Sunday, September 30, 2018

Hatene belun be loos

Image: www.google.com

Belun di'ak mak belun laran-moos.
Se nia nafatin lohi ema, nia la'ós.
Bainhira hasoru moris be toos,
ita sei hatene belun be loos.

Autór: Yohanes Manhitu
Yogyakarta, 28-9-2018

Dalan nakloke ona

Image: www.google.com

Dalan iha oin ne'e, nakloke ona.
Ba laran nia lian, ha'u sei rona.
Maski ain seidauk bele kona,
dalan nia rohan moos ona.

Autór: Yohanes Manhitu
Yogyakarta, 28-9-2018

Friday, August 31, 2018

TWO HEARTS AT TWO PIERS

Image: www.google.com

A poem by: Yohanes Manhitu

The beginning was just a hello
accompanied by a plain smile.
No one was able to tell the sun
how time would make a change
by leading two hearts to a stage.

Time flew as it wished, really fast.
The two hearts began to take a test
to look at themselves in a big mirror.
They both enjoyed undressing in verses
and learned the fact of hope sacrifice.

They are now standing at two piers,
waiting for boats to two destinations.
One pure disciple; one pure vagabond.
Both love mystery, but detest betrayal.
Understanding was their true consoler.

I am the only witness; I take no sides.
I adore the disciple; love the vagabond.
Only God who may strike His hammer.
He is the One to turn a worry to a smile.
He is to grant the two hearts a paradise.

Tuktuk, Samosir Island, 26 May 2003
---------------------------------

*) This poem is taken from my newest book, "A WALK AT NIGHT (Une promenade de nuit)", that has been published in Antwerp, Belgium, by Eldonejo Libera. The book is a collection of 110 life inspired original poems: 65 in English and 45 in French. Some of the French poems have won poetry contests in the Indonesian city of Yogyakarta. The price of the book is $10.41. You can order the poetry book FROM HERE.

PAGES OF A STORY BOOK

Image: www.google.com

A poem by: Yohanes Manhitu

The days pass quickly just like the pages
of a story book turned fast by a reader
hoping for a happy ending for himself
though the plot is uneasy, he knows.

He has opened the book like a blind.
The beginning flows like river water
moving toward the ocean of ecstasy
that turns into what he calls agony.

The book is still open; he is reading.
While trying to reach the final page,
he finds there much sadness and joy;
and keeps hoping for a happy ending.

Chapter by chapter he now has passed,
and still many more chapters to touch.
Though the story is still far to complete,
a happy ending is all he wants to enjoy.

Yogyakarta, Indonesia, 9 March 2005
---------------------------------
*) This poem is taken from my newest book, "A WALK AT NIGHT (Une promenade de nuit)", that has been published in Antwerp, Belgium, by Eldonejo Libera. The book is a collection of 110 life inspired original poems: 65 in English and 45 in French. Some of the French poems have won poetry contests in the Indonesian city of Yogyakarta. The price of the book is $10.41. You can order the poetry book FROM HERE.

Tuesday, July 31, 2018

Rona Múzika Kalan Nian



Hakerek-na'in: Yohanes Manhitu

Kleur ona ha’u gosta kalan be hamaluk ha’u
ho nonook naruk be halo ha’u hakmatek,
ho múzika kapás be haksolok tebes.
Karik ha’u fuan-monu ba rai-kalan.

Ema dehan katak rai-kalan besik ho nakukun
no buat oioin be dala ruma fó laran-taridu.
Maibé rai-kalan ne’e tempu furak ida
hodi hetan an iha fulan nia okos.

Durante rai-loro, susar hodi rona múzika furak
be mosu moos hosi raiklaran tarutu nian.
Se ó hakarak rona natureza nia lian,
hamaluk de’it fulan ho fitun-lubun.

Yogyakarta, fulan-Jullu 2007
------------------------------

Menyimak Musik Malam

Penulis-penerjemah: Yohanes Manhitu

Telah lama kusukai malam yang menemaniku
dengan keheningan panjang yang membuatku tenang,
dengan musik indah yang amat menyenangkan.
Barangkali kujatuh cinta pada malam hari.

Kata orang, malam itu akrab dengan kegelapan
dan berbagai hal yang terkadang merisaukan.
Tapi malam hari itu suatu saat yang indah
untuk temukan diri di bawah rembulan.

Selama siang, sulit ‘tuk menyimak musik indah
yang timbul dengan jelas dari dunia kebisingan.
Jika kauingin mendengarkan suara alam,
temani saja rembulan dan galaksi.

Yogyakarta, Juli 2007
--------------------------
*) Puisi Tetun ini terbit di "Jornál Semanál Matadalan", mingguan berbahasa Tetun di Dili, ibu kota Timor-Leste (Edisi 107, 09–15 September 2015).

Belajar Bahasa Jauh Sebelum Dibutuhkan

Gambar: www.google.com

Tentang belajar bahasa (asing), sudah sering saya sarankan kepada teman-teman untuk belajar bahasa (asing) jauh-jauh hari, lama sebelum bahasa itu sungguh-sungguh dibutuhkan, baik untuk belajar maupun bekerja. Tentu tidak bisa pakai cara ngebut semalam langsung "cas-cis-cus" (sangat fasih). 
(Yogyakarta, 13 Juli 2018)

Selamat Jalan, Kardinal Jean-Louis Pierre Tauran!


Turut berdukacita atas meninggalnya Kardinal Jean-Louis Pierre Tauran (1943–2018), yang wajahnya tak asing lagi bagi orang-orang Katolik yang suka menonton acara pemberkatan "Urbi et Orbi" langsung dari Vatikan. Kardinal Tauran yang berasal dari Prancis ini meninggal dunia di Amerika Serikat pada tanggal 5 Juli 2018. Beliau pernah berkunjung ke Indonesia dengan Pastor Markus Solo SVD pada tahun 2009. Kiranya arwah beliau memperoleh istirahat dan damai surgawi. Terima kasih banyak atas jasa-jasanya bagi Gereja dengan menjalankan berbagai tugas penting semasa hidup, di antaranya sebagai Presiden Dewan Kepausan untuk Dialog Antarumat Beragama dan Pemimpin Seksi Kearsipan dan Perpustakaan Vatikan. (Yogyakarta, 15 Juli 2018)

Foto: Kardinal Jean-Louis Tauran (paling kiri) di Masjid Istiqlal Jakarta (Sumber: https://penakatolik.com)

Hadomi Loro-toban

Imajen: www.google.com

Loraik mós nafatin iha biban,
no ó sei bele hetan dalan.
Se tebetebes ó soi laran,
ó sei hadomi loro-toban.

Autór: Yohanes Manhitu
Yogyakarta, 27-07-2018

Mari Katóng Pi

Foto: https://www.pinterest.com

Karya: Yohanes Manhitu

Ini kapal baro’o
ada barang tapo'a
ma panumpang kuat
dan pegang satu tekad
sampe di pulo harapan.


Ombak son bisa lu masparak,
biar-ko dia tarús bermaen.
Gelombang, sapa bisa tahan?
Biar-ko dia tetap bagulung;
biar-ko ini idop ada warna;
biar katóng yang pasang mata.


Ada menara tua di sablá laut.
Di sana, ada lampu yang taráng.
Dari jao, tacium bau cendana
dari akar bésar yang tabakar.
Ada suara orang maen sasando;
anak kici manyanyi Bolelebo;
ada pesta deng daging se'i;
ada acara minum tuak laru;
jagung katemak menu utama;
samua orang tawar sanyúm.


Yogyakarta, 9 Oktober 2004

Saturday, June 30, 2018

Menerima Paket "A Cabeleira (Fragmentos)" dari Claudio Rodríguez Fer, Penyair Galisia-Spanyol


Untuk kesekian kalinya, saya menerima paket berisikan buku puisi multibahasa yang di dalamnya terdapat paling kurang satu terjemahan saya dan juga paraf penulis atau editor. Hal bagus ini berlangsung sejak tahun 2007 ketika saya menerima paket dengan buku Los Poetas y Dios (antologi puisi para penyair Hispanik; León, Spanyol, 2007). Antologi ini memuat tiga puisi asli saya dalam bahasa Spanyol dan sebuah terjemahan saya dari bahasa Spanyol ke bahasa Indonesia untuk puisi Alfredo Pérez Alencart. Kali ini, di dalam A Cabeleira (Fragmentos) karya Claudio Rodríguez Fer (sastrawan dan profesor dari Galisia, Spanyol; https://en.wikipedia.org/wiki/Claudio_Rodriguez_Fer) juga ada paraf penulis karya asli sebagai ucapan terima kasih atas kerja sama penerjemah. Semoga dialog sastra antarbangsa melalui puisi bisa lestari. (Yogyakarta, 13 Juni 2018)

