Monday, August 16, 2010

Mengenal Sosok Yoseph Gons Gou: Seniman NTT yang Tetap Hidup


Yoseph Gons Gou (14 Agustus 1941-16 Agustus 2008)

Oleh: YOHANES MANHITU*

BERBICARA tentang Yoseph Gons Gou tak lebih daripada merajut kata-kata polos tentang sebuah pribadi sederhana dengan gaya hidup ugahari namun penuh dengan daya magnet dan spirit berkesenian yang sangat tinggi. Magnet itu adalah kepribadiannya sendiri yang menjadi teladan dan meninggalkan kesan positif yang mendalam di sanubari setiap orang yang mengenalnya dari dekat, baik ia sebagai kerabat, guru atau pun sahabat. Sungguh ia adalah sosok yang setia dalam iman dan karya, serta sanggup memadukan dengan baik dua hal ini dalam suatu persenyawaan nyata dalam setiap gerak hidupnya sehari-hari. Walaupun kita berharap agar patah satu tumbuh seribu, sosok seperti seniman (perupa dan pematung) yang satu ini tampaknya masih langka di provinsi kepulauan kita. Spirit berkeseniannya yang begitu tinggi itu senantiasa dilandasi semboyan Latin “ora et labora” (berdoa dan bekerjalah)—kalimat yang sungguh ia terapkan dalam rutinnya. Seingat saya, berkat meditasinya yang teratur, ilham untuk karya-karya muncul begitu saja sehingga saya tidak pernah melihat dia melukis dengan sketsa apa pun di tangannya.

Menurut hemat saya, tanpa bermaksud untuk melebih-lebihkan, ia adalah seniman kawakan dan andal yang pernah dimiliki NTT, yang telah tekun menghiasi bagian dalam dan tembok luar “kapela-kapela Sistina” kita di sudut-sudut Flobamora, khususnya di tiga keuskupan di Pulau Timor. Barangkali tidak banyak orang yang mengenal dia, tetapi itu tidak menjadi soal yang berarti, karena ia bukan sosok yang suka mencari-cari perhatian, apalagi pujian. Dan tulisan ini pun—yang dibuat dan dicantumkan di blog saya untuk memperingati dua tahun kepulangannya ke Rumah Bapa—sama sekali tidak dimaksudkan untuk mengagung-agungkan dia, apalagi sampai mengkultuskannya. Ini semata-mata suatu bentuk penghormatan tulus dari saya atas jasa-jasanya bagi saya dan karya-karyanya sebagai seorang seniman. Cara inilah yang saya pikirkan tepat ketika mengetahui kepulangannya ke hadirat Sang Khalik. Jika ia masih hidup, saya tak yakin ia yang rendah hati itu akan serta merta mengizinkan saya menulis tentang dirinya. Apa pun tanggapan pembaca, pepatah berbunyi “harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading”; karena itu, yang baik dari orang-orang yang telah mendahului kita patut dikenang dan dijadikan pelajaran yang berharga bagi kehidupan kita. Berikut ini adalah beberapa penggal kisah perjumpaan saya dengan sosok seniman kita: 

Cat yang Masih Basah di Telapak Tangan
Perjumpaan saya dengan sosok Yos Gons Gou terjadi pada suatu sore (kira-kira pada tahun 1993/1994) di dalam gereja Nossa Senhora do Rosario de Oecusse (sekarang masuk wilayah Timor-Leste) yang pada saat itu boleh dikatakan sudah rampung, kecuali lukisan Tritunggal Mahakudus di latar belakang altar, lukisan Perawan Suci dan Kanak-Kanak Yesus di bagian atas pintu masuk, patung Arnoldus Jansen (pendiri SVD) di halaman gereja, dan dua patung malaikat di sisi kiri dan kanan pintu masuk.

Beberapa orang telah bercerita tentang kehadiran pelukis dan pematung hebat yang sedang berkarya di gereja baru itu. Oleh karena itu, setelah mengambil serbuk gergaji (yang dipakai untuk memasak) di gereja pada sore itu, saya menyempatkan diri untuk masuk dan menyaksikan lukisan raksasa yang sedang dikerjakan di dekat altar gereja. Balok-balok dipasang dan disusun membentuk tangga dan panggung tempat seniman menggarap lukisan suci itu. Setelah termangu menyaksikan lukisan indah yang separo jadi itu, saya beranjak meninggalkan rungan gereja itu. Dan di salah satu sudut dekat pintu utama, tampak beberapa orang yang saya kenal sedang asyik bercerita dengan seorang tua yang tak miskin senyum. Ia laki-laki yang tinggi dengan rambut berombak yang menipis. Saya mendekati mereka dan memberi salam, lalu turut duduk bersila beralaskan selembar kardus di situ. Dalam hati, saya masih bertanya-tanya apakah benar laki-laki tua yang duduk bersila itu adalah sang seniman yang dimaksud.

Terdorong kuat oleh rasa ingin tahu, saya berusaha menemukan jawaban dengan bertanya kepada laki-laki tua itu. Tetapi dengan sabar, santun dan penuh senyum ia menjawab saya dengan sapaan ‘Pak’, bahwa ia sendiri pun ingin mengajukan pertanyaan yang sama. Saya (yang saat itu masih duduk di bangku SMA) berusaha menemukan petunjuk yang kiranya meyakinkan bahwa dialah sang seniman, pelukis karya suci itu. Untungnya saya melihat sisa cat basah di kedua belah tangannya. Menyaksikan hal tersebut, saya memberanikan diri untuk mengatakan bahwa ialah sang pelukis. Menanggapi kata-kata saya yang bernada kemenangan, ia secara singkat dan penuh senyum berkata, “Terima kasih, Pak sudah berusaha mencari dan telah menemukan jawaban”. Mulai saat itu hampir setiap hari kami bertemu karena saya sering menghabiskan waktu berjam-jam untuk menyaksikan ia dan para asistennya bekerja. Dorongan untuk menyaksikan karya-karya lukis dan patungnya sangat kuat karena hingga di bangku kuliah saya masih melukis walaupun dengan cat air di atas kertas gambar. Dan sampai saat ini pun masih rajin menyaksikan pameran lukis. 

Bapak Rohani yang Sabar dan Akrab
Di samping talentanya sebagai seniman, Om Yos (sapaan akrab yang saya selalu untuknya) adalah seorang bapak rohani yang sabar dan akrab. Usia, asal-usul dan latar belakang agama, sosial dan pendidikan tidak pernah menjadi hambatan baginya untuk menyambut siapa pun yang datang ke penginapannya. Anak-anak, remaja dan orang tua akrab dengan dia. Orang-orang desa yang tidak pernah bersekolah pun dekat dengannya. Banyak orang desa di Lifau (desa di sebelah barat Oekusi) menghadiahinya anak anjing dan ayam karena kedekatan mereka dengannya. Ia adalah sosok seniman yang cepat menyatu dengan lingkungan hidupnya.

Bersama dengan Om Yos, topik-topik agama Katolik yang berat dan rumit bagi anak-anak dan orang desa menjadi mudah dicerna. Ia selalu menemukan cara yang sederhana untuk menjelaskan hal yang rumit. Menurut dia, tugas orang terdidik adalah membuat orang lain mengerti dengan cara yang mudah, tanpa harus mengurangi bobot pesan. Dan bukan sebaliknya, merasa senang bila orang bingung menerima pesan.

Dalam hal praktik iman, khusunya berdoa dan bekerja, ia sanggup memberi contoh nyata, bukan sekadar kata-kata tanpa realisasi. Jam-jam doa Katolik tak dilewatkannya. Pada pukul 12 siang, tepat dengan jam Angelus, ia akan segera menyimpan kuas dan palet atau alat ukir yang dipegangnya untuk berdoa. Hal yang sama diikuti para asistennya dan orang-orang yang berdiri di sekitar tempat ia bekerja. Pernah pada suatu siang yang panas, tepat pukul 12, kami bersama-sama berdoa Angelus di atas atas panggung kerja yang dibuat merapat dengan tembok gereja yang tinggi dekat altar, kira-kira hanya dua meter di bawah langit-langit gereja. Di samping itu, ia pun tidak jarang menerima kedatangan orang-orang yang meminta bantuan doanya. Mereka yang datang itu selalu diajaknya untuk berdoa dan membaca Alkitab bersama-sama di depan lilin-lilin besar dan kecil yang bernyala-nyala. Dan suatu yang selalu ditegaskannya adalah usaha harus selalu dilandasi doa. 

Membeli Gula di Ujung Jalan
Obrolan dengan Om Yos kadang penuh dengan teka-teki. Pada suatu siang, ketika saya mengunjunginya, ia meminta tolong agar saya membelikan gula. Lalu saya bertanya di mana harus membeli. Ia menjawab secara singkat dan jelas, “Di ujung jalan.” Mendengar jawaban aneh itu, saya bertanya-tanya mengapa harus di ujung jalan. Bukahkah jalan-jalan di kota itu bersambungan dan tak berujung? Saya berjalan kaki sekitar 500 meter dan membeli gula di salah satu kios di sana. Setelah saya kembali dan menyerahkan sebungkus gula pasir, Om Yos bertanya, di mana saya membeli gula itu. Dan saya menjawab, “Saya membeli gula itu di ujung jalan.” Ia hanya tersenyum sambil membuka bungkusan gula itu dan menuangkannya ke stoples, tempat gula yang lagi kosong. 

Sosok Motivator dan Ajaran Tenggang Rasa
Om Yos, sang seniman itu, adalah motivator yang hebat dan pribadi yang tenggang rasa. Ketika duduk di bangku kelas tiga SMA (1995), saya dan teman-teman saya tidak hanya dimotivasi oleh Om Yos untuk memperjuangkan cita-cita dengan rajin belajar tetapi juga didoakan dengan tulus agar kami lulus ujian Ebtanas tahun itu. Kemampuan bahasa Inggris dan Jermannya turut mendorong saya untuk kuliah di jurusan bahasa Inggris. Ia tetap pribadi yang rajin membaca walaupun sangat sibuk dengan kegiatan seni. Buku-buku bahasa Inggris dan Jerman masih menghiasi rak bukunya yang sederhana. Dialah yang pertama kali memperkenalkan doa-doa bahasa Inggris kepada saya. Saya kemudian memfotokopi buku kecilnya dan mulai dengan rajin menghapalkan doa-doa itu.

Suatu hal yang menjadi pelajaran berharga bagi saya dari Om Yos tentang tenggang rasa adalah kebiasaan untuk tidak membunyikan musik atau radio keras-keras. Tentang hal ini ia pernah berkata, “Tidak semua musik yang menjadi kesukaan kita menjadi kesukaan orang lain juga. Biarlah, jika orang lain suka, maka dia akan meminta kita untuk membesarkan volumenya agar dia bisa ikut mendengarkan.” 

Penasihat Rohani bagi Seorang Mahasiswa
Selama masih duduk di bangku kuliah di Kupang, saya sering mengunjungi Om Yos di rumahnya yang sederhana di samping Kapela St. Andreas di Lasiana. Dia turut mendoakan saya untuk sukses menghadapi ujian skripsi. Tetapi kadang-kadang ia tidak berada di tempat karena mengerjakan proyek seni di tempat lain sehingga saya hanya mengobrol dengan dua orang keponakannya yang juga adalah seniman. Nasihat-nasihat Om Yos tentang tantangan hidup selalu menyegarkan pikiran saya. Jauh sebelum saya masuk kuliah, ia pernah menyatakan bahwa saya (sebagai anak sulung) adalah proyek perdana orang tua saya. Dan bila proyek perdana itu sukses maka ada kemungkinan sukses bagi proyek-proyek selanjutnya. Sungguh-sungguh sebuah tantangan bagi saya. 

Orang-Orang NTT Patut Menghargai Seniman dan Karya-Karyanya
Pada perjumpaan terakhir saya dengan Om Yos pada tahun 2006 di rumahnya, kami asyik berbicara tentang kehidupan seniman di NTT sambil menikmati kopi Flores dan makanan kecil bersama dengan keponakan-keponakannya. Karena tinggal di Yogyakarta dan sedikit tahu tentang tokoh-tokoh dan aktivitas para senimannya, saya mencoba menggunakan kehidupan para seniman (pelukis) di Yogyakarta sekadar sebagai referensi. Di ujung obrolan kami, tak ada yang dapat kami rumuskan dengan tepat selain suatu harapan. Itu saja! Om Yos sebagai seorang seniman yang karyanya tersebar luas dan menjadi monumen hidup di sejumlah tempat di Timor dengan tersenyum berharap agar setiap orang, khususnya orang NTT, menghargai seniman dan karya-karyanya. Pertemuan bersejarah itu menjadi riuh dengan suara tawa kami yang hadir di “pondok seniman” itu karena Om Yos bercerita dengan lucunya apalagi disertai dengan gerak-gerik yang sangat jenaka tentang kesalahan mengukir bagian tertentu pada tubuh wanita. Katanya, dari sudut pandang anatomis, tubuh seorang gadis tidak sama dengan tubuh seorang wanita yang telah menikah, apalagi yang telah melahirkan. Dengan cerita lucu itu, ia bermaksud untuk menegaskan betapa pentingnya pengetahuan anatomi bagi setiap pelukis dan pematung realis. Tanpa pengetahuan itu, seorang perupa ibarat tukang yang hendak membangun tanpa tahu betul bentuk dan struktur rumah yang dikerjakannya. 

Om Yos Telah Menghadap Sang Khalik
Setelah pertemuan kami di atas saya menerima telepon sekali dari Om Yos ketika saya sudah kembali ke Yogyakarta. Ia hanya ingin menanyakan kabar dan menyampaikan informasi bahwa foto yang diambil dengan kameranya pada pertemuan terakhir kami itu gagal. Sangat disayangkan! Saya baru tahu bahwa Om Yos telah tiada ketika saya berkunjung ke rumahnya di Lasiana pada medio Desember 2010. Suatu kehilangan besar tetapi apa boleh di kata, ia telah kembali dengan tenang kepada Sang Seniman Semesta—Sang Pelukis dan Pengukir Abadi.

Lalu siapakah sebenarya Yoseph Gons Gou, sang seniman NTT tersebut? 

Riwayat Hidup
Yoseph Gons Gou, seniman NTT yang sederhana namun penuh dedikasi kepada dunia seni rupa Kristen-Katolik ini, adalah anak ketiga (kembar dari enam bersaudara) dari pasangan Yoseph Doko dan Theresia To, lahir di Nanga, Flores, 14 Agustus 1941. Pendidikan dasar ditempuhnya di Wudu (1948-1955). Pada tahun 1956 ia masuk Sekolah Teknik (ST) Ndona dan tamat pada tahun 1959. Selanjutnya ia masuk biara Societas Verbi Divini (Serikat Sabda Allah, SVD) St. Konradus Ndao dan menjadi bruder selama sebelas tahun (1960-1971). Pada akhirnya ia memutuskan untuk mengundurkan diri dari komunitas religius tersebut pada tahun 1971 dan melanjutkan ke STM di Surabaya.

Setelah menuntut ilmu di Pulau Jawa selama tiga tahun (1971-1974), ia pulang ke kampung halamannya di Nusa Nipa, Flores, dan ikut mencerdaskan anak bangsa di Seminari Toda-Belu Mataloko selama tiga tahun (1975-1978). Rencana hidup manusia memang dapat saja berubah dari waktu ke waktu. Pada tahun 1979 Om Yos, berhenti dari kegiatan mengajar dan selanjutnya membuka usaha mebel. Usaha tersebut digelutinya selama empat tahun (1979-1983). Berhubung usaha itu kurang berkembang, ia beralih ke usaha ukir yang ia jalani selama empat tahun (1984-1988) di Flores.

Pengalamannya dalam dunia ukir-mengukir memberinya keyakinan yang cukup untuk meninggalkan Flores dan menuju ke Timor, tepatnya Kota Kupang. Di Oepura, suatu bilangan di kota karang ini ia mulai merintis usaha ukir patung dari kayu cendana (Santalum album) dan pembuatan tasbih (rosario/kontas). Usaha tersebut ditekuninya selama tiga tahun (1989-1992). Dari tahun 1992 hingga saat kembali ke pangkuan Sang Khalik, ia bergerak di bidang seni rohani Katolik (mengukir, mematung, dan melukis figur-figur kudus) di tiga keuskupan di seluruh Pulau Timor: Dili, Atambua, dan Kupang. Yos Gons Gou yang pernah menjabat sekretaris desa (sekdes) Kelimado selama 10 tahun ini tutup usia pada tanggal 16 Agustus 2008 di RSUD Bajawa. Ia berpulang tanpa meninggalkan istri dan/atau anak karena ia tidak pernah menikah. Seperti Michaelangelo, ia meninggalkan karya-karyanya yang akan membuat namanya terus dikenang. 

Karya-Karyanya
Berhubung terbatasnya sumber dokumentasi, maka yang ditampilkan di sini hanya beberapa contoh karya Yos Gons Gou yang saya simpan dan yang dapat diperoleh di internet.
  • Patung St. Arnoldus Janssen, lukisan Tritunggal Mahakudus, dan lukisan Perawan Suci dan Kanak-Kanak Yesus di gereja Katolik Nossa Senhora do Rosario de Oecusse.
  • Perhentian Jalan Salib di Lifau, Oecusse-Ambeno.
  • Perhentian Jalan Salib di Bitauni, TTU.
Patung St. Arnoldus Janssen dan Lukisan Perawan Suci dan Kanak-Kanak Yesus karya Yoseph Gons Gou di bagian depan gereja Katolik Nossa Senhora do Rosario de Oecusse, Timor-Leste (Foto: Repro oleh penulis)

Patung dan Salib di Puncak Bukit Lifau, Ambeno, Timor-Leste (Foto: http://members.virtualtourist.com/m/pb/842)
 
Salah satu stasi Jalan Salib di Bitauni, TTU (Foto: Semi Anunu, Sumber: http://www.panoramio.com/photo/44816230)
-------------------------
* Penulis, penikmat seni rupa, pernah mengenal seniman (rohani) NTT, Yoseph Gons Gou (yang menjadi guru dan sahabat), mengagumi kepribadian dan karya-karyanya.

2 comments:

Anonymous said...

obrigado barak, blog ia fe info naleok neu budaya timor..

salam,,

Maksimus salu said...

ia lasi alekot neu hit atoni pah pinan ia. Nes-nes neu hit atoni atoa lasi manekat neu usi Jesus...