Thursday, August 18, 2016

IN MEMORIAM: Seorang Petani Tradisional dan "Pengurai" Silsilah

Simon Petrus Tunliu (Dokumen Pribadi)

SEBAGAI cucu, setiap tahun, sesuai dengan tradisi kami, saya menyalakan sebatang lilin untuk mendoakan arwah ba'i (kakek) sayabapak dari mama sayaSimon Petrus Tunliu (Suli Tunliu) yang kembali ke hadirat Tuhan pada tanggal 18 Agustus 1996 (hari ini tepat dua puluh tahun). Hari penting ini mudah diingat karena bertepatan dengan hari ulang tahun adik bungsu saya Ardhy Manhitu. Sekali lagi, selamat ulang tahun, Dik Ardhy! Semoga Adik selalu diberkati Tuhan dengan kesehatan, keberhasilan, dan kebahagiaan.

Setiap kali memperingati hari meninggalnya Ba'i Simon, secara pribadi, sebagai pencinta bahasa dan sastra, saya mengenang kepergian sosok bahasawan dan sastrawan Dawan sejati (menurut arti dan konteks tradisional). Sekadar untuk diketahui, tanpa bermaksud untuk memamerkan secara tidak proporsional, ba'i saya seorang petani tradisional yang juga penutur silsilah dan riwayat suku di kampung, bukan di sonaf (istana). Ba'i juga piawai berpantun Dawan---hal yang belum bisa saya warisi dengan sempurna. Perlu lebih banyak upaya untuk maksud indah ini. Ba'i saya memang bukan pesohor bahasa dan sastra yang pernah muncul di layar kaca. Tetapi dengan cara dan peranannya sendiri, ba'i saya melakukan apa yang patut dilakoni sesuai dengan konteks budaya dan sosial zamannya di pelosok Timor Barat. Harus saya akui bahwa dorongan bagi saya untuk tetap bi(a)sa berbahasa dan bersastra Dawan pertama-tama datang dari ba'i saya ini. Ikatan emosional di antara kami pun lebih kuat, terutama karena saya adalah cucu pertama dan lahir di kampung mama. Obrolan-obrolan kami di dalam "rumah bulat", di sekitar tiga batu tungku (Dawan: tunaf teun), di Desa Sunuyang terletak di kaki Gunung Sunu, Kab. Timor Tengah Selatan, NTTtatkala saya masih bocah, pada saat menikmati liburan di kampung, tetap membekas indah dan segar hingga kini, ketika sudah lama saya tidak tinggal di kampung dan menikmati udara yang begitu segar di kaki "gunung botak" itu.

Dalam mempelajari dan juga melestarikan bahasa dan sastra, termasuk bahasa dan sastra daerah, kita perlu merujuk ke sosok-sosok yang dianggap sebagai teladan. Untuk konteks Dawan, para atekanab (atakanab) dan mafefâ adalah sosok-sosok ideal yang secara lisan menjaga kemurnian bahasa dan sastranya. Tentang hal ini, saya teringat akan kata-kata bagus Samuel Jonhson, sang pekamus legendaris Inggris itu: "It is the poets who keep the purity of the language" (Para penyairlah yang menjaga kemurnian bahasa).

Akhir kata, sebagai seorang cucu, saya berdoa agar Tuhan, Sang Pujangga Mahaagung, memberikan istirahat dan kebahagiaan surgawi kepada hambanya Simon Petrus Tunliu. Dan kiranya dari surga, alam terpuitis, sang mantan petani kecil dan "atekanab" mendoakan para anak dan cucunya yang masih mengembara di muka bumi ini. Uisneno nok ma npanat kit piuta (Dawan: Tuhan menyertai dan melindungi kita selalu). (Berbah, Yogyakarta, Kamis, 18 Agustus 2016)

No comments: