Tuesday, June 30, 2020

Ibu guruku cantik sekali


Ini sosok ibu guru bahasa Latin di Amerika Serikat pada tahun 1951. Ketika itu, bahasa Latin masih diajarkan secara luas di berbagai sekolah umum. Banyak manfaatnya belajar bahasa Latin. Ah! Kuteringat deh pada lagu lama dengan potongan lirik ini: Ibu guruku cantik sekali. Mengajar kami bahasa Inggris. 😂

Foto: Cuplikan dari video "Why Study Latin" (di YouTube)

P. Vincent Lechovič, SVD dan karya-karyanya


LECHOVIČ, VINCENT: (lebih dikenal dgn nama Vinzent Leko) seorang pastor Serikat Sabda Allah (S.V.D.) berkebangsaan Slovakia yang pernah berkarya di Soe, TTS, Timor Barat, NTT. Atas usaha kerasnya dengan bantuan beberapa anggota umat Katolik setempat, telah diterbitkan karya-karya penting, yakni terjemahan dalam bahasa Dawan (Uab Meto), seperti "Sulat Knino" (1966), "Katekismus In Nesan" (1969), "Tsi Ta’naeb Uisneno" dan "Oe Mat Neno" (1969). Setelah tiba di tanah airnya, ia menulis dan menerbitkan buku kenangannya tentang Timor, berjudul "Spomienky na Timor" (1992).
--------------------------------------------------------------------
Catatan: Ini bagian kecil (satu entri saja) dari sebuah karya yang lagi digarap. Referensi lengkap terdapat pada naskah. Harap lekas rampung dan terbit.

Foto P. Vincent Lechovič, SVD: dari sampul buku "Spomienky na Timor"

Sunday, May 31, 2020

Undangan untuk menerjemahkan puisi ALTERACIÓN CLIMÁTICA karya Dennis Ávila, penyair Honduras

Foto penyair Dennis Ávila: www.moncloa.com

Kabar gembira! Saya diundang lagi oleh penyair Afredo Pérez Alencart dari Universidad de Salamanca (Universitas Salamanca), Spanyol, untuk ikut serta menerjemahkan puisi Spanyol. Kali ini, yang akan diterjemahkan adalah puisi ALTERACIÓN CLIMÁTICA karya Dennis Ávila, penyair Honduras yang memenangi Premio Internacional de Poesía 'Pilar Fernández Labrador', penghargaan bergengsi di dunia Hispanik. Terjemahan-terjemahan saya sendiri ke bahasa Indonesia, Dawan, Tetun Resmi, dan Melayu Kupang itu bakal diikutkan dalam sebuah antologi multibahasa internasional yang akan terbit di Salamanca, Spanyol, dan diluncurkan pada acara XXIII Encuentro de Poetas Iberoamericanos di kota tersebut. Kiranya dialog antarbahasa bisa lestari. Ini sebuah kesempatan bagus untuk lebih banyak belajar. ✍️

Dua buku saya yang kini terdapat di katalog "The British Library" di London, Inggris

Foto: Yohanes Manhitu, 27 Mei 2020

INFO LITERASI: Dua buah karya saya yang kini terdapat di katalog The British Library di London, Inggris, adalah kumpulan puisi asli berbahasa Esperanto Sub la vasta ĉielo (Candelo, Australia: Mondeto, 2010) dan Kamus Indonesia-Tetun, Tetun-Indonesia (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, Edisi I: Juli 2007; Edisi II: April 2015). (Sumber: http://explore.bl.uk). Semoga karya lain lekas terbit dan menyusul. 

Salam mesra literasi, 🌺

Wednesday, April 29, 2020

"Ser culto es el único modo de ser libre." --José Martí, escritor y político de origen cubano

Imagen: https://www.cuba-si.ch

Ser culto es el único modo de ser libre. (Español)
Being educated is the only way to be free. (English)
Ser educado é a única maneira de ser livre. (Português)
Esti edukita estas la sola maniero por esti libera. (Esperanto)
Berpendidikan adalah satu-satunya cara untuk bebas. (Indonesia)
Hetan edukasaun mak dalan ida mesak de'it atu sai livre. (Tetun TL)

Dr. George Quinn, sang pakar sastra dan budaya Jawa yang berdomisili di Australia

