Wednesday, June 9, 2021

LEWAT "PINTU" VALDEZ DI BULAN JUNI MENUJU LAUTAN PUISI

Foto: https://crownsofvirtue.com

Tanggal 9 Juni adalah hari yang bersejarah bagi saya secara pribadi. Setidaknya saya menganggapnya begitu. Sembilan belas tahun silam, tepatnya tanggal 9 Juni 2002, di Jln. Pugeran Timur, Yogyakarta, saya berusaha menerjemahkan puisi "LA PUERTA" karya Alfredo García Valdez, seorang penyair Meksiko, yang saya baca dengan asyik dan kagum di majalah "Biblioteca de México", nomor 40, Juli-Agustus 1997, hlm. 18. Inilah penerjemahan puisi pertama kali dalam hidup saya. Penerjemahan puisi berbahasa Spanyol ke bahasa Indonesia dengan judul "PINTU" tersebut telah membawa saya memasuki dunia penulisan dan penerjemahan puisi. Oleh karena itu, secara pribadi, saya berutang budi kepada sastra berbahasa Spanyol, terutama kepada Valdez, yang membukakan pintu elok menuju lautan puisi.

Tentu saja, saya, seperti teman-teman lain, sudah mengenal puisi Indonesia (pantun, gurindam, dll.) sejak di bangku sekolah. Dan di bangku kuliah pun, saya sempat berjumpa dengan puisi berbahasa Inggris. Akan tetapi, puisi Valdez yang saya terjemahkan dari versi asli ke bahasa Indonesia sebagai terjemahan puisi pertama itulah yang kuat mendorong saya ke alam kata. Sebenarnya, pengalaman seperti ini bukan hal baru. Insan-insan sastra lain pun pernah mengalaminya. Sitor Situmorang, misalnya, mengawali kepenyairannya setelah ia berhasil menerjemahkan sebuah puisi Belanda ke bahasa Batak.

Tiada yang lebih istimewa daripada rasa syukur saya kepada Sang Pujangga Mahaagung, Sang Khalik Mahapuitis, bahwa hingga hari ini, saya masih diberi-Nya kesehatan dan kesempatan yang baik untuk terus mengarungi lautan puisi yang tiada bertepi. Mohammad Ali Sepanlou (1940–2015), seorang penyair Iran termasyhur, pernah menulis begini, "Puisi berawal dari impian dan berakhir dengan pembebasan." Ini sungguh tepat! Salam mesra sastra,
----------------------------------------------------

