Monday, October 31, 2016

Yang lebih penting tentang menulis

Ilustrasi: www.google.com

Sebenarnya yang lebih penting tentang menulis adalah apa pesan yang ingin disampaikan kepada (para) pembaca. Kalau soal bahasa yang dipakai untuk menuliskannya, itu adalah pilihan atau kesukaan si penulis sendiri, tergantung pada kepada siapa (yang berbahasa apa) ia menulis---siapa yang menjadi calon penerima pesannya. Saya selalu merasa nyaman saja menulis dalam bahasa daerah, bahasa nasional, dan/atau bahasa asing. Ketika menulis dalam bahasa asing, baik itu yang alami (seperti bahasa Inggris, Spanyol dll.) maupun ciptaan (seperti bahasa Esperanto, adikarya L. L. Zamenhof), itu sama sekali tak berarti saya telah mengesampingkan bahasa(-bahasa) daerah saya ataupun bahasa Indonesia, sebagai bahasa nasional & resmi negara ini. Sekali lagi, itu soal preferensi pribadi penulis. Lewat tulisan dalam sebuah bahasa yang dipilih secara bebas, kita bisa menyelamatkan gagasan-gagasan kita. Hidup-matinya setiap ide adalah tanggung jawab si pemilik ide itu sendiri. Salam mesra,

Berbah, Yogyakarta, 26 Oktober 2016

Dua hati insani telah berpadu

Ilustrasi: www.google.com

Terkadang di hatimu bersarang rindu
yang rasanya 'kan bertahan sewindu.
Ketika dua hati insani telah berpadu,
setiap waktu terasa bertetes madu.


(Sekadar potret suasana pagi)
Yogyakarta, 17 Oktober 2016

Air mata langit

Ilustrasi: www.google.com

Kembali, kaudatang, oh air mata langit,
membasuh wajah halaman berumput
yang belum sempat dipangkas rapi
karena kuasyik mengasuh angan.


(Sekadar potret suatu petang)
Yogyakarta, 11 Oktober 2016

Sepotong Pantun Subuh

Ilustrasi: www.google.com

Pergi membeli tepung terigu,
tak perlu lama, sudah diukur.
Melintasi gerbang Minggu,
yang terucap, puji syukur.

(Yohanes Manhitu, 2016)

Setelah terbitnya "Sub la vasta ĉielo" (2010)



Tabik! Setelah terbitnya kumpulan puisi asli pertama saya dalam bahasa Esperanto yang berjudul Sub la vasta ĉielo (New South Wales, Australia: Mondeto, 2010), saya belum sempat menulis banyak puisi Esperanto, kecuali sibuk dan asyik mempersiapkan kumpulan puisi dwibahasa Dawan-Esperanto perdana saya. Semoga bisa terbit dalam waktu dekat ini. Akan saya kabari.

Ingin rasaya kupergi sendiri ke sebuah tempat yang cocok dan menghabiskan menit-menit yang begitu berharga dengan menulis puisi berbahasa Esperanto. Ah! Betapa nikmatnya menulis puisi dalam bahasa ini, mahakarya Ludwik Lazar Zamenhof (1859-1917)! Bahasa ini mulai saya pelajari dengan cukup tekun pada bulan Januari 2001 dan puisi Esperanto pertama saya Sub la vasta ĉielo---yang menjadi judul kumpulan puisi---lahir pada bulan Juni 2006.

Bila masih ada kesempatan untuk mengukir jejakmu pada dinding waktu, lakukanlah! Tulislah! Dikau bisa memilih untuk menulis dalam bahasa apa saja yang "dikuasai" dengan baik. Bisa dalam bahasa daerah, bahasa nasional, atau bahasa "internasional". Atau bahkan bisa dalam ketiga-tiganya. Tiada yang 'kan melarangmu. Gunakanlah bahasa yang memungkinkanmu untuk menuangkan pikiran dan perasaanmu dengan bebas bagai kijang di alam lepas.