Dr. George Quinn (lahir di Selandia Baru pada tanggal 22 Juli 1943) adalah seorang pakar sastra dan budaya Jawa yang berdomisili di Australia. George Quinn merupakan dosen senior di Australian National University di Canberra. Selain menggeluti sastra dan budaya Jawa, ia juga meneliti tentang perkembangan agama Katolik Roma di Timor Leste. Dan sekarang ia juga mempelajari tradisi masyarakat Jawa berziarah ke kuburan suci atau para Wali Songo. (Sumber teks dan foto: https://id.wikipedia.org/wiki/George_Quinn)
Catatan: Saya tidak mengenal Dr. George Quinn secara pribadi, tetapi ia pernah mengucapkan terima kasih kepada saya melalui email atas "Kamus Indonesia-Tetun, Tetun-Indonesia" (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama; Edisi I: Juli 2007; Edisi II: April 2015) karya saya yang bermanfaat bagi penelitiannya tentang perkembangan agama Katolik Roma di Timor Leste.

Tuesday, March 31, 2020

Indonezia-Esperanta Proverbo (05)

Bildo: https://publicdomainvectors.org

Sambil menyelam minum air. (Trinki akvon dum plonĝado. Signifo: Fari pli ol unu aferon samtempe.)

Kompilis kaj elindoneziigis Yohanes Manhitu

Indonezia-Esperanta Proverbo (04)

Bildo: https://publicdomainvectors.org

Jangan menyimpan seluruh telur dalam satu keranjang. (Ne konservu ĉiujn ovojn en unu korbo. Signifo: Ne risku ĉiujn aktivojn en unu kompanio, ĉar se la kompanio malsukcesas, ĉiuj valoraĵoj perdiĝos.)


Kompilis kaj elindoneziigis Yohanes Manhitu

Indonezia-Esperanta Proverbo (03)

Bildo: https://www.pinterest.com

Untung sepanjang jalan, malang sekejap mata. (Bonŝanca laŭlonge de la vojo, malbonŝanca en palpebrumo. Signifo: Katastrofo povas okazi en ajna momento, do homoj devas esti ĉiam singardaj.)


Kompilis kaj elindoneziigis Yohanes Manhitu

Indonezia-Esperanta Proverbo (02)

Bildo: https://beyondphilosophy.com

Menghela lembu dengan tali, menghela manusia dengan kata. (Tiri bovon per ŝnurego, tiri homon per vortoj. Signifo: Oni devas fari ĉiun laboron laŭ ĝiaj reguloj.)


Kompilis kaj elindoneziigis Yohanes Manhitu

Indonezia-Esperanta Proverbo (01)

Bildo: https://www.businessinsider.com

Bertanam tebu di bibir. (Planti sukerkanojn sur la lipoj. Signifo: Uzi dolĉajn kaj grandiozajn vortojn por persvadi.)


Kompilis kaj elindoneziigis Yohanes Manhitu

Wednesday, February 19, 2020

Puisi "SOUVENONS NOUS" dikutip dalam novel "Les germes étouffés" karya Esso-Wêdéo Agba

Foto: http://www.spla.pro

INFO SASTRA: Puisi asli saya dalam bahasa Prancis, berjudul SOUVENONS NOUS (Yogyakarta, 17 Agustus 2004), tentang perjuangan dan jasa para pahlawan Indonesia, telah dikutip (dari http://francais.agonia.net) ke dalam novel berbahasa Prancis, yang berjudul Les germes étouffés (Abidjan: Editions Eburnie; Lomé: Editions Graines de Pensées, 2005; ISBN 2847701001, 9782847701005). Novel yang terbit di ibu kota Pantai Gading (Côte d'Ivoire), Afrika, ini adalah karya Esso-Wêdéo Agba, seorang novelis yang berasal dari Togo (République togolaise), sebuah negara di Afrika.

Puisi yang dikutipnya tersebut telah terbit di buku kumpulan puisi asli Inggris an Prancis saya yang berjudul A WALK AT NIGHT--Une promenade de nuit (Antwerpen, Belgia: Eldonejo Libera, 12 Desember 2017). 

Berikut adalah puisi Prancis yang dikutip tersebut.

SOUVENONS NOUS

Par: Yohanes Manhitu

Aux semeurs de germe de liberté


Que la route soit plus courte
et qu’on ait une longue vie
pour avoir une nouvelle terre
et pour voir un nouveau ciel.

Le vent souffle encore du ciel
et amène à la fête les drapeaux
ornant le jour et la nuit de joie.
L’océan de la vie est plus clair.

Les pierres tombales des héros
restent fidèles à sa patrie aimée.
Là-bas, sont étendus sur ses lits
les semeurs de germe de liberté.

Aujourd’hui, souvenons nous
les mérites des âmes eternelles
et les os si blancs dans les murs
qui aiment leur terre et leur ciel.

Yogyakarta, le 17 août 2004

Thursday, February 13, 2020

Tatiana Terebinova, penyair kondang dari Rusia


Tak dapat dipungkiri bahwa puisi berkekuatan dahsyat untuk menghubungkan orang tanpa melihat asal-usulnya. Lewat puisi pula, kini saya mengenal Tatiana Terebinova, seorang penyair hebat dari Rusia yang tinggal di Moskow. Ia lulusan Academy of Culture and Arts Moskow dan pemenang Moscow International Festival (1996). Ini profil singkatnya dalam bahasa Inggris:

Tatiana Terebinova is a poet, lives in the city of Otradny, Samara Region and in Moscow. Works in the technique of syllabic-tonic verse, visual verse, free-play, hockey, tank. In 1989 she graduated from the Academy of Culture and Arts in Moscow. Poet Laureate of the Moscow International Festival (1996). Published in the Anthology of Russian vers libre (Moscow, PROMETHEUS, 1991), in the Almanac ARION (Moscow), in the journal "ZHUR-NAL STO-LITSA" (Moscow, 2018-2019), in the magazine Poetry (Moscow, 2018-2019) and others. Her name is mentioned in the Samara Historical and Cultural Encyclopedia (1995).

Buku "Multlingva Frazlibro" di "Germana Esperanto-Biblioteko" (di Aalen, Jerman)

Foto: https://eo.wikipedia.org

INFO LITERASI. Ternyata, buku Multlingva Frazlibro (Rotterdam, Belanda: Universala Esperanto-Asocio [UEA], 2009; sebuah buku percakapan dalam bahasa Esperanto [sebagai bahasa pengantar], Indonesia, Dawan, Tetun Resmi, Melayu Kupang, Inggris, Prancis, Spanyol, dan Portugis) karya saya telah dikoleksi oleh Germana Esperanto-Biblioteko (Perpustakaan Institut Esperanto Jerman; http://geb-aa.square7.ch/aus-gmx/kat/neu_2010.htm) yang berpusat di Aalen, Jerman. Buku percakapan sembilan bahasa ini, yang kini terdapat di beberapa perpustakaan Esperanto, tidak dicetak ulang oleh UEA. Semoga bisa diterbitkan ulang di Eropa oleh penerbit lain. Salam mesra,

Semboyan Latin "Sapientia et Veritas" di Indonesia (Unimor) dan Timor-Leste (UNTL)


Setelah saya telusuri, ternyata ada ± 12 perguruan tinggi di Indonesia yang menggunakan moto dalam bahasa Latin. Di antaranya adalah Universitas Timor (UNIMOR) di Kefamenanu, NTT, yang motonya berbunyi Sapientia et Veritas (Kebijaksanaan dan Kebenaran). Ini menunjukkan bahwa bahasa Latin (bahasa iptek Eropa pada abad-abad silam dan bahasa resmi Gereja Katolik Roma hingga kini) masih menjadi pilihan bagi moto atau semboyan lembaga akademik. Ternyata, Universidade Nacional Timor Lorosa'e (UNTL) di Dili, Timor-Leste, pun menggunakan Sapientia et Veritas sebagai moto. Jadi, kini dua universitas di Pulau Timor mempunyai moto yang sama. Jejak sejarah menunjukkan bahwa Universitas Timor Timur (UNTIM) yang pernah ada di Dili (pada masa Provinsi Timor Timur) juga memakai moto Latin tersebut. ✍️

Saturday, February 1, 2020

Rabindranath Tagore's "Gitanjali" (1913) is now availabe in Dawan (2019)


Gitanjali (Sítnatas) (Yogyakarta: Diandra Kreatif, May 2019) is the very first translation of a Nobel Prize-winning work ever made into Dawan (Uab Meto), the most widely spoken native language of Timor (based on the number of native speakers). The translation project was planned and undertaken single-handedly by Yohanes Manhitu, a Dawan native speaker, writer and translator, from January 2006 to May 2016, and was finally published in May 2019. In the book, you will find the Dawan translations (103 poems) on the left side and those of Rabindranath Tagore himself (103 poems translated in 1912 from Bengali originals and published for the first time in the same year) on the right side, making it easy to compare. The Dawan translation was made from the edition published by The Macmillan Company (New York, 1913). Should you intend to know more about the translation, please let me know by Facebook inbox or email (ymanhitu@gmail.com). Information in the Indonesian language is available at my multilingual blog.