PINTU Oleh: Alfredo García Valdez* Di mana pun kau berada: di dasar laut, di pucuk bintang, di rongga pepohonan, di dasar batu prasasti, pun di bola mata perempuan, pintu terbuka dan tertutup. Hujan kerinduan atau tegangan hasrat sanggup membukanya. Pasir mimpi menumpuk di ambangnya. Dan di atas pintu, nama sejatimu terukir dengan garam. Di baliknya, ‘kan kaujumpai ia yang lain, sosok sejati, yang pergi berkeluyuran selagi kau menangis, tidur atau bercinta. Pintu melambangkan perjanjian yang mengikatmu dengan dunia kematian, pun dengan alam kehidupan. Di baliknya, tiada selir ataupun perpustakaan: ini bukan ilmu tentang aksara atau daging. Pintulah engsel yang satukan surga dan neraka; pintulah piston yang pompakan lautan teduh, jua berbadai; dan pintulah rongga pengatur alur napasmu sebagai orang mati, pun sebagai orang hidup. Oh harapan, kaulah kepolosan bocah yang langkahi ambang pintu sambil melanjutkan permainan mengasyikkan. Sang kekasih simak cakapmu penuh sabar dan mencari jejak-jejak kata wasiat, mengelusmu di tidurmu dan temukan kunci di antara tulang-belulangmu. Bila ia sanggup lewati pintu itu, ia bakal menjelma jadi sosok utuh, yang berjalan-jalan selagi kau menderita, bekerja atau tertawa. Oh harapan, kaulah kepolosan bocah yang nekat mengusik si macan diam. Diterjemahkan oleh Yohanes Manhitu Yogyakarta, 9 Juni 2002 ----------------------------- LA PUERTA Por: Alfredo García Valdez Donde quiera que estés, la puerta se abre y se cierra: en el fondo del mar, en la punta de una estrella, adentro de un árbol, bajo una lápida, o en las pupilas de una mujer. Puede abrirla la lluvia de la nostalgia o la electricidad del deseo. La arena del sueño se acumula en el umbral. Sobre la puerta está escrito con sal tu verdadero nombre. Detrás de ella está el otro, la persona auténtica, que sale a deambular mientras lloras, duermes o amas. La puerta simboliza el pacto que te liga al pueblo de los muertos y al pueblo de los vivos. Tras de ella no hay un harén ni una biblioteca: este saber no tiene conexión con la letra ni con la carne. Es el quicio que une al cielo y al contracielo, el émbolo que bombea las aguas dormidas y las aguas de la tormenta, el diafragma que regula tu respiración como hombre muerto y como hombre vivo. Oh esperanza, eres la inocencia del niño que traspone el umbral siguiendo un juego ensimismado. La amada escucha pacientemente tu conversación, buscando los rastros de la palabra mágica; te acaricia mientras duermes, buscando entre tus huesos la clave. Si logra trasponer la puerta, regresará convertida en la auténtica persona, la que deambula mientras sufres, trabajas o ríes. Oh esperanza, eres la inocencia del niño empeñado en zaherir al leopardo del silencio. ------------------- *) Alfredo García Valdez lahir di Cedros, Zacatecas, Meksiko tengah, 1964, belajar Sastra Spanyol di Universidad de Coahuila. Ia adalah mantan penerima beasiswa INBA dalam genre esai dan telah menerbitkan puisi dan ulasan di Tierra Adentro, Sábado de Unomásuno, La Jornada Semanal, Los Universitarios, Casa del Tiempo y La Gaceta del Fondo de Cultura Económica. Ia juga pengarang buku kumpulan esai yang berjudul “Máscaras” (Topeng-topeng).

Monday, May 31, 2021

Menerjemahkan Lagi Puisi Elena Liliana Popescu

Foto ELP: https://www.asanatlar.com

SEKILAS INFO: Sederet bulan yang lalu, tiba undangan baru dari Bukares, Rumania, untuk menerjemahkan (lewat bahasa Spanyol, Prancis, Portugis, Italia dan Inggris, karena saya belum "menguasai" bahasa Rumania) sebuah puisi Elena Liliana Popescu (Prof. Dr. Elena Liliana Popescu) ke bahasa Indonesia, Dawan, Tetun Resmi/Nasional, dan Melayu Kupang. Puisi tersebut berjudul (asli) "Nu ţi-am spus până astăzi" dan sedang diterjemahkan dengan saksama. Keempat puisi terjemahan itu, bersama-sama dengan terjemahan-terjemahan ke berbagai bahasa di dunia, bakal tercakup dalam sebuah antologi multibahasa yang terbit di Bukares, Rumania, dalam waktu dekat. Syukur, ada kesempatan lagi untuk terus belajar!

Catatan: Sejumlah terjemahan saya telah tercakup dalam tiga antologi Elena Liliana Popescu yang terbit di Bukares, Rumania, dan beberapa puisi saya yang ditulis langsung dalam bahasa Spanyol telah dia terjemahkan ke bahasa Rumania dan terbit di New York, AS.

Menerjemahkan Puisi Margarito Cuéllar

Foto Margarito Cuéllar: https://slp.gob.mx

SEKILAS INFO: Telah tiba undangan baru dari Salamanca, Spanyol, untuk menerjemahkan (langsung dari bahasa Spanyol) sebuah puisi pemenang Premio Internacional de Poesía 'Pilar Fernández Labrador' (penghargaan puisi bergengsi di dunia Hispanik) ke bahasa Indonesia, Dawan, Tetun Resmi/Nasional, dan Melayu Kupang. Kali ini, yang akan diterjemahkan adalah karya Margarito Cuéllar, seorang penyair dari Meksiko. Keempat puisi terjemahan saya itu, bersama-sama dengan terjemahan-terjemahan ke berbagai bahasa di dunia, bakal tercakup dalam sebuah antologi yang terbit di Spanyol dalam waktu dekat. Syukur, ada kesempatan lagi untuk terus belajar! Salam sastra,

(Gedongan, Yogyakarta, 23 Mei 2021)

Wednesday, May 12, 2021

Perempuan Dayak Giat Belajar Bahasa Tetun

Foto: Cuplikan dari video Aying Pinto

Saya senang melihat seorang perempuan Dayak, bernama akun Aying Pinto (di YouTube), menggunakan salah satu kamus saya, Kamus Indonesia-Tetun, Tetun-Indonesia (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, Juli 2007), untuk belajar bahasa Tetun (Resmi/Nasional) dan juga mengajarkan bahasa ini kepada orang lain melalui YouTube. Perempuan yang penuh semangat belajar ini berasal dari Pulau Kalimantan dan suaminya berasal dari Timor-Leste. Silakan cek videonya di https://www.youtube.com. Salam bahasa,

-------------------------------
INFORMASI TAMBAHAN:

Berdasarkan informasi siber yang tersedia, sekarang Kamus Indonesia-Tetun, Tetun-Indonesia ini dapat dijumpai di katalog perpustakaan-perpustakaan berikut ini:
  1. Perpustakaan Flinders University, Adelaide, Australia
  2. Perpustakaan IDE-JETRO*, Chiba, Jepang
  3. Perpustakaan Kongres AS (The Library of Congress), Washington
  4. Perpustakaan Monash University, Australia
  5. Perpustakaan Nasional Australia (National Library of Australia)
  6. Perpustakaan Nasional Kanada (National Library of Canada)
  7. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia di Jakarta
  8. Perpustakaan Ohio University, AS
  9. Perpustakaan Osaka University, Jepang
  10. Perpustakaan The Australian National University, Australia
  11. Perpustakaan University of California di Barkeley, AS
  12. Perpustakaan University of California di Los Angeles, AS
  13. Perpustakaan University of Hawai, AS
  14. Perpustakaan University of Oregon, AS
  15. Perpustakaan University of Washington, AS
  16. Perpustakaan Yale University, AS
  17. Perpustakaan Eropa (The European Library), Eropa
  18. Perpustakaan Inggris (The British Library), London, Inggris
  19. Perpustakaan Nasional Portugal (Biblioteca Nacional de Portugal), Lisabon, Portugal
  20. Perpustakaan dan Pusat Dokumentasi Perguruan Tinggi dan Penelitian Prancis (Catalogue SUDOC), Prancis. *) IDE-JETRO = Institute of Developing Economies-Japan External Trade Organization

CONTOH PENGGUNAAN KATA KERJA "TAHU" DALAM BAHASA TETUN BELU, DAWAN, DAN INDONESIA

Gambar: www.redbubble.com

Ha'u katene niakan naran. = Au uhín in kanan. = Saya/aku tahu namanya.
O matene niakan naran. = Ho muhín in kanan. = Engkau/kamu tahu namanya.
Nia natene niakan naran. = In nahín in kanan. = Dia tahu namanya.
Ita hatene niakan naran. = Hit tahín in kanan. = Kita/Anda tahu namanya.
Ami hatene niakan naran. = Hai mihín in kanan. = Kami tahu namanya.
Emi hatene niakan naran. = Hi/hei mihín in kanan. = Kamu/kalian tahu namanya.
Sia natene niakan naran. = Sin nahín in kanan. = Mereka tahu namanya.