Selamat berakhir pekan dan salam sastra mesra!
Berbah, Yogyakarta, 8 Oktober 2016

Latihan konjugasi kata kerja bahasa Dawan

Ilustrasi: www.google.com

Sekadar latihan konjugasi kata kerja bahasa Dawan (Uab Meto*) untuk kata "mengenal" (dan juga "mengetahui"). Kata kerja bahasa Dawan berubah menurut subjek kalimat, tetapi tidak menurut waktu dan modus.

Au uhín bifé nae. = Saya mengenal perempuan itu.
Ho muhín bifé nae. = Engkau/kamu mengenal perempuan itu.
In nahín bifé nae. = Dia mengenal perempuan itu.

Hit tahín bifé nae. = Kita/Anda mengenal perempuan itu.
Hai mihín bifé nae. = Kami mengenal perempuan itu.
Hi/hei mihín bifé nae. = Kalian/kamu mengenal perempuan itu.
Sin nahín bifé nae. = Mereka mengenal perempuan itu.


Cukup dulu ya. Lain kali kita bahas kata kerja yang lain. Salam bahasa dan sastra,

----------------
*) Bahasa Dawan (Uab Meto) adalah bahasa Timor dengan jumlah penutur asli terbanyak; digunakan di Timor Indonesia (NTT) dan Timor-Leste. Bahasa ini merupakan bahasa Timor terbesar selain Tetun dan dialek-dialeknya.

Di sebuah emperan

Ilustrasi: www.google.com

Pagi-pagi sekali, di sebuah emperan,
seekor anjing kudisan dihajar umpatan.
Dari sana, ia berlari ke arah perempatan
karena tak tahan hantaman bak comberan.

(Tentu ini bukan pagi yang diharapkan)
Berbah, Yogyakarta, 5 Oktober 2016

Di tapal batas kerinduan

Ilustrasi: www.google.com

Ah! Ingin kurangkul erat dirimu di tapal batas kerinduan,
di mana penantian tuntas dan rasa sesak itu lepas,
di mana keresahan itu ludes termakan api puas,
di mana kemerdekaan tergapai dan kubebas,
di mana di mana-mana dadaku terasa luas.


(Sekadar melukis malam dengan kata)
Berbah, Yogyakarta, 4 Oktober 2016

"Narahubung" dan "Narakontak"

Ilustrasi: www.google.com

Dua kata bahasa Indonesia yang tampaknya kurang populer dalam masyarakat Indonesia adalah "narahubung" dan "narakontak", yang padanan Inggrisnya adalah "contact person". Rasanya kurang afdol jika dalam undangan berbahasa Indonesia, kata Inggris ini tercantum. Jika ada kata "narasumber" (orang yang menjadi sumber informasi) dan "narapidana" (orang yang terpidana), tentu wajar kalau ada "narahubung" dan "narakontak" (orang yang dapat dihubungi atau dikontak). Sinonim kata "nara" adalah "orang".(Berbah, Yogyakarta, 3 Oktober 2016)

Tuesday, October 25, 2016

DARI SATU ZIARAH KE ZIARAH LAIN

Foto: www.google.com

Oleh: Yohanes Manhitu

Buat sang teman ziarah dalam satu ziarah

Tentang laju waktu, aku tak mau berkomentar.
Kuhanya ingat perjumpaan di bulan Maria itu
ketika di bawah pohon rindang, kaumenanti.
Lalu berdua kita melangkah ke taman hijau.


Sangat mungkin itulah prolog ziarah rasa.
Tiada perjumpaan yang miskin alasan
walau baru bening setelah semusim.
Satu ziarah bertolak dari ziarah lain.


Kamera boleh menangkap wajah,
namun kulebih nyaman bersajak
karena kata-kata bisa lebih awet
menyimpan selaksa kenangan.


Tak seluruh obrolan di taman
terekam verbatim di benak.
Yang pasti, kalimat ziarah
terlontar penuh senyum.


Yogyakarta, 25/10/2016