Note: Rabindranath Tagore (1861-1941) became the first non-European (from Calcutta, India) to win the Nobel Prize in Literature (in 1913).

Image: Diandra Kreatif (Yogyakarta, May 2019)

Friday, January 31, 2020

SAN JUAN SOBREVUELA LAS ISLAS DE INDONESIA. TRADUCCIONES DE YOHANES MANHITU


Crear en Salamanca tiene el privilegio de publicar, por vez primera y como anticipo, las cuatro traducciones a idiomas de Indonesia, que del poema 'Llama de Amor Viva' de San Juan de la Cruz, han sido hechas por el poeta y traductor Yohanes Manhitu. El XXII Encuentro de Poetas Iberoamericanos estará dedicado a homenajear al poeta castellano-leonés, quien fuera alumno de la Universidad de Salamanca, y se celebrará a mediados del próximo mes de octubre, coordinado por el poeta Alfredo Pérez Alencart y promovido por la Fundación Salamanca Ciudad de Cultura y Saberes. Estas traducciones serán publicadas en la antología del encuentro, que también se titulará 'Llama de Amor Viva'. (Salamanca, 28 de septiembre de 2019)

Berita Buku Puisi di Harian Spanyol "El Norte de Castilla" (Minggu, 1 Desember 2019)



Asyik! Ternyata nama saya disebut lagi di El Norte de Castilla (koran harian yang berpusat di Valladolid, Spanyol). Kali ini sebagai penerjemah puisi Llama de Amor Viva ("Api Cinta yang Hidup"; karya Santo Yohanes dari Salib; San Juan de la Cruz) ke empat bahasa Austronesia: bahasa Indonesia, Dawan, Tetun Resmi, dan Melayu Kupang di kumpulan puisi multibahasa yang berjudul Y pasaré los fuertes y fronteras. Mari terus belajar, berkarya, dan berbagi!

KETERANGAN: Yang fotonya muncul di halaman koran ini adalah penyair Spanyol Prof. Dr. Alfredo Pérez Alencart (A.P.A.) dari Universitas Salamanca, Spanyol. Beliaulah yang--sejak tahun 2007--sering mengundang saya untuk berpartisipasi, baik dalam antologi puisi asli berbahasa Spanyol maupun antologi puisi terjemahan dari bahasa Spanyol ke bahasa-bahasa lain. ✍️
-------------------------------------------

Kutipan dari berita berbahasa Spanyol yang berjudul El Consistorio publica el poemario 'Y pasaré los fuertes y fronteras' (Minggu, 1 Desember 2019):

Los traductores e idiomas son los siguientes: Stuart Park (inglés); Hasmik Baghdasaryan (armenio); Zhou Chunxia y Juan Ángel Torres Rechy (chino); Sabyasachi Mishra (hindi); Carmen Bulzan (rumano); Abdul Hadi Sadoun (árabe); Vita Viksne (letón); Stefania Di Leo (italiano); Yong-Tae Min (coreano); António Salvado (portugués); Noemí Vizcardo (quechua); Vladimir Vasiliev (ruso); Bernadette Hidalgo-Bachs (francés); Željka Lovrenčić (croata); Sarah Walizada (pastún y persa-dari); Zsuzsa Takács (húngaro); Margalit Matitiahu (hebreo); Pepa Baamonde (gallego); Miloslav Uličný (checo); Urfan Kenî e Îdrîs Ustundag (kurdo); Mainak Adak (bengalí); Roberto Mielgo Merino (euskara); Violeta Boncheva (búlgaro); Susy Delgado (guaraní); Gumercindo Tun Ku (maya); Nely Iglesias y Beate Igler (alemán); Marlon James Sales (tagalo); Irfan Güler y Pepa Baamonde (turco); Helge Krarup (danés); Carles Duarte (catalán); Arysteides Turpana (dulegaya, Panamá); Yohanes Manhitu (indonesio, tetun oficial, dawan y malayo de Kupang); Satoko Tamura (japón); Jüri Talvet (estonio); Gahston Saint-Fleur (creole haitiano); Miek Van Goethem (neerlandés); Francisco Ruiz de Pablos (latín); Dilrabo Bakhronova (uzbeko); María Isabel Maldonado (urdu, Pakistán); Hólmfríður Garðarsdóttir y Linda Vilhjálmsdóttir (islandés); Elías Reynaldo Ajata Rivera (aymara); y Zachari Tamgue y Hortense Sime Sime (ghmálá, Camerún).