Sekadar informasi. Lima puisi Tetun Nasional saya baru-baru ini terbit
di Edisi 150 (21 Oktober-1 November 2016) "Jornál Semanál
MATADALAN"---sebuah mingguan berbahasa Tetun Nasional di Dili, ibu kota
Timor-Leste. Sejak 2013, mingguan ibu kota ini telah menerbitkan
sejumlah puisi dan cerpen saya yang ditulis langsung dalam bahasa Tetun
Nasional, yakni bahasa resmi pertama dan bahasa nasional pertama
Republik Demokratik Timor-Leste (RDTL). Semoga dialog budaya melalui
sastra, terutama puisi, dapat terus berjalan dan lestari. Terima kasih
kepada Bung Cancio Ximenes atas versi "scan" yang barusan dikirim dari kantor redaksi "Matadalan" (Kompas) di Dili. Salam sastra,
Wednesday, November 30, 2016
Se sai modo no masin
Puisi "Para Kekasih" dan "Waktu Sang Pencerita" Terbit di Salamanca, Spanyol
Sekadar informasi. Telah terbit dua puisi terjemahan Indonesia
saya---langsung dari versi berbahasa Spanyol---dalam dua antologi
multibahasa di Salamanca, Spanyol. Kedua antologi yang diterbitkan oleh
Diputación de Salamanca itu berjudul "OSCÚRAME (karya Ingrid Valencia
dari Meksiko; dengan terjemahan saya yang berjudul "PARA KEKASIH") dan
"LA METÁFORA DEL CORAZÓN" (karya José Pulido Navas dari Spanyol; dengan
terjemahan saya yang berjudul "WAKTU SANG PENCERITA"). Kedua penyair
hebat dari dunia Hispanofon tersebut adalah pemenang "III PREMIO
INTERNACIONAL DE POESÍA 'PILAR FERNÁNDEZ LABRADOR'". Salam sastra,
Triste tan horisehik
Monday, October 31, 2016
Yang Lebih Penting tentang Menulis
![]() |
| Foto: www.postallove.com |
Sebenarnya yang lebih penting tentang menulis adalah apa pesan yang
ingin disampaikan kepada (para) pembaca. Kalau soal bahasa yang dipakai
untuk menuliskannya, itu adalah pilihan atau kesukaan si penulis
sendiri, tergantung pada kepada siapa (yang berbahasa apa) ia
menulis---siapa yang menjadi calon penerima pesannya. Saya selalu merasa
nyaman saja menulis dalam bahasa daerah, bahasa nasional, dan/atau
bahasa asing. Ketika menulis dalam bahasa asing, baik itu yang alami
(seperti bahasa Inggris, Spanyol dll.)
maupun ciptaan (seperti bahasa Esperanto, adikarya L. L. Zamenhof), itu
sama sekali tak berarti saya telah mengesampingkan bahasa(-bahasa)
daerah saya ataupun bahasa Indonesia, sebagai bahasa nasional &
resmi negara ini. Sekali lagi, itu soal preferensi pribadi penulis.
Lewat tulisan dalam sebuah bahasa yang dipilih secara bebas, kita bisa
menyelamatkan gagasan-gagasan kita. Hidup-matinya setiap ide adalah
tanggung jawab si pemilik ide itu sendiri. Salam mesra,
Berbah, Yogyakarta, 26 Oktober 2016
Dua hati insani telah berpadu
Air mata langit
Sepotong Pantun Subuh
Setelah terbitnya "Sub la vasta ĉielo" (2010)
Tabik! Setelah terbitnya kumpulan puisi asli pertama saya dalam
bahasa Esperanto yang berjudul Sub la vasta ĉielo (New South Wales,
Australia: Mondeto, 2010), saya belum sempat menulis banyak puisi
Esperanto, kecuali sibuk dan asyik mempersiapkan kumpulan puisi
dwibahasa Dawan-Esperanto perdana saya. Semoga bisa terbit dalam waktu
dekat ini. Akan saya kabari.
Ingin rasaya kupergi sendiri ke sebuah tempat yang cocok dan menghabiskan menit-menit yang begitu berharga dengan menulis
puisi berbahasa Esperanto. Ah! Betapa nikmatnya menulis puisi dalam
bahasa ini, mahakarya Ludwik Lazar Zamenhof (1859-1917)! Bahasa ini
mulai saya pelajari dengan cukup tekun pada bulan Januari 2001 dan puisi
Esperanto pertama saya Sub la vasta ĉielo---yang menjadi judul
kumpulan puisi---lahir pada bulan Juni 2006.