Sungguh Beruntung Bisa Banyak Belajar Dari Dua Maestro Sastra Dunia

Foto: www.google.com

Keuntungan lain dari menerjemahkan Gitanjali (kumpulan 103 puisi Inggris karya Rabindranath Tagore, pemenang Nobel sastra 1913) ke bahasa Dawan (rampung pada 2016 dan akan terbit) adalah saya memperoleh kesempatan bagus untuk membandingkan dengan cukup teliti seluruh versi Prancis dan Spanyol karya Nobel tersebut, yang saya gunakan sebagai pembanding bagi terjemahan Dawan saya. Ternyata terjemahan Prancis oleh André Gide (L'Offrande Lyrique, 1917) lebih 'setia' kepada Gitanjali versi Inggris---terjemahan Tagore sendiri pada tahun 1912---daripada terjemahan Spanyol oleh Juan Ramón Jiménez dan istrinya Zenobia Camprubí (Ofrenda lírica, 1918). Terjemahan pasangan suami-istri sastrawan ini lebih bebas, terkadang lebih singkat. Sebagai catatan, André Gide (1869–1951; sastrawan Prancis) adalah pemenang Nobel sastra 1947 dan Juan Ramón Jiménez (1881–1958; sastrawan Spanyol) adalah pemenang Nobel sastra 1956. Jadi, sungguh beruntung bisa banyak belajar dari dua maestro sastra dunia ini. Asyik!

Dalam menerjemahkan karya sastra, akan lebih baik bila menggunakan lebih dari satu versi sebagai sumber atau pembanding. Dan tentu hal ini hanya bisa terjadi kalau sang penerjemah sempat menekuni lebih dari dua bahasa.

A.D.M. Parera: Poliglot dan Sejarawan dari Timor


Tampaknya, berdasarkan catatan di buku Sejarah Pemerintahan Raja-Raja Timor (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1994; Drs. Gregor Neonbasu, SVD [ed.]), poliglot pertama dari Timor Barat, NTT, yang menulis buku tentang Timor adalah penulis buku tersebut di atas, yakni Anselmus Dominikus Meak Parera (Tubaki, 21 Mei 1916–Kupang, 18 Februari 1973). A.D.M. Parera hidup di tiga zaman (zaman Belanda, zaman Jepang, dan zaman kemerdekaan) dan menguasai bahasa Dawan, Tetun, Rote, Sabu, Kemak, Indonesia, dan Belanda. Berdasarkan daftar bacaan di bukunya itu, sangat mungkin ia juga berbahasa Inggris.

Ia pernah memegang beberapa jabatan penting pada masa hidupnya, di antaranya juru tulis Raja Camplong (1944-1946) dan asisten dosen luar biasa jurusan sejarah daerah pada FKIP Universitas Nusa Cendana Kupang (tahun 1960-an). 


Foto: Hasil repro saya dari sampul belakang buku tersebut

(Tegalyoso, Yogyakarta, 4 Juni 2018)

Belajar Bahasa Asing dengan Penuh Kesadaran

Foto: www.google.com

Kalau dilakukan dengan penuh kesadaran, belajar bahasa asing apa pun tak akan mengancam keberlangsungan bahasa ibu yang sudah biasa digunakan. Justru bahasa asing itu akan membantu untuk "meneropong" bahasa ibu kita. Kata-kata Johann Wolfgang von Goethe (sastrawan dan negarawan Jerman) berikut ini kembali menggema: Wer fremde Sprachen nicht kennt, weiß nichts von seiner eigenen. (Jerman, Barang siapa tidak mengenal bahasa asing, tidak tahu apa-apa tentang bahasanya sendiri.) Mari kita terus belajar! (Yogyakarta, 2 Juni 2018)

Ingin Menerbitkan Ulang Kumpulan Puisi Dawan "Nenomatne Nbolen", Tetap Tanpa Terjemahan


Ingin sekali saya membaca ulang, memoles secara ortografis, dan menerbitkan ulang kumpulan puisi Nenomatne Nbolen: Puisi Uab Metô Sin Lê Mabuab (Sebuah Antologi Puisi Dawan). Ini adalah kumpulan perdana berbahasa Dawan (tanpa terjemahan) saya yang diterbitkan dengan edisi terbatas di Yogyakarta oleh Genta Press pada tahun 2009. Semoga niat baik ini bisa terwujud dalam waktu dekat dan membuahkan hasil. Deo volente!

Catatan: Nenomatne Nbolen berarti "Matahari Telah Terbit". Kumpulan puisi asli saya dalam bahasa Dawan (bahasa Timor terbesar menurut jumlah penutur asli) ini kini terdapat di katalog lima perpustakaan mancanegara berikut ini:

  1. Cornel University Library, Amerika Serikat
  2. Northern Illinois University Library, Amerika Serikat
  3. Ohio University Library, Amerika Serikat
  4. Yale University Library, Amerika Serikat
  5. The Library of Congress, Washington DC, Amerika Serikat (Library of Congress Control Number: 2009332653)
Foto: Dokumen pribadi penulis