Monday, July 28, 2025

Sadranan Hari Ini

Foto: Yohanes Manhitu (27 Juli 2025)

Oleh: Yohanes Manhitu

Hamparan buih di sini
masih sama seperti dulu,
ketika dua kali kudatang
dengan teman-teman diskusi.

Hamparan buih putih itu
bergulung tak kenal henti
menerpa butiran pasir,
saksi bisu keabadian.

Kini sepinya pantai telah sirna,
tetapi awet dalam kenangan.
Bila kau datang lagi ke sini,
matamu jua 'kan jadi saksi.

Kini bukan cuma suara khas
gemuruh ombak pantainya –
suara ramai para pengunjung
seakan menyaingi musik laut.

Di sini, di Sadranan, aroma laut
berjaya di warung-warung kecil,
juga di tiap piring orang lapar:
makanan laut jadi andalan.

Siang ini, dari Pantai Sadranan,
Laut Selatan tampak beraksi ceria.
Namun, kau mesti tetap waspada
agar kisahmu tak perlu jadi berita.

Setiap anggota rombongan kami
menikmati saat gembira di sini.
Semua harus kembali ke bus
sebelum mentari meredup.

Sadranan, 27 Juli 2025

Kabar Gembira dari Hungaria, dari Penyair Erika Godó* (Edisi Facebook, Rabu, 23 Juli 2025)

Tabik! Puisi dwibahasa saya (dalam bahasa Esperanto dan Melayu Kupang) telah terbit dalam Literatura Vivo** (Edisi Juli-Agustus 2025), sebuah majalah sastra Esperanto yang dikelola dua penyair-Esperantis dari Hungaria dan RRT. Puisi dwibahasa tersebut berjudul "NI IRU" dan "MARI KATÓNG PI" (MARI KITA PERGI). Versi Esperanto diterjemahkan di Ungaran, Jawa Tengah, pada tanggal 11 Januari 2023, sedangkan versi aslinya ditulis di Yogyakarta pada tanggal 9 Oktober 2004. Ini adalah salah satu puisi pertama saya dalam bahasa (Melayu) Kupang.


Terima kasih banyak kepada penyair Erika Godó dan John Huang yang telah menerbitkan puisi dwibahasa tersebut. Erika yang mengontak saya untuk memberi tahu bahwa puisi dwibahasa itu akan diterbitkan dalam majalah tersebut. Itu terjadi tak lama setelah karya itu saya bagikan di Facebook pada tanggal 18 Juni 2025. Terima kasih juga atas informasi tentang edisi ini. Semoga "Literatura Vivo" terus maju dan berjaya.

Senang melihat bahwa versi aslinya dalam bahasa (Malayu) Kupang--sebuah bahasa daerah di Timor Barat (NTT)--juga diterbitkan pada halaman yang sama. Semoga informasi ini bermanfaat bagi yang mengerti dan sempat membaca. Salam bahsa dan sastra! 💖

Puisi dwibahasa itu tersedia secara gratis di https://literaturavivo.com. Tetapi, supaya lebih praktis, saya cantumkan ulang di sini.
------------------------------

NI IRU

de Yohanes Manhitu

Ĉi tiu ŝipo ruliĝas,
estas objekto disverŝita,
sed la pasaĝeroj estas fortaj
kaj tenas unu decidon:
alveni al la insulo de espero.

La ondojn, vi ne povas riproĉi.
Lasu ilin daŭre ludi.
La ondaron, kiu povas reteni?
Lasu ĝin daŭre ruliĝi.
Lasu la vivon esti bunta.
Ni tenu la okulojn malfermitaj.

Estas malnova turo trans la maro.
Tie, ekzistas hela lumo.
De malproksime, oni flaras santal-odoron
el granda brulanta radiko.
Estas la sono de ludanta sasando;
infanoj kantas la kanton Bolelebo;
estas festo kun fumigita viando;
estas homoj, kiuj trinkas laruon.
Katemakmaizo estas la ĉefplado.
Ĉiuj ofertas rideton.

Esperantigis la aŭtoro
Ungaran, 11 jan. 2023
----------------
1. "Sasando" estas harp-simila korda muzikilo. Ĝi estas tradicia muzikilo indiĝena al insulo Rote, Orienta Nusa Tenggara, Indonezio.
2. "Bolelebo" estas populara kanto laŭdanta Timor-landon.
3. "Laruo" (kupang-malaje: laru) s konata tradicia trinkaĵo farita el fermentita dolĉa suko de la floraj tigoj de palmarbo (lontararbo), kun trempado en certaj radikoj.
4. "Katemakmaizo" (davanlingve: penpasû) estas tradicia timora manĝaĵo. Kutime, gi estas farita el seka maizo bone boligita kune kun faboj, papaj folioj kaj fruktoj, aŭ kukurbaj folioj kaj fruktoj kaj aliaj verdaj legomoj el la familia ĝardeno. Foje, ĉi tiu tipa manĝaĵo, facile trovebla tra la insulo, estas servata kun viando (eble porkaĵo) aŭ fiŝo.
----------------

La originala versio:

MARI KATÓNG PI


Dari: Yohanes Manhitu

Ini kapal baro’o,
ada barang tapo'a,
ma panumpang kuat
dan pegang satu tekad:
sampe di pulo harapan.

Ombak, son bisa lu masparak.
Biar-ko dong tarús barmaen.
Galombang, sapa bisa tahan?
Biar-ko dia tatáp bagulung.
Biar-ko idop ni ada warna.
Biar-ko katóng pasang mata.

Ada manara tua di laut pung sablá.
Di sana, ada lampu yang taráng.
Dari jao, tacium bau cendana
dari akar bésar yang tabakar.
Ada suara orang maen sasando;
ana dong manyanyi lagu Bolelebo;
ada pesta deng daging se'i;
ada orang yang minum laru.
Jagong katemak menu utama.
Samua orang kas' tunju sanyúm.

Yogyakarta, 9 Oktober 2004

-------------------------------
* Kabar gembira ini telah dibagikan di Facebook pada tanggal 23 Juli 2025.
** Majalah sastra berbahasa Esperanto ini diterbitkan setiap bulan oleh John Huang & Erika Godo di Mississauga, Ontario, Kanada.

Foto: Cuplikan dari majalah "Literatura Vivo".

Thursday, July 17, 2025

SAINT MARTIN NAN INDAH --- BEAUTIFUL SAINT MARTIN Oleh/By: S.M. Shahnoor (Bangladesh)

Foto: eturbonews.com

 
Puisi Dwibahasa: Indonesia-Inggris /
Bilingual Poem: Indonesian-English
-----------------------------------

SAINT MARTIN NAN INDAH

Oleh: S.M. Shahnoor*

Di muara Sungai Naf di bagian paling selatan Bangladesh,
Serombongan peniaga Arab menemukan sebidang tanah.
Dinamakannya Jinjira lantaran kelapanya nan melimpah.
Di sisi selatannya, terletak pulau yang bernama Chhera.
Tim survei tanah Inggris datang ke sini pada 1900 Masehi.
Survei itu dilakukan sebagai bagian dari India Britania.
Alamnya sangat permai, air lautnya kekal abadi.
Karena itu, disebut St. Martin, nama seorang suci Kristen.
Tiga keluarga dari Arakan adalah sepuluh pemukim perdana di Benggala.
Selain menangkap ikan untuk pencarian, mereka sedikit bertani.
Satu atau dua hari lagi, pulau ini berusia dua ratus tahun.
Martabatnya telah meningkat berkat sifat-sifat baiknya.
Luas wilayah 8 kilometer persegi dihuni 8 ribu orang,
Pekerjaan mayoritasnya adalah menangkap ikan dan bertanam padi.
Alangkah banyak burung yang bersahut-sahutan di atas pohon nyiur,
Bulan tersenyum pada malam hari di tengah dedaunan pandan laut.
Di pantai, ‘kan kausaksikan ribuan anak penyu dan ganggang hijau.
Akan kaulihat segala jenis karang dengan sepasang matamu.
Di sini, pikiran manusia selembut ikan laut.
Kelapa bakal setengah terendam di air laut.
Akan kaulihat dinding karang, langit biru, dan ombak laut biru.
Tak seorang pun bakal melupakan St. Martin nan berpasir.
Pulau indah St. Martin amat elok dipandang.
Keindahannya tiada berkesudahan.
Ini ibarat Tilottama Bangladesh yang lain.

Diterjemahkan ke bahasa Indonesia dari versi Inggris (berjudul "BEAUTIFUL SAINT MARTIN") oleh Yohanes Manhitu; Ungaran, Jawa Tengah, Indonesia, 7 Agustus 2022
---------------------------------------

Versi sumber (the source poem):

BEAUTIFUL SAINT MARTIN

by S M Shahnoor

At the mouth of the Naf River in the far south of Bangladesh,
A group of Arab merchants found a piece of land.
Jinjira named it after the abundance of coconuts,
To the south of it, the island is named Chhera.
The British land survey team came here in 1900 AD.
The survey was conducted as part of British India.
The nature is very beautiful, the sea water is immortal.
That is why St. Martin was named after a Christian saint.
Three families of Arakan are the first ten settlements in Bengal.
Apart from fishing for subsistence, they did little farming.
One day or two, the age of the island is two hundred years.
His self-esteem has increased 8 sq km area inhabited by 8 thousand people,
The majority occupations are fishing and paddy farming.
How many birds call on the palm tree,
The moon smiles at night in the middle of the keya leaves.
On the beach you will see thousands of turtle cubs, green algae.
You will see all kinds of corals with two eyes.
Here the human mind is as soft as a fish.
Coconut will be soaked in water.
You will see the coral wall, the blue sky, the waves of the blue sea.
No one will forget the sandy St. Martin.
The beauty island St. Martin is very beautiful to look at.
There is no end to her beauty.
This is like another Tilottama Bangladesh.

------------------------------------------------
* S.M. Shahnoor (menurut EYD; ejaan asli: S M Shahnoor) lahir di Desa Ballvavpur pada tanggal 6 September 1969. Ia adalah seorang penyair dan peneliti sejarah kawasan yang terkenal di Bangladesh. Sejak kecil, ia telah menulis puisi dan cerita. Buku puisi perdananya, Smritir Michile, diterbitkan di Ekushey Book Fair pada tahun 2005. Hingga sekarang, ia telah menerbitkan 14 buku yang meliputi penelitian, perjalanan, biografi, sejarah-tradisi, dan puisi.

HO, MIA KOR' de L.L. Zamenhof en la indonezia

Ilustrasi: www.istockphoto.com

OH, JANTUNGKU

Oleh: L.L. Zamenhof*

Oh, jantungku, jangan kau berdetak gelisah,
Jangan lompat ke luar dari dadaku kini!
Sudah tak sanggup kubertahan,
Oh, jantungku!

Oh, jantungku! Setelah lama bekerja,
Tidakkah aku ‘kan menang di saat kritis?
Cukup! tenanglah kau berdetak,
Oh, jantungku!

Diterjemahkan Yohanes Manhitu
Ungaran, Jateng, 15 Juli 2025

-----------------

Versi asli (Originala versio):


HO, MIA KOR'

de L.L. Zamenhof

Ho, mia kor', ne batu maltrankvile,
El mia brusto nun ne saltu for!
Jam teni min ne povas mi facile,
Ho, mia kor'!

Ho, mia kor'! Post longa laborado
Ĉu mi ne venkos en decida hor'?
Sufiĉe! trankviliĝu de l' batado,
Ho, mia kor'!

------------
*) L.L. Zamenhof (1859–1917) adalah perancang bahasa Esperanto (la lingvo internacia), bahasa rancangan yang paling sukses di muka bumi (hadir sejak tahun 1887). Ia juga seorang sastrawan hebat dalam bahasa ciptaannya. Puisi "Ho, mia kor'" di atas terdapat dalam buku Esperanta Antologio: Poemoj 1887-1981 (Rotterdam: Universala Esperanto-Asocio, 1984; hlm. 4). Puisi tersebut adalah puisi pertama Zamenhof yang ditulis (1887) dan diterbitkan dalam bahasa Esperanto pada tahun yang sama, mendahului "La Espero" (1890). Dengan kata lain, puisi "Ho, mia kor'" adalah teks sastra pertama yang diterbitkan dalam Esperanto.