Wednesday, December 30, 2020

Di dalam hatimu

Foto: https://lindagraham-mft.net

Oleh: Elena Liliana Popescu

Di setiap waktu,
sebuah dunia runtuh
dan yang lain ‘kan lahir...

Kau terus menjadi
saksi bagi perubahan
dari dunia keduaan.

Lepaskan dirimu
agar bisa melampaui
apa yang perlu.

Temukan dalam dirimu daya itu
yang menopangmu
untuk hidup.

Pengalamanmu tumbuh
dari waktu ke waktu,
agar ia boleh menyatu denganmu.

Percayalah
pada dirimu sendiri:
tiada yang ‘kan menghentikanmu.

Ia yang kini
selalu sertamu
dalam hatimu.

Diterjemahkan oleh Yohanes Manhitu (dari
versi Spanyol, Prancis, Portugis, dan Inggris)
Yogyakarta, Indonesia, 20 Desember 2019

Judul asli dalam bahasa Rumania: În inima ta

Ketika kau di dalam dirimu sendiri ...

Foto: https://www.123rf.com

Oleh: Elena Liliana Popescu

Akankah ini menjadi pertanyaan terakhir
dari sungai yang terbenam di laut:
“Apa arti kehidupan, sesungguhnya?”
Atau, kematiannya ia terima ikhlas...

Telah berapa jarak yang ia tempuh dengan berlari sia-sia
dalam mimpi-mimpi yang dihidupi tahun demi tahun
dengan percaya bahwa ia tahu—tertipu akal,
ia pun menyimpang dari sumbernya

Dari relung dirinya yang terdalam,
di sana, di mana tiada kejahatan
dan di mana yang hilang ditemukan
ketika kau di dalam dirimu sendiri terserap...

Diterjemahkan oleh Yohanes Manhitu (dari 
versi Spanyol, Prancis, Portugis, dan Inggris)
Yogyakarta, Indonesia, 20 Desember 2019

Judul asli berbahasa Rumania: Când eşti în tine însuţi…

Wednesday, November 4, 2020

Something very important from an African writer

"If you know all the languages of the world, and you don't know your mother tongue or your first language or the language of your culture, than that is actually self-enslavement. This is very important. But if you know your mother tongue or your first language, then add all the languages of the world to it, that is empowerment." ---Ngũgĩ wa Thiong'o, renowned African writer

(These words of Ngũgĩ are quoted from a YouTube video)

Picture of Ngũgĩ: https://news.uci.edu

Sebuah Berkah Terselubung

Terjebak hujan deras di toko buku, apalagi yang nyaman, adalah sebuah berkah terselubung, jika dilihat secara positif. Itulah yang terjadi beberapa hari lalu, ketika saya lagi asyik "berburu" karya cetak di sebuah toko buku terkenal di Kota Gudeg. Syukur, saya bisa mendapatkan beberapa buku yang "diburu". Perlu diketahui bahwa target "ninja", apalagi pemakai masker biru yang tak menguasai jurus apa pun, tak harus musuh organisasi atau negara. 

Foto: Oleh diri sendiri; Buku: LAUTAN REMPAH: Peninggalan Portugis di Nusantara (Penulis: Joaquim Magalhães de Castro; Jakarta: Elex Media Komputindo, 2019). Buku ini sebuah catatan perjalanan yang menarik.

Friday, October 23, 2020

Di Ujung Jalan Kemewahan

Foto: https://www.ltgawards.com

Terkadang, di ujung jalan kemewahan
yang telah kuat mematikan api juang,
orang menoleh bisu ke belakang
dan merindukan kesahajaan
yang setia menjaga nyala
pelita pencariannya. 

(Membatin saja!)

Thursday, October 22, 2020

Perihal Nama-Nama yang Digunakan untuk Publikasi


Sekadar info. Sejauh ini, saya menggunakan tiga nama untuk buku-buku yang saya "bidani" atau "lahirkan", baik itu karya asli maupun terjemahan. Nama-nama itu adalah "Yohanes Manhitu" (nama resmi, digunakan untuk hampir semua publikasi saya), "Johanes Manhitu", dan "John Manhitu". Dua buku yang secara jelas menggunakan nama selain nama resmi saya adalah:

  1. Kamus Ringkas Inggris-Indonesia TruAlfa (Jakarta: Elex Media Komputindo, 2005) dengan nama "Johanes Manhitu" (huruf pertama "J", alih-alih "Y"). Status saya dalam penyusunan kamus ini adalah rekan kerja sama. Penggagasnya adalah Wayne B. Krause dari Amerika Serikat. Kerja sama kami membuahkan dua kamus dwibahasa TruAlfa. Yang lain adalah Kamus Indonesia-Inggris TruAlfa (Jakarta: Elex Media Komputindo, 2002). Kamus yang ini lebih tebal dan lebih dahulu terbit.
  2. A Woman Called Lasmi (diluncurkan di Three Monkeys Cafe Bali, Jumat, 7 Oktober 2011), terjemahan dari novel Lasmi (Kakilangit Kencana Jakarta, 2009), karya Nusya Kuswantin. Di sini, status saya adalah penerjemah Indonesia-Inggris. Dengan jelas, nama "John Manhitu" (versi Inggris nama saya) tertera di bagian dalam buku.

Griya Piyungan Asri, Yogyakarta, 21 Oktober 2020

Saturday, October 17, 2020

Salah Satu Keunikan Bahasa Esperanto

Foto: https://animals.net

Oleh: Yohanes Manhitu

Dalam bahasa Esperanto, susunan kalimat bisa diubah-ubah hingga enam kali, tetapi arti kalimat tetap sama, dengan penekanan tertentu. Bahasa lain, yang saya tahu mempunyai kelenturan seperti ini, adalah bahasa Latin. Barangkali masih ada bahasa lain lagi, tetapi maaf, saya belum tahu.

Contoh kalimat Esperanto untuk "Burung menangkap serangga":

  1. Birdo kaptas insekton.
  2. Birdo insekton kaptas.
  3. Kaptas birdo insekton.
  4. Kaptas insekton birdo.
  5. Insekton kaptas birdo.
  6. Insekton birdo kaptas.
Birdo = burung; kaptas = bentuk sekarang (-as) dari kapti (menangkap, sebagai infinitif); insekto = serangga; -n = pemarkah objek langsung

Catatan: Yang memungkinkan "keajaiban" ini terjadi adalah penanda objek, yaitu -n, yang tampak pada insekton (serangga sebagai objek). Faktor ini memungkinkan kelenturan susunan kalimat puisi berbahasa Esperanto.


Griya Piyungan Asri, Yogyakarta, 17 Oktober 2020

Thursday, October 15, 2020

Pantun: Menulis Puisi

Foto: www.pinterest.com

Oleh: Yohanes Manhitu

Dari pasar, membawa terasi.
Tak lupa beli kue rembulan.
Duduk-duduk menulis puisi.
Akan terbit satu kumpulan.

Yogyakarta, 15 Okt. 2020

Wednesday, October 14, 2020

Pantun: Bibir Cerah

Foto: https://www.shelookbook.com

 
Oleh: Yohanes Manhitu

Memetik buah, isinya merah.
Dilirik burung bersuara merdu.
Apalah artinya bibir yang cerah
Bila terus lontarkan kata sendu?

Yogyakarta, 14 Oktober 2020

Tuesday, October 6, 2020

Pantun: Bahasa Pemersatu

Gambar: https://nasional.sindonews.com

Oleh: Yohanes Manhitu

Di tepi danau, terlihat angsa
Hinggap sebentar di atas batu.
Apalah nasib suatu bangsa
Bila tiada bahasa pemersatu.

Yogyakarta, 6 Oktober 2020

Pantun: Tak Lupa Masker

Foto: riau1.com 

Oleh: Yohanes Manhitu

Bocah-bocah main keneker.
Lebih lincah si bocah kurus.
Mau pergi, tak lupa masker,
supaya aman dari si virus.

Yogyakarta, 6 Okt. 2020

Saturday, October 3, 2020

Pantun: Datang Sabtu

Gambar: https://inet.detik.com

Jalan desa, jalan berbatu.
Rasa sejuk, disapa angin.
Setiap kali datang Sabtu,
sebentar lagi tiba Senin.

(Oleh: Yohanes Manhitu;
Yogyakarta, 3/9/2020)

Wednesday, September 30, 2020

Pantun penghujung bulan

https://www.pikist.com

Oleh: Yohanes Manhitu

Pergi ke pasar dengan berjalan.
Di sana, orang ramai berseru.
Ternyata sudah akhir bulan.
Sebentar lagi bulan baru.

(Yogyakarta, 30/9/2020)

Wednesday, September 9, 2020

LAGU TETUN, TONNY PEREIRA, DAN ANGELINA

Secara pribadi, saya merasa berutang budi kepada pada penyanyi dalam bahasa Tetun Dili (Tetun Portu, Tetun Prasa), terutama Tonny Pereira. Masa kecil saya tak lepas dari lagu-lagu Tetun, yang tentu saja berdampak positif bagi saya hingga kini. Walaupun tinggal jauh dari Timor, saya berkomitmen untuk tetap bisa berbahasa Tetun (di samping bahasa Dawan) dengan baik, terutama sebagai orang Timor yang (mesti) punya tanggung jawab budaya.

Disadari ataupun tidak, para penyanyi (dan tentu para komponis juga) banyak berjasa dalam pelestarian dan kelestarian bahasa. Orang Jawa tentu sangat kehilangan penyanyi hebat yang bernama Didi Kempot. Dan orang Tetun yang sadar budaya pasti kehilangan penyanyi Manek Babulu (penyanyi dari Malaka, Timor Barat). Kita pun tahu bahwa sederet panjang lagu kebangsaan dalam bahasa Indonesia yang digubah oleh para komponis hebat kita di masa perjuangan dahulu menegaskan posisi dan peranan bahasa Indonesia.

Kembali ke lagu Tetun dan Tonny Pereira. Salah satu lagu Tetun yang masih bisa saya nyanyikan dengan iringan gitar adalah Angelina. Lagu yang dilantukan dengan apik oleh Tonny Pereira ini adalah gubahan Anito Matos, seorang komponis dan penyanyi kawakan dari Timor-Leste. Lagu ini sungguh akrab di telinga banyak orang pada masa kecil saya, sebagai bocah penghirup udara segar di pedalaman Timor. Semoga para musisi sehat dan penuh semangat. Karya mereka perlu terus mewarnai hari-hari hidup kita.

Foto: Cuplikan dari lagu Angelina di album Tonny Pereira

TIGA PUISI TERJEMAHAN SAYA (DARI BAHASA SPANYOL KE BAHASA INDONESIA) BARU SAJA TERBIT DI SALAMANCA, SPANYOL

Tabik! Sesudah menyelesaikan terjemahan puisi ALTERACIÓN CLIMÁTICA karya Dennis Ávila (penyair Honduras yang memenangi "Premio Internacional de Poesía 'Pilar Fernández Labrador'", penghargaan puisi bergengsi di dunia Hispanik) ke bahasa Indonesia, Dawan, Tetun Resmi, dan Melayu Kupang, saya diundang lagi untuk menerjemahkan tiga puisi Spanyol karya penyair Afredo Pérez Alencart ke bahasa Indonesia, masing-masing berjudul KAMP PENGUNGSI (hlm. 32), SEMOGA ITU TAK PERNAH TERJADI PADAMU (hlm. 50), dan PENGHINAAN KEMISKINAN (hlm. 68). Terjemahan-terjemahan saya, bersama-sama dengan terjemahan-terjemahan ke bahasa-bahasa lain di dunia, telah terbit dalam bulan ini di sebuah antologi puisi multibahasa yang berjudul TRÍPTICO DE LA INDIGNACIÓN (Salamanca, Spanyol: Trilce Ediciones, September 2020). Salam mesra sastra,

Foto sampul depan: Kiriman dari Spanyol

Wednesday, September 2, 2020

Profil Saya, Penerjemah, di Marstranslation.com

Gambar: https://wpml.org

Profil saya sebagai penerjemah profesional yang bekerja sama dengan Mars Translation, terutama untuk pasangan bahasa Inggris-Tetun, dapat dilihat di sini. Mars Translation berkantor pusat di Guangdong, Republik Rakyat China.

Puisi "Malsatego" Karya Saya (Berbahasa Esperanto) Dibacakan oleh Aaron Vsigte di YouTube


Malsatego

De: Yohanes Manhitu

La folioj de la arboj
tuj fariĝas purpuraj
dum la tagoj tiel longaj
sen nutraĵo, sen trinkaĵoj.

Grano de rizo estas oro,
panero fariĝas perlo,
viando restas revo
kiam venas malsatego.

Almozistoj en la strato
povas rakonti historon
pri la stomako sen rizo
kiu atendas kontentigon.

Se vi volas scii la veron
pri havado de nenio en la mano,
vi ne intervjuu la riĉulon
ĉar troviĝas ĉio en lia domo.

Jogjakarto, Indonezio, 13/IV/2007
------------------------------------------
Catatan: Puisi ini berasal dari http://ymanhitu-poemoj.blogspot.com/2007/04/malsatego.html.

Sunday, August 30, 2020

PERUBAHAN CUACA*

Oleh: Dennis Ávila Vargas**

Ada satu pusaran pada kucing besar yang menciptakan gurun-gurun.

Dengan gerakan lambat, jatuhlah longsoran,
ruang mesin itu sebuah gunung berapi.

Barisan gunung mengawal nadirnya,
dan dalam lipatan malam
sang hari mengeluarkan bintang-bintang.

Sebuah meteorit mengusik tumbuh-tumbuhan.
Dampaknya mengguncang kolam-kolam.
Bunga-bunga teratai menata air.

Semuanya menunjukkan gigi mereka;
di setiap pakis ada gergaji hijau,
yang polos dan rangkap.

Di daerah yang tertutup es
beruang kutub dan pembunuh saling memburu,
untuk mengecoh rasa lapar.

Tiba-tiba itulah nama kebalikannya:
kristal-kristal menua agar tampak muda,
keseimbangan mengejar luka
dan bukan bekas luka.

Para ilah lupa menjilat tubuh sendiri
seperti jaguar-jaguar
pada saat istirahat mereka.

Sang planet menderita di setiap langkah.
Ada kucing besar di pusaran hari-harinya.

Terjemahan ke bahasa Indonesia: Yohanes Manhitu
Yogyakarta, Indonesia, 15 Juli 2020
------------------------------------
*) Judul asli puisi ini adalah "ALTERACIÓN CLIMÁTICA". Puisi ini bersama dengan versi Dawan, Tetun Resmi, dan Melayu Kupang--yang saya buat sekaligus dengan versi Indonesia ini--bakal diikutkan dalam sebuah antologi multibahasa yang akan terbit di Salamanca, Spanyol, dan diluncurkan pada acara "XXIII Encuentro de Poetas Iberoamericanos" di kota tersebut.
**) Dennis Ávila Vargas (lahir di Tegucigalpa, Honduras, 13 September 1981) adalah penyair Honduras, pemenang "Premio Internacional de Poesía 'Pilar Fernández Labrador'", penghargaan bergengsi di dunia puisi Hispanik.

Foto: https://www.greeners.co

Buku-Buku Saya yang Kini Terdapat di Katalog "The Library of Congress"

Tabik! Untuk mengetahui buku-buku saya yang kini terdapat di katalog "The Library of Congress" (Perpustakaan Kongres Amerika Serikat di Washington), silakan klik di http://id.loc.gov/authorities/names/n2007203560.html. Sebagai informasi, menurut Wikipedia, "The Library of Congress" adalah perpustakaan terbesar di dunia dari segi luas rak buku dan total koleksi buku. Salam,

Sebuah Karya Peraih Nobel Sastra Telah Diterjemahkan ke Bahasa Dawan, Bahasa Timor dengan Penutur Asli Terbanyak

"GITANJALI (SÍTNATAS)" adalah kumpulan puisi Dawan-Inggris yang memuat 103 puisi Dawan (yang telah saya terjemahkan langsung dari "Gitanjali (Song Offerings)" versi Inggris [tahun 1913]) dan 103 puisi Inggris (terjemahan Rabindranath Tagore dari karya-karyanya sendiri dalam bahasa Bengali). Rabindranath Tagore adalah pujangga kenamaan India dan sastrawan Asia pertama yang menerima Hadiah Nobel Sastra [tahun 1913]. Ia juga adalah pelukis dan komponis (pencipta lagu kebangsaan India dan Bangladesh).

Di dalam buku ini, puisi-puisi terjemahan Dawan saya terletak di halaman kiri, sedangkan versi Inggris (yang diterjemahkan Rabindranath Tagore sendiri) berada di halaman kanan. Pencantuman 103 puisi Inggris terjemahan Tagore di dalam buku ini hanya mungkin setelah "Gitanjali (Song Offerings)" terbitan "The Macmillan Company" (New York, 1913) masuk ke ranah publik (public domain) pada tahun 2011. Terjemahan "Gitanjali (Song Offerings)" ke bahasa Dawan (Uab Metô) ini dimulai pada tanggal 28 Januari 2006 dan rampung pada tanggal 24 Mei 2016 (membutuhkan 10 tahun). Tetapi karena berbagai kesibukan, akhirnya baru bisa terbit tahun lalu. Setahu saya, dalam sejarah, "GITANJALI (SÍTNATAS)" adalah terjemahan perdana ke bahasa Dawan dari sebuah karya pemenang Nobel Sastra. Apakah ia juga merupakan terjemahan perdana ke bahasa daerah di NTT dan bahasa nasional di Timor-Leste? Silakan selidiki secara saksama di gudang data literasi yang tersedia.

CATATAN: Seluruh terjemahan saya ke bahasa Dawan (bahasa Timor yang terbesar, berdasarkan jumlah penutur asli; yang terbesar kedua adalah bahasa Tetun) di dalam buku puisi dwibahasa ini telah saya bandingkan sendiri dengan terjemahan André Gide ke bahasa Prancis ("L'Offrande lyrique", 1917) dan terjemahan Ramón Jiménez dan istrinya, Zenobia Camprubí, ke bahasa Spanyol ("Ofrenda lírica", 1918) untuk "rujuk konstruktif antarterjemahan". Untuk diketahui, André Gide (1869–1951) adalah sastrawan terkemuka Prancis dan penerima Hadiah Nobel Sastra tahun 1947, sedangkan Juan Ramón Jiménez (1881–1958) adalah sastrawan terkemuka Spanyol dan penerima Hadiah Nobel Sastra tahun 1956.
------------------------------------------------

KETERANGAN PRODUK

Penerbit: Diandra Kreatif, Yogyakarta
ISBN (13): 978-602-336-824-2
Ukuran: 14 X 20,5
Tanggal terbit: 17 Mei 2019
Halaman: 245
Bahasa: Dawan dan Inggris
Tipe jilid: Sampul tipis
Harga: Rp 80.000,-
-----------------------

Foto sampul depan: Diandra Kreatif, Mei 2019


Tulisan ini sudah tersedia juga di https://www.kompasiana.com.

Buku Koleksi Baru dari Balai dan Kantor (2019)

 

Jejak-Jejak Langkah Awal Saya di Dunia Siber

Foto: Dokumen pribadi (21/07/2020)

Syukur! Ternyata situs web pribadi yang saya rancang sendiri secara gratis di Yogyakarta (dimulai pada hari Sabtu, 10 Februari 2001) masih bisa dijumpai di internet. Memang situs itu tidak seutuh dahulu, ketika masih maksimal, tetapi cukup bisa dibuka dan tentu sangat penting bagi saya secara pribadi untuk melihat jejak-jejak langkah awal saya di dunia siber. Halaman utamanya bisa dibaca dalam lima bahasa: Inggris, Indonesia, Prancis, Spanyol, dan Portugis.

