oxford Advanced Learner’s Dictionary, literatura katak: (1) hakerek baluk ruma ne’ebé ema valoriza nu’udar knaar arte nian, liuliu ba romanse, drama no poezia; (2) informasaun ruma hakerek ka imprime kona-ba asuntu ida. Maibé agora ita limita deit ita-nia atensaun ba definisaun númeru ida nian. Ne’e katak hekerek ruma be tau matan ba lian nia furak, nu’udar produtu kapás hosi ema-moris nia hanoin no imajinasaun. Buat sira ne’ebé nakait ba sentimentu no lian nia melodia. Ha’u halo finje uza liafuan “anju-mahein” iha títulu, tanba ha’u laran-metin katak iha literatura no tanba ninia tulun maka lian (língua) ida nia forma (loos) bele moris ba nafatin. Se ita laran-rua i presiza prova, haree took oinsá maka ema bele fahe lian ida ninia dezenvolvimentu tuir faze oioin, porezemplu inglés antigu, inglés klaran, inglés modernu, nsst. Ho serteza, ne’e tanba lia-inglés nia forma iha faze ida-idak oin-ketak. I imajina took, se la iha literatura – iha sentidu gerál –, oinsá ema bele halo kategória oioin hanesan ne’e? Loos duni, ho literatura orál, hanesan ai-knanoik, ai-sasi’ik, nsst. ita sei nunka bele buka-tuir loos lian ida nia “ain-fatin” iha viajen istória nian. Ha’u rasik seidauk rona se iha kategória nune’e iha lia-tetun. Maibé se la iha mós, ema sei komprende tanba ita-nia lian hakerek nia otas sei nurak hela, se kompara ho lian boot sira iha mundu, hanesan gregu, latín, inglés, fransés, nsst. Dala ida tan, literatura deit maka sei ajuda ita fahe língua ida nia faze loos.

Nakait ba hakerek oan ida-ne’e nia títulu, ha’u sente urjensia ida atu hakerek-na’in sira hahú fui sira-nia hanoin ba livru ka meiu oioin ho ortografia (banati hekerek nian) ida deit atubele kria “anju-mahein” barak liután ba Timór nia lian rai-na’in sira, liuliu ba lia-tetun nu’udar lian ofisiál. Kona-ba literatura ne’e, ba knaar furak sira be la hakerek kedas iha tetun, ita bele tradús livru oioin ba tetun atu hariku lian. Tuir loos, knaar be temi ikus ne’e la’ós buat foun ida iha Timór Lorosa’e nia istória. Nanis ona, amlulik sira haka’as an atu tradús livru oioin ne’ebé hafoin uza iha misa ka servisu religiozu sira seluk. Knaar sira-ne’e maka uluknana’in fó ba povu Timór Lorosa’e informasaun ruma ne’ebé hakerek hodi sira-nia lian rasik. Bainhira ita tau matan di’ak ba lian áfrika sira, ita bele aprende barak kona-ba oinsá sira haka’as an atu hariku sira-nia lian rai-na’in sira. Ita foti deit lia-swahili iha Tanzania nu’udar ezemplu. Kuandu Prezidente Julius Kambarange Nyerere seidauk ukun, lia-swahili – lian boot iha rai-boot metan ne’e, hamutuk ho lia-hausa – ne’e nia sorte hanesan deit ho lian áfrika sira seluk. Maibé banhira lutadór boot ba kultura rai-na’in áfrika ne’e ukun, nia haka’as an tebetebes atu foti lia-swahili ba pozisaun lian ofisiál. Tanba ninia kosar-fuan maka Tanzania sai rain uluknana’in iha Afrika maka uza lian rai-na’in ida nu’udar lian ofisiál. Nyerere nia serbisu la to’o ne’e deit. Nia mós, tanba hakarak hariku swahili nia lian no kultura, tradús rasik Shakespeare – hakerek-na’in boot inglés nian – nia knaar literatura sira ba lia-swahili. Tuir tradusaun sira-ne’e, nia hanorin ninia povu oinsá hakerek loos. Ho serteza, ne’e importante tebetebes tanba dala barak ita presiza ezemplu di’ak hosi ita-nia ulun-na’in sira. La iha ema be loos ba nafatin, maibé koko halo loos, ne’e la sala ida. Querer é poder!

Ita bele tau ba oin ita-nia knaar rasik tuir dalan oinoin, porezemplu halo revista ka buletin literatura ruma, ne’ebé fó-sai fulan ida dala ida knaar hanesan poezia, ka kontu. I atu kria knaar ho kualidade aas, ita bele halo kompetisaun ho kritériu oioin. Ne’e meiu kapás ida hodi harii povu nia apresiasaun ba literatura. Knaar ne’e la’ós buat kamaan ida; la henesan fila deit liman-laran. Ita presiza rekursu oioin, ne’ebé bele mai hosi governu, ka instituisaun la’ós governamentál (ONG) sira be iha interrese kona-ba asuntu ida-ne’e. Editora sira bele fó apoiu ba hakerek-na’in sira i selu sira justu. Sira mós tenke fó-sai knaar (obra) literatura nian, hanesan poezia, kontu (istória-badak), romanse, drama, nsst.

Alende hakerek knaar orijinál, ita mós bele tradús knaar raiseluk sira ba ita-nia lian. Kona-ba knaar ida-ne’e, governu, liuliu ba departamentu kultura nian, bele forma korpu tradusaun ida hodi tradús ba tetun no lian rai-na’in sira knaar ruma be konsidera iha kualidade aas, porezemplu romanse furak rua Il Nome della Rosa, hosi Umberto Eco, Cien Años de la Soledad, hosi Gabriel García Márques; ka poezia sira hosi Pablo Neruda, Kalil Gibran, Rabindranath Tagore, Karol Wojtyla, nsst. Maibé ne’e la’ós atu loke janela ba governu hodi kontrola metin livru hotu-hotu be tenke tradús ba lian Timór sira. Segurru, editora sira mós bele forma sira-nia korpu tradusaun rasik atu hariku ita-nia lian sira. Importante maka tau matan atu povu bele hetan aksesu ba informasaun loos iha tradusaun sira. Tanba ita hatene loos katak sempre iha ameasa lakon sentidu loos no moos nian kuandu hala’o tradusaun. Se iha tinan 830 dK (depois Kristu) ema bele hetan ézitu iha uma tradusaun nian – Bayt al-Hikmah – iha Bagdad (iha-ne’ebé tradutór sira hosi mundu nia lidun barak haka’as an atu tradús ba lia-arabi hakerek oioin hosi Gresia no Índia), ka iha Toledo, España, iha-ne’ebé matenek sira tradús fali ba lia-latín knaar sira hosi lia-arabi, ha’u optimista katak ita ema modernu mós sei bele. Sa’ida tan, agora teknolojia di’ak liu.

Haree fila fali ba títulu ne’e, ita sente relasaun kapás ida entre literatura no lian maski sira rua sai parte hosi disiplina rua be oin-ketak. Loos, se la iha lian, sei la iha literatura. Lian lahó literatura karik hanesan kriatura klamar-laek ida. Ema sempre buka dalan atu armoniza sira rua. Nu’udar ezemplu, ita bele haree oinsá Antonio Afonso Borregana, gramátika-na’in ida hosi Portugál, ho dalan kapás ida uza poezia hosi Camões no poezia-na’in sira seluk atu esplika elementu linguístiku “todan” sira iha ninia livru, ho títulu Gramática Universal da Língua Portuguesa.

