Friday, April 30, 2010

Percakapan Di Bawah Purnama


Oleh Yohanes Manhitu

Misteri adalah hal yang dipertanyakan berulang-kali, dari masa ke masa, sampai pada kesudahannya.

Malam itu langit tampak sangat cerah, bagaikan layar kaca lebar yang memancarkan sinar putih bersih berkilauan di langit nan biru. Sang dewi malam memancarkan cahaya tanpa malu dan ragu-ragu. Begitu pula dengan bintang-bintang yang berada di sekitarnya. Begitu terangnya malam itu, sehingga alam raya tampak penuh suka cita menikmati suasana nan cerah itu.

Di malam yang cerah itu aku bermain-main dengan putra bungsu ibu kosku di sebuah jalan desa yang tidak beraspal rapi, tepat di depan rumah ibu kosku. Putra bungsunya itu baru berusia sekitar tiga tahun. Namanya Ricky. Dia seorang anak yang jarang menunjukkan kecemberutan dan kesedihan di wajahnya yang lucu, selalu mengundang tawa. Pipinya yang gemuk bak dua buah bola tenis yang tersusun sejajar dan rapi di wajahnya. Dia anak yang memiliki segudang rasa ingin tahu di benaknya. Satu kelemahanya yaitu dia belum dapat “eek” (pergi ke toilet) tanpa bantuan ibunya. Karena itu, ibunya sering sekali marah, karena ulah anaknya itu.

Malam itu aku mengejarnya mengelilingi sebuah mobil tangki minyak tanah berwarna merah putih milik tetangga yang memang biasanya diparkir di halaman, tepat di tepi jalan desa itu. Setelah puas saling mengejar, kami berhenti tepat di tengah jalan yang sepi. Kebetulan malam itu orang jarang lalu-lalang di sana dan Rafael yang biasanya menjajakan jagung bakar pun tidak beroperasi. Jadi kami bebas bermain. Bermain dengan anak kecil memang bukan sesuatu yang aku sukai, karena sering menjengkelkan, namun aku tidak tahu mengapa malam itu aku begitu bersemangat bermain-main bersama anak yang lucu itu.

Beberapa saat kemudian dia meminta aku untuk menggendongnya. Walaupun dia berat sekali, aku mengabulkan permintaannya yang manja. Begitu dia berada di gendonganku, tiba-tiba dia bergerak kesana-kemari. Dia menengadah ke langit seakan-akan dia sedang mengamati cakrawala yang nan luas dengan seksama, bagaikan seorang astronomer berpengalaman gejala perubahan bintang. Kemudian dia berpaling ke wajahku dan menengadah ke langit lagi, sambil jari telunjuknya yang mungil dan lucu menunjuk bulan yang cerah. Dia mengajukan pertanyaan kepadaku.

“Om John, itu, yang bulat besar, apa namanya?”, tanya dia. “Oh, itu bulan namanya”, jawabku singkat.
“Om john, kalau yang kecil-kecil itu, apa namanya?”, tanya dia lagi.
“Kecil-kecil yang mana?”, jawabku pura-pura tidak memperhatikan benda-benda yang ditunjuknya.
“Itu yang kecil-kecil dan banyak dekat bulatan besar”, jelasnya.
“Kalau yang itu namanya bintang. Mereka itu teman bulan,” jelasku.

Dia rupanya belum puas dengan semua jawaban yang kuberikan, sehingga dia seperti ingin melanjutkan pertanyaannya.

“Om John, siapa yang buat bulan dan bintang? Kenapa mereka ada?”, tanyanya untuk kesekian kalinya.

Aku hanya bisa kagum dengan pertanyaan-pertanyaannya dan kemudian berusaha menjawab sedapat-dapatnya. Mudah-mudahan jawabanku bisa memuaskan hasrat ingin tahunya yang besar.

“Yang membuat bulan dan bintang itu Tuhan Allah. Bulan dan bintang ada di langit untuk membuat langit terang pada waktu malam seperti ini. Mereka seperti lampu listrik besar yang ada di rumah Ricky”, begitulah aku menjelaskannya.

Aku sendiri tidak tahu apakah dia memahami setiap jawaban yang aku berikan. Kali ini dia kelihatan menggeleng-gelengkan kepalanya. Aku hanya berharap agar dia mengerti. Aku hanya tersenyum memandang tingkah-lakunya yang lucu dan tidah jauh berbeda dengan seorang murid SD yang sedang mendengarkan penjelasan gurunya tentang Ilmu Pengetahuan Alam atau Antariksa.

Rupanya pertanyaan-pertanyaannya belum selesai sampai di sini. Dia kembali memandangku dan melontarkan pertanyaan lagi.

“Om John, Bapak Allah tinggal di mana?” tanyanya. Ini pertanyaan yang cukup sulit. Aku tidak mungkin menjawabnya secara teologis, karena dia tidak akan mungkin mengerti. Sebaiknya aku menjawabnya apa adanya saja.

“Bapak Allah tinggal di sana, di langit, dekat bulan dan bintang-bintang”, jawabku.
“Bapak Allah juga makan kue seperti Ricky ya?”, tanyanya lagi.

“Wah ini adalah pertanyaan yang sangat lucu”, kataku dalam hati. “Anak ini mulai berpikir bahwa Tuhan itu mempunyai tingkah-laku dan sifat yang presis seperti manusia, khususnya anak-anak”, gumanku.

“Ya, Bapak Allah juga makan kue seperti Ricky, tetapi tidak terlalu banyak karena takut sakit perut. Jadi Ricky harus makan nasi juga. Jangan makan kue saja, karena nanti bisa sakit perut”, jelasku sambil menyisipkan beberapa butir nasehat.

Ternyata jawabanku mengakhiri percakapan kami di bawah purnama di malam yang terang-benderang itu, karena pada saat itu juga ibu kosku memanggil putranya untuk makan malam dan kemudian tidur. Aku hanya bisa berharap agar nantinya dia lebih banyak makan nasi daripada kue yang bisa membuat kedua pipinya semakin menggelembung dan lucu.

Aku sendiri berjalan ke arah kamar kosku yang terletak tepat di belakang rumah mereka untuk makan malam. Saat itu jam tanganku menunjukkan pukul sembilan lewat tiga puluh menit. Sambil makan aku menyimpulkan bahwa ternyata manusia adalah ciptaan yang paling unik. Manusia memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar, sepanjang masa hidupnya, sehingga hidup ini seakan-akan hanya dipenuhi tanda tanya, sebanyak bintang-bintang yang bertaburan di langit. Dan, jagat raya sendiri pun unik, karena menyimpan suatu misteri yang belum kunjung terpecahkan. Ia adalah teka-teki yang dipertanyakan dan belum terjawab sampai saat Ricky dan aku bercakap-cakap di bawah purnama malam itu. Mungkin juga akan sampai pada kesudahannya. Semoga tidak pernah berkesudahan.

Yogyakarta, 4 Agustus 2002

No comments: