Friday, January 21, 2011

Malam di Pante Manikin

Dari: Yohanes Manhitu

pasir putih jadi katóng-pung kasur empuk
dua bukit pasir jadi katóng-pung bantal
dingin pante jadi katóng-pung salimut
lampu nelayan jadi katóng-pung lilin
bulan taráng jadi katóng-pung saksi

gitar pung suara hias malam di pante
aer laut naek, cuci tumit dua pasang
kapiting dong lia katóng dua ko iri
di sablá, kali kici barisik, ma pelan

malam jalan tarús, pi katumu deng pagi
bulan di atas su cape kasi taráng katóng
hanya lampu bagan di laut yang masi mete
kasi sinar aer laut di pinggir kota yang mati
ikan son sadar ada bahaya, takuju te taga’e

gitar pung suara su lama diam – bosan, mati
jangkrik pante dong su hanya satu-dua not
katak bésar dong tu angat di tenga rumput
katóng, dua badan, satu rasa, sampe pagi

Yogyakarta, 11 Oktober 2004

Wednesday, December 29, 2010

Bonan Matenon Dio (Selamat Pagi Tuhan)


De: Rieke Diah Pitaloka

Mi malfermas la fenestron de la ĉambro,
Dio min demandas:
“Kion vi volas hodiaŭ?”
“Dio” mi diras, “liberigu la premegatajn animojn”.

Dio ridetas inter la rozoj.

Flarante ilian perfumon, mia papago dolĉe kantas.
Mi malfermas ĝian kaĝon,
entendigas la manon,
kaj tuŝas ĝin.
Ĝi min rigardas malkrede,
mi kapsignas.

Ĝi flugas direkte al la blua ĉielo.

Bonan matenon Dio,
kaj dankon.

Ĝakarto, la 1an de oktobro 2001

Esperantigis Yohanes Manhitu,
la 31an de aŭgusto 2007

Di Gerbong Ini

Foto: www.stocksy.com

Oleh: Yohanes Manhitu
Aku di gerbong ini
tak terikat, bebas!
Bola mataku liar
tatap roda-roda
tak kenal lelah.
Aku di gerbong ini.
Yang kulihat adalah
yang dilampaui,
yang dihadapi
tanpa diam.
Aku di gerbong ini,
harus bersujud,
mesti berpeluh.
Ada tawa,
ada tangis.
Pugeran Timur, Yogyakarta,
27 Agustus 2004

Monday, November 29, 2010

Puspa yang tak bertahan (Flor que não dura)

Foto bunga melati ini adalah karya saya sendiri.
Karya: Fernando Pessoa

Puspa yang tak bertahan

lebih lama dari bayang-bayang sesaat
Kesegaranmu
tetap bersemi di anganku.

Aku tak kehilangan kau
dalam apa adanya diriku
Hanya tak pernah lagi, oh puspa, kau kulihat
di mana bukan aku melainkan bumi dan langit.

Diterjemahkan oleh Yohanes Manhitu
Yogyakarta, 13 Januari 2004
--------------------------------

Flor que não dura


Por: Fernando Pessoa

Flor que não dura
Mais do que a sombra dum momento
Tua frescura Persiste no meu pensamento.


Não te perdi No que sou eu,
Só nunca mais, ó flor, te vi
Onde não sou senão a terra e o céu.

Tangan-Tangan Jahanam Merenggut Nyawamu


Karya: Gabriela Mistral


Tangan-tangan jahanam merenggut nyawamu sejak hari itu

tatkala, dengan satu isyarat bintang, ia tinggalkan rumpun

teratai putihnya yang bersalju. Dahulu ia tumbuh ceria.

Tangan-tangan jahanam menikamnya dengan tragis.


Dan kepada Tuhan kuberseru, “Di titan-titian maut, ia

digiring, sosok kekasih yang tak bisa mereka tuntun!

Rebutlah dia, ya Tuhan, dari tangan-tangan maut itu

atau benamlah dia dalam kantuk hebat yang Kaubuat!


“Ia tak bisa kuteriaki, tak dapat pula ia kususul!

Sampannya menantang angin keras yang menerjang.

Pulangkan dia ke pelukanku atau petiklah selagi ia berbunga”.


Sampan merah jambu hayatnya mandek bertolak…

Benarkah aku buta tentang cinta dan tak berbelas kasihan?

Kau, yang akan mengadili aku, Kaupahami itu, Tuhan!



Diterjemahkan oleh Yohanes Manhitu

Yogyakarta, 11 Januari 2004

-----------------------------


Malas Manos Tomaron Tu Vida


Por: Gabriela Mistral


Malas manos tomaron tu vida desde el día
en que, a una señal de astros, dejara su plantel
nevado de azucenas. En gozo florecía.
Malas manos entraron trágicamente en él.

Y yo dije al Señor: "Por las sendas mortales
le llevan, ¡sombra amada que no saben guiar!
¡Arráncalo, Señor, a esas manos fatales
o le hundes en el largo sueño que sabes dar!

"¡No le puedo gritar, no le puedo seguir!
Su barca empuja un negro viento de tempestad.
Retórnalo a mis brazos o le siegas en flor".

Se detuvo la barca rosa de su vivir...
¿Que no sé del amor, que no tuve piedad?
¡Tú, que vas a juzgarme, lo comprendes, Señor!