Thursday, April 2, 2015

TAMBANG

(Terjemahan saya dari puisi THE QUARRY ini dimuat untuk memperingati 10 tahun wafatnya sastrawan termasyhur Karol Wojtyła [Sri Paus Yohanes Paulus II])


Foto: http://andrewstrain.photoshelter.com

Oleh: Karol Wojtyła

Ia tak sendiri.
Otot-ototnya tumbuh berkerumun,
energilah denyutan mereka,
sejauh palu mereka pegang, selama
kakinya menyentuh tanah.
Dan sebongkah batu bentur pelipis dan
menembus bilik jantungnya.
Tubuhnya mereka angkat dan gotong di jalan kesunyian.
Kerja keras masih melekat padanya, ada perasaan bersalah.
Mereka berblus kelabu, tumit bot di dasar lumpur.
Dengan ini, mereka nyatakan kesudahannya.
Betapa kejam akhir hayatnya: jarum pada voltase rendah
melonjak, lalu kembali lagi ke titik nol.
Batu putih yang kini ia kandung gerogoti raganya,
dan cukup bisa menjelmakannya sehakekat batu.
Siapakah yang ‘kan singkirkan batu itu dan
beberkan angan-angannya di dasar pelipis remuk?
Demikianlah gips meretak di tembok.
Ia mereka baringkan, punggungnya beralaskan kerikil.
Istrinya tiba, letih oleh cemas; putranya pulang dari sekolah.
Haruskah amarahnya mengalir ke marah jiwa lain?
Dirinya matang lewat kebenaran dan cintanya.
Haruskah ia dimanfaatkan mereka yang muncul kemudian,
yang mencabut hakekat, yang unik dan sungguh kepunyaannya?
Batu-batu bernyawa lagi; sebuah gerbong lukai kembang-kembang.
Sekali lagi arus listrik kembali menembus tembok-tembok.
Tapi lelaki itu telah bawa pergi kerangka inti dunia, tempat
makin memuncak amarah, makin tinggi pula ledakan cinta.


Diterjemahkan oleh Yohanes Manhitu
Yogyakarta, 3 Januari 2005
Sumber puisi asli: http://www.pbs.org/wgbh/pages/frontline/shows/pope/poems

DI SINI, DI ATAS PUSARA PUTIHMU

(Terjemahan saya dari puisi OVER THIS, YOUR WHITE GRAVE ini dimuat untuk memperingati 10 tahun wafatnya sastrawan termasyhur Karol Wojtyła)

Foto: http://donpackwood.deviantart.com

Oleh: Karol Wojtyła

Di sini, di atas pusara putihmu
puspa-puspa hidup berwarna putih –
berpuluh tahun berlalu tanpamu –
berapa yang kini lewat sudah, sirna dari pandangan?
Di sini, di atas pusara putihmu
yang bertahun-tahun terselubung, ada yang
terkatung-katung, yang lambungkan benakku
dan, laksana maut, ia tak kumengerti.
Di atas pusara putihmu
oh, bunda, bisakah belas kasih ini berhenti?
demi seluruh cinta sejati putramu,
ada seutas doa untukmu:
Berilah dia kedamaian abadi –

(Krakow, musim semi 1939)

Diterjemahkan oleh Yohanes Manhitu
Yogyakarta, 13 Desember 2004
Sumber puisi asli: http://www.pbs.org/wgbh/pages/frontline/shows/pope/poems

YOHANES MEMOHON KEPADANYA

(Terjemahan saya dari puisi JOHN BESEECHES HER ini dimuat untuk memperingati 10 tahun wafatnya sastrawan termasyhur Karol Wojtyła [Sri Paus Yohanes Paulus II])

Foto: http://gravelbeach.blogspot.com/2010_06_01_archive.html

Oleh: Karol Wojtyła

Jangan dikau redakan gelombang kalbuku,
ia bergulung ke hadapanmu, Bunda;
Jangan dikau ubah cinta, tapi bawakanku gelombang itu
dalam tanganmu yang bermandikan cahaya.
Ia pernah memintanya.
Aku Yohanes sang nelayan. Tak cukup pantas aku dicinta.
Aku merasa, aku masih berdiri di tepi danau itu,
kerikil berderak di dasar telapak kakiku –
Dan tiba-tiba – kulihat Ia tampak di mataku.
Tak akan lagi dikau temukan misterinya di dalam aku,
Tapi diam-diam kusebarkan pikirmu bagai tumbuhan berbiji.
Dan memanggilmu Bunda—seturut kehendak-Nya—
Kumohon kepadamu: semoga sabda ini tak usang bagimu.
Benar, tak mudah untuk mengukur kedalaman makna
segala sabda yang Ia ucapkan kepada kita berdua
agar segala cinta fajar dalam sabda-Nya
mesti kita jadikan rahasia.


Diterjemahkan oleh Yohanes Manhitu
Yogyakarta, 3 Januari 2005
Sumber puisi asli: http://www.pbs.org/wgbh/pages/frontline/shows/pope/poems
------------------------------------------
*) Karol Wojtyła lahir di Wadowice, Polandia, 18 Mei 1920, belajar puisi dan drama di Universitas Kraków. Sejak menjabat paus (1978) hingga wafatnya (2 April 2005), ia bergelar Sri Paus Yohanes Paulus II (kini Santo Yohanes Paulus II) dan telah menginjakkan kakinya di ratusan negara. Selama Perang Dunia II, ia bekerja sebagai penambang batu dan pekerja di pabrik kimia sambil belajar. Ia menerbitkan puisi, naskah drama, dan buku-buku yang lain. Bukunya yang terlaris adalah Crossing the Threshold of Hope, yang versi Indonesianya berjudul Melintasi Ambang Pintu Harapan.

Tuesday, March 31, 2015

"Le Petit Prince": The Tetum translation


It's nice to know that this famous work has been available in Tetun Nasionál, entitled "Liurai-oan Ki'ik". More and more literary works should be translated into and written in the first national and official language of East Timor.

For your information: "The Little Prince" (French: Le Petit Prince; French pronunciation: [lə.pə.tiˈpʁɛ̃s]), first published in 1943, is a novella and the most famous work of the French aristocrat, writer, poet and pioneering aviator Antoine de Saint-Exupéry (1900–1944). (Wikipedia)

Una antología coordinada en parte desde Salamanca: parte de los doscientos treinta autores

Imagen: http://salamancartvaldia.es

Poetas de medio mundo, como el indonesio Yohanes Manhitu, la búlgara Violeta Boncheva, el ecuatoriano Xavier Oquendo Troncoso, la rumana Elena Liliana Popescu, el boliviano Gabriel Chávez Cazasola, el colombiano Jorge Cadavid, la italiana Stefania di Leo o el hindú Mainak Adak, son parte de los doscientos treinta autores que en meses pasados rindieron un auténtico homenaje internacional al notable poeta portugués António Salvado (Castelo Branco, 1936), estrechamente vinculado con Salamanca desde hace varias décadas. (Fuente: http://salamancartvaldia.es)

Rest in peace, Mr. Tomas Tranströmer!

Picture: http://en.wikipedia.org/wiki/Tomas_Tranströmer

In Daily News, Swedish poet and Nobel laureate Tomas Tranströmer, considered one of the most influential contemporary Scandinavian poets, passed away on Thursday at age eighty-three. The New York Times notes that the poet’s work, which has been translated into over sixty languages, was known for “shrewd metaphors couched in deceptively spare language, crystalline descriptions of natural beauty and explorations of the mysteries of identity and creativity.” (Source: https://www.facebook.com/poetsandwriters?fref=nf&pnref=story)

Kekerasan Bukanlah Kekuatan Abadi


Konon, semakin lembut (hati) seseorang, semakin ia pintar mengendalikan "air bah", terutama di dalam dirinya sendiri. Jika Anda yakin bahwa kekerasan itu kekuatan abadi, sebaiknya Anda berpikir ulang sebelum "layar terkoyak". (Yohanes Manhitu, Yogyakarta, 17 Maret 2015)

Penerjemahan Puisi Rumania ke Bahasa Dawan


Setelah "bersalto mortal di jalur zig-zag yang licin di musim hujan penuh kabut kekhawatiran tekstual", akhirnya puisi "Tu" (bahasa Rumania, "Kau") karya penyair kenamaan Rumania Elena Liliana Popescu dapat diterjemahkan juga dari versi Spanyolnya ke bahasa Dawan dengan judul "Ho". Bagi saya, lebih mudah menulis puisi langsung dalam bahasa Dawan atau menerjemahkan puisi Dawan ke bahasa lain daripada menerjemahkan puisi ke bahasa Dawan. Semoga versi Dawan puisi Rumania terjemahan saya ini bisa ikut terbit dalam sebuah antologi puisi multibahasa "di luar sana" bersama-sama dengan versi Indonesia ("Kau") yang sudah lebih dahulu digarap dengan penuh keasyikan. (Yohanes Manhitu, Yogyakarta, 12 Maret 2015)

