Sunday, October 29, 2017

MIDNIGHT RAIN


Image: https://www.youtube.com

By: Yohanes Manhitu

Midnight rain…
Did you have enough nap this afternoon?
I wonder why you did not show up this morning.
I would have called you “morning rain”
if you had shown up in the early morning.
Why are you here when I am about to enjoy a dream?
You do bother me. Do not you understand?
I should have let you know beforehand.

Midnight rain…
Why do you arrive
when I am listening to the beautiful music of nature?
You seem to envy me, do you?
By the way, maybe it is not your fault, but mine.
I should have been in bed with a beautiful dream
so that I do not see you when you arrive with noise.

Midnight rain…
Are you the teardrops of the sorrowful heaven?
Is heaven sad because men are going crazy on earth?
Whisper me some meaningful words so that I understand you!
Or, maybe you are the answer of dry earth’s long prayers?
Will you help me tell my prayers to the cities of heaven?
When you return to paradise and its flower gardens,
please send me a bundle of heavenly pink roses.
Do it for me, midnight rain!

Yogyakarta, 4 January 2003

NIGHT FAIRY ON THE PAVEMENT



Oleh: Yohanes Manhitu

A night fairy dresses in deadly evening fashion and
stands on a long busy pavement next to a noisy site.
Her shiny left hand is playing with a white cigarette.
And her other hand is fishing the predatory night.


The night passes just like a slowly moving old train.
The rest of the world is suffering killing sleepiness.
But the night fairy is still on the pavement, waiting.
Her curving eyes are watching the street opposite her.

Here comes a hungry tall man moving slowly but surely
on the long pavement toward the waiting smiling beauty.
No long boring sermon was made; only figures they said.
There goes the night couple; a journey to the sun awaits.

Yogyakarta, 14 November 2003

Monday, September 4, 2017

PADA SAAT DITEMUKAN*


Gambar: https://favim.com
Oleh: Elena Liliana Popescu

Pantai meraja dalam kemerdekaan samudra.
Kegelapan yang menyeluruh mengandung cahaya.
Di atas daratan kukuh, rasa takutlah gelombang
yang menyisakan dunia masa depan di alurnya.


Segalanya tampak sia-sia bila kaucari keabadian.
Dalam keputusasaan bisu ini, kesunyian adalah kata.
Bahkan ketidakbahagiaan mengandung kebahagiaan
ketika, dengan bersahaja, kautinggalkan dunia ini.


Suatu ilusi redup menyembunyikan kebenaran,
yang hanya tersingkap di saat pemisahan,
apa yang hari ini fana belaka dan apa
yang menjadi baka saat ditemukan.


Terjemahan Indonesia: Yohanes Manhitu
(Dari versi Spanyol, Prancis, dan Inggris)
---------------------------------------

Versi asli (berbahasa Rumania):

ÎN CLIPA REGĂSIRII

De: Elena Liliana Popescu


În libertatea mării constrângerea e malul.
Deplinul întuneric lumina o conţine.
Pe ţărmul neclintirii neliniştea e valul
şi din ce-a fost el lasă doar lumea care vine.


Nimic îţi pare totul când cauţi nemurirea.
În muta disperare tăcerea e cuvântul.
Nefericirea însăşi cuprinde fericirea
când, plin de umilinţă, tu părăseşti pământul.


Iluzia, supusă, ascunde adevărul
doar pentru a-l cunoaşte în clipa despărţirii
Acela care astăzi înseamnă trecătorul
şi care este veşnic în clipa regăsirii...


----------
*) Puisi ini, bersama-sama dengan 21 terjemahan saya ke bahasa Indonesia, terbit di antologi puisi multibahasa "DACĂ AI ȘTI" (ANDAI KAUTAHU) yang memuat terjemahan dalam 29 bahasa. Buku yang memuat 22 puisi terjemahan saya ke bahasa Indonesia (pada hlm. 215-224) ini terbit di Bukares, Rumania, dan telah diluncurkan di kota tersebut pada tanggal 20 November 2015. Saya sedang menerjemahkan puisi ini ke bahasa Dawan, Tetun Resmi (Timor-Leste), dan Melayu Kupang untuk terbit dalam antologi multibahasa lain di Rumania.

Ó feto dadeer

Imajen: www.google.com

Dadeer ida ó mai lori ai-funan
ho oin-midar hanesan fulan.
Ha'u haksolok haree dalan.
Ó feto dadeer, la'ós kalan.

Autór: Yohanes Manhitu
Yogyakarta, 29/08/2017

Undangan untuk menerjemahkan puisi "În clipa regăsirii" karya Elena Liliana Popescu ke bahasa Dawan, Tetun Resmi/Nasional dan Melayu Kupang

Foto: www.agentiadecarte.ro

Tabik! Saya baru sempat baca surel (e-mail) menjelang pagi tadi. Eh! Ternyata ada permintaan dari Rumania, dari penyair termasyhur Elena Liliana Popescu, untuk menerjemahkan puisinya "În clipa regăsirii" ke bahasa Dawan, Tetun Resmi/Nasional dan Melayu Kupang. Puisi tersebut sudah pernah saya terjemahkan ke bahasa Indonesia (dengan judul "Pada saat ditemukan") dan terbit di antologi puisi multibahasa "DACĂ AI ȘTI" (ANDAI KAUTAHU) yang memuat terjemahan dalam 29 bahasa. Buku puisi yang memuat 22 puisi terjemahan saya ke bahasa Indonesia (pada hlm. 215-224) ini terbit di Bukares, Rumania, dan telah diluncurkan di kota tersebut pada tanggal 20 November 2015. Banyak hal menarik yang saya pelajari dari penerjemahan 22 puisi kontemplatif itu melalui sumber-sumber Spanyol, Prancis, Portugis, dan Inggris yang telah diterjemahkan dari puisi-puisi berbahasa Rumania.

Dialog puisi kami telah berlangsung beberapa tahun dalam bahasa Spanyol dan Elena Liliana Popescu sendiri telah menerjemahkan beberapa puisi asli saya--- dalam bahasa Spanyol dan Inggris---ke bahasa Rumania, bahasa turunan Latin terbesar di Eropa Timur. Dua puisi Spanyol saya yang diterjemahkannya sudah terbit di edisi Januari-Maret 2016 majalah sastra berbahasa Rumania "Lumină Lină" (Inggris: Gracious Light) yang berbasis di New York, Amerika Serikat.

Saya orang Timor dan orang Indonesia

Foto: Jepretan saya sendiri

Setiap kali diundang untuk ambil bagian dalam buku antologi puisi antarbangsa di mancanegara, baik dengan puisi asli maupun terjemahan, satu hal penting yang tetap saya ingat adalah saya ini orang Timor dan orang Indonesia. Kita boleh asyik berbaur di mana pun, tetapi jangan sampai larut dan lenyap. (Tegalyoso, Yogyakarta, 2 September 2017)

Undangan untuk menerjemahkan puisi-puisi Lilliam Moro dan Paura Rodríguez Leytón

Foto: www.google.com

Dua hari lalu, tiba undangan dari Salamanka, Spanyol, untuk menerjemahkan puisi-puisi dua penyair perempuan pemenang "IV Premio Internacional de Poesía Pilar Fernández Labrador". Saya akan menerjemahkan karya-karya penyair Lilliam Moro (dari Kuba, untuk puisi berjudul EN MEMORIA DE ELLOS) dan Paura Rodríguez Leytón (dari Bolivia, untuk puisi berjudul PENSANDO EN WILDE) ke bahasa Indonesia. Terjemahan-terjemahan ini akan terbit dalam dua buku antologi multibahasa di Salamanka, Spanyol, bulan ini (September 2017). Kiranya dialog sastra antarbangsa lewat puisi ini akan berlanjut.

Selamat jalan, Marjorie Boulton (7 Mei 1924 – 30 Agustus 2017)! Beristirahatlah dalam damai!

Marjorie Boulton (1999). Foto: Philip Brewer

Turut berdukacita atas meninggalnya Marjorie Boulton (7 Mei 1924 – 30 Agustus 2017), seorang penyair perempuan Inggris yang termasyhur di dunia sastra Esperanto. Puisi-puisi kami pernah terbit bersama di Vesperto (Edisi ke-227, April 2011), sebuah buletin sastra berbahasa Esperanto di Kaposvár, Hungaria. Sebuah kehilangan bagi dunia sastra Esperanto! Salam sastra!

Pesan menarik tentang antisemitisme dari Paul L. Maier dalam novel sejarah "Pontius Pilatus"

Gambar: My-classic-books

Satu pesan menarik tentang antisemitisme dari Paul L. Maier, sejarawan dan penulis novel sejarah "Pontius Pilatus" (Terjemahan Indonesia; Malang: Dioma Publishing, cetakan pertama: September 2009). "Sesungguhnya sikap anti-Yahudi karena peristiwa Jumat Agung adalah tidak masuk akal seperti sikap membenci orang Italia karena Nero dulu melemparkan orang-orang Kristen ke mulut singa."

Thursday, August 31, 2017

Semoga sastrawan Hamsad Rangkuti lekas sembuh

Foto: Dokumen pribadi saya

Semoga sastrawan Indonesia Hamsad Rangkuti diberkati Tuhan dan sembuh dari sakitnya agar bisa berkarya kembali. Senang bisa bertemu dengan Pak Hamsad di Yogyakarta pada acara peluncuran kumpulan cerpen "Lukisan Perkawinan" karyanya beberapa tahun silam dan sempat ngobrol sebentar. Buku kumpulan cerpen dengan kisah-kisah segar tersebut sudah saya baca tuntas dan masih tersusun dengan rapi di rak buku saya. Hamsad Rangkuti adalah cerpenis hebat yang dimiliki (sastra) Indonesia. Salam sastra! ✍️ (Tegalyoso, Yogyakarta, Agustus 2017)

Tidak sedikit kata bahasa Latin dan Prancis telah diserap oleh bahasa Inggris

Gambar: www.google.com

Dengan melihat bahasa Tetun Resmi (Timor-Leste) menyerap begitu banyak kata dari bahasa Portugis (kini bahasa resmi kedua di Timor-Leste), mungkin orang akan berpikir ini bisa menenggelamkan bahasa Tetun Resmi. Tetapi bila orang sempat belajar (sejarah) bahasa Inggris, Latin dan Prancis, ia tentu tahu bahwa tidak sedikit kata bahasa Latin dan Prancis telah diserap oleh bahasa Inggris, bahasa rumpun Germania yang paling populer pada masa kini. (Tegalyoso, Yogyakarta, 23 Agustus 2017)

Adakah (kampanye) literasi tanpa buku?

Gambar: www.google.com

Terkadang mungkin orang lupa. Entah! Cara paling nyata dan berguna untuk menunjukkan apresiasi seseorang--sebagai pencinta ilmu--kepada penulis adalah membeli buku, bukan sekadar meminta. Setiap penulis telah beramal dengan menulis. Dengan membeli buku, orang turut mendukung tradisi literasi yang kuat dan berkelanjutan. Adakah (kampanye) literasi tanpa buku? (Tegalyoso, Yogyakarta, 19 Agustus 2017)

"Feotnai Mapules—Princino Laŭdata" di Pekan Buku Berbahasa Esperanto

Foto: Dikirim dari Belgia oleh Penerbit

Pada bulan Juni lalu, sebuah pekan buku berbahasa Esperanto diadakan di Belgia. Buku kumpulan puisi dwibahasa Dawan-Esperanto saya "Feotnai Mapules—Princino Laŭdata" (Indonesia: Putri Terpuji atau Putri Pujaan) ikut dipajang di sana dengan buku-buku lain dari berbagai negara. Buku 250 halaman yang memuat 100 puisi asli dalam bahasa Dawan dan 100 puisi terjemahan dalam bahasa Esperanto ini diterbitkan di Antwerpen, Belgia, oleh Eldonejo Libera pada tanggal 31 Desember 2016. Buku ini bisa dipesan di https://www.amazon[.]com. Maaf, saya tidak punya stok buku ini untuk dijual di Indonesia. Salam sastra,

18 Agustus 1945, 72 Tahun Silam


Gambar: www.google.com

Hari ini, 72 tahun silam (18 Agustus 1945), bahasa Indonesia secara resmi ditetapkan sebagai bahasa negara. Pada Bab XV Pasal 36 Undang-Undang Dasar 1945 disebutkan bahwa bahasa negara ialah bahasa Indonesia. Hal itu terjadi setelah bahasa Indonesia---yang sebelumnya bernama bahasa Melayu---dinyatakan secara bersama sebagai bahasa persatuan, bahasa nasional, pada Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Sebagai warga Indonesia dan pengguna serta pencinta bahasa yang amat mengagumkan ini, mari kita melakukan apa yang kita bisa untuk terus memantapkan kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa negara di tengah dunia ini seraya turut mengambil bagian aktif dalam memelihara bahasa-bahasa daerah kita sebagai pembentuk mosaik kebudayaan Indonesia, dan tak lupa menjalin persahabatan global melalui berbagai bahasa insani. Dirgahayu bahasa negara RI! Salam! (Yogyakarta, 18 Agustus 2017)