Wednesday, June 6, 2007

Serumpun lilin di wajahku


Tiada yang lebih indah di sini
daripada rumpun-rumpun betung
dan pohon-pohon kelapa
serta pohon sono rimbun
yang buat segalanya hijau.

Dalam hening sore, tubuh letihku
disentuh angin siliran Bukit Menoreh.
Puas ia permainkan helai-helai rambutku.
Wajahku diterangi cahaya serumpun lilin.

Tak ada yang ingin kuraih sendiri di sini
selain keheningan hati dan keintiman
dengan Khalik dan aroma pepohonan
yang leluasa ditiupkan angin senja.

Ibarat serumpun bambu yang tumbuh,
dengan sentuhan tangan-Nya aku subur
dan hingga kini masih melangkah pasti
menyongsong esok penuh misteri.

Sendangsono, 24 Mei 2007

1 comment:

Yovita said...

Yah, keheningan selalu menyatukan Sang pencipta dan yang diciptakan-Nya. Kegeningan pula selalu menberi ruang bagi para pencinta kehidupan untuk merenung and mengoreskan inspirasi hidup. Semoga goresan-goresan nilai hidup itu menjadi Serumpun lilin yang menerangi jiwa.