Wednesday, September 9, 2020

LAGU TETUN, TONNY PEREIRA, DAN ANGELINA

Secara pribadi, saya merasa berutang budi kepada pada penyanyi dalam bahasa Tetun Dili (Tetun Portu, Tetun Prasa), terutama Tonny Pereira. Masa kecil saya tak lepas dari lagu-lagu Tetun, yang tentu saja berdampak positif bagi saya hingga kini. Walaupun tinggal jauh dari Timor, saya berkomitmen untuk tetap bisa berbahasa Tetun (di samping bahasa Dawan) dengan baik, terutama sebagai orang Timor yang (mesti) punya tanggung jawab budaya.

Disadari ataupun tidak, para penyanyi (dan tentu para komponis juga) banyak berjasa dalam pelestarian dan kelestarian bahasa. Orang Jawa tentu sangat kehilangan penyanyi hebat yang bernama Didi Kempot. Dan orang Tetun yang sadar budaya pasti kehilangan penyanyi Manek Babulu (penyanyi dari Malaka, Timor Barat). Kita pun tahu bahwa sederet panjang lagu kebangsaan dalam bahasa Indonesia yang digubah oleh para komponis hebat kita di masa perjuangan dahulu menegaskan posisi dan peranan bahasa Indonesia.

Kembali ke lagu Tetun dan Tonny Pereira. Salah satu lagu Tetun yang masih bisa saya nyanyikan dengan iringan gitar adalah Angelina. Lagu yang dilantukan dengan apik oleh Tonny Pereira ini adalah gubahan Anito Matos, seorang komponis dan penyanyi kawakan dari Timor-Leste. Lagu ini sungguh akrab di telinga banyak orang pada masa kecil saya, sebagai bocah penghirup udara segar di pedalaman Timor. Semoga para musisi sehat dan penuh semangat. Karya mereka perlu terus mewarnai hari-hari hidup kita.

Foto: Cuplikan dari lagu Angelina di album Tonny Pereira

TIGA PUISI TERJEMAHAN SAYA (DARI BAHASA SPANYOL KE BAHASA INDONESIA) BARU SAJA TERBIT DI SALAMANCA, SPANYOL

Tabik! Sesudah menyelesaikan terjemahan puisi ALTERACIÓN CLIMÁTICA karya Dennis Ávila (penyair Honduras yang memenangi "Premio Internacional de Poesía 'Pilar Fernández Labrador'", penghargaan puisi bergengsi di dunia Hispanik) ke bahasa Indonesia, Dawan, Tetun Resmi, dan Melayu Kupang, saya diundang lagi untuk menerjemahkan tiga puisi Spanyol karya penyair Afredo Pérez Alencart ke bahasa Indonesia, masing-masing berjudul KAMP PENGUNGSI (hlm. 32), SEMOGA ITU TAK PERNAH TERJADI PADAMU (hlm. 50), dan PENGHINAAN KEMISKINAN (hlm. 68). Terjemahan-terjemahan saya, bersama-sama dengan terjemahan-terjemahan ke bahasa-bahasa lain di dunia, telah terbit dalam bulan ini di sebuah antologi puisi multibahasa yang berjudul TRÍPTICO DE LA INDIGNACIÓN (Salamanca, Spanyol: Trilce Ediciones, September 2020). Salam mesra sastra,

Foto sampul depan: Kiriman dari Spanyol

Wednesday, September 2, 2020

Profil Saya, Penerjemah, di Marstranslation.com

Gambar: https://wpml.org

Profil saya sebagai penerjemah profesional yang bekerja sama dengan Mars Translation, terutama untuk pasangan bahasa Inggris-Tetun, dapat dilihat di sini. Mars Translation berkantor pusat di Guangdong, Republik Rakyat China.

Puisi "Malsatego" Karya Saya (Berbahasa Esperanto) Dibacakan oleh Aaron Vsigte di YouTube


Malsatego

De: Yohanes Manhitu

La folioj de la arboj
tuj fariĝas purpuraj
dum la tagoj tiel longaj
sen nutraĵo, sen trinkaĵoj.

Grano de rizo estas oro,
panero fariĝas perlo,
viando restas revo
kiam venas malsatego.

Almozistoj en la strato
povas rakonti historon
pri la stomako sen rizo
kiu atendas kontentigon.

Se vi volas scii la veron
pri havado de nenio en la mano,
vi ne intervjuu la riĉulon
ĉar troviĝas ĉio en lia domo.

Jogjakarto, Indonezio, 13/IV/2007
------------------------------------------
Catatan: Puisi ini berasal dari http://ymanhitu-poemoj.blogspot.com/2007/04/malsatego.html.

Sunday, August 30, 2020

PERUBAHAN CUACA*

Oleh: Dennis Ávila Vargas**

Ada satu pusaran pada kucing besar yang menciptakan gurun-gurun.

Dengan gerakan lambat, jatuhlah longsoran,
ruang mesin itu sebuah gunung berapi.

Barisan gunung mengawal nadirnya,
dan dalam lipatan malam
sang hari mengeluarkan bintang-bintang.

Sebuah meteorit mengusik tumbuh-tumbuhan.
Dampaknya mengguncang kolam-kolam.
Bunga-bunga teratai menata air.

Semuanya menunjukkan gigi mereka;
di setiap pakis ada gergaji hijau,
yang polos dan rangkap.

Di daerah yang tertutup es
beruang kutub dan pembunuh saling memburu,
untuk mengecoh rasa lapar.

Tiba-tiba itulah nama kebalikannya:
kristal-kristal menua agar tampak muda,
keseimbangan mengejar luka
dan bukan bekas luka.

Para ilah lupa menjilat tubuh sendiri
seperti jaguar-jaguar
pada saat istirahat mereka.

Sang planet menderita di setiap langkah.
Ada kucing besar di pusaran hari-harinya.

Terjemahan ke bahasa Indonesia: Yohanes Manhitu
Yogyakarta, Indonesia, 15 Juli 2020
------------------------------------
*) Judul asli puisi ini adalah "ALTERACIÓN CLIMÁTICA". Puisi ini bersama dengan versi Dawan, Tetun Resmi, dan Melayu Kupang--yang saya buat sekaligus dengan versi Indonesia ini--bakal diikutkan dalam sebuah antologi multibahasa yang akan terbit di Salamanca, Spanyol, dan diluncurkan pada acara "XXIII Encuentro de Poetas Iberoamericanos" di kota tersebut.
**) Dennis Ávila Vargas (lahir di Tegucigalpa, Honduras, 13 September 1981) adalah penyair Honduras, pemenang "Premio Internacional de Poesía 'Pilar Fernández Labrador'", penghargaan bergengsi di dunia puisi Hispanik.

Foto: https://www.greeners.co

Buku-Buku Saya yang Kini Terdapat di Katalog "The Library of Congress"

Tabik! Untuk mengetahui buku-buku saya yang kini terdapat di katalog "The Library of Congress" (Perpustakaan Kongres Amerika Serikat di Washington), silakan klik di http://id.loc.gov/authorities/names/n2007203560.html. Sebagai informasi, menurut Wikipedia, "The Library of Congress" adalah perpustakaan terbesar di dunia dari segi luas rak buku dan total koleksi buku. Salam,

Sebuah Karya Peraih Nobel Sastra Telah Diterjemahkan ke Bahasa Dawan, Bahasa Timor dengan Penutur Asli Terbanyak

"GITANJALI (SÍTNATAS)" adalah kumpulan puisi Dawan-Inggris yang memuat 103 puisi Dawan (yang telah saya terjemahkan langsung dari "Gitanjali (Song Offerings)" versi Inggris [tahun 1913]) dan 103 puisi Inggris (terjemahan Rabindranath Tagore dari karya-karyanya sendiri dalam bahasa Bengali). Rabindranath Tagore adalah pujangga kenamaan India dan sastrawan Asia pertama yang menerima Hadiah Nobel Sastra [tahun 1913]. Ia juga adalah pelukis dan komponis (pencipta lagu kebangsaan India dan Bangladesh).

Di dalam buku ini, puisi-puisi terjemahan Dawan saya terletak di halaman kiri, sedangkan versi Inggris (yang diterjemahkan Rabindranath Tagore sendiri) berada di halaman kanan. Pencantuman 103 puisi Inggris terjemahan Tagore di dalam buku ini hanya mungkin setelah "Gitanjali (Song Offerings)" terbitan "The Macmillan Company" (New York, 1913) masuk ke ranah publik (public domain) pada tahun 2011. Terjemahan "Gitanjali (Song Offerings)" ke bahasa Dawan (Uab Metô) ini dimulai pada tanggal 28 Januari 2006 dan rampung pada tanggal 24 Mei 2016 (membutuhkan 10 tahun). Tetapi karena berbagai kesibukan, akhirnya baru bisa terbit tahun lalu. Setahu saya, dalam sejarah, "GITANJALI (SÍTNATAS)" adalah terjemahan perdana ke bahasa Dawan dari sebuah karya pemenang Nobel Sastra. Apakah ia juga merupakan terjemahan perdana ke bahasa daerah di NTT dan bahasa nasional di Timor-Leste? Silakan selidiki secara saksama di gudang data literasi yang tersedia.

CATATAN: Seluruh terjemahan saya ke bahasa Dawan (bahasa Timor yang terbesar, berdasarkan jumlah penutur asli; yang terbesar kedua adalah bahasa Tetun) di dalam buku puisi dwibahasa ini telah saya bandingkan sendiri dengan terjemahan André Gide ke bahasa Prancis ("L'Offrande lyrique", 1917) dan terjemahan Ramón Jiménez dan istrinya, Zenobia Camprubí, ke bahasa Spanyol ("Ofrenda lírica", 1918) untuk "rujuk konstruktif antarterjemahan". Untuk diketahui, André Gide (1869–1951) adalah sastrawan terkemuka Prancis dan penerima Hadiah Nobel Sastra tahun 1947, sedangkan Juan Ramón Jiménez (1881–1958) adalah sastrawan terkemuka Spanyol dan penerima Hadiah Nobel Sastra tahun 1956.
------------------------------------------------

KETERANGAN PRODUK

Penerbit: Diandra Kreatif, Yogyakarta
ISBN (13): 978-602-336-824-2
Ukuran: 14 X 20,5
Tanggal terbit: 17 Mei 2019
Halaman: 245
Bahasa: Dawan dan Inggris
Tipe jilid: Sampul tipis
Harga: Rp 80.000,-
-----------------------

Foto sampul depan: Diandra Kreatif, Mei 2019


Tulisan ini sudah tersedia juga di https://www.kompasiana.com.

Buku Koleksi Baru dari Balai dan Kantor (2019)

 

Jejak-Jejak Langkah Awal Saya di Dunia Siber

Foto: Dokumen pribadi (21/07/2020)

Syukur! Ternyata situs web pribadi yang saya rancang sendiri secara gratis di Yogyakarta (dimulai pada hari Sabtu, 10 Februari 2001) masih bisa dijumpai di internet. Memang situs itu tidak seutuh dahulu, ketika masih maksimal, tetapi cukup bisa dibuka dan tentu sangat penting bagi saya secara pribadi untuk melihat jejak-jejak langkah awal saya di dunia siber. Halaman utamanya bisa dibaca dalam lima bahasa: Inggris, Indonesia, Prancis, Spanyol, dan Portugis.

Pada saat itu, saya baru 6 bulan tinggal di Yogyakarta dan lagi menggandrungi bahasa-bahasa baru, sastra, dan juga internet. Masih teringat malam-malam panjang di warnet bersama dengan Bung Yos Tamonob. Kami asyik sendiri di bilik masing-masing di warnet langganan kami, Starnet, tepat di luar tembok keraton, untuk mengurus situs-situs web gratis kami. Kantuk tak digubris!

Saya baru perlahan-lahan beralih ke blogspot.com (dengan blog utama di https://ymanhitu.blogspot.com) pada bulan Maret 2007 ketika layanan gratis geocities berakhir. Situs web geocities itu menyimpan begitu banyak kenangan saya sebagai pemelajar di Kota Gudeg ini. Kata si bijak, langkah yang panjang dimulai dari sebuah langkah kecil, termasuk di dunia maya. Salam literasi,

Thursday, July 30, 2020

Selamat jalan! Semoga beristirahat dalam damai.

Foto: https://seleb.tempo.co

Turut berdukacita sedalam-dalamnya atas meninggalnya sastrawan kawakan Ajip Rosidi (1938-2020)! Sang profesor tanpa ijazah sarjana dan begawan sastra Sunda dan Indonesia itu telah pergi untuk selama-lamanya. Selamat jalan, sang penggagas Hadiah Sastra Rancage! Semoga arwahmu menikmati istirahat dan damai di Alam Mahapuitis! Nama dan karyamu akan abadi. (Piyungan, DIY, 30 Juli 2020). 🌺  

Artikel Saya Dikutip dalam Sebuah Tesis di Universitas Negeri Medan



Dalam tesisnya (untuk memperoleh gelar Magister Humaniora [M.Hum.]) yang berjudul THE ATTITUDES OF UNIVERSITY STUDENTS OF BATUBARA IN MEDAN TOWARDS BATUBARA MALAY LANGUAGE, Julisah Izar, dari Jurusan Linguistik pada Universitas Negeri Medan, Sumatra Utara, mengutip pendapat saya (yang ia terjemahan ke bahasa Inggris), bunyinya begini:

Yohanes Manhitu (2011) states that there are some consideration of using ethnics languages those are : as a tool for showing the culture, as the identity of the nation, part of the Indonesian culture mosaic and world, the bridge between generation, the language introduction in the school such as local content, Attitudes towards a particular language might be either positive or negative. Some the users of language may have negative attitudes towards the second language and want to learn it in order to preveil over people in the community. (Sumber: Silakan klik di sini)

Catatan: Artikel yang menjadi sumber kutipan di atas berjudul Bahasa Daerah: Kekayaan Budaya yang Harus Tetap Lestari dan dapat dibaca di sini. Terima kasih atas kutipan ini. Semoga tulisan-tulisan yang telah dibuat bermanfaat seluas-luasnya bagi yang membutuhkan. Salam mesra buat semua!


Foto Rumat Adat Batubara di Medan: https://travel.detik.com

HA'U HAKARAK (Terjemahan Sebagai Perhormatan kepada Sastrawan Sapardi Djoko Damono

Foto: https://www.skymetweather.com

Ha'u hakarak hadomi ó ho dalan simples
ho liafuan ne'ebé ai la biban atu dehan ba ahi mak halo nia sai ahun
Ha'u hakarak hadomi ó ho dalan simples
ho sinál ne'ebé kalohan la biban atu dehan ba udan mak halo nia lakon

— Sapardi Djoko Damono (1940–2020), poeta boot ida Indonézia nian

---------------------------------------------

*) Tradusaun ba lia-tetun: Yohanes Manhitu (19 Jullu 2020; versaun orijinál hetan iha-ne'e). Ne'e ha'u-nia omenajen ba poeta Sapardi Djoko Damono, ne'ebé ohin hakat ba mundu seluk. Nia bele hanesan kalohan be udan halakon, maibé ninia naran no knaar sei moris nafatin.

"Kamus Indonesia-Tetun, Tetun-Indonesia" Dikutip dalam Sebuah Jurnal Ilmiah di Papua

Gambar: http://kibascenderawasih.kemdikbud.go.id 

INFO LITERASI: Syukur, Kamus Indonesia-Tetun, Tetun-Indonesia (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, Edisi I: Juli 2007; Edisi II: April 2015) sudah lebih sering dijadikan rujukan penulisan karya ilmiah, baik di dalam maupun di luar negeri. Kali ini, bagian karya itu dikutip oleh Antonius Maturbongs, dari Balai Bahasa Papua di Jayapura, dalam tulisannya yang berjudul PERAN SEMANTIS VERBA BAHASA TETUN DI TIMOR LESTE (terbit di jurnal ilmiah "Kibas Cenderawasih", Vol. 15, No. 1, April 2018:33—52). Silakan baca tulisan tersebut di sini.

(Babadan Asri, DIY, 17 Juli 2020, pada masa karantina mandiri)

"Kamus Indonesia-Tetun, Tetun-Indonesia" dalam Sebuah Tulisan di Jurnal Universitas di NTT

Foto: Dokumen pribadi penulis
INFO LITERASI: Catatan-catatan saya tentang bahasa Tetun (dalam Kamus Indonesia-Tetun, Tetun-Indonesia [Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, Juli 2007]) sempat dirujuk Hendrik Bouk (dari Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Katolik Widya Mandira Kupang, NTT) untuk tulisannya yang berjudul KESANTUNAN BERBAHASA TETUN DALAM KOMUNIKASI INTERPERSONAL ANTARA MASYARAKAT RAFA’E DENGAN KAUM BANGSAWAN (baca tulisan tersebut di sini). Semoga bermanfaat ya. Salam literasi,

Sekilas Tentang Buku Percakapan Tanpa Bahasa Belanda ("Multlingva Frazlibro"; Rotterdam, 2009)

Foto: Dokumen pribadi penulis

Oleh: Yohanes Manhitu

Buku saya Multlingva Frazlibro (Rotterdam, Belanda: Universala Esperanto-Asocio [UEA], 2009) adalah sebuah buku percakapan 9 bahasa (Esperanto, Indonesia, Dawan, Tetun Nasional, Melayu Kupang, Inggris, Prancis, Spanyol, Portugis) dengan bahasa Esperanto sebagai bahasa pangantar. Buku ini disusun secara tematis dan dilengkapi dengan sejumlah lampiran.

Sayang, walaupun diterbitkan oleh Asosiasi Esperanto Sedunia di Rotterdam, Negeri Belanda, buku ini tidak mencakup bahasa Belanda. Alasannya adalah pada saat itu, ketika buku itu lagi disusun, saya belum sempat belajar bahasa Belanda, apalagi sanggup menyusun ratusan kalimat percakapan tematis.

Suatu ketika, seorang Esperantis dari Eropa yang telah menggunakan buku tersebut berkunjung ke Yogyakarta, setelah mengunjungi Salatiga, tempat lahirnya. Tatkala kami berjumpa, ia bertanya langsung kepada saya dalam bahasa Esperanto mengapa bahasa Belanda tidak tercantum di buku itu, padahal bahasa itu pernah digunakan di Hindia Belanda selama 350 tahun, dan cukup banyak kosakata serapan dari bahasa Belanda dalam bahasa Indonesia. Dengan tersenyum, saya cuma bilang bahwa tak mungkin saya mencantumkan bahasa yang belum sempat dipelajari cukup mendalam, apalagi dalam sebuah buku percakapan. Lalu, kami terlibat dalam obrolan asyik tentang politik kebahasaan Hindia Belanda dan Indonesia merdeka.

Semoga suatu saat nanti (karena belum bisa sekarang!), setelah saya sudah mahir menggunakan bahasa Belanda, bahasa itu boleh juga ditambahkan.

Catatan: Buku percakapan Multlingva Frazlibro ini sudah dikoleksi oleh Le Centre culturel espéranto (Pusat Kebudayaan Esperanto) di Toulouse, Prancis; perpustakaan Esperanto di Aalen, Jerman; perpustakaan UEA di Rotterdam, Belanda; perpustakaan Kota Yogyakarta, dll.

(Babadan Asri, DIY, 10 Juli 2020, pada masa karantina mandiri)

Undangan untuk Menerjemahkan Tiga Puisi dalam Antologi "TRÍPTICO DE LA INDIGNACIÓN"

Foto: https://www.elnortedecastilla.es

Tabik! Setelah merampungkan terjemahan puisi ALTERACIÓN CLIMÁTICA karya Dennis Ávila (penyair Honduras yang memenangi Premio Internacional de Poesía 'Pilar Fernández Labrador', penghargaan puisi bergengsi di dunia Hispanik) ke bahasa Indonesia, Dawan, Tetun Resmi, dan Melayu Kupang, kini saya diundang untuk menerjemahkan tiga puisi Spanyol karya penyair Afredo Pérez Alencart ke bahasa Indonesia (saja). Terjemahan-terjemahan saya, bersama-sama dengan terjemahan-terjemahan ke bahasa-bahasa lain di dunia, akan terbit di Salamanca dalam tahun ini di sebuah antologi puisi multibahasa yang berjudul TRÍPTICO DE LA INDIGNACIÓN

(Babadan Asri, DIY, 7 Juli 2020, pada masa karantina mandiri)

Tuesday, June 30, 2020

Ibu guruku cantik sekali


Ini sosok ibu guru bahasa Latin di Amerika Serikat pada tahun 1951. Ketika itu, bahasa Latin masih diajarkan secara luas di berbagai sekolah umum. Banyak manfaatnya belajar bahasa Latin. Ah! Kuteringat deh pada lagu lama dengan potongan lirik ini: Ibu guruku cantik sekali. Mengajar kami bahasa Inggris. 😂

Foto: Cuplikan dari video "Why Study Latin" (di YouTube)

P. Vincent Lechovič, SVD dan karya-karyanya


LECHOVIČ, VINCENT: (lebih dikenal dgn nama Vinzent Leko) seorang pastor Serikat Sabda Allah (S.V.D.) berkebangsaan Slovakia yang pernah berkarya di Soe, TTS, Timor Barat, NTT. Atas usaha kerasnya dengan bantuan beberapa anggota umat Katolik setempat, telah diterbitkan karya-karya penting, yakni terjemahan dalam bahasa Dawan (Uab Meto), seperti "Sulat Knino" (1966), "Katekismus In Nesan" (1969), "Tsi Ta’naeb Uisneno" dan "Oe Mat Neno" (1969). Setelah tiba di tanah airnya, ia menulis dan menerbitkan buku kenangannya tentang Timor, berjudul "Spomienky na Timor" (1992).
--------------------------------------------------------------------
Catatan: Ini bagian kecil (satu entri saja) dari sebuah karya yang lagi digarap. Referensi lengkap terdapat pada naskah. Harap lekas rampung dan terbit.

Foto P. Vincent Lechovič, SVD: dari sampul buku "Spomienky na Timor"

Sunday, May 31, 2020

Undangan untuk menerjemahkan puisi ALTERACIÓN CLIMÁTICA karya Dennis Ávila, penyair Honduras

Foto penyair Dennis Ávila: www.moncloa.com

Kabar gembira! Saya diundang lagi oleh penyair Afredo Pérez Alencart dari Universidad de Salamanca (Universitas Salamanca), Spanyol, untuk ikut serta menerjemahkan puisi Spanyol. Kali ini, yang akan diterjemahkan adalah puisi ALTERACIÓN CLIMÁTICA karya Dennis Ávila, penyair Honduras yang memenangi Premio Internacional de Poesía 'Pilar Fernández Labrador', penghargaan bergengsi di dunia Hispanik. Terjemahan-terjemahan saya sendiri ke bahasa Indonesia, Dawan, Tetun Resmi, dan Melayu Kupang itu bakal diikutkan dalam sebuah antologi multibahasa internasional yang akan terbit di Salamanca, Spanyol, dan diluncurkan pada acara XXIII Encuentro de Poetas Iberoamericanos di kota tersebut. Kiranya dialog antarbahasa bisa lestari. Ini sebuah kesempatan bagus untuk lebih banyak belajar. ✍️

Dua buku saya yang kini terdapat di katalog "The British Library" di London, Inggris

Foto: Yohanes Manhitu, 27 Mei 2020

INFO LITERASI: Dua buah karya saya yang kini terdapat di katalog The British Library di London, Inggris, adalah kumpulan puisi asli berbahasa Esperanto Sub la vasta ĉielo (Candelo, Australia: Mondeto, 2010) dan Kamus Indonesia-Tetun, Tetun-Indonesia (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, Edisi I: Juli 2007; Edisi II: April 2015). (Sumber: http://explore.bl.uk). Semoga karya lain lekas terbit dan menyusul. 

Salam mesra literasi, 🌺

Wednesday, April 29, 2020

"Ser culto es el único modo de ser libre." --José Martí, escritor y político de origen cubano

Imagen: https://www.cuba-si.ch

Ser culto es el único modo de ser libre. (Español)
Being educated is the only way to be free. (English)
Ser educado é a única maneira de ser livre. (Português)
Esti edukita estas la sola maniero por esti libera. (Esperanto)
Berpendidikan adalah satu-satunya cara untuk bebas. (Indonesia)
Hetan edukasaun mak dalan ida mesak de'it atu sai livre. (Tetun TL)

Dr. George Quinn, sang pakar sastra dan budaya Jawa yang berdomisili di Australia

Dr. George Quinn (lahir di Selandia Baru pada tanggal 22 Juli 1943) adalah seorang pakar sastra dan budaya Jawa yang berdomisili di Australia. George Quinn merupakan dosen senior di Australian National University di Canberra. Selain menggeluti sastra dan budaya Jawa, ia juga meneliti tentang perkembangan agama Katolik Roma di Timor Leste. Dan sekarang ia juga mempelajari tradisi masyarakat Jawa berziarah ke kuburan suci atau para Wali Songo. (Sumber teks dan foto: https://id.wikipedia.org/wiki/George_Quinn)
Catatan: Saya tidak mengenal Dr. George Quinn secara pribadi, tetapi ia pernah mengucapkan terima kasih kepada saya melalui email atas "Kamus Indonesia-Tetun, Tetun-Indonesia" (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama; Edisi I: Juli 2007; Edisi II: April 2015) karya saya yang bermanfaat bagi penelitiannya tentang perkembangan agama Katolik Roma di Timor Leste.

Tuesday, March 31, 2020

Indonezia-Esperanta Proverbo (05)

Bildo: https://publicdomainvectors.org

Sambil menyelam minum air. (Trinki akvon dum plonĝado. Signifo: Fari pli ol unu aferon samtempe.)

Kompilis kaj elindoneziigis Yohanes Manhitu

Indonezia-Esperanta Proverbo (04)

Bildo: https://publicdomainvectors.org

Jangan menyimpan seluruh telur dalam satu keranjang. (Ne konservu ĉiujn ovojn en unu korbo. Signifo: Ne risku ĉiujn aktivojn en unu kompanio, ĉar se la kompanio malsukcesas, ĉiuj valoraĵoj perdiĝos.)


Kompilis kaj elindoneziigis Yohanes Manhitu

Indonezia-Esperanta Proverbo (03)

Bildo: https://www.pinterest.com

Untung sepanjang jalan, malang sekejap mata. (Bonŝanca laŭlonge de la vojo, malbonŝanca en palpebrumo. Signifo: Katastrofo povas okazi en ajna momento, do homoj devas esti ĉiam singardaj.)


Kompilis kaj elindoneziigis Yohanes Manhitu

Indonezia-Esperanta Proverbo (02)

Bildo: https://beyondphilosophy.com

Menghela lembu dengan tali, menghela manusia dengan kata. (Tiri bovon per ŝnurego, tiri homon per vortoj. Signifo: Oni devas fari ĉiun laboron laŭ ĝiaj reguloj.)


Kompilis kaj elindoneziigis Yohanes Manhitu

Indonezia-Esperanta Proverbo (01)

Bildo: https://www.businessinsider.com

Bertanam tebu di bibir. (Planti sukerkanojn sur la lipoj. Signifo: Uzi dolĉajn kaj grandiozajn vortojn por persvadi.)


Kompilis kaj elindoneziigis Yohanes Manhitu

Wednesday, February 19, 2020

Puisi "SOUVENONS NOUS" dikutip dalam novel "Les germes étouffés" karya Esso-Wêdéo Agba

Foto: http://www.spla.pro

INFO SASTRA: Puisi asli saya dalam bahasa Prancis, berjudul SOUVENONS NOUS (Yogyakarta, 17 Agustus 2004), tentang perjuangan dan jasa para pahlawan Indonesia, telah dikutip (dari http://francais.agonia.net) ke dalam novel berbahasa Prancis, yang berjudul Les germes étouffés (Abidjan: Editions Eburnie; Lomé: Editions Graines de Pensées, 2005; ISBN 2847701001, 9782847701005). Novel yang terbit di ibu kota Pantai Gading (Côte d'Ivoire), Afrika, ini adalah karya Esso-Wêdéo Agba, seorang novelis yang berasal dari Togo (République togolaise), sebuah negara di Afrika.

Puisi yang dikutipnya tersebut telah terbit di buku kumpulan puisi asli Inggris an Prancis saya yang berjudul A WALK AT NIGHT--Une promenade de nuit (Antwerpen, Belgia: Eldonejo Libera, 12 Desember 2017). 

Berikut adalah puisi Prancis yang dikutip tersebut.

SOUVENONS NOUS

Par: Yohanes Manhitu

Aux semeurs de germe de liberté


Que la route soit plus courte
et qu’on ait une longue vie
pour avoir une nouvelle terre
et pour voir un nouveau ciel.

Le vent souffle encore du ciel
et amène à la fête les drapeaux
ornant le jour et la nuit de joie.
L’océan de la vie est plus clair.

Les pierres tombales des héros
restent fidèles à sa patrie aimée.
Là-bas, sont étendus sur ses lits
les semeurs de germe de liberté.

Aujourd’hui, souvenons nous
les mérites des âmes eternelles
et les os si blancs dans les murs
qui aiment leur terre et leur ciel.

Yogyakarta, le 17 août 2004

Thursday, February 13, 2020

Tatiana Terebinova, penyair kondang dari Rusia


Tak dapat dipungkiri bahwa puisi berkekuatan dahsyat untuk menghubungkan orang tanpa melihat asal-usulnya. Lewat puisi pula, kini saya mengenal Tatiana Terebinova, seorang penyair hebat dari Rusia yang tinggal di Moskow. Ia lulusan Academy of Culture and Arts Moskow dan pemenang Moscow International Festival (1996). Ini profil singkatnya dalam bahasa Inggris:

Tatiana Terebinova is a poet, lives in the city of Otradny, Samara Region and in Moscow. Works in the technique of syllabic-tonic verse, visual verse, free-play, hockey, tank. In 1989 she graduated from the Academy of Culture and Arts in Moscow. Poet Laureate of the Moscow International Festival (1996). Published in the Anthology of Russian vers libre (Moscow, PROMETHEUS, 1991), in the Almanac ARION (Moscow), in the journal "ZHUR-NAL STO-LITSA" (Moscow, 2018-2019), in the magazine Poetry (Moscow, 2018-2019) and others. Her name is mentioned in the Samara Historical and Cultural Encyclopedia (1995).

Buku "Multlingva Frazlibro" di "Germana Esperanto-Biblioteko" (di Aalen, Jerman)

Foto: https://eo.wikipedia.org

INFO LITERASI. Ternyata, buku Multlingva Frazlibro (Rotterdam, Belanda: Universala Esperanto-Asocio [UEA], 2009; sebuah buku percakapan dalam bahasa Esperanto [sebagai bahasa pengantar], Indonesia, Dawan, Tetun Resmi, Melayu Kupang, Inggris, Prancis, Spanyol, dan Portugis) karya saya telah dikoleksi oleh Germana Esperanto-Biblioteko (Perpustakaan Institut Esperanto Jerman; http://geb-aa.square7.ch/aus-gmx/kat/neu_2010.htm) yang berpusat di Aalen, Jerman. Buku percakapan sembilan bahasa ini, yang kini terdapat di beberapa perpustakaan Esperanto, tidak dicetak ulang oleh UEA. Semoga bisa diterbitkan ulang di Eropa oleh penerbit lain. Salam mesra,

Semboyan Latin "Sapientia et Veritas" di Indonesia (Unimor) dan Timor-Leste (UNTL)


Setelah saya telusuri, ternyata ada ± 12 perguruan tinggi di Indonesia yang menggunakan moto dalam bahasa Latin. Di antaranya adalah Universitas Timor (UNIMOR) di Kefamenanu, NTT, yang motonya berbunyi Sapientia et Veritas (Kebijaksanaan dan Kebenaran). Ini menunjukkan bahwa bahasa Latin (bahasa iptek Eropa pada abad-abad silam dan bahasa resmi Gereja Katolik Roma hingga kini) masih menjadi pilihan bagi moto atau semboyan lembaga akademik. Ternyata, Universidade Nacional Timor Lorosa'e (UNTL) di Dili, Timor-Leste, pun menggunakan Sapientia et Veritas sebagai moto. Jadi, kini dua universitas di Pulau Timor mempunyai moto yang sama. Jejak sejarah menunjukkan bahwa Universitas Timor Timur (UNTIM) yang pernah ada di Dili (pada masa Provinsi Timor Timur) juga memakai moto Latin tersebut. ✍️

Saturday, February 1, 2020

Rabindranath Tagore's "Gitanjali" (1913) is now availabe in Dawan (2019)


Gitanjali (Sítnatas) (Yogyakarta: Diandra Kreatif, May 2019) is the very first translation of a Nobel Prize-winning work ever made into Dawan (Uab Meto), the most widely spoken native language of Timor (based on the number of native speakers). The translation project was planned and undertaken single-handedly by Yohanes Manhitu, a Dawan native speaker, writer and translator, from January 2006 to May 2016, and was finally published in May 2019. In the book, you will find the Dawan translations (103 poems) on the left side and those of Rabindranath Tagore himself (103 poems translated in 1912 from Bengali originals and published for the first time in the same year) on the right side, making it easy to compare. The Dawan translation was made from the edition published by The Macmillan Company (New York, 1913). Should you intend to know more about the translation, please let me know by Facebook inbox or email (ymanhitu@gmail.com). Information in the Indonesian language is available at my multilingual blog.

Note: Rabindranath Tagore (1861-1941) became the first non-European (from Calcutta, India) to win the Nobel Prize in Literature (in 1913).

Image: Diandra Kreatif (Yogyakarta, May 2019)

Friday, January 31, 2020

SAN JUAN SOBREVUELA LAS ISLAS DE INDONESIA. TRADUCCIONES DE YOHANES MANHITU


Crear en Salamanca tiene el privilegio de publicar, por vez primera y como anticipo, las cuatro traducciones a idiomas de Indonesia, que del poema 'Llama de Amor Viva' de San Juan de la Cruz, han sido hechas por el poeta y traductor Yohanes Manhitu. El XXII Encuentro de Poetas Iberoamericanos estará dedicado a homenajear al poeta castellano-leonés, quien fuera alumno de la Universidad de Salamanca, y se celebrará a mediados del próximo mes de octubre, coordinado por el poeta Alfredo Pérez Alencart y promovido por la Fundación Salamanca Ciudad de Cultura y Saberes. Estas traducciones serán publicadas en la antología del encuentro, que también se titulará 'Llama de Amor Viva'. (Salamanca, 28 de septiembre de 2019)

Berita Buku Puisi di Harian Spanyol "El Norte de Castilla" (Minggu, 1 Desember 2019)



Asyik! Ternyata nama saya disebut lagi di El Norte de Castilla (koran harian yang berpusat di Valladolid, Spanyol). Kali ini sebagai penerjemah puisi Llama de Amor Viva ("Api Cinta yang Hidup"; karya Santo Yohanes dari Salib; San Juan de la Cruz) ke empat bahasa Austronesia: bahasa Indonesia, Dawan, Tetun Resmi, dan Melayu Kupang di kumpulan puisi multibahasa yang berjudul Y pasaré los fuertes y fronteras. Mari terus belajar, berkarya, dan berbagi!

KETERANGAN: Yang fotonya muncul di halaman koran ini adalah penyair Spanyol Prof. Dr. Alfredo Pérez Alencart (A.P.A.) dari Universitas Salamanca, Spanyol. Beliaulah yang--sejak tahun 2007--sering mengundang saya untuk berpartisipasi, baik dalam antologi puisi asli berbahasa Spanyol maupun antologi puisi terjemahan dari bahasa Spanyol ke bahasa-bahasa lain. ✍️
-------------------------------------------

Kutipan dari berita berbahasa Spanyol yang berjudul El Consistorio publica el poemario 'Y pasaré los fuertes y fronteras' (Minggu, 1 Desember 2019):

Los traductores e idiomas son los siguientes: Stuart Park (inglés); Hasmik Baghdasaryan (armenio); Zhou Chunxia y Juan Ángel Torres Rechy (chino); Sabyasachi Mishra (hindi); Carmen Bulzan (rumano); Abdul Hadi Sadoun (árabe); Vita Viksne (letón); Stefania Di Leo (italiano); Yong-Tae Min (coreano); António Salvado (portugués); Noemí Vizcardo (quechua); Vladimir Vasiliev (ruso); Bernadette Hidalgo-Bachs (francés); Željka Lovrenčić (croata); Sarah Walizada (pastún y persa-dari); Zsuzsa Takács (húngaro); Margalit Matitiahu (hebreo); Pepa Baamonde (gallego); Miloslav Uličný (checo); Urfan Kenî e Îdrîs Ustundag (kurdo); Mainak Adak (bengalí); Roberto Mielgo Merino (euskara); Violeta Boncheva (búlgaro); Susy Delgado (guaraní); Gumercindo Tun Ku (maya); Nely Iglesias y Beate Igler (alemán); Marlon James Sales (tagalo); Irfan Güler y Pepa Baamonde (turco); Helge Krarup (danés); Carles Duarte (catalán); Arysteides Turpana (dulegaya, Panamá); Yohanes Manhitu (indonesio, tetun oficial, dawan y malayo de Kupang); Satoko Tamura (japón); Jüri Talvet (estonio); Gahston Saint-Fleur (creole haitiano); Miek Van Goethem (neerlandés); Francisco Ruiz de Pablos (latín); Dilrabo Bakhronova (uzbeko); María Isabel Maldonado (urdu, Pakistán); Hólmfríður Garðarsdóttir y Linda Vilhjálmsdóttir (islandés); Elías Reynaldo Ajata Rivera (aymara); y Zachari Tamgue y Hortense Sime Sime (ghmálá, Camerún).