Pada saat itu, saya baru 6 bulan tinggal di Yogyakarta dan lagi menggandrungi bahasa-bahasa baru, sastra, dan juga internet. Masih teringat malam-malam panjang di warnet bersama dengan Bung Yos Tamonob. Kami asyik sendiri di bilik masing-masing di warnet langganan kami, Starnet, tepat di luar tembok keraton, untuk mengurus situs-situs web gratis kami. Kantuk tak digubris!

Saya baru perlahan-lahan beralih ke blogspot.com (dengan blog utama di https://ymanhitu.blogspot.com) pada bulan Maret 2007 ketika layanan gratis geocities berakhir. Situs web geocities itu menyimpan begitu banyak kenangan saya sebagai pemelajar di Kota Gudeg ini. Kata si bijak, langkah yang panjang dimulai dari sebuah langkah kecil, termasuk di dunia maya. Salam literasi,

Thursday, July 30, 2020

Selamat jalan! Semoga beristirahat dalam damai.

Foto: https://seleb.tempo.co

Turut berdukacita sedalam-dalamnya atas meninggalnya sastrawan kawakan Ajip Rosidi (1938-2020)! Sang profesor tanpa ijazah sarjana dan begawan sastra Sunda dan Indonesia itu telah pergi untuk selama-lamanya. Selamat jalan, sang penggagas Hadiah Sastra Rancage! Semoga arwahmu menikmati istirahat dan damai di Alam Mahapuitis! Nama dan karyamu akan abadi. (Piyungan, DIY, 30 Juli 2020). 🌺  

Artikel Saya Dikutip dalam Sebuah Tesis di Universitas Negeri Medan



Dalam tesisnya (untuk memperoleh gelar Magister Humaniora [M.Hum.]) yang berjudul THE ATTITUDES OF UNIVERSITY STUDENTS OF BATUBARA IN MEDAN TOWARDS BATUBARA MALAY LANGUAGE, Julisah Izar, dari Jurusan Linguistik pada Universitas Negeri Medan, Sumatra Utara, mengutip pendapat saya (yang ia terjemahan ke bahasa Inggris), bunyinya begini:

Yohanes Manhitu (2011) states that there are some consideration of using ethnics languages those are : as a tool for showing the culture, as the identity of the nation, part of the Indonesian culture mosaic and world, the bridge between generation, the language introduction in the school such as local content, Attitudes towards a particular language might be either positive or negative. Some the users of language may have negative attitudes towards the second language and want to learn it in order to preveil over people in the community. (Sumber: Silakan klik di sini)

Catatan: Artikel yang menjadi sumber kutipan di atas berjudul Bahasa Daerah: Kekayaan Budaya yang Harus Tetap Lestari dan dapat dibaca di sini. Terima kasih atas kutipan ini. Semoga tulisan-tulisan yang telah dibuat bermanfaat seluas-luasnya bagi yang membutuhkan. Salam mesra buat semua!


Foto Rumat Adat Batubara di Medan: https://travel.detik.com

HA'U HAKARAK (Terjemahan Sebagai Perhormatan kepada Sastrawan Sapardi Djoko Damono

Foto: https://www.skymetweather.com

Ha'u hakarak hadomi ó ho dalan simples
ho liafuan ne'ebé ai la biban atu dehan ba ahi mak halo nia sai ahun
Ha'u hakarak hadomi ó ho dalan simples
ho sinál ne'ebé kalohan la biban atu dehan ba udan mak halo nia lakon

— Sapardi Djoko Damono (1940–2020), poeta boot ida Indonézia nian

---------------------------------------------

*) Tradusaun ba lia-tetun: Yohanes Manhitu (19 Jullu 2020; versaun orijinál hetan iha-ne'e). Ne'e ha'u-nia omenajen ba poeta Sapardi Djoko Damono, ne'ebé ohin hakat ba mundu seluk. Nia bele hanesan kalohan be udan halakon, maibé ninia naran no knaar sei moris nafatin.

"Kamus Indonesia-Tetun, Tetun-Indonesia" Dikutip dalam Sebuah Jurnal Ilmiah di Papua

Gambar: http://kibascenderawasih.kemdikbud.go.id 

INFO LITERASI: Syukur, Kamus Indonesia-Tetun, Tetun-Indonesia (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, Edisi I: Juli 2007; Edisi II: April 2015) sudah lebih sering dijadikan rujukan penulisan karya ilmiah, baik di dalam maupun di luar negeri. Kali ini, bagian karya itu dikutip oleh Antonius Maturbongs, dari Balai Bahasa Papua di Jayapura, dalam tulisannya yang berjudul PERAN SEMANTIS VERBA BAHASA TETUN DI TIMOR LESTE (terbit di jurnal ilmiah "Kibas Cenderawasih", Vol. 15, No. 1, April 2018:33—52). Silakan baca tulisan tersebut di sini.

(Babadan Asri, DIY, 17 Juli 2020, pada masa karantina mandiri)

"Kamus Indonesia-Tetun, Tetun-Indonesia" dalam Sebuah Tulisan di Jurnal Universitas di NTT

Foto: Dokumen pribadi penulis
INFO LITERASI: Catatan-catatan saya tentang bahasa Tetun (dalam Kamus Indonesia-Tetun, Tetun-Indonesia [Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, Juli 2007]) sempat dirujuk Hendrik Bouk (dari Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Katolik Widya Mandira Kupang, NTT) untuk tulisannya yang berjudul KESANTUNAN BERBAHASA TETUN DALAM KOMUNIKASI INTERPERSONAL ANTARA MASYARAKAT RAFA’E DENGAN KAUM BANGSAWAN (baca tulisan tersebut di sini). Semoga bermanfaat ya. Salam literasi,

Sekilas Tentang Buku Percakapan Tanpa Bahasa Belanda ("Multlingva Frazlibro"; Rotterdam, 2009)

Foto: Dokumen pribadi penulis

Oleh: Yohanes Manhitu

Buku saya Multlingva Frazlibro (Rotterdam, Belanda: Universala Esperanto-Asocio [UEA], 2009) adalah sebuah buku percakapan 9 bahasa (Esperanto, Indonesia, Dawan, Tetun Nasional, Melayu Kupang, Inggris, Prancis, Spanyol, Portugis) dengan bahasa Esperanto sebagai bahasa pangantar. Buku ini disusun secara tematis dan dilengkapi dengan sejumlah lampiran.

Sayang, walaupun diterbitkan oleh Asosiasi Esperanto Sedunia di Rotterdam, Negeri Belanda, buku ini tidak mencakup bahasa Belanda. Alasannya adalah pada saat itu, ketika buku itu lagi disusun, saya belum sempat belajar bahasa Belanda, apalagi sanggup menyusun ratusan kalimat percakapan tematis.

Suatu ketika, seorang Esperantis dari Eropa yang telah menggunakan buku tersebut berkunjung ke Yogyakarta, setelah mengunjungi Salatiga, tempat lahirnya. Tatkala kami berjumpa, ia bertanya langsung kepada saya dalam bahasa Esperanto mengapa bahasa Belanda tidak tercantum di buku itu, padahal bahasa itu pernah digunakan di Hindia Belanda selama 350 tahun, dan cukup banyak kosakata serapan dari bahasa Belanda dalam bahasa Indonesia. Dengan tersenyum, saya cuma bilang bahwa tak mungkin saya mencantumkan bahasa yang belum sempat dipelajari cukup mendalam, apalagi dalam sebuah buku percakapan. Lalu, kami terlibat dalam obrolan asyik tentang politik kebahasaan Hindia Belanda dan Indonesia merdeka.

Semoga suatu saat nanti (karena belum bisa sekarang!), setelah saya sudah mahir menggunakan bahasa Belanda, bahasa itu boleh juga ditambahkan.

Catatan: Buku percakapan Multlingva Frazlibro ini sudah dikoleksi oleh Le Centre culturel espéranto (Pusat Kebudayaan Esperanto) di Toulouse, Prancis; perpustakaan Esperanto di Aalen, Jerman; perpustakaan UEA di Rotterdam, Belanda; perpustakaan Kota Yogyakarta, dll.

(Babadan Asri, DIY, 10 Juli 2020, pada masa karantina mandiri)

Undangan untuk Menerjemahkan Tiga Puisi dalam Antologi "TRÍPTICO DE LA INDIGNACIÓN"

Foto: https://www.elnortedecastilla.es

Tabik! Setelah merampungkan terjemahan puisi ALTERACIÓN CLIMÁTICA karya Dennis Ávila (penyair Honduras yang memenangi Premio Internacional de Poesía 'Pilar Fernández Labrador', penghargaan puisi bergengsi di dunia Hispanik) ke bahasa Indonesia, Dawan, Tetun Resmi, dan Melayu Kupang, kini saya diundang untuk menerjemahkan tiga puisi Spanyol karya penyair Afredo Pérez Alencart ke bahasa Indonesia (saja). Terjemahan-terjemahan saya, bersama-sama dengan terjemahan-terjemahan ke bahasa-bahasa lain di dunia, akan terbit di Salamanca dalam tahun ini di sebuah antologi puisi multibahasa yang berjudul TRÍPTICO DE LA INDIGNACIÓN

(Babadan Asri, DIY, 7 Juli 2020, pada masa karantina mandiri)

Tuesday, June 30, 2020

Ibu guruku cantik sekali


Ini sosok ibu guru bahasa Latin di Amerika Serikat pada tahun 1951. Ketika itu, bahasa Latin masih diajarkan secara luas di berbagai sekolah umum. Banyak manfaatnya belajar bahasa Latin. Ah! Kuteringat deh pada lagu lama dengan potongan lirik ini: Ibu guruku cantik sekali. Mengajar kami bahasa Inggris. 😂

Foto: Cuplikan dari video "Why Study Latin" (di YouTube)

P. Vincent Lechovič, SVD dan karya-karyanya


LECHOVIČ, VINCENT: (lebih dikenal dgn nama Vinzent Leko) seorang pastor Serikat Sabda Allah (S.V.D.) berkebangsaan Slovakia yang pernah berkarya di Soe, TTS, Timor Barat, NTT. Atas usaha kerasnya dengan bantuan beberapa anggota umat Katolik setempat, telah diterbitkan karya-karya penting, yakni terjemahan dalam bahasa Dawan (Uab Meto), seperti "Sulat Knino" (1966), "Katekismus In Nesan" (1969), "Tsi Ta’naeb Uisneno" dan "Oe Mat Neno" (1969). Setelah tiba di tanah airnya, ia menulis dan menerbitkan buku kenangannya tentang Timor, berjudul "Spomienky na Timor" (1992).
--------------------------------------------------------------------
Catatan: Ini bagian kecil (satu entri saja) dari sebuah karya yang lagi digarap. Referensi lengkap terdapat pada naskah. Harap lekas rampung dan terbit.

Foto P. Vincent Lechovič, SVD: dari sampul buku "Spomienky na Timor"

Sunday, May 31, 2020

Undangan untuk menerjemahkan puisi ALTERACIÓN CLIMÁTICA karya Dennis Ávila, penyair Honduras

Foto penyair Dennis Ávila: www.moncloa.com

Kabar gembira! Saya diundang lagi oleh penyair Afredo Pérez Alencart dari Universidad de Salamanca (Universitas Salamanca), Spanyol, untuk ikut serta menerjemahkan puisi Spanyol. Kali ini, yang akan diterjemahkan adalah puisi ALTERACIÓN CLIMÁTICA karya Dennis Ávila, penyair Honduras yang memenangi Premio Internacional de Poesía 'Pilar Fernández Labrador', penghargaan bergengsi di dunia Hispanik. Terjemahan-terjemahan saya sendiri ke bahasa Indonesia, Dawan, Tetun Resmi, dan Melayu Kupang itu bakal diikutkan dalam sebuah antologi multibahasa internasional yang akan terbit di Salamanca, Spanyol, dan diluncurkan pada acara XXIII Encuentro de Poetas Iberoamericanos di kota tersebut. Kiranya dialog antarbahasa bisa lestari. Ini sebuah kesempatan bagus untuk lebih banyak belajar. ✍️

Dua buku saya yang kini terdapat di katalog "The British Library" di London, Inggris

Foto: Yohanes Manhitu, 27 Mei 2020

INFO LITERASI: Dua buah karya saya yang kini terdapat di katalog The British Library di London, Inggris, adalah kumpulan puisi asli berbahasa Esperanto Sub la vasta ĉielo (Candelo, Australia: Mondeto, 2010) dan Kamus Indonesia-Tetun, Tetun-Indonesia (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, Edisi I: Juli 2007; Edisi II: April 2015). (Sumber: http://explore.bl.uk). Semoga karya lain lekas terbit dan menyusul. 

Salam mesra literasi, 🌺

Wednesday, April 29, 2020

"Ser culto es el único modo de ser libre." --José Martí, escritor y político de origen cubano

Imagen: https://www.cuba-si.ch

Ser culto es el único modo de ser libre. (Español)
Being educated is the only way to be free. (English)
Ser educado é a única maneira de ser livre. (Português)
Esti edukita estas la sola maniero por esti libera. (Esperanto)
Berpendidikan adalah satu-satunya cara untuk bebas. (Indonesia)
Hetan edukasaun mak dalan ida mesak de'it atu sai livre. (Tetun TL)

Dr. George Quinn, sang pakar sastra dan budaya Jawa yang berdomisili di Australia

Dr. George Quinn (lahir di Selandia Baru pada tanggal 22 Juli 1943) adalah seorang pakar sastra dan budaya Jawa yang berdomisili di Australia. George Quinn merupakan dosen senior di Australian National University di Canberra. Selain menggeluti sastra dan budaya Jawa, ia juga meneliti tentang perkembangan agama Katolik Roma di Timor Leste. Dan sekarang ia juga mempelajari tradisi masyarakat Jawa berziarah ke kuburan suci atau para Wali Songo. (Sumber teks dan foto: https://id.wikipedia.org/wiki/George_Quinn)
Catatan: Saya tidak mengenal Dr. George Quinn secara pribadi, tetapi ia pernah mengucapkan terima kasih kepada saya melalui email atas "Kamus Indonesia-Tetun, Tetun-Indonesia" (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama; Edisi I: Juli 2007; Edisi II: April 2015) karya saya yang bermanfaat bagi penelitiannya tentang perkembangan agama Katolik Roma di Timor Leste.