Ana Vidović, Sang Gitaris Klasik Perempuan "Ajaib"


Permainan gitar klasik Ana Vidović--gitaris klasik perempuan Kroasia yang "ajaib" (mulai bisa memetik gitar pada usia 5 tahun) dan paling beken--bisa membuat laki-laki siapa saja jatuh cinta dan menulis puisi tiada henti (bisa juga menjadi penyair dadakan) karena larut dalam alunan nada dawai gitar yang begitu indah dan hidup. Untungnya cinta itu anugerah. ...hahaha. Kalau suka gitar klasik, silakan nikmati beberapa permainannya yang aduhai di https://www.youtube.com/watch?v=rp6DpiK_by0. Salam musik,

Saturday, February 28, 2015

Maestro Robson Miguel


Robson Miguel (Vitória, Espírito Santo, 28 Agustus 1959) adalah seorang maestro gitar Brasil, dipandang sebagai virtuoso yang tiada tara di Negeri Samba pada saat ini. Silakan nonton sebuah videonya di https://www.youtube.com/watch?v=F3vpqnWaY6A.

"Mengubah" vs. "merubah"


Tabik! Apabila ditinjau dari kata dasarnya, "mengubah" merupakan turunan dari kata "ubah", sedangkan kata "merubah", secara salah kaprah, dikira berasal dari "ubah", padahal lebih cocok kalau dari kata "rubah" (sejenis binatang). Jadi, kalau mau konsisten dan bernada humor, seharusnya "merubah" berarti menjadi rubah (bahasa Inggris: to be a fox). Mau? (Yohanes Manhitu, Yogyakarta, 23 Februari 2015)

Nyong Fehuk deng Ama Dukun

Foto: https://www.austockphoto.com.au

Satu hari bagitu te, Nyong Fehuk bajalan dari kota pi dukun di satu kampong, sonde talalu jao. Sampe di sana, dia omong deng muka puruk di itu dukun. "Ini harim talalu makaditi deng beta, Ama. Kira-kira dia-pung cara karmana é biar-ko bisa talapas capát su." Tarús, itu dukun bale tanya sang dia babae, model ke polisi ada korek info. "Itu hari Bu lem dia pake apa, lem lokal ko lem impor?" Dengar dukun pung omong ju, Nyong Fehuk bingung. "Beta sonde lem pake apa-apa, Ama," Nyong Fehuk balas. Na, Ama Dukun omong lai palán-palán sa bilang, "Bagini á, Bu pulang pi ruma ko pikir ulang babae dolu, Bu su lem pake apa dan kira-kira Bu batúl-batúl mau ko dia talapas ko. Orang yang datang di sini tu biasa su siap memang deng informasi jalás dan keputusan su pasti. Kalo su beres, na Bu datang lai é. Itu sa, Bu." Kaluar dari Ama Dukun pung ruma te, Nyong Fehuk pikir sandiri ko heran-heran, ju omong dalam hati, "Tuheré! Ini bengkel sofa ko tampa praktek dukun? Heran sa!" 

(Yohanes Manhitu, Yogyakarta, 23 Februari 2015)

Hari su nae panggung


Ini pagi, beta tau, lu ju tau,
hari baru su nae panggung.
Ini sa'at, beta tau, lu ju tau,
mau nae, katóng tanggung
cape, saki; son bole galau.
Son bisa takuju langsung.


(Yohanes Manhitu, 2015)

Ukulele


Ah, ukulele! Alat musik petik pertama yang saya kenal dan bisa mainkan ketika di kelas tiga SD, sebelum menyentuh gitar di kelas lima SD. Ukulele, yang di Timor disebut "juk", dibawa oleh orang-orang Portugis ke Nusantara, dan identik dengan musik keroncong. Di Timor, dahulu orang-orang membuat "juk" sendiri dari pohon kapok hutan (Dawan: nekfui(j)). Buatan mereka bagus. Pada masa yang lebih awal, tubuh ukelele berasal dari sejenis labu lonjong. (Yohanes Manhitu, Yogyakarta, 1 Februari 2015)