Thursday, March 29, 2007

Dios se hizo pájaro, de Alfredo Pérez Alencart


Dios se hizo pájaro

Por Alfredo Pérez Alencart

DE por vida nos une
un reino fuera
del tiempo,
un reino
que trasfiere palabras
contra la desesperanza,
alas para nosotros
mismos.

Voz del arribo
llenando el alma
de pájaros que comen
frutas lumínicas
o se refugian
a la diestra del árbol
de la vida.

Nos une
un metódico maestro
que transpira creación
cada instante vagabundo
donde se sostiene
lo presente.

Dios se hizo pájaro
y, al amanecer,
vuelve descalzo
para posarse
en la ladera amable
de tu corazón.

(Citado de Pájaros bajo la piel del alma)

>>>>>======<<<<<

Tuhan telah menjadi burung

Oleh Alfredo Pérez Alencart

SEUMUR hidup, kita disatukan
sebuah kerajaan di luar
jangkauan sang waktu,
sebuah kerajaan
yang alihkan kata-kata
melawan keputusasaan,
sayap-sayap bagi
diri kita sendiri.

Suara kedatangan
memenuhi sukma
burung-burung yang memakan
buah-buahan cahaya
atau berlindung
di sisi kanan pohon
kehidupan.

Kita dipersatukan
seorang guru teratur
yang pancarkan ciptaan
tiap saat yang mengembara
di mana masa kini
bertahan hidup.

Tuhan telah menjadi burung
dan, tatkala fajar menyingsing,
Ia kembali bertelanjang kaki
untuk bertengger
di lereng manis
hatimu.


Traducción al indonesio por Yohanes Manhitu
Yogyakarta, Indonesia, 25 de enero de 2007

2 comments:

Janela d'alma said...

Parabéns por este belo trabalho...

Feliciano - Lisboa

drt said...

Yes, I'd like to say, congratulation too for these beautiful works through out your blog. You're our real star, John.