Atu taka hakerek ne’e, ha’u atu dehan katak, karik loos atu dehan katak literatura maka lian nia “anju-mahein”, maibé literatura la monu tekitekir hosi lalehan. Nia hela uluknana’in iha ema-moris nia hanoin, hafoin suli ba meiu ida tuir liafuan sira be forma sentidu. Ne’e katak se literatura sai “anju-mahein” ba lian, literatura-na’in sira – be halo “anju-mahein” ne’e – tenke sai domin-na’in ba sira-nia lian.


* Hakerek-na’in, hela iha Yogyakarta, Indonézia
Ha'u-nia blog: http://ymanhitu.blogspot.com

Menilik Bahasa Spanyol di Tanah Air

Oleh: YOHANES MANHITU*

Indonesia tak hanya kaya akan beratus-ratus bahasa nusantara, tetapi juga menjadi ladang subur bagi penyebaran berbagai bahasa asing, yang kehadirannya didorong oleh berbagai macam motivasi, misalnya motivasi ekonomi, budaya, teknologi, politik, dll. Pada sebuah acara pembacaan puisi internasional di Centre Culturel Français (CCF) – Pusat Kebudayaan Prancis (LIP) – Yogyakarta, pada bulan Maret 2005 dalam rangka Le Printemps des Poètes (Musim Semi Para Penyair), jelas terlihat betapa banyaknya bahasa asing yang hadir di tanah air. Ada bahasa Inggris, Prancis, Spanyol, Portugis, Italia, Jerman, Belanda, Rusia, Korea, Tetun, Turki, Jepang, dan Mandarin. Dari beberapa sumber siber tampak bahwa bahasa Esperanto pun mulai dikenal di negara kita.

Di antara bahasa-bahasa yang disebutkan di atas, penulis ingin mengajak pembaca untuk secara sepintas mencoba menilik kehadiran bahasa Spanyol di tanah air. Bahasa Spanyol, secara geografis, memiliki sangat banyak penutur di dunia, dan merupakan salah satu bahasa resmi di forum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Uni Eropa, Uni Afrika, serta badan olahraga internasional seperti WBA (World Boxing Association). Menurut ensiklopedia Wikipedia (yang terdapat di internet), bahasa Spanyol merupakan bahasa ketiga atau keempat yang memiliki penutur terbanyak di dunia dan digunakan oleh 352 juta orang, atau 147 juta orang termasuk yang bukan penutur asli (menurut perkiraan tahun 1999). Masih menurut sumber yang sama, sebagian besar penutur bahasa ini berdiam di Spanyol, Amerika Latin, Amerika Serikat, dan Filipina.

Di masa lampau, bangsa Indonesia hampir tidak pernah memiliki kontak budaya dengan Spanyol, kecuali kehadiran Fransiskus Xaverius, seorang pastor Yesuit berkebangsaan Spanyol yang pernah melakukan pengabaran Injil (evangelisasi) di Kepulauan Maluku dan beberapa wilayah di Asia dari tahun 1546-1552. Hal ini dapat dibuktikan dengan minimnya kata-kata pungutan dari bahasa Spanyol dalam bahasa nasional kita. Kalaupun ada – misalnya kata Don Juan, sombrero (topi lebar yang biasa dipakai pria Meksiko), dan mestizo – hampir dapat dipastikan bahwa kata-kata ini baru muncul di kemudian hari, di alam kemerdekaan. Kemungkinan besar kata-kata ini masuk ke perbendaharaan kata bahasa Indonesia melalui bahasa Inggris. Namun dewasa ini, kehadiran salah satu bahasa “Latin modern” ini semakin terasa di bumi Indonesia. Ia ada bukan berkat jasa para awak kapal Victoria dalam armada Fernando de Magallanes (Portugis, Fernão de Magelhães), melainkan oleh usaha para penutur bahasa Spanyol modern yang secara giat memperkenalkan bahasa ini kepada penduduk Indonesia, lewat berbagai upaya. Saat ini, secara institusional, bahasa Spanyol diajarkan di Pusat Bahasa Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Universitas Gadja Mada, Universitas Indonesia dan Universitas Trisakti. Di Jakarta, telah hadir pula Instituto Cervantes (Aula de Yakarta), yang dua kali setiap tahun menyelenggarakan ujian internasional bahasa Spanyol (kurang-lebih mirip dengan TOEFL), yaitu DELE (Diploma de Español como Lengua Extranjera). Upaya-upaya pengenalan bahasa Spanyol di Indonesia juga didukung dengan berbagai kegiatan budaya, misalnya konser gitar klasik Spanyol di beberapa kota besar di Indonesia (yang sering menampilkan gitaris Rahmat Raharjo, dkk.), pameran fotografi tentang Negara Spanyol, pertunjukan wayang (marioneta) Bambalina Titelles dari Valencia, dan pemutaran film Spanyol. Disadari atau tidak, ternyata media audio dan audio-visual, seperti film-film berbahasa Spanyol, lagu-lagu Julio Iglesias, Enrique Iglesias, dan Ricky Martin serta berbagai tayangan telenovela di layar televisi-televisi Indonesia – misalnya seri Betty La Fea yang sebelumnya cukup populer di Indonesia –turut memotivasi orang untuk belajar bahasa Spanyol dan mengenal kebudayaan negara-negara penuturnya. Menurut pandangan penulis, seri-seri telenovela akan memiliki lebih banyak nilai tambah bagi mereka yang sedang belajar bahasa Spanyol apabila ditayangkan dalam bahasa aslinya dan diberi teks bahasa Indonesia. Namun demikian, kebijakan sulih suara (dubbing) adalah langkah yang patut dihargai.

Faktor pendukung lain bagi kehadiran bahasa Spanyol di tanah air adalah ketersediaan terjemahan karya-karya para pengarang berbahasa Spanyol. Di antaranya adalah “Seratus Tahun Kesunyian” (Cien años de soledad) dan “Sang Jenderal dalam Labirinnya” (El general en su laberinto) karya novelis Kolombia pemenang Hadiah Nobel Sastra 1982, Gabriel García Márquez, dan beberapa kumpulan puisi masing-masing adalah karya Pablo Neruda (penyair asal Chile, pemenang Hadiah Nobel Sastra 1971) dan Octavio Paz (penyair Meksiko, pemenang Hadiah Nobel Sastra 1990). Baru-baru ini di Jogja telah terbit buku terjemahan puisi yang berjudul Luka Tunggal Sang Pencinta, yang adalah kumpulan puisi Alejandara Pizarnik, seorang panyair kelahiran Buenos Aires, Argentina. Terjemahan-terjemahan itu sendiri tentu saja tidak dapat secara langsung membantu proses belajar bahasa Spanyol, kecuali memperkenalkan khazanah budaya negara-negara berbahasa Spanyol kepada para pembaca Indonesia. Namun demikian, tidak tertutup kemungkinan bahwa suatu ketika pembaca akan tergoda untuk melirik bacaannya dalam bahasa aslinya, bahasa yang digunakan sang pengarang untuk menulis karyanya. Dan untuk itu, mau tidak mau ia harus belajar bahasa Spanyol.

Walaupun di Indonesia penyebaran bahasa Spanyol belum seluas dan selancar beberapa bahasa asing yang lain, mempelajarinya akan memberikan nilai plus, karena peluang Anda untuk berinteraksi dengan jutaan orang dan menambah wawasan terbentang luas di depan mata. Apalagi di zaman siber ini. Tentu saja Anda dapat juga menggunakannya untuk membina dan/atau menunjang karier di beberapa bidang, seperti pariwisata, perhotelan, perusahaan asing, diplomasi, dll. Dan secara linguistik, dengan kemampuan bahasa Spanyol yang memadai, akan mudah bagi Anda untuk mempelajari bahasa-bahasa yang serumpun, misalnya bahasa Portugis, Italia, Prancis, Rumania, dll.

Bahasa Spanyol, sebagai salah satu bahasa internasional, telah hadir di tengah-tengah kita. Kita dapat menanggapinya sebagai penonton, alias secara pasif, atau perlahan namun pasti mulai berusaha mengenalnya lebih jauh, sesuai dengan tujuan belajar setiap orang. Bagi mereka yang berminat untuk mempelajari bahasa Spanyol, memiliki buku pelajaran dan kamus-kamus buah karya Milagros Guindel barangkali menjadi pilihan yang cukup tepat, mengingat sedikitnya literatur dan buku-buku pendukung di tanah air. Menurut hemat dan pengalaman penulis, orang-orang yang telah memiliki pengetahuan yang memadai akan salah bahasa rumpun Romawi – misalnya bahasa Portugis, Prancis, atau Italia – akan menemukan kemudahan dalam mempelajari bahasa Spanyol. Karena pada dasarnya bahasa-bahasa ini memiliki karakteristik bahasa yang sangat mirip. Dan kita tinggal menghubungkan “benang merah” kebahasaan di antara mereka.

Cara belajar bahasa Spanyol pada dasarnya sama dengan cara belajar bahasa-bahasa asing lainnya. Seluruh proses pembelajaran difokuskan pada keempat keahlian (skill) utama, yaitu membaca (comprensión de lectura), menyimak (comprensión auditiva), berbicara (expresión oral), dan menulis (expresión escrita), yang sudah tidak asing bagi kita. Dan di luar kelas, misalnya, setiap orang dapat menunjang belajar dengan cara: (1) rajin membaca buku atau teks berbahasa Spanyol (dapat diperoleh di Internet) dengan bantuan glosarium atau kamus; (2) suka menyimak kaset dan radio. Arsip audio banyak tersedia di radio-radio online di Internet. Menonton film Spanyol akan membantu meningkatkan kemampuan audio-visual; (3) rajin mempraktekkan bahasa secara lisan adalah kebiasaan yang sangat baik. Hal ini penting untuk membangun rasa percaya diri dan berlatih menggunakan bahasa secara natural; (4) selalu membiasakan diri untuk menulis email pendek kepada seorang sahabat (penutur bahasa Spanyol) adalah kebiasaan yang mengasyikkan dan penuh dengan tantangan, karena untuk memahami tulisan orang dan membalasnya adalah sebuah proses belajar yang tidak kalah serunya dengan menghadiri sebuah kursus; (5) berusaha mencari dan menemukan komunitas penutur Spanyol yang tepat. Hal ini penting agar hubungan komunikasi dalam bahasa Spanyol tetap terjaga dan semangat belajar selalu terpelihara. Untuk para wanita yang tinggal di Jakarta dan tertarik untuk berinteraksi dengan penutur bahasa Spanyol, salah satu komunitas yang cocok untuk maksud ini adalah Club de Señoras de Habla Hispana (Perhimpunan Wanita Penutur Bahasa Spanyol) yang berpusat di Jakarta. Namun bila mengalami kesulitan untuk melakukan tatap muka dengan penutur bahasa Spanyol, usahakan untuk menemukan komunitas di Internet. Cobalah bergabung di sebuah mailing list. Bagi pemula, disarankan untuk memilih mailing list dwibahasa (bilingual). Tambahan pula, bagi mereka yang sedang atau telah mempelajari lebih dari satu bahasa asing, sikap diskriminatif terhadap sebuah bahasa yang dipelajari adalah awal dari kelunturan semangat untuk mencapai penguasaan yang proporsional akan bahasa itu.

Setiap bahasa – termasuk yang digunakan oleh suku-suku yang amat tradisional dan sangat terisolasi – memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri. Dan dipelajari sesuai dengan kebutuhan setiap pribadi. Ada pribadi yang hanya ingin mengenalnya secara sepintas, ada yang ingin sekadar bisa bercakap-cakap, dan ada pula yang secara serius dan total menggelutinya. Setiap orang bebas membuat pilihannya. Bahasa Spanyol dapat diumpamakan sebagai sekuntum bunga asing di taman tropis, tempat bunga-bunga asing tumbuh berdampingan dengan yang pribumi. Masing-masing mengeluarkan aroma yang semerbak dan dapat dipetik untuk seribu satu maksud. Selamat membuat pilihan!
.
.
* Penulis adalah peminat bahasa dan sastra, penyusun Kamus Indonesia-Tetun, Tetun-Indonesia, dan turut menyusun TruAlfa Indonesian-English Dictionary, tinggal di Yogyakarta.

Tuesday, March 27, 2007

Bahasa Tetun: Bahasa Resmi Termuda di Planet Kita

YOHANES MANHITU*

Mengamati sebuah bahasa tulis yang sedang bertumbuh laksana sebutir padi ternyata sangat mengasyikkan, paling kurang dari sudut pandang seorang penikmat atau pemerhati bahasa. Bila Anda merasa tertarik untuk mengamati dan menyaksikan proses berkembangnya sebuah bahasa resmi yang baru, menurut hemat penulis, inilah saat yang paling tepat dan sebaiknya tak dilewatkan begitu saja, karena di ujung timur wilayah Indonesia, tepatnya di Timor-Leste, sedang berkembang bahasa Tetun (biasanya dieja Tetum dalam beberapa sumber asing).

Bahasa Tetun, bahasa Austronesia yang paling luas digunakan di Timor-Leste, kini menjadi salah satu bahasa terkemuka di negara tersebut sejak ditetapkan secara resmi dalam konstitusi negara baru ini. Walau de jure usianya masih sangat muda, de facto, bahasa ini telah lama memainkan peranan yang amat penting di negeri tersebut sebagai bahasa pengantar di antara penutur bahasa-bahasa yang berbeda. Karena itu, dapat dipahami apabila di kemudian hari bahasa ini ditetapkan sebagai bahasa resmi. 

Bahasa ini digunakan (pada umumnya secara lisan) di tiga wilayah terpisah: 1) sebuah bentangan wilayah dari Selat Ombai hingga Laut Timor dan dipisahkan oleh batas wilayah Timor Timur dan Timor Barat (wilayah berbahasa Tetun Belu) dan termasuk Atapupu dan Atambua (di wilayah Timor Barat), Balibo, Fatumean, Fohoren dan Suai (di wilayah Timor Timur); 2) daerah pantai selatan sekitar Alas, Luca dan Viqueque dan termasuk dua kerajaan tua Samoro dan Soibada (yang berbahasa Tetun Terik); 3) Kota Dili dan sekitarnya (Tetun Prasa).

Beberapa sumber dan bukti historis menyebutkan bahwa bahasa Tetun Prasa merupakan bentuk simplifikasi dari bentuk yang telah ada sebelumnya. Sejak orang-orang Portugis tiba di Dili, setelah meninggalkan Lifau (yang berbahasa Dawan/Baikenu/Uab Meto) di bawah pimpinan António José Telles de Meneses (Menezes) pada malam 11 Agustus 1769 untuk menghindari ancaman orang-orang Topass (Portugis Hitam) di sana, bentuk simplifikasi inilah yang dijadikan bahasa pengantar dalam kegiatan perdagangan dan pergaulan di wilayah timur Pulau Timor ini. Disebutkan pula bahwa sejumlah misionaris Katolik telah menggunakannya sebagai bahasa pengantar dalam tugas pengabaran Injil (Evangelisasi). Semenjak tidak digunakannya lagi bahasa Portugis sebagai bahasa liturgis (sekitar tahun 1980), bahasa Tetun mengambil alih posisi ini. Dikatakan bahwa telah ada berbagai upaya penerjemahan ke bahasa Tetun sejak dahulu kala, terutama untuk keperluan ibadat Katolik.

Berbeda dari bahasa Tetun Belu – dialek bahasa Tetun yang digunakan di Kabupaten Belu, NTT – yang memiliki banyak kata pungutan dari bahasa Indonesia, bahasa Tetun Prasa memiliki sangat banyak kata pungutan dari bahasa Portugis. Misalnya: merkadu dari mercado (pasar); livru dari livro (buku); komunikasaun dari comunicação (komunikasi); nasaun dari nação (bangsa), dll. Bahkan struktur bahasanya pun sudah dipengaruhi oleh bahasa Eropa tersebut. Konon, ini merupakan hasil upaya Portugis untuk menyebarluaskan bahasanya pada paro kedua abad ke-19.

Sebelum kehadiran República Democrática de Timor-Leste/Republik Demokratik Timor-Leste (RDTL), terutama ketika wilayah ini masih menjadi salah satu provinsi Indonesia, status bahasa Tetun Prasa sebagai bahasa metropolitan telah memberi kebanggaan tersendiri bagi mereka yang menggunakannya. Hal ini barangkali menjadi salah satu faktor yang menyebabkan bahasa ini menyebar relatif cepat ke berbagai pelosok Rai Timór Lorosa’e (sebutan lain untuk Timor-Leste). Tidak sedikit orang yang menggunakannya dalam berbagai situasi kehidupan sehari-hari di samping bahasa daerah mereka sendiri dan bahasa Indonesia. Di dalam masyarakat multibahasa seperti di Timor-Leste, bilingualisme dan multilingualisme boleh dipandang sebagai hal yang lumrah. 

Bahasa Tetun termasuk bahasa yang relatif mudah dipelajari, khususnya bagi orang Indonesia, karena alasan-alasan umum berikut ini:
  • Struktur bahasa sangat mirip dengan yang dimiliki bahasa Indonesia. Misalnya:
    1. Ha’u hakerek surat ida ba ha’u-nia doben = Saya menulis sepucuk surat untuk kekasih saya.
    2. Ami lakohi sa’e kuda ho labarik sira = Kami tidak mau menunggang kuda dengan anak-anak.
    3. Tansá mak imi la mai sedu? = Mengapa kalian tidak datang lebih awal?
  • Tidak adanya tenses yang “ketat”, seperti dalam bahasa Inggris dan bahasa-bahasa Eropa yang lain. “Waktu” dalam kalimat ditunjukkan dengan kata keterangan waktu dan kata kerja bantu. Misalnya: 

    1. Horisehik sira estuda inglés = Kemarin mereka belajar bahasa Inggris.
    2. Agora nia joga hela bola = Sekarang dia sedang bermain bola. 
    3. Aban ami sei bá (iha) universidade = Besok kami akan pergi ke universitas. 
    4. Bainaka sira hemu tiha ona = Para tamu sudah minum.
  • Jumlah imbuhannya sedikit dan mudah dihafal. Misalnya:

    1. Sira toba ona = Mereka sudah tidur. Nia seidauk hatoba bebé = Ia belum menidurkan bayi.
    2. Sé mak sunu uma ida-ne’e? = Siapa yang membakar rumah ini? Uma ida-ne’ebá la naksunu = Rumah itu tidak terbakar. 
    3. Nia sura loron no kalan = Ia menghitung siang dan malam. Ó-nia sasurak sala = Perhitunganmu salah. 
    4. Keta halo ami susar = Jangan buat kami susah. Hadi’a lai ó-nia hahalok = Perbaikilah perbuatanmu. Nia mak mahalok loos = Dia adalah pembuat yang sesungguhnya.
Karena alasan-alasan di atas, kebanyakan orang luar yang pernah bermukim di Timor-Leste bisa – paling kurang secara pasif – mengerti bahasa ini. Seorang asing/pendatang baru yang cepat beradaptasi dengan budaya lokal, misalnya dengan rajin menghadiri misa dalam bahasa Tetun (bagi yang beragama Katolik), gemar berdansa dan menyukai musik Tetun, atau turut dalam aktivitas sosial lainnya, akan segera mahir berbahasa Tetun. Bagi seseorang di luar RDTL, media internet dapat mempermudah usahanya untuk belajar bahasa tersebut. Penutur bahasa Tetun yang cukup banyak di Indonesia pada umumnya senang bila diajak bercakap-cakap dalam bahasa mereka. Dan kemungkinan tidak sedikit pula warga Indonesia non-Timor-Leste yang pernah bermukim di Timor-Leste dapat berbahasa Tetun. 

Berdasarkan pengamatan penulis terhadap berbagai sumber media siber, dapat dikatakan bahwa bahasa Tetun di Timor-Leste berkembang pesat. Hal ini dapat dibuktikan dengan kian bertambahnya jumlah kosakata baru – terutama dari bahasa Portugis – yang diadopsi ke dalam bahasa Tetun dari waktu ke waktu, terlebih setelah berdirinya negara baru Timor-Leste.

Dialek
Perlu kita melihat beberapa dialek bahasa Tetun. Cliff Moris (sebagaimana tercantum pada http://au.geocities.com/lev_lafayette/morris.html) telah mengelompokkan dialek-dialek tersebut ke dalam kategori berikut:
  • Tetun Loos (Tetun Murni/Tulen)
    Dialek ini digunakan oleh para penutur di sekitar Soibada dan Kerajaan Samoro serta di sepanjang pesisir antara Alas dan Luca. Tentang dialek ini, sebagian besar ahli bahasa-bahasa Timor berpendapat bahwa sesungguhnya Tetun Terik dan Tetun Loos adalah dialek yang satu dan sama.
  • Tetun Terik 
    Digunakan di wilayah baratlaut dan timurlaut Timor Timur dan Timor Barat. Dialek ini sangat dekat dengan Tetun Belu.
  • Tetun Belu 
    Digunakan di wilayah baratdaya Timor Timur dan juga tenggara Timor Barat.
  • Tetun Prasa/Tetun Dili 
    Adalah dialek yang digunakan di Dili, berstatus dialek metropolitan, bersifat lebih sederhana dalam strukturnya serta diperkaya dengan kosakata dari bahasa Portugis – yang jumlahnya semakin banyak – dan bahasa Tetun Terik. Dialek inilah kemudian berkembang dan distandardisasi menjadi bahasa resmi.
Ejaan
Hingga saat ini banyak tulisan yang menggunakan ejaan yang berbeda-beda walaupun telah ada ejaan baku (ortografia patronizada) bahasa Tetun, sebagaimana yang tertera pada Matadalan Ortográfiku ba Lia-Tetun dan sumber-sumber resmi lain yang diterbitkan Instituto Nacional de Linguística, lembaga kebahasaan resmi yang bertanggung jawab penuh atas pengembangan bahasa Tetun di Timor-Leste. Dan untuk menghindari kebingungan pengucapan dan penulisan, kami mencoba menolong para pembaca dengan petunjuk-petunjuk berikut:
  • Bunyi vokal panjang pada setiap kata Tetun akan ditandai dengan vokal rangkap aa, ee, ii, uu, atau oo. Misalnya aas (tinggi), bee (air), liis (bawang), nuu (kelapa), atau nonook (diam).
  • Tekanan/aksen vokal pada setiap kata Tetun (baik asli maupun serapan) akan ditandai dengan aksen akut: á, é, í, ú, atau ó. Misalnya manán (menang), nasionál (nasional), portugés (bahasa Portugis), abó (kakek/nenek), dll.
  • Bunyi hamzah (perpindahan dua vokal, baik yang sejenis maupun tidak) pada setiap kata Tetun, akan ditandai dengan penempatan apostrof (’). Misalnya to’os (kebun/ladang), di’ak (baik/sehat), ta’uk (takut), dll.
Berdasarkan pengamatan penulis terhadap sebagian besar kata serapan (dari bahasa Portugis) dan nonserapan pada sumber-sumber pustaka yang ada, dapat disimpulkan kaidah umum berikut ini:
  • Huruf c yang diikuti huruf a, u, atau o, serta huruf q pada setiap kata Portugis yang diserap diganti dengan huruf k. Misalnya condição >> kondisaun (kondisi); qualidade >> kualidade (kualitas).
  • Huruf c yang diikuti huruf e atau i, serta huruf ç pada setiap kata Portugis yang diserap diganti dengan huruf s. Misalnya censo >> sensu (sensus); educação >> edukasaun (pendidikan).
  • Huruf g yang diikuti huruf e atau i pada setiap kata Portugis yang diserap diganti dengan huruf j. Misalnya geral >> jerál (umum); ginástica >> jinástika (senam).
  • Huruf h pada awal kata hilang pada kata serapan. Misalnya hospital >> ospitál (rumah sakit).
  • Huruf –o pada akhir kata digantikan dengan huruf –u. Misalnya caso >> kazu (kasus).
  • Huruf rangkap ch diganti dengan huruf x. Misalnya chefe >> xefe (kepala/bos).
  • Huruf s di antara dua vokal diganti dengan huruf z. Misalnya presidente >> prezidente (presiden).
  • Huruf vokal rangkap –ão pada setiap kata Portugis yang diserap diganti dengan –aun. Misalnya condição >> kondisaun.
  • Akhiran –ismo menjadi –izmu. Misalnya terrorismo >> terrorizmu (terorisme).
  • Kata benda serapan dengan akhiran –u, –ór pada umumnya berpasangan dengan kata sifat dengan akhiran –u, atau –ór bila diikuti kata sifat yang berjenis kelamin. Misalnya kompostu kímiku = senyawa kimia; profesór eméritu = profesor emeritus; grupu ameasadór = kelompok yang mengancam.
  • Kata benda serapan dengan akhiran –a, –ora, –aun, –dade pada umumnya berpasangan dengan kata sifat dengan akhiran –a, atau –ora, bila diikuti kata sifat yang berjenis kelamin. Misalnya Igreja Katólika = Gereja Katolik; enerjia pozitiva = energi positif; peskizadora sientífika = peneliti ilmiah; aspirasaun polítika; fasilidade públika = fasilitas umum; profesora konservadora = guru wanita yang konservatif.
  • Berkaitan dengan kedua butir di atas, kata benda yang ‘asli’ (nonserapan) Tetun umumnya berpasangan dengan kata sifat dengan akhiran –u. Misalnya liafuan poétiku sira = kata-kata puitis; hanoin lójiku = pikiran yang logis; buat komplikadu = hal yang ruwet.
  • Semua kata benda serapan dapat diikuti kata-kata sifat nonserapan. Misalnya problema boot = masalah besar; esplikasaun badak = penjelasan singkat; nasaun hakmatek = bangsa yang tenteram; literatura rai-na’in = sastra pribumi.
  • Semua kata benda nonserapan dan serapan dapat diikuti semua kata sifat non’jenis kelamin’ (bukan –u, –a, –ór, atau –ora). Misalnya órgaun importante = organ penting; ema pesimista = orang yang pesimistis; moris sosiál = kehidupan sosial; komunikasaun orál = komunikasi lisan; parte vitál = bagian vital; hahalok simples = sikap yang sederhana; hahán prinsipál = makanan pokok; lian nasionál = bahasa nasional.
  • Sejumlah kata sifat serapan yang berjenis kelamin dapat mengikuti kata benda nonserapan. Misalnya mane garridu = laki-laki genit; feto garrida = perempuan genit; mane bonitu = laki-laki tampan; feto bonita = perempuan cantik.
  • Sejumlah kata sifat yang dengan akhiran –ór (yang dibentuk dari kata kerja serapan atau nonserapan dan akiran –ór) dapat mengikuti semua subjek, baik maskulin maupun feminin. Misalnya feto-raan gastadór = gadis pemboros; feto koaliadór = perempuan yang ceriwis; mane sisidór = pria yang banyak menuntut; katuas serbisudór = lelaki tua yang suka bekerja keras; ferik rezadór sira = para perempuan tua yang rajin berdoa.
Status
Sesuai dengan pasal 13 ayat 1 dan 2 Konstitusi RDTL tentang bahasa resmi dan bahasa nasional, yang berbunyi: 1. Repúblika Demokrátika Timór-Leste nia lian ofisiál maka Tetun no Portugés (Bahasa-bahasa resmi Republik Demokratik Timor-Leste adalah bahasa Tetun dan Portugis); 2. Estadu valoriza no dezenvolve Tetun no lian nasionál sira seluk (Negara menghargai dan mengembangkan bahasa Tetun dan bahasa-bahasa nasional lainnya), bahasa Tetun berstatus sebagai bahasa ko-resmi (dengan bahasa Portugis) dan bahasa nasional (bersama-sama dengan bahasa-bahasa nasional lainnya).

