Friday, October 3, 2014

Pulau Samosir: Surga Pewaris Tano Batak Yang Butuh Perhatian

Sumber foto: http://pad16.com/blog/indo/toba/ferry2.jpg

Oleh: YOHANES MANHITU*

Pulau Samosir yang terletak di tengah Danau Toba, Provinsi Sumatera Utara, merupakan daerah pariwisata yang mempesonakan dan telah terkenal, baik secara nasional maupun internasional. Hal ini terbukti dengan berdatangannya cukup banyak wisatawan domestik dan mancanegara, lebih-lebih pada saat musim panas, walaupun pada saat ini jumlah wisatawan asing tampak menurun secara drastis. Pulau yang merupakan asal-usul Suku Batak ini menyimpan segudang misteri dan daya tarik bagi setiap pengunjungnya. Banyak orang menjulukinya "surga dunia para pewaris Tano Batak". Pulau ini dengan danaunya akan selalu mengingatkan orang akan dongeng petani miskin dengan istrinya yang menjelma dari seekor ikan ajaib serta anak mereka yang kurang patuh pada nasehat orang tua. Sekalipun ini hanya sebuah dongeng, ia telah begitu melekat dengan nama pulau dan danau ini.

Danau Toba yang mengelilingi Pulau Samosir menjadi daya tarik utama bagi pulau ini. Danau ini tampak seperti samudera air tawar yang tak bertepi, dan merupakan yang terluas dan terdalam di dunia dengan ketinggian 906 meter di atas permukaan laut, luas permukaan 1,265 km2, dengan panjang 90 km, dan kedalaman rata-rata sekitar 450 meter. Danau Toba telah sejak lama menjadi jalan lalu-lintas air bagi setiap orang yang datang dan pergi ke Pulau Samosir. Setiap jam ada kapal motor yang datang dan pergi dari Pulau Samosir. Tambahan pula, danau ini merupakan sumber air minum, tempat mencuci dan mandi bagi sebagian besar penghuni Pulau Samosir, khususnya mereka yang tinggal di tepi danau.

Beberapa Kendala Pariwisata di Pulau Samosir 

Agar prospek pariwisata di Pulau Samosir dan Danau Toba menjadi lebih cerah di masa-masa yang akan datang, pemerintah pusat maupun daerah – dalam hal ini pemerintah Provinsi Sumatera Utara dan pemerintah kabupaten di pulau Samosir – perlu mempertimbangkan beberapa hal penting yang berhubungan dengan penyediaan fasilitas umum, yang telah lama menjadi kendala utama setiap wisatawan di Pulau Samosir. Hal-hal penting ini, menurut penulis, adalah sebagai berikut: 1) kwalitas jalan umum yang belum memadai. Ini terbukti dengan kondisi jalan jurusan Tomok-Pangururan yang masih memprihatinkan, dan rusaknya dua jembatan kayu pada jalur jalan Ambarita-Pangururan yang perlu segera ditangani; 2) instalasi listrik yang sering sekali macet. Ini justru sering sekali terjadi di kawasan Tuktuk, yang nota bene merupakan basis utama pariwisata Pulau Samosir; 3) hampir tidak tersedianya hubungan komunikasi – saluran telepon umum dan jaringan Internet. Ini merupakan kendala utama yang membuat para wisatawan tidak cukup betah. Ketika berada di pulau ini kurang dari dua bulan yang lalu, untuk menelepon, penulis harus berjalan kaki dari Tuktuk ke Tomok, yang memerlukan waktu 45 menit. Penulis terpaksa tidak menggunakan akses Internet sama sekali. Sekalipun ada, harganya sangat mahal (sekitar Rp. 25.000,- per jam) dan aksesnya terlalu lambat dan macet sekali; 4) kurangnya promosi budaya lewat kegiatan-kegiatan budaya diadakan secara reguler dengan menarik perhatian wisatawan domestik dan mancanegara. Kegiatan budaya seperti Pesta Rakyat Danau Toba perlu tetap dilestarikan; dan 5) adanya ketidakseragaman tarif penginapan. Terkadang ditemukan perbedaan tarif yang sangat menyolok antara dua penginapan dengan kelas yang sama. Menurut pendapat penulis, perlu dibentuk suatu asosiasi pemilik penginapan yang nantinya dapat berfungsi untuk mengatasi persoalan-persoalan seperti ini.

Salah satu faktor pendukung lain yang tidak kalah penting bagi pembenahan pariwisata di Danau Toba dan Pulau Samosir adalah masa berlakunya visa para wisatawan asing, yang terkesan begitu singkat. Ini tentunya merupakan hak sepenuhnya pemerintah karena pemerintahlah yang memiliki wewenang penuh untuk mengaturnya. Tetapi, seandainya saja para wisatawan asing diberi visa wisata yang masa berlakunya lebih lama dari dua bulan, maka mereka akan dapat tinggal lebih lama, tanpa harus sering-sering meninggalkan daerah pariwisata kita hanya untuk mengurus visa baru. Bukankah dengan tinggal lebih lama di Pulau Samosir uang mereka akan dibelanjakan di sana, dan dengan demikian pendapatan penduduk di pulau terpencil itu akan lebih memadai? Akhir-akhir ini jumlah wisatawan asing di "surga dunia para pewaris Tano Batak" ini menurun dengan drastis. Akibatnya, banyak pengusaha penginapan yang mengeluh. Banyak wisatawan asing yang berpendapat bahwa kebijakan visa wisata di Thailand yang lebih longgar membuat mereka nyaman. Apakah benar demikian?

Di samping beberapa hal penting di atas, ada beberapa hal lain yang, bila diupayakan, akan menambah pesona Danau Toba di mata para wisatawan. Misalnya, diadakannya lomba kapal motor hias pada setiap memperingati Hari Proklamasi Kemerdekaan RI, lomba menyanyi antar kelompok pemuda dan antar kelompok ibu rumah tangga, dan kegiatan budaya lainnya. Penulis cukup yakin bahwa lomba perahu hias akan membuat Danau Toba tampak lebih indah dengan kapal-kapal motor yang dihiasi aneka warna hiasan. Lomba menyanyi pun tidak akan kalah menarik dengan lomba kapal motor hias karena, pada dasarnya, orang-orang Batak memiliki suara yang merdu, apalagi bila yang dinyanyikan itu adalah lagu-lagu Batak. Sebagai akhir kata, penulis berharap agar pariwisata di Danau Toba dan Pulau Samosir semakin maju dengan diadakannya perubahan-perubahan positif yang menguntungkan, baik pihak wisatawan asing dan domestik maupun penduduk setempat. Ada satu harapan besar yang melekat di hati penulis: bila kita merasa bangga memiliki Bali dan Lombok di Kawasan Timur Indonesia, apakah tidak mungkin kita merasa bangga memiliki Danau Toba dengan Pulau Samosir di kawasan barat? Kita patut merasa bangga berdiam di Negara Indonesia yang amat kaya akan keindahan alam. 

Yogyakarta, Juni 2003
-----------------------
*) Yohanes Manhitu adalah penulis dan penerjemah, berdomisili di Yogyakarta.

Cinta Versus Pesona Intelektual



Oleh: YOHANES MANHITU*

MENCINTAI seseorang adalah suatu tindakan yang memanifestasikan rasa kasih sayang yang sangat manusiawi dan universal. Setiap insan ciptaan Tuhan memiliki hak, tidak hanya untuk mencintai tetapi juga untuk dicintai. Inilah salah satu wujud hak asasi manusia yang harus dihormati dan dipertimbangkan dengan nurani yang jujur. Semua orang yang menjunjung tinggi kejujuran dan ketulusan akan enggan berkata bahwa mencintai adalah suatu tindakan bodoh, dan bahwa cinta adalah suatu kebodohan.

Mencintai justru merupakan tindakan berahmat, dan cintai itu sendiri merupakan rahmat Ilahi yang patut disyukuri, dipelihara serta dipupuk agar tetap tumbuh dengan subur di petak-petak sanubari yang hijau dan segar, di kedua sisi aliran air sungai kehidupan yang tenang dan damai. Siapa yang ingin hidup tanpa cinta yang tulus di tengah dunia yang semakin dilanda krisis cinta yang tak bertepi? Bukankah banyak orang bersemadi dan menggunakan jasa paranormal atau dukun pelet untuk mengharapkan datangnya cinta yang tulus? Lalu mengapa takut mencinta?

Mencintai seseorang pasti ada pemicunya. Dengan kata lain, rasa cinta itu timbul karena ada faktor penyebabnya. Bukankah ada asap karena ada api? Dan faktor penyebabnya bisa berjumlah lebih dari satu. Salah satunya adalah kekaguman akan pesona intelektual seseorang. Hal ini sangat wajar, menurut pandangan penulis, karena pesona ini cukup menggoda bagi setiap insan.

Kekaguman akan pesona intelektual seseorang dapat menjadi pemicu rasa cinta yang ampuh. Tetapi bila mengagumi pesona intelektual seorang pribadi menjadi satu-satunya pemicu bagi suatu hubungan cinta, maka penulis yakin bahwa ada kemungkinan pada suatu saat bila si dia yang dikagumi kekurangan atau kehilangan pesona intelektualnya sama sekali karena alasan usia lanjut atau kecacatan tak diharapkan, maka si pengagumnya bisa meninggalkannya karena tak ada lagi pesona yang perlu dikagumi. Dan itu berarti cinta mereka pun akan terseret perginya kekaguman akan pesona yang dimiliki. Di mana ada pesona intelektual, di situ ada cinta.

Pada dasarnya, pesona intelektual, sama seperti ketampanan atau kecantikan (pesona rupa), adalah kelebihan yang dimiliki seseorang dan merupakan anugerah Sang Pencipta yang patut disyukuri. Berbeda dengan pesona rupa, pesona intelektual biasanya tidak langsung tampak secara fisik – ia (mungkin) tampak lebih jelas lewat tindakan verbal, dan komunikasilah jembatannya. Setiap orang akan dengan mudah mengatakan si A itu tampan atau si B itu cantik tanpa membutuhkan waktu yang lama. Dengan menatap atau meliriknya sesaat saja, pujian itu bisa meluncur dari mulutnya, bahkan mungkin tanpa disadari. Tetapi untuk mengatakan bahwa si C pandai, seseorang harus menunggu lebih lama untuk mengambil suatu kesimpulan. Orang tersebut harus melakukan kontak sosial dengan si C. Misalnya, dengan mengajaknya bercakap-cakap dua atau tiga kali sampai orang itu yakin bahwa si C patut disebut pandai atau memiliki pesona intelektual.

Bisakah kelebihan-kelebihan yang fana seperti ketampanan, kecantikan, dan kepandaian tidak dijadikan landasan cinta? Ada kekhawatiran bahwa bila kita melandaskan cinta pada kelebihan yang fana, maka cinta yang ditopangnya pun akan bersifat fana. Mungkin ada baiknya bila kita mencintai seseorang, kita mencintainya seutuhnya – menerima, tidak hanya segala kelebihan, tetapi juga segala kelemahananya – segala hitam putih hidupnya, tanpa reserve. Bukankah ini sangat manusiawi dan diharapkan banyak insan? Jadi, kita sebaiknya mencintai seseorang tidak semata-mata karena ia pandai, tampan, cantik, atau kaya. Kita diharapkan untuk beranjak dari kuadran yang fana menuju ke kuadran yang tanpa syarat – kuadran kaum idealis dan puritan.

Ada satu ilustrasi mengenai mencintai atas dasar kepintaran orang yang dicintai. Konon, di sebuah fakultas sastra di salah satu universitas terkemuka di Indonesia, terdapat seorang mahasiswi yang sangat pandai, bernama Soneta. Ia menguasai dengan baik sekali sastra Indonesia dan Eropa. Puisi adalah menu pembukanya setiap hari dan prosa menu utamanya. Novel-novel karya Albert Camus, Gabriel García Márquez, Victor Hugo, Charles Dickens, dan beberapa penulis besar lainnya adalah sahabat setianya di manapun ia berada, di kala sedih maupun senang. Penampilan Soneta sederhana dan penuh senyum bersahabat. Pesona intelektualnya itu telah lama membuat kagum seorang pria - rekan kuliahnya yang bernama Tamsil - yang memang pada dasarnya cepat kagum dengan gadis pandai. Tamsil berharap agar ia segera mendapat kesempatan untuk mengungkapkan isi hatinya.

Singkat cerita, akhirnya Soneta menjadi kekasih Tamsil. Pada awalnya, ia menyangka bahwa Tamsil mencintainya apa adanya (the way she is). Ternyata ia keliru, pria itu mencintainya hanya karena pesona intelektualnya saja. Jadi, sebenarnya yang dicintai adalah pesona intelektualnya, bukan dirinya seutuhnya.

Semua kebohongan ini akhirnya terungkap juga. Cerita singkatnya sebagai berikut: Pada suatu hari Soneta yang sedang menderita sakit kepala berjalan menuruni tangga menuju ke lantai bawah rumahnya, karena terlalu pusing, akhirnya ia kehilangan kontrol dan jatuh dari tangga yang cukup tinggi. Kecelakaan ini menyebabkan kerja saraf di otaknya agak terganggu sehingga, walaupun sudah dioperasi pun, ia dinasehati untuk tidak memikirkan hal-hal yang rumit. Ini tentu saja berat bagi seorang mahasiswi sastra seperti Soneta, karena untuk memahami karya-karya sastra ia membutuhkan cukup banyak energi untuk berpikir. Soneta mau tidak mau menuruti segala nasehat dokter demi keselamatan dirinya, walau amat kecewa.

Semua yang telah menimpa Soneta seolah-olah telah menghapus segala impiannya untuk menjadi sastrawan dan kritikus sastra yang handal dalam waktu yang singkat. Sebenarnya tidak separah itu keadaannya karena para dokter bedah menjamin bahwa keadaannya akan menjadi normal kembali dalam waktu kurang dari dua tahun bila ia mematuhi segala nasehat dokter. Karena keadaan ini, secara otomatis prestasinya akademisnya menurun secara drastis.

Lalu di mana gerangan si Tamsil, yang sebelumnya sangat lengket bagaikan perangko? Si Tamsil menunjukkan empatinya dengan menjenguk dan menjaga Soneta di rumah sakit. Tetapi setelah tahu bahwa si Soneta harus berhenti kuliah selama dua tahun dan karena yakin bahwa prestasi akademis si Soneta pasti menurun drastis dan sulit dipulihkan, maka ia segera "mohon diri" dan "mundur secara teratur". Apa yang diharapkan Tamsil, diri si Soneta seutuhnya atau hanya satu titik dari samudra kehidupan si Soneta yang amat luas?

Ada lagi ilustrasi yang lain. Konon, Albert Einstein, pernah bertemu dengan Elvis Presley dan Sultan Hassanal Bolkiah, dari Brunei, dalam suatu kunjungan di Menara Eiffel. Maaf, karena dokumentasi yang kurang rapi, maka waktunya tak pernah diketahui. Pada pertemuan itu, karena didorong oleh kepedulian akan cinta yang terlalu berlandaskan kelebihan-kelebihan yang fana, mereka sepakat untuk mengadakan kampanye "Anti Cinta Karena Kelebihan Fana". Ketiga-tiganya mengimbau seluruh pria dan wanita untuk mencintai dengan melihat diri pribadi yang dicintai seutuhnya tanpa syarat (sans conditions).

Ikrar mereka unik karena dirumuskan dalam bentuk puisi pendek yang terdiri dari empat baris, dengan perincian sebagai berikut: judulnya dibacakan bersama; baris pertama dibacakan oleh Einstein; baris kedua oleh Elvis; baris ketiga oleh Sultan; dan, baris terakhir dibacakan bersama-sama. Versi asli puisi ini masih tersimpan dengan rapi di perpustakaan agung Nyi Roro Kidul, di kawasan Laut Selatan. Di sini penulis hanya menuliskan versi terjemahan bebasnya saja dari bahasa Lintasbuana, yang kurang lebih berbunyi sebagai berikut:

IKRAR CINTA

Jangan aku dikau cintai karena isi kepalaku;
Jangan aku dikau cintai karena tampan rupaku;
Jangan aku dikau cintai karena berat pundi-pundiku.
Cintailah daku laksana seorang buta.


Penulis berpikir bahwa benar tidaknya kedua ilustrasi di atas tidak perlu dipersoalkan. Kita seyogyanya berusaha memetik makna yang ada di balik keduanya. Kita sungguh telah diajak untuk tidak mengukur kedalaman suatu samudra hanya dari satu tepi yang dangkal, yang mungkin sebentar lagi akan semakin dangkal karena perubahan gejala alam. Mari kita telusuri dan layari samudra itu sebelum kita memutuskan untuk "berkubang" di sana selamanya!

Tenyata mencintai dengan mengesampingkan kelebihan-kelebihan yang fana seperti tersebut di atas sulit untuk diwujudkan, kecuali bila kita memang sungguh-sungguh menon-aktif-kan fungsi mata tubuh kita dan hanya mengandalkan mata batin yang jarang kita fungsikan. Banyak kali justru hal-hal seperti di atas-lah yang senantiasa kita jadikan pijakan dan patokan untuk bertolak kepada atau merumuskan perasaan-perasaan yang tatarannya lebih tinggi. Alangkah bijaknya bila kita sadar bahwa yang bersifat fana akan tetap bersifat fana!

Bila kita berprinsip bahwa mencintai seseorang apa adanya adalah suatu idealisme yang mesti diraih, baiklah kita berpacu untuk meraihnya selama kita masih diberi waktu yang cukup. Ingat, waktu terus berlalu, dan belum tentu kita akan peroleh kesempatan yang sama untuk mewujudkannya pada masa-masa yang akan datang!

Sebagai penutup tulisan ini, penulis berharap agar tulisan ini dapat menjadi bacaan yang berkenan di hati para pembaca. Syukurlah bila ada butir-butir mutiara kehidupan yang dapat dipungut darinya.

Yogyakarta, Juni 2003
-----------------------
*) Yohanes Manhitu adalah penulis dan penerjemah, berdomisili di Yogyakarta.


Tuesday, September 30, 2014

Flor de Ayer


Por: Yohanes Manhitu

Te cuento que tenía un capullo de rosa
que perfumaba el jardín de mi corazón.
Pero una tarde, desapareció de vista
con la puesta del sol tan silenciosa.

Unos años han pasado y lo sabemos.
Ya no existe más jardín ni plantón
que espera gotas de agua llovediza –
las que acaban de besar la tierra.

Yogyakarta, 5 de noviembre de 2006

PALOMAS SALVAJES

Imagen: http://clipart-library.com

Por: Yohanes Manhitu

Ayer, estaba en la playa blanca,
Cuando vi unas palomas salvajes
Que volaban de lejos.
Me parecían muchas, felices y fuertes.
No vi tristeza ni preocupación
En sus ojos bonitos que me miraron.
Me enseñaron a olvidar cada tristeza inútil
Que ataca esta vida tan frágil.

Quiero ser una paloma salvaje
Que vuela libre, sin peso,
Por todas partes cuando quiere.
Quiero volar muy cerca de la luna
Y de las estrellas brillantes sin miedo.
Quizás te encontraré en la puerta del universo.
Desde allí, regresaremos a la tierra en las espaldas
De los angelitos tímidos.

Yogyakarta, enero de 2003

Destino de los árboles


Por: Yohanes Manhitu

En la televisión se dan noticias
sobre la tala ilegal de bosques –
el pasatiempo de unos mortales
que se llaman seres codiciosos,
o puedes crear otros nombres.

Dicen que no se puede contar
cuantos árboles que ya pierden
la vida, masacrados con sierras
por sus despiadados enemigos.

La gente habla de desertización,
agujeros en la capa de ozono,
calentamiento del planeta,
y las inundaciones sin final
que tragarán nuestros arcas.

Aquí, reciclamos más papeles.
Allí, continuan a talar bosques.
Si tuviéramos puros corazones,
tendría nuestra tierra más flores.

Yogyakarta, 5 de noviembre de 2006

Oda de Sabana


Por: Yohanes Manhitu

A mi querida tierra, Timor

Allí, el sol me saluda cada nueva mañana;
Allí, la luna me espia toda la noche larga.
Los sándalos me otorgan su fragancia,
Las palmeras cercan la isla de sabana.

Miles de criaturas saben ofrecer sonrisas,
Beteles y arecas dan bienvenida al mundo,
Mata cada sed silvestre el zumo de palmera,
Vence toda hambre la carne asada apetitosa.

O, tierra de sabana, madre de mi alma viva.
Eres patria eterna de los cuerpos de palmera,
Eres pura cuna de los corazones de sándalo.
Tu cielo y tu mar azul radian la paz eterna.

Tus dos mares, el Masculino y el Feminino,
Son hogares de miles de peces muy plateados.
Tus playas son como las alfombras tan blancas
Y su arena tiene la suavidad de la cama del rey.

Yogyakarta, 9 de agosto de 2004

Sunday, August 31, 2014

Castle of a dreamer

Image: www.google.com

By: Yohanes Manhitu

I dream of a castle standing by the river of grace,
built with pure love on the land of real wealth.
The strong walls around it are of salvation.
Its roof is of flowing blessings of heaven.
It has three rooms: faith, hope and love.
The kitchen is full of the bread of life.
Its doors are of never-ending fortune.
Its windows are of the rain of mercy.
The ventilators are of beautiful songs.
The ceilings are of victory and glory.
The dwellers are from paradise.
Here is the castle of a dreamer.

Yogyakarta, 3 November 2003

Goddess of The Endless Dream



By: Yohanes Manhitu

By the lake, the goddess of my endless dream is sitting 

reading with content the verses of a very glorious poem.
Her eyes are of the morning star – bright and beautiful.
Her lips part like a ripe pomegranate – so red and so full.

I listen to the sound of the dancing weaves of the blue lake,

I catch every single word from the heart-moving sweet lips.
Her voice is as sweet as the voice of an early morning bird,
her gaze boils my flowing blood and shakes my holy mind.

There, I see colourful butterflies flying around the goddess. 

I also notice a group of male bees coming towards the figure.
Her body is as fragrant as a bud of rose starting to blossom.
When she is moving, I see an obvious Samba dancer in her.

I feel like I am tied up to earth and unable to take any step,

I feel like it is just a perfect perfection I am now looking at.
Only my eyes and heart are there, caressing the holy beauty.
Suddenly, an angel comes, and I am now by the goddess’ side.

Line by line we recite side by side by the lake a lovely poem.

We find ourselves in the long verses of a living poem: the life.
The poem we recite is still long to come to the end, but wonderful.
Poems will teach us how to admire lakes and avoid any sharp rocks.

Yogyakarta, 14 November 2003

To the distant angel



By: Yohanes Manhitu

To you, distant angel, I write these verses;
to you, distant angel, I will recite my poems.
Sometimes I believe that we belong to one life,
many nights I dreamt we two shared a dream.
But now I suppose that you are a distant angel.

Many moments we shared in rich happiness,
much time we enjoyed in pure togetherness.
But now I see that you are just a distant angel.
I hoped I would kiss your very fragrant flesh,
but now I see your soul dancing with the wind.

Allow me to dance with your tempted soul!
Give me a second to touch you tender mind!
Should I take your soul away from the wind?
Will your flesh stand any torture of the world?
Should my lips keep calling you "distant angel"?

Baciro-Yogyakarta, 23 June 2003

Wednesday, August 27, 2014

A modern bilingual text in Portuguese and Javanese in Yogyakarta with my Indonesian translation

A modern bilingual text in Portuguese and Javanese in Yogyakarta.
(Picture and caption: Wikipedia)

The following is my Indonesian translation of the text made from the Portuguese version (28 August 2014):

Proyek Pemugaran Umbul Binangun Tamansari yang dilaksanakan dengan sokongan Yayasan Calouste Gulbenkian telah diresmikan oleh Paduka Yang Mulia Sri Sultan Hamengku Buwono X, Gubernur Yogyakarta, dan Dr. José Blanco, Pemimpin Yayasan Calouste Gulbenkian (Portugal), pada tanggal 22 Agustus 2004.

Thursday, July 31, 2014

Pisahkan pujian dari racun



Karya: Yohanes Manhitu

Kata manis yang terucap menggembirakan
dan mengisi dada, menghias mimpi.
Tapi racun yang mengalir melalui kata
‘kan mengantarmu ke mabuk yang mengejutkan.

Orang bijak mengenal aroma kata

walaupun dikemas rapi dengan tawa
dan disodorkan dengan keramahan.
Pisahkan pujian dari racun yang bercampur.

Versi asli dalam bahasa Dawan:
Maikan pules nâko laso

Aliran pengetahuan yang tak putus



Karya: Yohanes Manhitu

Pengetahuan meniti di atas bahasa
dan memperkaya pikiran orang,
lalu mengalir melalui kata-kata
dalam wujud tulisan atau ucapan.

Berawal dari wujud ucapan,
orang menyimpan pengetahuan dalam ingatan
dan mewariskannya kepada angkatan baru
melalui kisah yang mengalir dari mulut.

Angkatan baru itu mewarisi pengetahuan,
mengamalkan dan mewariskannya.
Para pendatang baru berbaur dengan mereka,
dan mengajarkan cara ‘tuk memelihara sejarah.

Dengan menggunakan arang dan batu ceper,
mereka alihkan pengetahuan dari dunia luar.
Setiap huruf dengan bunyinya sendiri
dan bermakna bila kita gabungkan.

Jadi, sejak saat yang menakjubkan itu
banyak pengetahuan disimpan dalam huruf
dan angkatan hari ini pun lekas lupa.
Bila lupa, ‘kan menemukannya dalam tulisan.

Namun demikian tidak hanya dalam tulisan,
pengetahuan ada juga dalam berbagai alat,
dan kita peroleh melalui mata dan telinga
dan digunakan ‘tuk memperelok hidup.
 

Pengetahuan manusia memang beragam,
ibarat pohon dengan batang, cabang, dan daun.
Karena itulah, pengetahuan tak ‘kan penuh
bila hanya satu yang mengisi otak kita.

Versi asli dalam bahasa Dawan:
Hine in sain kaätuäs

Monday, June 30, 2014

Wanita Itu



Karya: Yohanes Manhitu

Ia yang tlah temaniku tatap rembulan,
ia yang tlah bersamaku mandi mentari.
Tapi kini ia tlah pergi, saatnya tlah tiba
untuk tatap rembulan tanpa bujukan,
untuk dapat mandi mentari mandiri.

Bukan kehendak hatiku untuk lepas
kepergian dian di titian masa depan.
Kuhanya terpaku bisu bak sbuah arca,
tatap langkah tak terduga di seberang.
Pantang kucegah wujud satu keputusan.

Wanita itu kini tlah pergi, ia tlah berlalu.
Dan mungkin tak pernah ingin kembali,
walau di dermagaku masih ada ruang
buat biduknya yang ingin berlabuh.
Smoga ia slamat sampai ke tujuan.

Kupang-Timor, 12 Februari 2004

Teman SD-ku

Foto: https://news.okezone.com

Oleh: Yohanes Manhitu

Untuk yang putus sekolah

Siang itu kujumpai dia
ketika kusinggah di ibu kota.
Siang itu hati kami gempita,
karena kembali berjumpa.
Seketika bibir bergerak lincah,
cerita dan tawa pun mengalir riang.

Dia lelaki, sebaya denganku.
Dia teman kelas satu di SD-ku.
Di jenjang SD, bahteranya kandas.
Di tahap ini, dia tinggalkan rel:
rel panjang ke arah sebaris gelar.
Kukira itu bukan kata hatinya.

Kini dia di hadapanku.
Hitam-putih terbentang mudah,
onak-duri terpampang sudah,
tetesan hitam penyesalan hadir pula.
Semuanya kutuang dalam rasa,
lalu kuolah dalam benakku.

Wahai, Kawan SD-ku!
Di matamu, kutatap bayangan sesal.
Dari tuturmu, kutangkap nada minder.
Mestinya kau jauhkan nada itu, Kawan.
Bukankah di mata-Nya kita secawan?
Kiramu gelarku kunci gerbang kayangan?

Jatiwaringin, Jakarta Timur, 21 April 2003