Tuesday, March 31, 2020

Indonezia-Esperanta Proverbo (05)

Bildo: https://publicdomainvectors.org

Sambil menyelam minum air. (Trinki akvon dum plonĝado. Signifo: Fari pli ol unu aferon samtempe.)

Kompilis kaj elindoneziigis Yohanes Manhitu

Indonezia-Esperanta Proverbo (04)

Bildo: https://publicdomainvectors.org

Jangan menyimpan seluruh telur dalam satu keranjang. (Ne konservu ĉiujn ovojn en unu korbo. Signifo: Ne risku ĉiujn aktivojn en unu kompanio, ĉar se la kompanio malsukcesas, ĉiuj valoraĵoj perdiĝos.)


Kompilis kaj elindoneziigis Yohanes Manhitu

Indonezia-Esperanta Proverbo (03)

Bildo: https://www.pinterest.com

Untung sepanjang jalan, malang sekejap mata. (Bonŝanca laŭlonge de la vojo, malbonŝanca en palpebrumo. Signifo: Katastrofo povas okazi en ajna momento, do homoj devas esti ĉiam singardaj.)


Kompilis kaj elindoneziigis Yohanes Manhitu

Indonezia-Esperanta Proverbo (02)

Bildo: https://beyondphilosophy.com

Menghela lembu dengan tali, menghela manusia dengan kata. (Tiri bovon per ŝnurego, tiri homon per vortoj. Signifo: Oni devas fari ĉiun laboron laŭ ĝiaj reguloj.)


Kompilis kaj elindoneziigis Yohanes Manhitu

Indonezia-Esperanta Proverbo (01)

Bildo: https://www.businessinsider.com

Bertanam tebu di bibir. (Planti sukerkanojn sur la lipoj. Signifo: Uzi dolĉajn kaj grandiozajn vortojn por persvadi.)


Kompilis kaj elindoneziigis Yohanes Manhitu

Wednesday, February 19, 2020

Puisi "SOUVENONS NOUS" dikutip dalam novel "Les germes étouffés" karya Esso-Wêdéo Agba

Foto: http://www.spla.pro

INFO SASTRA: Puisi asli saya dalam bahasa Prancis, berjudul SOUVENONS NOUS (Yogyakarta, 17 Agustus 2004), tentang perjuangan dan jasa para pahlawan Indonesia, telah dikutip (dari http://francais.agonia.net) ke dalam novel berbahasa Prancis, yang berjudul Les germes étouffés (Abidjan: Editions Eburnie; Lomé: Editions Graines de Pensées, 2005; ISBN 2847701001, 9782847701005). Novel yang terbit di ibu kota Pantai Gading (Côte d'Ivoire), Afrika, ini adalah karya Esso-Wêdéo Agba, seorang novelis yang berasal dari Togo (République togolaise), sebuah negara di Afrika.

Puisi yang dikutipnya tersebut telah terbit di buku kumpulan puisi asli Inggris an Prancis saya yang berjudul A WALK AT NIGHT--Une promenade de nuit (Antwerpen, Belgia: Eldonejo Libera, 12 Desember 2017). 

Berikut adalah puisi Prancis yang dikutip tersebut.

SOUVENONS NOUS

Par: Yohanes Manhitu

Aux semeurs de germe de liberté


Que la route soit plus courte
et qu’on ait une longue vie
pour avoir une nouvelle terre
et pour voir un nouveau ciel.

Le vent souffle encore du ciel
et amène à la fête les drapeaux
ornant le jour et la nuit de joie.
L’océan de la vie est plus clair.

Les pierres tombales des héros
restent fidèles à sa patrie aimée.
Là-bas, sont étendus sur ses lits
les semeurs de germe de liberté.

Aujourd’hui, souvenons nous
les mérites des âmes eternelles
et les os si blancs dans les murs
qui aiment leur terre et leur ciel.

Yogyakarta, le 17 août 2004

Thursday, February 13, 2020

Tatiana Terebinova, penyair kondang dari Rusia


Tak dapat dipungkiri bahwa puisi berkekuatan dahsyat untuk menghubungkan orang tanpa melihat asal-usulnya. Lewat puisi pula, kini saya mengenal Tatiana Terebinova, seorang penyair hebat dari Rusia yang tinggal di Moskow. Ia lulusan Academy of Culture and Arts Moskow dan pemenang Moscow International Festival (1996). Ini profil singkatnya dalam bahasa Inggris:

Tatiana Terebinova is a poet, lives in the city of Otradny, Samara Region and in Moscow. Works in the technique of syllabic-tonic verse, visual verse, free-play, hockey, tank. In 1989 she graduated from the Academy of Culture and Arts in Moscow. Poet Laureate of the Moscow International Festival (1996). Published in the Anthology of Russian vers libre (Moscow, PROMETHEUS, 1991), in the Almanac ARION (Moscow), in the journal "ZHUR-NAL STO-LITSA" (Moscow, 2018-2019), in the magazine Poetry (Moscow, 2018-2019) and others. Her name is mentioned in the Samara Historical and Cultural Encyclopedia (1995).