Sunday, August 30, 2020

Jejak-Jejak Langkah Awal Saya di Dunia Siber

Foto: Dokumen pribadi (21/07/2020)

Syukur! Ternyata situs web pribadi yang saya rancang sendiri secara gratis di Yogyakarta (dimulai pada hari Sabtu, 10 Februari 2001) masih bisa dijumpai di internet. Memang situs itu tidak seutuh dahulu, ketika masih maksimal, tetapi cukup bisa dibuka dan tentu sangat penting bagi saya secara pribadi untuk melihat jejak-jejak langkah awal saya di dunia siber. Halaman utamanya bisa dibaca dalam lima bahasa: Inggris, Indonesia, Prancis, Spanyol, dan Portugis.

Pada saat itu, saya baru 6 bulan tinggal di Yogyakarta dan lagi menggandrungi bahasa-bahasa baru, sastra, dan juga internet. Masih teringat malam-malam panjang di warnet bersama dengan Bung Yos Tamonob. Kami asyik sendiri di bilik masing-masing di warnet langganan kami, Starnet, tepat di luar tembok keraton, untuk mengurus situs-situs web gratis kami. Kantuk tak digubris!

Saya baru perlahan-lahan beralih ke blogspot.com (dengan blog utama di https://ymanhitu.blogspot.com) pada bulan Maret 2007 ketika layanan gratis geocities berakhir. Situs web geocities itu menyimpan begitu banyak kenangan saya sebagai pemelajar di Kota Gudeg ini. Kata si bijak, langkah yang panjang dimulai dari sebuah langkah kecil, termasuk di dunia maya. Salam literasi,

Thursday, July 30, 2020

Selamat jalan! Semoga beristirahat dalam damai.

Foto: https://seleb.tempo.co

Turut berdukacita sedalam-dalamnya atas meninggalnya sastrawan kawakan Ajip Rosidi (1938-2020)! Sang profesor tanpa ijazah sarjana dan begawan sastra Sunda dan Indonesia itu telah pergi untuk selama-lamanya. Selamat jalan, sang penggagas Hadiah Sastra Rancage! Semoga arwahmu menikmati istirahat dan damai di Alam Mahapuitis! Nama dan karyamu akan abadi. (Piyungan, DIY, 30 Juli 2020). 🌺  

Artikel Saya Dikutip dalam Sebuah Tesis di Universitas Negeri Medan



Dalam tesisnya (untuk memperoleh gelar Magister Humaniora [M.Hum.]) yang berjudul THE ATTITUDES OF UNIVERSITY STUDENTS OF BATUBARA IN MEDAN TOWARDS BATUBARA MALAY LANGUAGE, Julisah Izar, dari Jurusan Linguistik pada Universitas Negeri Medan, Sumatra Utara, mengutip pendapat saya (yang ia terjemahan ke bahasa Inggris), bunyinya begini:

Yohanes Manhitu (2011) states that there are some consideration of using ethnics languages those are : as a tool for showing the culture, as the identity of the nation, part of the Indonesian culture mosaic and world, the bridge between generation, the language introduction in the school such as local content, Attitudes towards a particular language might be either positive or negative. Some the users of language may have negative attitudes towards the second language and want to learn it in order to preveil over people in the community. (Sumber: Silakan klik di sini)

Catatan: Artikel yang menjadi sumber kutipan di atas berjudul Bahasa Daerah: Kekayaan Budaya yang Harus Tetap Lestari dan dapat dibaca di sini. Terima kasih atas kutipan ini. Semoga tulisan-tulisan yang telah dibuat bermanfaat seluas-luasnya bagi yang membutuhkan. Salam mesra buat semua!


Foto Rumat Adat Batubara di Medan: https://travel.detik.com

HA'U HAKARAK (Terjemahan Sebagai Perhormatan kepada Sastrawan Sapardi Djoko Damono

Foto: https://www.skymetweather.com

Ha'u hakarak hadomi ó ho dalan simples
ho liafuan ne'ebé ai la biban atu dehan ba ahi mak halo nia sai ahun
Ha'u hakarak hadomi ó ho dalan simples
ho sinál ne'ebé kalohan la biban atu dehan ba udan mak halo nia lakon

— Sapardi Djoko Damono (1940–2020), poeta boot ida Indonézia nian

---------------------------------------------

*) Tradusaun ba lia-tetun: Yohanes Manhitu (19 Jullu 2020; versaun orijinál hetan iha-ne'e). Ne'e ha'u-nia omenajen ba poeta Sapardi Djoko Damono, ne'ebé ohin hakat ba mundu seluk. Nia bele hanesan kalohan be udan halakon, maibé ninia naran no knaar sei moris nafatin.

"Kamus Indonesia-Tetun, Tetun-Indonesia" Dikutip dalam Sebuah Jurnal Ilmiah di Papua

Gambar: http://kibascenderawasih.kemdikbud.go.id 

INFO LITERASI: Syukur, Kamus Indonesia-Tetun, Tetun-Indonesia (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, Edisi I: Juli 2007; Edisi II: April 2015) sudah lebih sering dijadikan rujukan penulisan karya ilmiah, baik di dalam maupun di luar negeri. Kali ini, bagian karya itu dikutip oleh Antonius Maturbongs, dari Balai Bahasa Papua di Jayapura, dalam tulisannya yang berjudul PERAN SEMANTIS VERBA BAHASA TETUN DI TIMOR LESTE (terbit di jurnal ilmiah "Kibas Cenderawasih", Vol. 15, No. 1, April 2018:33—52). Silakan baca tulisan tersebut di sini.

(Babadan Asri, DIY, 17 Juli 2020, pada masa karantina mandiri)

"Kamus Indonesia-Tetun, Tetun-Indonesia" dalam Sebuah Tulisan di Jurnal Universitas di NTT

Foto: Dokumen pribadi penulis
INFO LITERASI: Catatan-catatan saya tentang bahasa Tetun (dalam Kamus Indonesia-Tetun, Tetun-Indonesia [Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, Juli 2007]) sempat dirujuk Hendrik Bouk (dari Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Katolik Widya Mandira Kupang, NTT) untuk tulisannya yang berjudul KESANTUNAN BERBAHASA TETUN DALAM KOMUNIKASI INTERPERSONAL ANTARA MASYARAKAT RAFA’E DENGAN KAUM BANGSAWAN (baca tulisan tersebut di sini). Semoga bermanfaat ya. Salam literasi,

Sekilas Tentang Buku Percakapan Tanpa Bahasa Belanda ("Multlingva Frazlibro"; Rotterdam, 2009)

Foto: Dokumen pribadi penulis

Oleh: Yohanes Manhitu

Buku saya Multlingva Frazlibro (Rotterdam, Belanda: Universala Esperanto-Asocio [UEA], 2009) adalah sebuah buku percakapan 9 bahasa (Esperanto, Indonesia, Dawan, Tetun Nasional, Melayu Kupang, Inggris, Prancis, Spanyol, Portugis) dengan bahasa Esperanto sebagai bahasa pangantar. Buku ini disusun secara tematis dan dilengkapi dengan sejumlah lampiran.

Sayang, walaupun diterbitkan oleh Asosiasi Esperanto Sedunia di Rotterdam, Negeri Belanda, buku ini tidak mencakup bahasa Belanda. Alasannya adalah pada saat itu, ketika buku itu lagi disusun, saya belum sempat belajar bahasa Belanda, apalagi sanggup menyusun ratusan kalimat percakapan tematis.

Suatu ketika, seorang Esperantis dari Eropa yang telah menggunakan buku tersebut berkunjung ke Yogyakarta, setelah mengunjungi Salatiga, tempat lahirnya. Tatkala kami berjumpa, ia bertanya langsung kepada saya dalam bahasa Esperanto mengapa bahasa Belanda tidak tercantum di buku itu, padahal bahasa itu pernah digunakan di Hindia Belanda selama 350 tahun, dan cukup banyak kosakata serapan dari bahasa Belanda dalam bahasa Indonesia. Dengan tersenyum, saya cuma bilang bahwa tak mungkin saya mencantumkan bahasa yang belum sempat dipelajari cukup mendalam, apalagi dalam sebuah buku percakapan. Lalu, kami terlibat dalam obrolan asyik tentang politik kebahasaan Hindia Belanda dan Indonesia merdeka.

Semoga suatu saat nanti (karena belum bisa sekarang!), setelah saya sudah mahir menggunakan bahasa Belanda, bahasa itu boleh juga ditambahkan.

Catatan: Buku percakapan Multlingva Frazlibro ini sudah dikoleksi oleh Le Centre culturel espéranto (Pusat Kebudayaan Esperanto) di Toulouse, Prancis; perpustakaan Esperanto di Aalen, Jerman; perpustakaan UEA di Rotterdam, Belanda; perpustakaan Kota Yogyakarta, dll.

(Babadan Asri, DIY, 10 Juli 2020, pada masa karantina mandiri)

Undangan untuk Menerjemahkan Tiga Puisi dalam Antologi "TRÍPTICO DE LA INDIGNACIÓN"

Foto: https://www.elnortedecastilla.es

Tabik! Setelah merampungkan terjemahan puisi ALTERACIÓN CLIMÁTICA karya Dennis Ávila (penyair Honduras yang memenangi Premio Internacional de Poesía 'Pilar Fernández Labrador', penghargaan puisi bergengsi di dunia Hispanik) ke bahasa Indonesia, Dawan, Tetun Resmi, dan Melayu Kupang, kini saya diundang untuk menerjemahkan tiga puisi Spanyol karya penyair Afredo Pérez Alencart ke bahasa Indonesia (saja). Terjemahan-terjemahan saya, bersama-sama dengan terjemahan-terjemahan ke bahasa-bahasa lain di dunia, akan terbit di Salamanca dalam tahun ini di sebuah antologi puisi multibahasa yang berjudul TRÍPTICO DE LA INDIGNACIÓN. 

(Babadan Asri, DIY, 7 Juli 2020, pada masa karantina mandiri)

Tuesday, June 30, 2020

Ibu guruku cantik sekali


Ini sosok ibu guru bahasa Latin di Amerika Serikat pada tahun 1951. Ketika itu, bahasa Latin masih diajarkan secara luas di berbagai sekolah umum. Banyak manfaatnya belajar bahasa Latin. Ah! Kuteringat deh pada lagu lama dengan potongan lirik ini: Ibu guruku cantik sekali. Mengajar kami bahasa Inggris. 😂

Foto: Cuplikan dari video "Why Study Latin" (di YouTube)

P. Vincent Lechovič, SVD dan Karya-karyanya


LECHOVIČ, VINCENT: (lebih dikenal dgn nama Vinzent Leko) seorang pastor Serikat Sabda Allah (S.V.D.) berkebangsaan Slovakia yang pernah berkarya di Soe, TTS, Timor Barat, NTT. Atas usaha kerasnya dengan bantuan beberapa anggota umat Katolik setempat, telah diterbitkan karya-karya penting, yakni terjemahan dalam bahasa Dawan (Uab Meto), seperti "Sulat Knino" (1966), "Katekismus In Nesan" (1969), "Tsi Ta’naeb Uisneno" dan "Oe Mat Neno" (1969). Setelah tiba di tanah airnya, ia menulis dan menerbitkan buku kenangannya tentang Timor, berjudul "Spomienky na Timor" (1992).
--------------------------------------------------------------------
Catatan: Ini bagian kecil (satu entri saja) dari sebuah karya yang lagi digarap. Referensi lengkap terdapat dalam naskah. Harap lekas rampung dan terbit.

Foto P. Vincent Lechovič, SVD: dari sampul buku "Spomienky na Timor"

Sunday, May 31, 2020

Undangan untuk menerjemahkan puisi ALTERACIÓN CLIMÁTICA karya Dennis Ávila, penyair Honduras

Foto penyair Dennis Ávila: www.moncloa.com

Kabar gembira! Saya diundang lagi oleh penyair Afredo Pérez Alencart dari Universidad de Salamanca (Universitas Salamanca), Spanyol, untuk ikut serta menerjemahkan puisi Spanyol. Kali ini, yang akan diterjemahkan adalah puisi ALTERACIÓN CLIMÁTICA karya Dennis Ávila, penyair Honduras yang memenangi Premio Internacional de Poesía 'Pilar Fernández Labrador', penghargaan bergengsi di dunia Hispanik. Terjemahan-terjemahan saya sendiri ke bahasa Indonesia, Dawan, Tetun Resmi, dan Melayu Kupang itu bakal diikutkan dalam sebuah antologi multibahasa internasional yang akan terbit di Salamanca, Spanyol, dan diluncurkan pada acara XXIII Encuentro de Poetas Iberoamericanos di kota tersebut. Kiranya dialog antarbahasa bisa lestari. Ini sebuah kesempatan bagus untuk lebih banyak belajar. ✍️

Dua buku saya yang kini terdapat di katalog "The British Library" di London, Inggris

Foto: Yohanes Manhitu, 27 Mei 2020

INFO LITERASI: Dua buah karya saya yang kini terdapat di katalog The British Library di London, Inggris, adalah kumpulan puisi asli berbahasa Esperanto Sub la vasta ĉielo (Candelo, Australia: Mondeto, 2010) dan Kamus Indonesia-Tetun, Tetun-Indonesia (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, Edisi I: Juli 2007; Edisi II: April 2015). (Sumber: http://explore.bl.uk). Semoga karya lain lekas terbit dan menyusul. 

Salam mesra literasi, 🌺

Wednesday, April 29, 2020

"Ser culto es el único modo de ser libre." --José Martí, escritor y político de origen cubano

Imagen: https://www.cuba-si.ch

Ser culto es el único modo de ser libre. (Español)
Being educated is the only way to be free. (English)
Ser educado é a única maneira de ser livre. (Português)
Esti edukita estas la sola maniero por esti libera. (Esperanto)
Berpendidikan adalah satu-satunya cara untuk bebas. (Indonesia)
Hetan edukasaun mak dalan ida mesak de'it atu sai livre. (Tetun TL)

Dr. George Quinn, sang pakar sastra dan budaya Jawa yang berdomisili di Australia

Dr. George Quinn (lahir di Selandia Baru pada tanggal 22 Juli 1943) adalah seorang pakar sastra dan budaya Jawa yang berdomisili di Australia. George Quinn merupakan dosen senior di Australian National University di Canberra. Selain menggeluti sastra dan budaya Jawa, ia juga meneliti tentang perkembangan agama Katolik Roma di Timor Leste. Dan sekarang ia juga mempelajari tradisi masyarakat Jawa berziarah ke kuburan suci atau para Wali Songo. (Sumber teks dan foto: https://id.wikipedia.org/wiki/George_Quinn)
Catatan: Saya tidak mengenal Dr. George Quinn secara pribadi, tetapi ia pernah mengucapkan terima kasih kepada saya melalui email atas "Kamus Indonesia-Tetun, Tetun-Indonesia" (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama; Edisi I: Juli 2007; Edisi II: April 2015) karya saya yang bermanfaat bagi penelitiannya tentang perkembangan agama Katolik Roma di Timor Leste.