Monday, December 31, 2018

SELAMAT JALAN, Bung Emanuel Beli Naikteas Bano (Emanuel Paulus)!

Foto: Dari album Alm. Bung Emanuel Paulus

SELAMAT JALAN, Bung Emanuel Beli Naikteas Bano (Emanuel Paulus)! Terima kasih banyak atas kebersamaan kita dan semua kebaikanmu di Kota Gudeg ini dan tempat lain selama beberapa tahun. Kebaikanmu akan selalu dikenang oleh saya dan orang-orang yang pernah mengenalmu. Saya dan teman-teman berdoa agar dirimu memperoleh istirahat dan kebahagiaan surgawi. Kiranya pintu surga terbuka bagimu, Pahlawan Pembangunan! Semoga darah mudamu yang tumpah di Bumi Cenderawasih tidak sia-sia.

Untuk menandai kepergianmu yang sungguh mengagetkan dan jauh di luar dugaan kami, kubagikan puisi ini. Kutahu, engkau suka puisi dan kita pernah bicara santai tentang puisi sambil ngopi. Kita juga pernah asyik berpuisi lisan secara berantai di Pantai Sadranan dan juga Kaliurang. Dan Oa Monika Liman Arundhati, penyair Lembata itu, pernah bilang secara spontan di hadapanmu sambil tersenyum manis, "Kak Eman itu orang teknik yang sangat puitis." Dan untuk menanggapi hal-hal yang pura-pura kauanggap sulit, termasuk omongan tentang puisi, kaugunakan selalu senjata pemungkasmu, yakni kalimat favorit ini: "Saya punya otak tidak sampai." Kami akrab dengan kalimatmu ini. ✍️
--------------------------
-------------------------------

MENYINGKIRKAN CAWAN DERITA*

Oleh: Yohanes Manhitu

Andaikan kita kuasa mengatakan tidak,
kita tak ‘kan mau minum dari cawan
yang penuh dengan kegetiran—
ikatan alam penderitaan.

Andaikan kita kuasa memperkirakan
hal yang mengancam kehidupan,
kita ‘kan siap ‘tuk menjauhkan
bahaya dan mungkin jua maut.

Adakalanya seperti dalam drama,
kita berperan hanya menurut skenario
yang telah disiapkan sang pengarang.
Ini membuat kita tak bisa memilih.

Andaikan manusia bisa menebak
dan memahami misteri-misteri
dengan kebebasan luas dari surga,
ia ‘kan lebih siap menyelamatkan hidup.

Noemuti, Timor Barat, Januari 2011

--------------------------
------------
*) Terjemahan Indonesia dari puisi Tetun, HASEES KALIX TERUS NIAN (2011), yang pernah terbit di "Jornál Semanál Matadalan" di Dili, ibu kota Timor-Leste (Edisi 29, 3–9 Februari 2014).

(Tegalyoso, Yogyakarta, 7 Desember 2018)

No comments: