Friday, October 3, 2014

Pulau Samosir: Surga Pewaris Tano Batak Yang Butuh Perhatian

Sumber foto: http://pad16.com/blog/indo/toba/ferry2.jpg

Oleh: YOHANES MANHITU*

Pulau Samosir yang terletak di tengah Danau Toba, Provinsi Sumatera Utara, merupakan daerah pariwisata yang mempesonakan dan telah terkenal, baik secara nasional maupun internasional. Hal ini terbukti dengan berdatangannya cukup banyak wisatawan domestik dan mancanegara, lebih-lebih pada saat musim panas, walaupun pada saat ini jumlah wisatawan asing tampak menurun secara drastis. Pulau yang merupakan asal-usul Suku Batak ini menyimpan segudang misteri dan daya tarik bagi setiap pengunjungnya. Banyak orang menjulukinya "surga dunia para pewaris Tano Batak". Pulau ini dengan danaunya akan selalu mengingatkan orang akan dongeng petani miskin dengan istrinya yang menjelma dari seekor ikan ajaib serta anak mereka yang kurang patuh pada nasehat orang tua. Sekalipun ini hanya sebuah dongeng, ia telah begitu melekat dengan nama pulau dan danau ini.

Danau Toba yang mengelilingi Pulau Samosir menjadi daya tarik utama bagi pulau ini. Danau ini tampak seperti samudera air tawar yang tak bertepi, dan merupakan yang terluas dan terdalam di dunia dengan ketinggian 906 meter di atas permukaan laut, luas permukaan 1,265 km2, dengan panjang 90 km, dan kedalaman rata-rata sekitar 450 meter. Danau Toba telah sejak lama menjadi jalan lalu-lintas air bagi setiap orang yang datang dan pergi ke Pulau Samosir. Setiap jam ada kapal motor yang datang dan pergi dari Pulau Samosir. Tambahan pula, danau ini merupakan sumber air minum, tempat mencuci dan mandi bagi sebagian besar penghuni Pulau Samosir, khususnya mereka yang tinggal di tepi danau.

Beberapa Kendala Pariwisata di Pulau Samosir 

Agar prospek pariwisata di Pulau Samosir dan Danau Toba menjadi lebih cerah di masa-masa yang akan datang, pemerintah pusat maupun daerah – dalam hal ini pemerintah Provinsi Sumatera Utara dan pemerintah kabupaten di pulau Samosir – perlu mempertimbangkan beberapa hal penting yang berhubungan dengan penyediaan fasilitas umum, yang telah lama menjadi kendala utama setiap wisatawan di Pulau Samosir. Hal-hal penting ini, menurut penulis, adalah sebagai berikut: 1) kwalitas jalan umum yang belum memadai. Ini terbukti dengan kondisi jalan jurusan Tomok-Pangururan yang masih memprihatinkan, dan rusaknya dua jembatan kayu pada jalur jalan Ambarita-Pangururan yang perlu segera ditangani; 2) instalasi listrik yang sering sekali macet. Ini justru sering sekali terjadi di kawasan Tuktuk, yang nota bene merupakan basis utama pariwisata Pulau Samosir; 3) hampir tidak tersedianya hubungan komunikasi – saluran telepon umum dan jaringan Internet. Ini merupakan kendala utama yang membuat para wisatawan tidak cukup betah. Ketika berada di pulau ini kurang dari dua bulan yang lalu, untuk menelepon, penulis harus berjalan kaki dari Tuktuk ke Tomok, yang memerlukan waktu 45 menit. Penulis terpaksa tidak menggunakan akses Internet sama sekali. Sekalipun ada, harganya sangat mahal (sekitar Rp. 25.000,- per jam) dan aksesnya terlalu lambat dan macet sekali; 4) kurangnya promosi budaya lewat kegiatan-kegiatan budaya diadakan secara reguler dengan menarik perhatian wisatawan domestik dan mancanegara. Kegiatan budaya seperti Pesta Rakyat Danau Toba perlu tetap dilestarikan; dan 5) adanya ketidakseragaman tarif penginapan. Terkadang ditemukan perbedaan tarif yang sangat menyolok antara dua penginapan dengan kelas yang sama. Menurut pendapat penulis, perlu dibentuk suatu asosiasi pemilik penginapan yang nantinya dapat berfungsi untuk mengatasi persoalan-persoalan seperti ini.

Salah satu faktor pendukung lain yang tidak kalah penting bagi pembenahan pariwisata di Danau Toba dan Pulau Samosir adalah masa berlakunya visa para wisatawan asing, yang terkesan begitu singkat. Ini tentunya merupakan hak sepenuhnya pemerintah karena pemerintahlah yang memiliki wewenang penuh untuk mengaturnya. Tetapi, seandainya saja para wisatawan asing diberi visa wisata yang masa berlakunya lebih lama dari dua bulan, maka mereka akan dapat tinggal lebih lama, tanpa harus sering-sering meninggalkan daerah pariwisata kita hanya untuk mengurus visa baru. Bukankah dengan tinggal lebih lama di Pulau Samosir uang mereka akan dibelanjakan di sana, dan dengan demikian pendapatan penduduk di pulau terpencil itu akan lebih memadai? Akhir-akhir ini jumlah wisatawan asing di "surga dunia para pewaris Tano Batak" ini menurun dengan drastis. Akibatnya, banyak pengusaha penginapan yang mengeluh. Banyak wisatawan asing yang berpendapat bahwa kebijakan visa wisata di Thailand yang lebih longgar membuat mereka nyaman. Apakah benar demikian?

Di samping beberapa hal penting di atas, ada beberapa hal lain yang, bila diupayakan, akan menambah pesona Danau Toba di mata para wisatawan. Misalnya, diadakannya lomba kapal motor hias pada setiap memperingati Hari Proklamasi Kemerdekaan RI, lomba menyanyi antar kelompok pemuda dan antar kelompok ibu rumah tangga, dan kegiatan budaya lainnya. Penulis cukup yakin bahwa lomba perahu hias akan membuat Danau Toba tampak lebih indah dengan kapal-kapal motor yang dihiasi aneka warna hiasan. Lomba menyanyi pun tidak akan kalah menarik dengan lomba kapal motor hias karena, pada dasarnya, orang-orang Batak memiliki suara yang merdu, apalagi bila yang dinyanyikan itu adalah lagu-lagu Batak. Sebagai akhir kata, penulis berharap agar pariwisata di Danau Toba dan Pulau Samosir semakin maju dengan diadakannya perubahan-perubahan positif yang menguntungkan, baik pihak wisatawan asing dan domestik maupun penduduk setempat. Ada satu harapan besar yang melekat di hati penulis: bila kita merasa bangga memiliki Bali dan Lombok di Kawasan Timur Indonesia, apakah tidak mungkin kita merasa bangga memiliki Danau Toba dengan Pulau Samosir di kawasan barat? Kita patut merasa bangga berdiam di Negara Indonesia yang amat kaya akan keindahan alam. 

Yogyakarta, Juni 2003
-----------------------
*) Yohanes Manhitu adalah penulis dan penerjemah, berdomisili di Yogyakarta.

No comments: