Oleh: Elena Liliana Popescu
I
Lihat, satu lagi kebaikan
ditambahkan pada hari ini
bagi pengakuan/ketidaktahuanmu.
Kau tak tahu, kau tak ingin
bisa tahu
bahwa kau tak tahu apa-apa tentang dirimu.
Ke manakah perginya segala kilau
kesia-siaan yang mempesona?
Di manakah sekarang aroma
ketiadaan yang menggoda?
Kau semakin dekat, Kawan,
kepada pengetahuan
tentang ketidaktahuanmu sendiri!
II
Apakah kau ingat
malam-malammu tanpa tidur
di masa lalu,
ketika fajar mendekat
dan kau takut
bahwa apa yang kaupikirkan itu
adalah ketidaktahuanmu?
Kau semakin dekat
kian dekat dan lebih lagi
ke fajar dari pagi sesungguhnya,
selepas malam tak berujung tanpa tidur
dengan pemandangan yang meresahkan...
Ketidaktahuan terkadang
bisa tampak begitu memukau
untuk menjebakmu dalam jaringnya
selama berabad-abad ketidaktahuan...
Ketidaktahuan
bisa menggoda
sehingga kau gagal melihat
kelemahannya yang tak terbilang jumlahnya
dan menyadari bahwa itu hanyalah hantu...
III
Dinobatkan sebagai ratu ilusi,
ia kuat
selama
ia kauberi kekuatan itu.
Pernahkah kau bertanya-tanya
siapa gerangannya,
karena ia tahu semua rahasiamu,
semua kekuranganmu,
semua hasrat khayalmu
dan memikatmu
hanya agar kau menjadi hambanya yang rendah hati?
Bila kau tak tahu, ketahuilah bahwa waktunya akan tiba
ketika pertanyaan-pertanyaannya yang memilukan
bakal menjadi pemandangan insomnia
orang-orang yang ingin tahu—
insomnia yang niscaya ‘kan datang—
bagi orang yang mencari
tiada kunjung henti
jalan pulangnya.
IV
Kau semakin dekat, Nak, dengan kesederhanaan
dan, terkadang, pendekatan itu
sangat menyakitkan...
Ia mengungkap semua keraguanmu,
segala penderitaanmu,
dan kegelisahanmu bisa berakibat fatal bagimu.
Jangan takut, ini bukan untukmu,
diri sejatimu, melainkan untuk dia
yang kaubayangkan sebagai dirimu,
dia yang kaupertahankan
ratusan kali sehari,
dia yang kausalahkan ribuan kali,
untuk memaafkannya puluhan ribu kali
di setiap waktu.
V
Oh, betapa kau ingin tahu
apa yang bisa mengantarmu ke sana,
di mana kau tak tahu kau ada!...
Kau pasti ‘kan pergi ke sana,
tapi kau bakal takut bahaya
yang terdiri dari miliaran
bahaya kecil
yang mengintaimu di setiap langkah.
Bukankah lebih baik tahu
bahwa ia selalu menemanimu,
dan menerimanya sebagai
teman seperjalananmu?
VI
Kau takut
bisa kehilangan
hakmu atas ketidaktahuan,
dan nyaris tertarik pada kegilaan
oleh ketiadaan nan tak terlukiskan,
yang mungkin kausebut kekacauan
di saat-saatmu yang lebih baik...
Gejolak keragaman
menarikmu seperti magnet.
Namun, walau begitu,
jauh di dalam dirimu,
ada kedamaian...
Dan kedamaian itu menyelimutimu
dengan simfoni heningnya,
sering kali,
berulang kali,
selamanya...
VII
Kau semakin dekat dengan sungai
“Tahu atau tidak tahu”.
Apakah kau siap menyeberanginya?
Ia menakutkan!...
Ia mengalir di depan matamu
yang terbuka lebar,
tapi belum bisa melihat.
VIII
Kau semakin dekat
dengan pertanyaan besar, Nak!...
Apakah kau siap mengetahui jawabannya?
Yang menghalangimu untuk melihat,
secara paradoksal, mungkin adalah apa
yang bisa membantumu menemukannya...
Apakah kau siap untuk melangkah jauh?
Atau mungkin lebih dekat, siapa tahu?
Apakah kau ambil bagian atau tidak
dalam penghancuran patung-patung
yang memuji kebaikan/keburukanmu?
Mereka akan hancur dengan sendirinya
selagi kau bisa membangun yang lain,
yang sama-sama tidak penting,
seturut kehendak bebasmu.
IX
Kau semakin dekat dengan kesederhanaan,
dan rintangan-rintangan yang menghalangi jalanmu
tak ‘kan ragu-ragu ‘tuk mengambil bentuk-bentuk
yang paling mengancam!
Dan kadang-kadang—
meskipun mungkin saat itu
mereka tampak menawan bagimu—
mereka ‘kan mencoba segalanya
untuk menghentikanmu di jalan...
X
Kau semakin dekat
dengan kesederhanaan hebat, Nak!
Mungkin kau bakal takut kepada jalan,
di mana kau ‘kan semakin sendirian...
XI
Apa yang kaukira bisa menghentikanmu,
yang kelihatan begitu kuat,
sesungguhnya itu cuma ilusi,
tanyakan pada dirimu, “Apa itu?”
Semakin kau dekat,
semakin besar bahayanya
karena daya tarik tak terbatas
dari nuansa ketidaknyataan,
yang bisa menundamu
apabila kau tidak
cukup teguh.
XII
Kau semakin dekat dengan apa yang...
Apakah kau siap?
Diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Yohanes Manhitu
Dinobatkan sebagai ratu ilusi,
ia kuat
selama
ia kauberi kekuatan itu.
Pernahkah kau bertanya-tanya
siapa gerangannya,
karena ia tahu semua rahasiamu,
semua kekuranganmu,
semua hasrat khayalmu
dan memikatmu
hanya agar kau menjadi hambanya yang rendah hati?
Bila kau tak tahu, ketahuilah bahwa waktunya akan tiba
ketika pertanyaan-pertanyaannya yang memilukan
bakal menjadi pemandangan insomnia
orang-orang yang ingin tahu—
insomnia yang niscaya ‘kan datang—
bagi orang yang mencari
tiada kunjung henti
jalan pulangnya.
IV
Kau semakin dekat, Nak, dengan kesederhanaan
dan, terkadang, pendekatan itu
sangat menyakitkan...
Ia mengungkap semua keraguanmu,
segala penderitaanmu,
dan kegelisahanmu bisa berakibat fatal bagimu.
Jangan takut, ini bukan untukmu,
diri sejatimu, melainkan untuk dia
yang kaubayangkan sebagai dirimu,
dia yang kaupertahankan
ratusan kali sehari,
dia yang kausalahkan ribuan kali,
untuk memaafkannya puluhan ribu kali
di setiap waktu.
V
Oh, betapa kau ingin tahu
apa yang bisa mengantarmu ke sana,
di mana kau tak tahu kau ada!...
Kau pasti ‘kan pergi ke sana,
tapi kau bakal takut bahaya
yang terdiri dari miliaran
bahaya kecil
yang mengintaimu di setiap langkah.
Bukankah lebih baik tahu
bahwa ia selalu menemanimu,
dan menerimanya sebagai
teman seperjalananmu?
VI
Kau takut
bisa kehilangan
hakmu atas ketidaktahuan,
dan nyaris tertarik pada kegilaan
oleh ketiadaan nan tak terlukiskan,
yang mungkin kausebut kekacauan
di saat-saatmu yang lebih baik...
Gejolak keragaman
menarikmu seperti magnet.
Namun, walau begitu,
jauh di dalam dirimu,
ada kedamaian...
Dan kedamaian itu menyelimutimu
dengan simfoni heningnya,
sering kali,
berulang kali,
selamanya...
VII
Kau semakin dekat dengan sungai
“Tahu atau tidak tahu”.
Apakah kau siap menyeberanginya?
Ia menakutkan!...
Ia mengalir di depan matamu
yang terbuka lebar,
tapi belum bisa melihat.
VIII
Kau semakin dekat
dengan pertanyaan besar, Nak!...
Apakah kau siap mengetahui jawabannya?
Yang menghalangimu untuk melihat,
secara paradoksal, mungkin adalah apa
yang bisa membantumu menemukannya...
Apakah kau siap untuk melangkah jauh?
Atau mungkin lebih dekat, siapa tahu?
Apakah kau ambil bagian atau tidak
dalam penghancuran patung-patung
yang memuji kebaikan/keburukanmu?
Mereka akan hancur dengan sendirinya
selagi kau bisa membangun yang lain,
yang sama-sama tidak penting,
seturut kehendak bebasmu.
IX
Kau semakin dekat dengan kesederhanaan,
dan rintangan-rintangan yang menghalangi jalanmu
tak ‘kan ragu-ragu ‘tuk mengambil bentuk-bentuk
yang paling mengancam!
Dan kadang-kadang—
meskipun mungkin saat itu
mereka tampak menawan bagimu—
mereka ‘kan mencoba segalanya
untuk menghentikanmu di jalan...
X
Kau semakin dekat
dengan kesederhanaan hebat, Nak!
Mungkin kau bakal takut kepada jalan,
di mana kau ‘kan semakin sendirian...
XI
Apa yang kaukira bisa menghentikanmu,
yang kelihatan begitu kuat,
sesungguhnya itu cuma ilusi,
tanyakan pada dirimu, “Apa itu?”
Semakin kau dekat,
semakin besar bahayanya
karena daya tarik tak terbatas
dari nuansa ketidaknyataan,
yang bisa menundamu
apabila kau tidak
cukup teguh.
XII
Kau semakin dekat dengan apa yang...
Apakah kau siap?
Diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Yohanes Manhitu

No comments:
Post a Comment