Friday, April 30, 2021

Negara-Negara yang Berbahasa Resmi Multilingual


Terdapat 12 negara yang berbahasa resmi multilingual.
Foto depan: https://datafloq.com


Kata-Kata Mutiara Dwibahasa (Indonesia-Dawan)



Digubah dan diterjemahkan oleh Yohanes Manhitu 
Yogyakarta, 11 November 2002 

Sumber kutipan: http://ymanhitu.blogspot.com/2007/08/kata-kata-mutiara-dwibahasa-indonesia-dawan.html

Musik pengiring video: Lagu "OEL ANA’" (Indonesia: ADIK KECIL, 
sebuah lagu populer Timor-Dawan, versi instrumental)

Sejumlah Buku Sumber tentang Kehadiran Portugis di Wilayah Indonesia

 

Daftar buku dalam video ini sesuai dengan urutan abjad:

  1. Bahasa Portugis Sehari-hari (Penulis: Drs. Basilio Dias Araujo, M.A.; Jakarta: Kesaint Blank, 2015)
  2. Bunga Angin Portugis di Nusantara (Penulis: Paramita R.Abdurachman; Jakarta: LIPI Press bekerja sama dengan Asosiasi Persahabatan dan Kerjasama Indonesia-Portugal dan Yayasan Obor Indonesia, 2008) 
  3. Jejak Portugis di Maluku Utara (Penulis: Irza Arnyta Djafaar; Yogyakarta: Ombak, 2009) 
  4. Kamus Portugis-Indonesia, Indonesia-Portugis (Penyusun: Yohanes Manhitu; Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2015) 
  5. Lautan Rempah: Peninggalan Portugis di Nusantara (Penulis: Joaquim Magalhaes de Castro; Jakarta: Elex Media Komputindo, 2019) 
  6. Mengenal Bahasa Portugis (Penyusun: Maria de Lourdes; Lisabon: Kedubes RI, 2005) 
  7. Pengaruh Portugis di Indonesia (Penulis: Antonio Pinto da França; Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2000) 
  8. Portugis 12 Jam (Penulis: Jk Nusman: CV Yoviderchi, 1991) 
  9. Portugis dan Spanyol di Maluku (Penulis: M. Adnan Amal; Editor: Taufik Adnan Amal; Jakarta: Komunitas Bambu, 2010) 

Musik Instrumental pengiring video: "Bengawan Solo", ciptaan Gesang (dari Backsound Backing Track Minusone Kunci G)

Beberapa Puisi Rabindranath Tagore dengan Terjemahan Indonesia oleh Y. Manhitu

Beberapa Puisi Rabindranath Tagore dari Gitanjali dengan Terjemahan Indonesia oleh Yohanes Manhitu (Some Poems of Rabindranath Tagore from Gitanjali with Indonesian Translations by Yohanes Manhitu)

--------------------------------------------

RABINDRANATH TAGORE lahir di Kalkuta, India, 1861, tokoh terpenting dalam sastra modern India. Dengan karya-karyanya, ia telah memberi pengaruh yang kuat kepada para pengarang India dari segenap bahasa, juga kepada pengarang-pengarang Barat. Pada tahun 1913, ia menjadi satu-satunya pengarang non-Eropa yang menerima hadiah Nobel untuk Sastra berkat terjemahan puisinya sendiri yang berjudul Gitanjali. Sebagian terbesar karyanya ditulis dalam bahasa Bengali dan kemudian diterjemahkan ke bahasa Inggris. Tampaknya bahasa terjemahannya semasa dengan yang digunakan dalam Alkitab King James Version. Sebagai pendidik, ia berhasil mendirikan sebuah universitas yang bernapaskan humanisme, Visva-Bharati, di Santiniketan, pada tahun 1918. Sang Gurudeva (guru yang terhormat) meninggal dunia pada bulan Agustus 1941. Foto depan: http://rrrlf.nic.in.

Wednesday, March 31, 2021

ESPLIKASAUN BA BUAT-LAKON

Imajen: https://sites.google.com

Autór: Aníbal Núñez

Nia tuur tiha iha liña funu-maluk nia oin
iha kadeira-dadoko ida, no sees hosi
tiru sira, oin-midar: kilat-musan dahuluk
halo feto ida-ne’e kanek lahalimar.
Nia sei dadoko an nafatin to’o sira hotu munisaun-laek.

Tradusaun ba lia-indonézia: Yohanes Manhitu
Berbah, Yogyakarta, 29 Juñu 2017

ALTERASAUN KLIMÁTIKA*


Iha episentru ida iha balada busak 
ne’ebé kria rai-maran fuik sira.

Ho neineik, avalanxa monu,
kuartu-mákina mak rai-suut ida.

Foho-kadoek eskolta ninia orizonte,
no iha dalas rai-kalan nian
loron hasai fitun sira.

Meteoritu ida book ai-lubun moris sira.
No halo bee iha debu sira tun-sa’e.
Nenufar sira arranja fali bee.

Hotu-hotu hakreket nehan;
kada kabura iha kadoo matak,
ne’ebé momoos no soi fila rua.

Iha fatin ne’ebé naktaka hela ho jelu
ursu polár no maohok sira kasa malu,
atu lohi sentimentu hamlaha nian.

Tekitekir mak ninia masoruk:
kristál sira sai tuan atu parese foun,
tato’an buka fali kanek
no la’ós fitar.

Kbiit-divinu sira haluha atu lambe an
hanesan busa-jaguar sira
iha sira-nia tempu-deskansu.

Planeta ida-ne’e sofre iha hakat ida-idak.
Iha balada busak ida iha ninia episentru loroloron.

Tradusaun ba Tetun Ofisiál: Yohanes Manhitu
Yogyakarta, Indonézia, 15 Jullu 2020
------------------------------
*) Títulu orijinál: ALTERACIÓN CLIMÁTICA. Poezia ida-ne'e, hamutuk ho versaun lian dawan, tetun (ofisiál), no malaiu-Kupang--ne'ebé ha'u halo kedas ho versaun indonézia--mosu tiha ona iha antolojia multilíngue ida-ne'ebé ema sira fó-sai iha Salamanca, España, no lansa iha eventu XXIII Encuentro de Poetas Iberoamericanos iha sidade naran-boot ida-ne'e.
**) Dennis Ávila Vargas (moris-mai iha Tegucigalpa, Onduras, 13 Setembru 1981) ne'e poeta ondureñu, manán-na'in ba Premio Internacional de Poesía 'Pilar Fernández Labrador', prémiu prestijiozu iha mundu poezia ispánika.

Saturday, February 27, 2021

Ucapan Selamat dan Terima Kasih dari Penyair Bangladesh atas Buku "Gitanjali (Sítnatas)"

Foto: Diandra Kreatif (2019)

Pada tanggal 20 bulan ini, Ali Afzal Khan, seorang penyair dari Dhaka, Bangladesh, di grup Global Literary Translation Forum, mengucapkan selamat dan terima kasih kepada saya atas kehadiran buku Gitanjali (Sítnatas), yaitu terjemahan Dawan saya untuk Gitanjali (Song Offerings), karya Rabindranath Tagore, pemenang Hadiah Nobel Sastra tahun 1913. Semoga suatu hari nanti terjemahan Dawan untuk karya pemenang Nobel ini bisa menjangkau India dan Bangladesh. Salam sastra,

Thursday, February 11, 2021

Empat Buku Puisi Multibahasa dari Spanyol

Foto: Yohanes Manhitu, 2021

SEKADAR INFO. Hari ini (Kamis, 11 Februari 2021), telah tiba dari Salamanca, Spanyol, di alamat saya dalam kondisi prima, empat buku kumpulan puisi multibahasa yang memuat terjemahan-terjemahan saya ke bahasa Indonesia, Dawan, Tetun Nasional (Timor-Leste), dan Melayu Kupang.

Para penyair Hispanik yang karyanya saya terjemahkan sendiri langsung dari bahasa Spanyol ini adalah
1. San Juan de la Cruz/Santo Yohanes dari Salib (dari Spanyol);
2. Juan Carlos Olivas (dari Kosta Rika);
3. Luis Borja (dari El Salvador); dan
4. Dennis Ávila Vargas (dari Honduras).
Buku lain dari Salamanca akan segera menyusul.
Syukur, selalu ada kesempatan untuk belajar dan berbagi.
Terima kasih, Pak Pos. Semoga tugas Anda selalu lancar.

Monday, January 25, 2021

Telah Terbit Buku Puisi Multibahasa "Feliz vuelta a casa, señor Trump" di Salamanca, Spanyol

Foto: A.P. Alencart

INFORMASI SASTRA: Hari ini (25 Januari 2021), telah terbit di Kota Salamanca, Spanyol, sebuah antologi puisi terjemahan multibahasa (berjudul: "Feliz vuelta a casa, señor Trump"; judul Indonesia: Selamat pulang ke rumah, Tuan Trump") yang memuat dua terjemahan saya ke bahasa Indonesia untuk puisi "Trump" dan "Le quitaron la pelota" karya Alfredo Pérez Alencart, seorang penyair Spanyol dan pengajar pada Universitas Salamanca. Syukurlah, ada undangan menarik dan kesempatan bagus untuk terus belajar dan berbagi.

Salam sastra,

--------------------------

DETAIL BUKU

JUDUL: Feliz vuelta a casa, señor Trump
PENULIS: Alfredo Pérez Alencart
PENERJEMAH DAN BAHASA: Željka Lovrenčić (Kroat), Hasmik Baghdasarián (Armenia), Margaret Saine (Inggris), Abdul Hadi Sadoun (Arab), Kirill Korkonósenko (Rusia), Vikash Kumar Singh (Hindi), Noemí Vizcardo Rozas (Kecua), Janie Raharivola (Malagasi), Bernadette Hidalgo Bachs (Prancis), Violeta Boncheva (Bulgar), Vladimer Luarsabishvili (Georgia), Yohanes Manhitu (Indonesia), Gianni Darconza (Italia), Yong-Tae Min (Korea), Leocádia Regalo (Portugis), Gumercindo Tun Ku (Maya), Beate Igler dan Nely Iglesias (Jerman)
PENERBIT: Trilce Ediciones
TANGGAL TERBIT: 25 Januari 2021
KOTA DAN NEGARA: Salamanca, Spanyol
ISBN: 978-84-95853-80-5
JUMLAH HALAMAN: 94

Monday, January 11, 2021

Ekrigardeto pri la Portugala Lingvo en Indonezio


Bildo: PT Gramedia Pustaka Utama, 2015

De: Yohanes Manhitu*

Por ni, indonezianoj, la portugala ne estas nova fremda lingvo kvankam oni nek uzas nek instruas ĝin en lernejoj tra la lando, samkiel la anglan. Malgraŭ tio, troviĝas 131 portugaldevenaj vortoj en la indonezia lingvo (KBBI[1] 1999:1188)[2]. Estas evidente, ke la vortoj bendera (flago), lemari (ŝranko), palsu (falsa) kaj pita (rubando) devenas el la portugala, kiel provo de la longtempa ĉeesto de ĉi tiu latinida lingvo en nia lando. Hodiaŭ, oni preskaŭ ne scias, ke ĉi tiuj vortoj en nia nacia lingvo estas fakte adaptitaj el la lingvo de Camões[3].

Alveno de la portugala lingvo

Antaŭ  ol Afonso de Albuquerque alvenis en Malako (nun troviĝas en Malajzio) en aprilo 1511 kaj konkeris ĝin (en aŭgusto 1511), la tiamfama ĉefurbo de la sultanujo de Malako estis centro de la malaja kulturo. Kompreneble, tie, regis la malaja lingvo. En novembro 1511, ĉi tiu granda ŝipisto sendis al la Molukoj, la insularo de spicoj, tri ŝipojn sub la gvido de António de Abreu.[4] Pli malfrue, estis en la Molukoj, ke katolikaj misiistoj aperigis en la malaja (la tiama nomo de la indonezia lingvo) multajn vortojn el la portugala. Kvankam la insularo falis poste en la manojn de la nederlanoj en februaro 1605, oni daŭre uzis multe da vortoj devenintaj el la portugala. James T. Collins menciis[5], ke en 1623, dum la nederlanda tempo, aperis eldonaĵo titulita Catechismus attau Adjaran derri agamma Christaon (Katekismo aŭ Doktrino de la Kristana Religio), en kiu troviĝas la vorto Christaon (portugala: cristão).

Influo al indiĝenaj lingvoj

La portugala influas ne nur la indonezian, la nacian kaj ofialan lingvon, sed ankaŭ plurajn indiĝenajn lingvojn en Indonezio, kiu estas konata kiel paradizo por lingvistoj. Ĉi tie, ni prenu nur kelkajn ekzemplojn el la davana (la plej parolata indiĝena lingvo en Okcidenta Timoro, ankaŭ vaste uzata en Oekusi-Ambeno, Orienta Timoro) kaj la kupang-malaja (la malaja dialekto precipe parolata en Kupang, la ĉefurbo de la Provinco de Orienta Nusa Tenggara, Indonezio). En la davana (indonezilingve: bahasa Dawan), troviĝas pluraj portugaldevenaj vortoj kiel tetu (subtegmento; el teto), ajuda (helpanto dum la meso; el ajudante), lensu (poŝtuko; el lenço), hosti (hostio; el hóstia), kunfesat (konfeso; el confissão), Pasku (Pasko; el Páscoa), kaj Natal (Kristnasko; el Natal). Kaj en la kupang-malaja, ekzistas ankaŭ pluraj portugaldevenaj vortoj kiel kunyadu aŭ ĝia mallonga formo nyadu (bofrato; el cunhado), gargantang (gorĝo; el garganta), kaj saku (sako; el saco).

Familiaj nomoj

Dank' al la evidenta influo de la portugala ĉeesto en Indonezio, ĝis hodiaŭ ekzistas portugalaj familiaj nomoj sur la insuloj Timoro kaj Flores. Sed male al kiuj troviĝantaj en Orienta Timoro, sajnas ke la portugaldevenaj familiaj nomoj en Orienta Nusa Tenggara (NTT) jam estas distorditaj. Ĉi tie, mi prenas nur kvin ekzemplojn por provi al vi la fakton.

Familiaj nomoj[6]

Modifitaj

Originalaj

de Rosari

do Rosário

Fernandez

Fernandes

Fretis

Freitas

Lopis

Lopes

Mendez

Mendes

Mendonsa

Mendonça

Parera

Pereira

Riberu

Ribeiro

Preĝa lingvo

Suprize estas, ke post tre multaj jaroj de la foriro de portugaloj el Indonezio, oni trovas ankaŭ personojn, kiuj daŭre uzas la portugalan kiel preĝa lingvo. En Larantuka, la ĉefurbo de la distrikto Orienta Flores, laŭ Kal Müller en sia libro East of Bali, From Lombok to Timor (1997), grupo de maljunaj virinoj nomata Mama Muji (libere tradukita kiel “Laŭdantaj Patrinoj”) preĝas en kio sonanta kiel rompita portugala lingvo. Müller menciis en tiu libro, ke eĉ la portugala konsulo, kiam li vizitis tiun historian urbeton antaŭ kelkaj jaroj, ne povis kompreni vorton de tiuj preĝoj. Laŭ la sama fonto, malgraŭ tiu realeco, la maljunaj virinoj daŭras preĝi en tiu nekomprenata lingvaĵo. Ĝi sajnas pli adora ol vortsignifa afero. Krom tio, la kromnomo de Larantuka estas Kota Reinha Rosari (indonezilingve, Urbo de Rozaria Reĝino). La nomo Reinha Rosari[7] mem devenas el la portugala Rainha do Rosário, unu el la titoloj de Sankta Maria, la patrino de Jesuo Kristo. Kaj ĉiujare antaŭ la Pasko, oni povas partopreni la procesion de Semana Santa (portugallingve, Sankta Semajno) en Larantuka.   

Kursoj kaj eldonaĵoj

Malgraŭ la fakto ke la portugala estis la eŭropa lingvo kiu unue alvenis al la Arĥipelago (indonezilingve: Nusantara), vi miros scii ke hodiaŭ troviĝas nur unu portugallingva kurso en la tuta lando. Oni donas tiun kurson ĉe la Universitato Indonezia (UI) en Ĝakarto, la ĉefurbo de la lando. Mankas ankaŭ libroj pri la portugala lingvo, por ke la indonezianoj povu lerni ĝin, se ili volas. Jam pasas pli da 500 jaroj de historia rilato inter la Insularo kaj Portugalujo, sed nur en 2015 aperis Kamus Portugis-Indonesia, Indonesia-Portugis (granda portugala-indonezia, indonezia-portugala vortaro, eldonis PT Gramedia Pustaka Utama), kiu indikas la riĉecon de la indonezia kaj la portugala lingvoj, kaj faciligas kulturan kaj sciencan intersaĝojn.

Kunkludo

Vortoj ja markas historion, kaj historio mem estas gravega leciono. La ekzisto de portugaldevenaj vortoj en la indoneziaj lingvoj nepre ne estas unutagkreita afero. Tial mi, indoneziano, esperas, ke la rilato inter la du popoloj (indonezia kaj portugala) kaj ankaŭ kun la portugallingvaj popoloj tra la mondo daŭrigos pro paco kaj amikeco. Oni devas lerni el la pasinteco por krei pli bonan estontecon. Dum ni spiras, ni esperas.

Yogyakarta, la 24an de januaro 2019


[1] Kamus Besar Bahasa Indonesia (Granda Indonezilingva Vortaro; Ĝakarto: Balai Pustaka, 1999).

[2] Sed laŭ mia trovaĵo, kiun mi aperigis en Kamus Portugis-Indonesia, Indonesia-Portugis (granda portugala-indonezia, indonezia-portugala vortaro; paĝo 1505-1509), troviĝas 144 portugalaj vortoj en la indonezia.

[3] Luís Vaz de Camões (1524/1525–1580), aŭtoro de la nacia epopeo Os Lusíadas (La Luzidoj:1572), estas konsiderata kiel la plej grava portugala kaj portugallingva poeto.

[4] Legu pli ĉe https://pt.wikipedia.org/wiki/Afonso_de_Albuquerque.

[5] En Bahasa Melayu, Bahasa Dunia (indonezilingve, La Malaja, Monda Lingvo), tradukis Alma Evita Almanar (2005) el la anglalingva originalo: Malay, World Language: a short history (La Malaja, Monda Lingvo: mallonga historio; Kuala-Lumpuro: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1996).

[6] La kompleta listo troviĝas en mia Kamus Portugis-Indonesia, Indonesia-Portugis; paĝo 1496-1497).

[7] Estas Puteri Renha Rosari (PRR: Filinoj de la Rozaria Reĝino), kongregacio religia fondita en Larantuka (1958) de Mgr. Gabriel Manek, SVD (19131989), la dua indonezidevena episkopo de la Romkatolika Eklezio.



*) Verkisto, tradukisto, sola aŭtoro de Kamus Portugis-Indonesia, Indonesia-Portugis, la unua granda portugala-indonezia, indonezia-portugala vortaro (Ĝakarto: PT Gramedia Pustaka Utama, la 14an de decembro 2015; http://ymanhitu-works.blogspot.com/2015/12/kamus-portugis-indonesia-indonesia.html), loĝanta en Yogyakarta, Indonezio.