Bila masih ada kesempatan untuk mengukir jejakmu pada dinding waktu,
lakukanlah! Tulislah! Dikau bisa memilih untuk menulis dalam bahasa apa
saja yang "dikuasai" dengan baik. Bisa dalam bahasa daerah, bahasa
nasional, atau bahasa "internasional". Atau bahkan bisa dalam
ketiga-tiganya. Tiada yang 'kan melarangmu. Gunakanlah bahasa yang
memungkinkanmu untuk menuangkan pikiran dan perasaanmu dengan bebas
bagai kijang di alam lepas.
Selamat berakhir pekan dan salam sastra mesra!
Berbah, Yogyakarta, 8 Oktober 2016
Selamat berakhir pekan dan salam sastra mesra!
Berbah, Yogyakarta, 8 Oktober 2016
Latihan Konjugasi Kata Kerja Bahasa Dawan
![]() |
| Foto: https://daakuspeaks.com |
Sekadar latihan konjugasi kata kerja bahasa Dawan (Uab Meto*) untuk
kata "mengenal" (dan juga "mengetahui"). Kata kerja bahasa Dawan berubah
menurut subjek kalimat, tetapi tidak menurut waktu dan modus.
Au uhín bifé nae. = Saya mengenal perempuan itu.
Ho muhín bifé nae. = Engkau/kamu mengenal perempuan itu.
In nahín bifé nae. = Dia mengenal perempuan itu.
Hit tahín bifé nae. = Kita/Anda mengenal perempuan itu.
Hai mihín bifé nae. = Kami mengenal perempuan itu.
Hi/hei mihín bifé nae. = Kalian/kamu mengenal perempuan itu.
Sin nahín bifé nae. = Mereka mengenal perempuan itu.
Cukup dulu ya. Lain kali kita bahas kata kerja yang lain. Salam bahasa dan sastra,
----------------
*) Bahasa Dawan (Uab Meto) adalah bahasa Timor dengan jumlah penutur
asli terbanyak; digunakan di Timor Indonesia (NTT) dan Timor-Leste.
Bahasa ini merupakan bahasa Timor terbesar selain Tetun dan
dialek-dialeknya.
Di sebuah emperan
Di tapal batas kerinduan
![]() |
| Foto: https://thefourthrevolution.org |
Ah! Ingin kurangkul erat dirimu di tapal batas kerinduan,
di mana penantian tuntas dan rasa sesak itu lepas,
di mana keresahan itu ludes termakan api puas,
di mana kemerdekaan tergapai dan kubebas,
di mana di mana-mana dadaku terasa luas.
(Sekadar melukis malam dengan kata)
Berbah, Yogyakarta, 4 Oktober 2016
"Narahubung" dan "Narakontak"
![]() |
| Foto: https://in.pinterest.com |
Dua kata bahasa Indonesia yang tampaknya kurang populer dalam masyarakat
Indonesia adalah "narahubung" dan "narakontak", yang padanan Inggrisnya
adalah "contact person". Rasanya kurang afdol jika dalam undangan
berbahasa Indonesia, kata Inggris ini tercantum. Jika ada kata
"narasumber" (orang yang menjadi sumber informasi) dan "narapidana"
(orang yang terpidana), tentu wajar kalau ada "narahubung" dan
"narakontak" (orang yang dapat dihubungi atau dikontak). Sinonim kata
"nara" adalah "orang".
(Berbah, Yogyakarta, 3 Oktober 2016)
Tuesday, October 25, 2016
DARI SATU ZIARAH KE ZIARAH LAIN
![]() |
| Foto: www.google.com |
Oleh: Yohanes Manhitu
Buat sang teman ziarah dalam satu ziarah
Tentang laju waktu, aku tak mau berkomentar.
Kuhanya ingat perjumpaan di bulan Maria itu
ketika di bawah pohon rindang, kaumenanti.
Lalu berdua kita melangkah ke taman hijau.
Sangat mungkin itulah prolog ziarah rasa.
Tiada perjumpaan yang miskin alasan
walau baru bening setelah semusim.
Satu ziarah bertolak dari ziarah lain.
Kamera boleh menangkap wajah,
namun kulebih nyaman bersajak
karena kata-kata bisa lebih awet
menyimpan selaksa kenangan.
Tak seluruh obrolan di taman
terekam verbatim di benak.
Yang pasti, kalimat ziarah
terlontar penuh senyum.
Yogyakarta, 25/10/2016
Subscribe to:
Posts (Atom)