Penggunaan
Menurut sumber-sumber elektronik (siber), dalam masa perkembangannya, ketika bahasa Tetun belum mampu memenuhi fungsinya pada bidang-bidang kehidupan tertentu, ia ditopang oleh bahasa Portugis sebagai ko-bahasa resmi. Namun, upaya-upaya demi pemaksimalan fungsinya terus-menerus dilakukan. Kiranya kita dapat memaklumi panjangnya waktu yang dibutuhkan sebuah bahasa untuk dapat secara maksimal memenuhi kebutuhan para penuturnya. Bahasa lahir dari masyarakat penuturnya dan akan didewasakan oleh masyarakat itu pula. Kini, laksana sesosok bayi bahasa tulis, bahasa Tetun membutuhkan bimbingan dan tuntutan dalam perjalanan panjangnya. Diperlukan pula kesabaran dan rasa bangga yang tak pudar untuk mengantarnya ke masa depan.

Dewasa ini, bahasa Tetun (Nasional) bukan bahasa asing di Indonesia karena terdapat cukup banyak warga negara kita – khususnya yang berasal dari Timor-Leste – yang menggunakannya sebagai bahasa ibu, atau bahasa kedua. Di Timor bagian barat, misalnya, kehadiran bahasa ini mulai terasa sejak kedatangan saudara-saudari dari eks Provinsi Timor Timur. Jadi, disadari atau tidak, pada saat ini bahasa Tetun juga sedang berkembang di Indonesia, di antara bahasa-bahasa lain yang tersebar di seluruh Nusantara. 

---------
*) Yohanes Manhitu adalah penulis, penerjemah, dan pengajar lepas bahasa Tetun. Tulisan ini dikutip dan dikembangkan dari bagian "Pendahuluan" dan "Perihal Bahasa Tetun: Sekilas Kisah" dalam Kamus Indonesia-Tetun, Tetun-Indonesia (PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2007) karya penulis sendiri.

Timor Island: A Poem by Yohanes Manhitu

Pah Timor

Pah Timor, pah amasat.
Ho kanme lo nfomèn
onlê haumenî afomenib pah.

Ho kanme matekâ
nâko batan ntea batan,
nâko kuan talantea kota,
nâko ‘nuüf talantea tasi-ninen.
Sekau es ka nahín fa ho kanam?

Oras neno nsae, ho mmeûsín
onlê noinmutî aklimâ,
ma oras neno ntés,
ho mmolok onlê mnatû apinat.

Atoni nâko neonsaet, neontés,
nâko knaben-ahinet
talantea knaben-amonot
nahín ho sekau ko.

Pah Timor, ho es ainaf ko
neu kanan ho sufam ma ho kaüm.
Mönen henait ho suf’in
a-nnaon nsasuna pah-pinan
ma oke-te nfainnéman
he nâlatan ho kanam!
Ò Pah Timor, pah amasat,
pah afomenit.

Yogyakarta, 4 Funboës 2002
--------------------------
 
Timor Island

Timor island, beautiful island.
Your name is as fragrant
as sandalwood
granting fragrance to the island.


Your name is called
from generation to generation,
from the village to the town;
from the mountain to the seashore
Who does not know your name?


When the sun rises,
you are as bright as silver;
and when the sun sets,
you are as shiny as gold.


Men from the east, from the west,
from the south,
and the north

 know who you are.

Timor island, you are the mother
of your descendants.
Pray so that they go from one country to another
and then come home
to praise your name!
Oh Timor island, the island of beauty,
the island of fragrance.

Tasaitan Museum Uab Amates

Tolas a-nbi Biboki, TTU. Foto: Herisandy Umbu Deta
Nâko YOHANES MANHITU*
 
UAB AMATES nane sâ? Nane uab lê namneuk nâko kanan uab-tuaf sin tnankin. In ka mamolok fa ben on alat komunikasi amonit. Kalu tuaf-pukan nane nmuî in tuis, in uab lof nabala nbi in tuis-sin. Me kalu ka nmuî tuis, neu in lof namneuk nunfín, ma ka mapalolî fa ben. Faktor sâ es nabè' nanekun uab-es? Faktor amleü’sekê (ekstrim) eslê ‘suät aî mleü, onlê nainunus, tsunami, makenat, loltópukan (genosida), mbt. Naik nâko nane, situasi politik ma to(b) in sinmakat amnekut msat nabè' naneuk uab. Onlê he tâmaet atoni, nmuî lalan humaf namfau he taneuk tain uab-es. Jared Diamond (nbi in tuis majudul Speaking with a Single Tongue1, Tamolok tèk Uab Mesê) natón nak a-nmuî lalan langsung nua he tâmaet uab-es: (1) tâmaet tain amolok ok-okê nâko uab nane. (2) thâmuî (tsiksa) kanan tuaf amolok uab nane. Ntomneu faktor nomer mesê, in a-nfe tlekâ neu onmé kaesmutî Kalifornia, Amerika-sin, nâmaet uab Indian Yahi antara ton 1853 ma 1879, ma onmé anaäplenat Inglés-sin naneuk uab kuatuaf a-nbi Pah Tasmania antara ton 1803 ma 1835. Ma ntomneu lalan nomer nua, in a-nfe tlekâ neu onmé anaäplenat Pah Amerika ini nmoê he naneuk nain uab kuatuaf fauk a-nbi Amerika Utara. 

Aim he tkios faktor abitin fafon i mesê-mesê. Kalu taneöp a-ntomneu tsunami lê a-ntoman Pah Aceh nbi ton nua afinit (Funboësamnuâ 2004), hit masit lof taäkâ tak uab aî dialek (logat) fauk namnekunen, fun uab-tuaf a-nmaten, aî naen nasaitan sin kuan oras mleü nane ntoman (nalail) sin. Akâ nane lo ntom. Lab-láb, oras tais-asaet ma nainunus amnèk-tuaf nane nfin, Kompas nteknan uab fauk amnekut nane. Oke-msâ, kalu hit tamnau noe-asaet a-nbi oras Naî Noh (Nuh) a-nsae neu bnao, hit lof taneöp tak uab fauk a-msâ lof namnekun (namneâ) nbi oras nane, fun oe asaet nalemab nain uab-tuaf namfau. Me ntomneu lê amunit i, hit fê a-tpalú he takhain (thain) data namfau ntèn helê tamolok.

Ntomneu situasi politik, hit ok-okê tahín tak haef namfau situasi humaf i nèki mleü ‘naek neu uab-es in monit. Ate hit tamatab lasi i. Nbi ton 1788 – fê natuin Jared Diamond in hantonas –, oras atoin-Eropa fê nemantean, atoin-aborijin2 abitin Austarali nmuî uab humaf 200. Me neno i ala 100 es fê mapakê. Nèskin esan mé? Namnekun! Fun sâ? Fun uab Inglés (Ingris) es nakalab sin. Kalu he tpiô nâko tonnatun ahunut (nbi abad 4-ini), oras atoin-Roma nemantean pah pisâ fauk a-nbi Pah-úf Eropa, topukan namfau es-es nok kun in uab. Me kalobes (ka ‘lo fa) onnane, ala uab Latín to-amfaut (lingua vulgaris) – ka atoin-askolat sini (sermo urbanus) fa – es mapakê on uab masimô (uab pah) a-nbi pah pisâ ‘naek nane. Uab Latín lê matekâ ahunut i namuin nahonis uab Latín moderen (uab romawi), eslê uab Spanyol, Prancis, Portukis (Portu), Italia, mbt. Talantea munî i hit fê tít negara Afrika bian es a-npaek natutan uab Eropa fauk ma uab Arab he nanaoba plenat, to(b) in monit, ma kanan naobaplenat (administrasi) nbi sin negara-sin. Kalu onnane, uab Pah Afrika-sin esan me? Mapakê ka kahâ? Mapakê piuta, me fê namfau es mapakê ala nbi umenanan (fomili nok fomili), kuan, ‘pasâ (sobâ), ma baelkoti bian. Nmaneo, nmuî uab-uf nua – Swahili3 ma Hausa – me uab matâteme nkuasa nnèsin sini. Neu lekâ uab matâteme-sin lof masekâ nèk uab nâko Pah Afrika? Ka tahín fa lekâ nanait amasat i natisbon neu sin.

Faktor amunit lê au ‘tek ulali eslê to(b) in sinmakat he npanat in uab. Faktor i haef namfau nmataul nok faktor ahunut – situasi politik. Uab-es in monit a-nsonlaiton neu in amolkin sin lisan ma sinmakat. Kalu sin namlilê (nmalinan) he npaek uab nane piuta, kaisâ tamtau, uab nane lof namlia nabala. Me kalu haefes hit tabai hit uabe on uab kuan, uab tuaf ka askolat, uab afoltuis, aî on uab-es tèk tekas ka amasat bian, neu tpao baha ini mnekun, fun in a-npaumaken. Natuin au tenab, uab es-es nane topukan ok-okê ini ‘maus kultural. ‘Maus neu to(b) ka ala fa sin loit, mnatû, noinmutî, iunleko, ‘pik-unû, aulnoni, aptais aklimâ, muït, uemfatu, ma humaf bian. Hit uab nane hit identitas! Onlê KTP. Ma natuin uab, hit nabè' tahín to(b) aî tuaf-pukan es in monit ma lisan. Tatlekâ, hit lof ka tahín fa atoin-Metô leko-leko kalu hit ka tahín fa sin uab (Uab Metô). Nane fun “smanaf” amaneot nâko atoin-Metô eslê in aub. Es onnane, ala natuin uab, hit nabè' taim he tahín leko-leko tuaf-pukan-es in “smanan” lê a-nfe monit neu in aon-nonon (aon-taün).

Nmataul nok lasi i, aim he tkios Uab Metô (Uab Dawan4) in monit neno i. Natuin Grimes5 (nbin ton 1997), nmuî tuaf 600.000 es a-npaek Uab Metô. Ka tahín fa neno i total i nsae, ka nsaun. Msâ ka tahín fa apaket amfaûsekê ném nâko dialek (logat) mé. Neno unû, ka tahín munî i, Uab Metô mabandu (matalâ) a-nbi skól (skolâ). Liänaskól (liänaskolâ) sekau es namolok uab i musti napèn kastigu (hâmuït/siksa). Es onnane, liänaskolin babaun nasaitan sin uab a-nbi skól ma npaek uab Indonesia (Labit) nmes kun. Nbi monê, kalu naëuk (natéf) sin kulu (guru) aî tuaf maäptaikase bian lê nahín Uab Metô, sin naüaban Labit. Neu, nanao sin nasaitan sin uab. Sin bian, masi nbi ume namolok Uab Metô, nbi monê ka nlomin fa he npake fun namaebok kaiskaisâ atoni bian nak sin nak atoinkuan, aî tuaf ka askolat. I ka nak fa nak hit he tasaitan aî a-tpenan Labit (Bahasa Indonesia). Ka on fa nane! Nane hit uab nasional. Hit musti tpanat ma tpake piuta, fun in es a-nfut-namepan kit nok hit olif-tataf a-nbi Pah Indonesia nanan. Amaneo-te eslê tpaek uab ok-okê natuin sin tabu ma bale. Bife sekau es he natai bikini (aptainiut) he natuin festa kabin? Hit konstitusi msâ a-npanat kanan uab kuatuaf a-nbi Negara Indonesia. Ma negara nmuî taes-sutais (tanggung jawab) he npanat ma namliab uab ok-okê. Kalu konstitusi (UUD) nak onnane, hit musti tmoê tatuin in lekat, in lulut.

Nahún nâko laismae aî lasimtaus he tamolok Uab Metô, hit ka taneöp fa he ‘ttui (tlul) tèki nbi hit monit neno-neno. Nmaneo, uab i fêka nmuî fa in gramatika standar. Masi onnane, aim (eim) he tmulai nai babaun. Onlê hit tahín, Uab Metô in laistuis nmulai nbi oras kaesmutî nanaob sin kuasa-paksa a-nbi Pah Timor. Me alakun ampaer (uispaer) ma panlita (pendeta) kaesmuit'in es, natuin kuatuaf fauk sin tulun, a-nfe sin nekan nanan neu meuptuis. Sin mepu i nafuab sulat humâ-humâ lê mapakê neu mepu Uis-Neno, onlê sul'onen6, sulsit, ma nès-nès neu Sulat Kninô7. Mepu humaf i namfau es ka matuï fa nain nèk Uab Metô, me matlakab nâko uab bian lê mapakê a-nbi Pah Seranî, nane eslê uab Ibrani, Yunani, Latín, Jerman, Olain8 (Balanâ) ma Portukis (Portugés). Kanan tuis nâko kulu-sranî lê mamotâ ma masònû neu kuan-kuan es a-ntulun tosranî (toslanî) he nânoinâ ma nahín toesranî in nesan. Me oras salit nane namtís, mepu humaf i onhe masaitan. Masi matutan, in a-ntû neu baha lasiklei (greja). In ka ntea fa monit sekuler (kaägamafa) – ntomneu to-amfaut in monit sosial humaf bian.

Haefes au ‘nen tuaf bian namolok, nak Uab Metô lof ka nmaet fa kalu ataibetî (ataimaû) ma ataitais, amamat ma amneukbako (amneuktabako) abitin kuan fê eskin. Hanaf i lo ntom. Me hit musti tahín, ka ala fa sin – abitin kuan – es musti npanat uab i nanoeba. Hit ok-okê – ataibetî ma ataitais, ânosomnanû ma ataikalét (ataibistidu), amnasit ma munif, apaokuan ma anaolalan – musti tpaloil (tperkat) ma tpanat uab i natuin hit molok neno-neno. Afi hit beï ma naï mafefâ-sin nabelak nain kit uab amasat i henait hit tamliab ma tafinib neu batan amunit. Es onnane, aim he nekmesê-ansaomesê kit tpaloil ma tpaek hit uab tèk nek-amlilat (nekmalinat) piuta. Kaisâ tamaebok, kaisâ tneknuâ!

On hantobes, sekau es a-nloim he nsiap museum neu in uab? Au uäkâ, ka tít fa es. Somak in ka nsinmakan fa in uabe nobamesen. Nbi oras hit taloitan museum neu uab-es, hit musti taloitan es a-ntèn neu in to(b) ma kanan lasi amasat onlê tekanab (takanab), toni (natoni), ne(l), sít, ‘tekâ (‘kakê), nuü (nuän), bonet (hering), ma humaf bian. Hau afuat-es, oras in a-nluin, in nèk nain ini ‘baän, taün, toen, slekin, non, ketan, mafon, sufan ma fuan. Uabe msâ onnane; lekâ uab-es namneuk nâko pah-pinan, in a-nlem nok uab-tuaf sin tenab, lisan, nono, ‘takaf, sailumat, laün-laban, koâ, ma humaf bian. Tpanat uab amonit nalekonès nâko tamonib tafanî uab amates! Uamnanû neu uab amonit ok-okê!

Yogyakarta, 16 Funhâ 2006

1 Npoi nbi Microsoft Encarta Encyclopedia Deluxe 2000; mamnaitî nâko Discover Magazine, Funnuâ 1993
2 Kuatuaf amaneot a-nbi Pah Austarali. Sin metan onlê atoin-Papua (nbi Indonesia ma PNG).
3 Nès nâko tuaf juta 10 es a-npake, nès-nès a-nbi Tanzania ma Kenya (on uab resmi). Nbi Tanzania in a-njail uab resmi natuin Presiden Julius Kambarage Nyerere in mepu he nfit nasaeb uab Afrika.
4 Kanaf i, masi nem nâko monê (Belu), mapakê on kanaf bian neu Uab Metô.
5 Nâko situs Ethnologue: Languages of the World, 14th Edition
6 Onlê Klei Katolik in Katekismus in Nesan
7 Nbi Klei Katolik hit tahín Sulat Knino lê P. Vincent Leko, SVD nok in atulun-sin natlakab neu Uab Metô nâko versi Uab Jerman Katholische Schulbibel.
8 Tekas lê mapakê namfau nbi tekanab, onlê Kopna-m-Olain, Lulai-m-Baoknaes.

* Atuis ma asinmak-uab, natua es Yogyakarta

Blog Uab Metô: http://uabmeto.blogspot.com


Language Represents Country

Picture: https://www.flickr.com/photos/johnnysiahaan/3204442763

By Yohanes Manhitu

Every year, in October, the Indonesian people hold what is called "bulan bahasa" (the language month), during which a number of language-related activities are carried out to appreciate bahasa Indonesia, the national and official language. The month of October has been chosen because it was in October 28, 1928 that the Youth Pledge was proclaimed. And one of its points was to have a unifying language, the Indonesian languagea language expected to unify the whole nation and meant to be a national identity.

Language is a means of communication and symbol of a nation or community group. Every country in the world needs a language, usually a national, or an official language, with which it forms its national unity through communication. Therefore, language plays crucial roles in all aspects of life. One can imagine a country without an official language. Many countries in the world have politically chosen a language to transfer all their policies and to gain national pride. Usually, standardizing a language that was previously a trade language or a regional lingua franca is common. In this case, language functions as a bridge amongst people speaking different vernaculars.

Indonesian language
the main focus of this piece of writingwas previously a language of High Malay that later borrowed many words from many different languages introduced to the archipelago: Sanskrit, Persian, Arabic, Portuguese, Dutch, English, and Javanese, before and after its “baptism” as a national and official language of the Republic of Indonesia. Having this position, the language becomes the “single-fighting” language in almost all aspects of the country’s political and social lives. It is true that there are thousands of vernaculars spreading all over the archipelago, but their role is relatively limitedthey are mainly used in the cultural domains. Many of them are still used in traditional ceremonies. However, many ceremonies are now carried out in the national language due to a very practical reason: it is much easier to understand and use compared to the ethnic tongues.

The national language has undergone a long process of standardization since its acknowledgment as the country’s sole national and official language in 1945. The Indonesian Center for Language Research and Development has been doing its best to make the language easy to use. Many dictionaries and books have been published and republished to introduce the language to the society and the world. Besides, many language seminars and TV programs (on TVRI- Television of the Republic of Indonesia) have been carried out to disseminate much information about the language. This can be regarded as a massive language campaign. Of course, much budget has been needed to make this campaign successful in achieving its aims. This is a very impressive work and should be paid much appreciation.

Nowadays, with many visual media available, the language spreads very quickly to almost all parts of the country, traversing regional boundaries. But does this always mean the spread of the good and correct Indonesian language? The answer is “no!”. Only some news, especially the formal TV and radio news, broadcast with good and correct Indonesian. Many TV programs are broadcast with colloquial Indonesian that is easily imitated by a large number of people as a trendy or city language.

To be honest, many Indonesian people tend to use the Indonesian language with “virgin” foreign words whose equivalents have long been available in the language. This may be a frightening precedent for the survival and rapid development of the growing language. I am not to tell the reasons for which they have made such a choice. Everybody has his own rights to utter a word. Nevertheless, it is indeed wise to think about any consequences the utterance might bring to the society and the development of the unifying language.

There is a strong assumption that a country’s failure to build a strong unity and single perception is due to the failure to use a good and correct means of communication. One can imagine how a low educated person residing in a remote region can understand a speech decorated by too many phonetically original foreign words. Even the well-educated ones having no knowledge of foreign tongue, in this case English, will think twice to claim that they comprehend what has or have been uttered. Therefore, it is suggested that we had better use the standard language when speaking publicly in order to avoid any misunderstandings that might lead to fatal manifestation. This might seem easy but, in fact, it is a time bomb for the country’s development and policy spreading.

It is important to know that the survival and successful development of a country’s language does not necessarily depend on any government institutions having been assigned to work in the field of language development. Actually, the people of a country are also responsible for the development of their own language, their own vehicle of communication. The more they love their language, the more they are willing to defend and care about its survival. So, in brief, both the government and the people are responsible for their language.

In regards to efforts to preserve a country’s language, the history has proved that many years ago many grammar schools had been established in Europe to teach the best and most correct language. Many language academies, for example L’Académie française (later succeeded by L’Institute de France), Academia de la lengua española, etc., were established to teach and keep the languages. It is undeniable that many times, a powerful national language becomes a killer of the indigenous tongues. However, it is indeed important to shape national unity and a single mind.

In the context of Indonesia, the Indonesian language is very strong. And, as we all know, it is the sole language in the country with around 13.700 islands. Due to wide range of language variety, the language is still used in many places as a second language only. Only at schools and offices it is used formally as official language. However, many times, the informal or colloquial language is used mainly in the office days. The use of standardized language is mainly found in books and published literatures.

All Indonesians or anybody having learned Indonesian proverbs must have known one of them that indicates the function of a language: "bahasa menunjukkan bangsa", which literally reads “language indicates the nation”. Based on this, we might doubt that using our national language without any attention to the situation and the language rules reflects the mentality of our beloved country
not willing to obey social rules and lack national dignity.

A country that maintains a strong national bond with its people is the one that respects a tongue through which it keeps easy and transparent transfers of ideas. Misunderstandings occurred between the government and its people are a set of time bombs waiting for its precious time to explode. In order to anticipate it, we had better respect our language, the Indonesian language, by obeying the rules of the language and avoid using crude foreign words in any public media, both electronic and printed. Since our people in general tend to imitate the language style of any respected people in our community, it is suggested that the respected people or public figures should be careful with their public language. However, it is not the government alone that should be concerned about the language. We, language users, should also build in ourselves a strong desire to respect our own national vehicle of communication. Viva Indonesian language!

Yogyakarta, October 2004