Saturday, May 30, 2015
Negeri
Oleh: Juan Cameron
Tanah airkulah negeri hotel
Kadang-kadang
lantainya dari murad dan beri biru
pada bulan Mei
Di sana mimpi disebarkan kota-kota
yang asing dengan perjalanan itu
Tanah airkulah negeri, tujuan terbangnya
pepohonan dari langit
atau laut, tempat pulau-pulau terapung itu berlayar
menuju bandar-bandar yang runtuh ke perut bumi
dengan sisa moluska terlelap di dahan-dahan
Tanah airkulah negeri hotel
lantainya dari murad dan beri biru
dan kadang-kadang
bugenvil.
Diterjemahkan oleh Yohanes Manhitu
dari puisi asli (Spanyol) Países
Yogyakarta, 5 Maret 2015
----------------------
Países
Por: Juan Cameron
Mi patria es el país de los hoteles
A veces
el suelo de la murta y el arándano
en la estación de mayo
Allí siembran el sueño las ciudades
ajenas a ese viaje
Mi patria es el país a donde vuelan
los árboles del cielo
o el mar donde navegan esas islas flotantes
hacia puertos hundidos al fondo de la tierra
con restos de moluscos dormidos en las ramas
Mi patria es el país de los hoteles
el suelo de la murta y el arándano
y a veces
buganvilias.
Catatan: Puisi "Negeri" terjemahan saya itu terdapat di hlm. 61 kumpulan puisi "Fragmentos de un cuaderno con vista al mar" (Diputación de Salamanca, Spanyol, Maret 2015; prolog: Carmen Ruiz Barrionuevo, Universidad de Salamanca) karya Juan Cameron, penyair Cile, pemenang "II Premio Internacional de Poesía 'Pilar Fernández Labrador'". Klik di sini untuk membaca info berbahasa Spanyol.
Nia mosu no hasé
Loron foun to'o ho esperansa foun.
Roman dadeer hosi lorosa'e atu mai,
hala'o nafatin ninia knaar tuir Na'i ukun.
Maski rai-ahu mahar, nia mosu no hasé.
Liafuan dadeer hosi Yohanes Manhitu
Berbah, Yogyakarta, 26 Maiu 2015
Berbah, Yogyakarta, 26 Maiu 2015
Dalam Selaksa Langgam
![]() |
| Foto: https://poetkatehutchinson.files.wordpress.com |
Oleh: Yohanes Manhitu
Selepas perayaan hari Lidah Api,
ada rasa lepas menyeruak di dada;
ada api yang seakan membakar lidah
untuk bertutur dalam selaksa langgam.
Aku memang tak hadir di kota para nabi
ketika lidah-lidah api menyerupai mahkota
dan membangkitkan daya di jiwa dan raga
hingga sarwa alam terperanjat dan kagum.
Aku memang terpisah lebih dari seribu dasa
dan hanya menemukan kisah di Wasiat Suci.
Namun peristiwa itu seakan barusan terjadi,
dan kuhanya bisa kaget penuh ketakjuban.
Selepas perayaan hari poliglot tahun ini,
ada asa memenuhi seluruh ruang dada;
ada semangat yang sehangat unggun
untuk terus memelihara pelangi kata.
Berbah, Yogyakarta, 24 Mei 2015
Saturday, May 2, 2015
Moris ne'e dalan
Bainhira moris ne'e hetok kleur hetok todan,
dala ruma ema lakohi aprende maibé hasala
tanba la komprende katak moris ne'e dalan.
Se lakohi hakat ba oin, di'ak liu nia hela.
Liafuan sira: Yohanes Manhitu
Yogyakarta, 25 Abríl 2015
Yogyakarta, 25 Abríl 2015
Sekilas tentang Seruling Bambu
![]() |
| Foto: https://madeinsabah.wordpress.com |
Semoga seruling bambu lestari, baik di NTT maupun wilayah lain di
Indonesia. Saya baru belajar bermain seruling bambu dan membuatnya di
bangku SMP sebelum mengenal rekorder. Konon, pada zaman bapak saya,
terdapat orkes seruling bambu lengkap di Noemuti, TTU, NTT. Di Timor
Barat, menurut informasi yang saya peroleh, orkes musik bambu lengkap
masih hidup di Manulea, Kabupaten Malaka. Katanya, para pemain seruling
di Manulea sering tampil pada acara tertentu. Semoga ada kebangkitan
orkes ini di tempat lain. Salam musik! (Berbah, Yogyakarta, 24 April 2015)
Telah terbit cetakan kedua "Kamus Indonesia-Tetun, Tetun-Indonesia" (April 2015)
Puji Tuhan! Cetakan/edisi kedua "Kamus Indonesia-Tetun,
Tetun-Indonesia" (PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, Juli 2007) karya
saya sendiri telah terbit (April 2015) walaupun dalam jumlah terbatas
untuk keperluan sebuah proyek buku (tidak sampai ke toko-toko buku
Gramedia dan lain-lain). Bagi yang membutuhkan, silakan langsung
menghubungi agen pusat Gramedia Pustaka Utama di Jakarta apabila kamus
(edisi pertama) belum tersedia di toko buku terdekat. Semoga persediaan
kamus edisi pertama di Jakarta masih ada dan cukup. Memiliki edisi
pertama atau kedua kamus ini tiada bedanya karena isi kedua-duanya sama
saja (tanpa revisi/tambahan pada edisi kedua). Alamat agen penjualan
Gramedia di Jakarta ada pada saya. Salam mesra,
Berbah, Yogyakarta, 20 April 2015
Friday, May 1, 2015
Andaikan ....
Andaikan buku-bukuku bisa terbit seperti matahari
yang terbit saban hari.
Tetapi ini andaian.
Setahun sekali saja
sudah disambut penuh syukur.
Poet minunat
de Yohanes Manhitu
Poet minunat, creatură a literelor.
Viața ta dulce este plină de har.
Tu scrii din sufletul tău sfânt
Cuvintele tale luminează viața.
Poet minunat, îmi plac poeziile tale.
Acum eu nu pot trăi fără cuvinte.
Din sufletul eu beau apa păcii.
Cuvintele tale îmi colorează viața.
Traducere in romana de ELP
--------------------------------
*) Diterjemahkan ke bahasa Rumania oleh penyair Rumania
Elena Liliana Popescu (ELP) dari versi Spanyol Preciosa poeta.
YANG TERGELAP
![]() |
| Gambar: http://data7.blog.de |
Oleh: Alfredo Pérez Alencart
Yang tergelap
Yang tergelap
adalah mata
putih
si buta
dan derita
yang menyeruak
di antara
orang-orang
yang saban
hari
menapak
jalan-jalan
dengan perut
keroncongan.
Gelaplah hati
bila ia tampak
seperti granit
atau perjamuan
jika tak cukup
roti
untuk banyak
meja.
Dan gelap
untuk
bercanda dengan
kehidupan
ketika kita
terlepas
dari ranting
Cinta.
Yogyakarta, 24 de febrero de 2014
----------
LO MÁS OSCURO
Por: Alfredo Pérez Alencart
Lo más oscuro
es el ojo blanco
del ciego
y la miseria
que se abre paso
entre la gente
que a diario pisa
las calles
tronándoles el
vientre.
Oscuro el corazón
si se muestra
cual granito
o el festejo
si el pan no abastece
muchas mesas.
Y oscuro
jugar a la vida
descolgados
de la rama
del Amor.
--------------
*) Terjemahan saya ke bahasa Indonesia yang berjudul Yang Tergelap tercakup dalam buku puisi multibahasa Lo más oscuro yang diterbitkan TRILCE EDICIONES di Salamanca, Spanyol, 2015. Silakan baca di http://www.crearensalamanca.com/wp-content/uploads/2015/04/lo-mas-oscuro-ok-web-ok-sin-blancas.pdf.
Thursday, April 2, 2015
GADIS PATAH HATI
(Terjemahan saya dari puisi GIRL DISAPPOINTED IN LOVE ini dimuat untuk memperingati 10 tahun wafatnya sastrawan termasyhur Karol Wojtyła)
Oleh: Karol Wojtyła
Dengan air raksa kita uji pedih-perih
seperti mengukur suhu tubuh dan udara;
tapi ini bukan cara menemukan batas sanggup kita –
pikirmu, kaulah pusat segala yang tercipta.
Andaikan kaumengerti, kaubukan:
Dialah pusatnya,
dan, Ia pun tak temukan cinta –
mengapa tidak kaumengerti?
Hati manusia – apakah gunanya?
Suhu kosmik. Hati. Air Raksa.
Diterjemahkan oleh Yohanes Manhitu
Yogyakarta, 13 Desember 2004
Sumber puisi asli: http://www.pbs.org/wgbh/pages/frontline/shows/pope/poems
![]() |
| Foto: http://amylovesum1.blogspot.com |
Oleh: Karol Wojtyła
Dengan air raksa kita uji pedih-perih
seperti mengukur suhu tubuh dan udara;
tapi ini bukan cara menemukan batas sanggup kita –
pikirmu, kaulah pusat segala yang tercipta.
Andaikan kaumengerti, kaubukan:
Dialah pusatnya,
dan, Ia pun tak temukan cinta –
mengapa tidak kaumengerti?
Hati manusia – apakah gunanya?
Suhu kosmik. Hati. Air Raksa.
Diterjemahkan oleh Yohanes Manhitu
Yogyakarta, 13 Desember 2004
Sumber puisi asli: http://www.pbs.org/wgbh/pages/frontline/shows/pope/poems
AKTOR
(Terjemahan saya dari puisi ACTOR ini dimuat untuk memperingati 10 tahun wafatnya sastrawan termasyhur Karol Wojtyła [Sri Paus Yohanes Paulus II])
Oleh: Karol Wojtyła
Berlaksa jiwa timbul di sekelilingku, melalui aku,
dari diriku, sebagaimana adanya.
Aku jadi terusan, yang lepaskan kekang kuasa
yang bernama manusia.
Tidakkah yang lainnya berdesakan ke dalam,
mengubah aku, sang manusia?
Selalu tak sempurna jadi diri mereka,
aku terlampau dekat di hadapan diriku,
akankah Ia yang bersemayam di dalamku
sanggup tatap dirinya tiada gentar?
Diterjemahkan oleh Yohanes Manhitu
Yogyakarta, 26 Desember 2004
Sumber puisi asli: http://www.pbs.org/wgbh/pages/frontline/shows/pope/poems
![]() |
| Foto: http://www.kentucky.com |
Oleh: Karol Wojtyła
Berlaksa jiwa timbul di sekelilingku, melalui aku,
dari diriku, sebagaimana adanya.
Aku jadi terusan, yang lepaskan kekang kuasa
yang bernama manusia.
Tidakkah yang lainnya berdesakan ke dalam,
mengubah aku, sang manusia?
Selalu tak sempurna jadi diri mereka,
aku terlampau dekat di hadapan diriku,
akankah Ia yang bersemayam di dalamku
sanggup tatap dirinya tiada gentar?
Diterjemahkan oleh Yohanes Manhitu
Yogyakarta, 26 Desember 2004
Sumber puisi asli: http://www.pbs.org/wgbh/pages/frontline/shows/pope/poems
TAMBANG
(Terjemahan saya dari puisi THE QUARRY ini dimuat untuk memperingati 10 tahun wafatnya sastrawan termasyhur Karol Wojtyła [Sri Paus Yohanes Paulus II])
Foto: http://andrewstrain.photoshelter.com
Oleh: Karol Wojtyła
Ia tak sendiri.
Otot-ototnya tumbuh berkerumun,
energilah denyutan mereka,
sejauh palu mereka pegang, selama
kakinya menyentuh tanah.
Dan sebongkah batu bentur pelipis dan
menembus bilik jantungnya.
Tubuhnya mereka angkat dan gotong di jalan kesunyian.
Kerja keras masih melekat padanya, ada perasaan bersalah.
Mereka berblus kelabu, tumit bot di dasar lumpur.
Dengan ini, mereka nyatakan kesudahannya.
Betapa kejam akhir hayatnya: jarum pada voltase rendah
melonjak, lalu kembali lagi ke titik nol.
Batu putih yang kini ia kandung gerogoti raganya,
dan cukup bisa menjelmakannya sehakekat batu.
Siapakah yang ‘kan singkirkan batu itu dan
beberkan angan-angannya di dasar pelipis remuk?
Demikianlah gips meretak di tembok.
Ia mereka baringkan, punggungnya beralaskan kerikil.
Istrinya tiba, letih oleh cemas; putranya pulang dari sekolah.
Haruskah amarahnya mengalir ke marah jiwa lain?
Dirinya matang lewat kebenaran dan cintanya.
Haruskah ia dimanfaatkan mereka yang muncul kemudian,
yang mencabut hakekat, yang unik dan sungguh kepunyaannya?
Batu-batu bernyawa lagi; sebuah gerbong lukai kembang-kembang.
Sekali lagi arus listrik kembali menembus tembok-tembok.
Tapi lelaki itu telah bawa pergi kerangka inti dunia, tempat
makin memuncak amarah, makin tinggi pula ledakan cinta.
Diterjemahkan oleh Yohanes Manhitu
Yogyakarta, 3 Januari 2005
Sumber puisi asli: http://www.pbs.org/wgbh/pages/frontline/shows/pope/poems
Foto: http://andrewstrain.photoshelter.com
Oleh: Karol Wojtyła
Ia tak sendiri.
Otot-ototnya tumbuh berkerumun,
energilah denyutan mereka,
sejauh palu mereka pegang, selama
kakinya menyentuh tanah.
Dan sebongkah batu bentur pelipis dan
menembus bilik jantungnya.
Tubuhnya mereka angkat dan gotong di jalan kesunyian.
Kerja keras masih melekat padanya, ada perasaan bersalah.
Mereka berblus kelabu, tumit bot di dasar lumpur.
Dengan ini, mereka nyatakan kesudahannya.
Betapa kejam akhir hayatnya: jarum pada voltase rendah
melonjak, lalu kembali lagi ke titik nol.
Batu putih yang kini ia kandung gerogoti raganya,
dan cukup bisa menjelmakannya sehakekat batu.
Siapakah yang ‘kan singkirkan batu itu dan
beberkan angan-angannya di dasar pelipis remuk?
Demikianlah gips meretak di tembok.
Ia mereka baringkan, punggungnya beralaskan kerikil.
Istrinya tiba, letih oleh cemas; putranya pulang dari sekolah.
Haruskah amarahnya mengalir ke marah jiwa lain?
Dirinya matang lewat kebenaran dan cintanya.
Haruskah ia dimanfaatkan mereka yang muncul kemudian,
yang mencabut hakekat, yang unik dan sungguh kepunyaannya?
Batu-batu bernyawa lagi; sebuah gerbong lukai kembang-kembang.
Sekali lagi arus listrik kembali menembus tembok-tembok.
Tapi lelaki itu telah bawa pergi kerangka inti dunia, tempat
makin memuncak amarah, makin tinggi pula ledakan cinta.
Diterjemahkan oleh Yohanes Manhitu
Yogyakarta, 3 Januari 2005
Sumber puisi asli: http://www.pbs.org/wgbh/pages/frontline/shows/pope/poems
DI SINI, DI ATAS PUSARA PUTIHMU
(Terjemahan saya dari puisi OVER THIS, YOUR WHITE GRAVE ini dimuat untuk memperingati 10 tahun wafatnya sastrawan termasyhur Karol Wojtyła)
Oleh: Karol Wojtyła
Di sini, di atas pusara putihmu
puspa-puspa hidup berwarna putih –
berpuluh tahun berlalu tanpamu –
berapa yang kini lewat sudah, sirna dari pandangan?
Di sini, di atas pusara putihmu
yang bertahun-tahun terselubung, ada yang
terkatung-katung, yang lambungkan benakku
dan, laksana maut, ia tak kumengerti.
Di atas pusara putihmu
oh, bunda, bisakah belas kasih ini berhenti?
demi seluruh cinta sejati putramu,
ada seutas doa untukmu:
Berilah dia kedamaian abadi –
(Krakow, musim semi 1939)
Diterjemahkan oleh Yohanes Manhitu
Yogyakarta, 13 Desember 2004
Sumber puisi asli: http://www.pbs.org/wgbh/pages/frontline/shows/pope/poems
![]() |
| Foto: http://donpackwood.deviantart.com |
Oleh: Karol Wojtyła
Di sini, di atas pusara putihmu
puspa-puspa hidup berwarna putih –
berpuluh tahun berlalu tanpamu –
berapa yang kini lewat sudah, sirna dari pandangan?
Di sini, di atas pusara putihmu
yang bertahun-tahun terselubung, ada yang
terkatung-katung, yang lambungkan benakku
dan, laksana maut, ia tak kumengerti.
Di atas pusara putihmu
oh, bunda, bisakah belas kasih ini berhenti?
demi seluruh cinta sejati putramu,
ada seutas doa untukmu:
Berilah dia kedamaian abadi –
(Krakow, musim semi 1939)
Diterjemahkan oleh Yohanes Manhitu
Yogyakarta, 13 Desember 2004
Sumber puisi asli: http://www.pbs.org/wgbh/pages/frontline/shows/pope/poems
Subscribe to:
Posts (Atom)












