Monday, May 10, 2010

Chuva na estação seca

Imagem: http://www.kashmirnewz.com

Por: Yohanes Manhitu

Hoje vens à terra sem medo
Para liberar-me do calor
Com o teu frio fraternal.

O sol não está comigo
Numa tarde de maio,
Numa cidade cultural.

Fora, o vento está a dançar
Com as folhas das árvores
Numa festa natural.

E eu estou a viajar
No fundo do coração
Com o meu sentido literal.

Yogyakarta, maio de 2004

O Vento


Por: Yohanes Manhitu

Suave, cheio de ternura;
Cruel, cheio de fúria.
Embrulhas a terra.

A liberdade divina,
O poder do mundo
Tens sem ser mendigo.

Yogyakarta, Maio de 2004

Friday, April 30, 2010

Terra de Sândalo

Para Timor, a minha terra

A minha terra é uma lenda
Graças a uma árvore dos reis
Que até hoje chama-se sândalo.

Conquanto apareçam tantas árvores
Só nas crónicas dos vagabundos,
Um orgulho fica no coração.

Não era fragrante o passado
Embora tivéssemos muito perfume,
Assim como tanto mel de floresta.

As nossas mãos tornam-se inimigos
Em frente destas criações de Deus
Quando o desejo é o conquistador.

Oxalá que não sejamos testemunhas
Da perda da riqueza da nossa terra
Porque o futuro sempre nos espera.

Fica fragrante, ó terra de lenda,
Como um bom tronco de sândalo
Que perfumava, perfuma e perfumará.

Poema de Yohanes Manhitu
Yogyakarta, 11 de Outubro de 2005

Percakapan Di Bawah Purnama


Oleh Yohanes Manhitu

Misteri adalah hal yang dipertanyakan berulang-kali, dari masa ke masa, sampai pada kesudahannya.

Malam itu langit tampak sangat cerah, bagaikan layar kaca lebar yang memancarkan sinar putih bersih berkilauan di langit nan biru. Sang dewi malam memancarkan cahaya tanpa malu dan ragu-ragu. Begitu pula dengan bintang-bintang yang berada di sekitarnya. Begitu terangnya malam itu, sehingga alam raya tampak penuh suka cita menikmati suasana nan cerah itu.

Di malam yang cerah itu aku bermain-main dengan putra bungsu ibu kosku di sebuah jalan desa yang tidak beraspal rapi, tepat di depan rumah ibu kosku. Putra bungsunya itu baru berusia sekitar tiga tahun. Namanya Ricky. Dia seorang anak yang jarang menunjukkan kecemberutan dan kesedihan di wajahnya yang lucu, selalu mengundang tawa. Pipinya yang gemuk bak dua buah bola tenis yang tersusun sejajar dan rapi di wajahnya. Dia anak yang memiliki segudang rasa ingin tahu di benaknya. Satu kelemahanya yaitu dia belum dapat “eek” (pergi ke toilet) tanpa bantuan ibunya. Karena itu, ibunya sering sekali marah, karena ulah anaknya itu.

Malam itu aku mengejarnya mengelilingi sebuah mobil tangki minyak tanah berwarna merah putih milik tetangga yang memang biasanya diparkir di halaman, tepat di tepi jalan desa itu. Setelah puas saling mengejar, kami berhenti tepat di tengah jalan yang sepi. Kebetulan malam itu orang jarang lalu-lalang di sana dan Rafael yang biasanya menjajakan jagung bakar pun tidak beroperasi. Jadi kami bebas bermain. Bermain dengan anak kecil memang bukan sesuatu yang aku sukai, karena sering menjengkelkan, namun aku tidak tahu mengapa malam itu aku begitu bersemangat bermain-main bersama anak yang lucu itu.

Beberapa saat kemudian dia meminta aku untuk menggendongnya. Walaupun dia berat sekali, aku mengabulkan permintaannya yang manja. Begitu dia berada di gendonganku, tiba-tiba dia bergerak kesana-kemari. Dia menengadah ke langit seakan-akan dia sedang mengamati cakrawala yang nan luas dengan seksama, bagaikan seorang astronomer berpengalaman gejala perubahan bintang. Kemudian dia berpaling ke wajahku dan menengadah ke langit lagi, sambil jari telunjuknya yang mungil dan lucu menunjuk bulan yang cerah. Dia mengajukan pertanyaan kepadaku.

“Om John, itu, yang bulat besar, apa namanya?”, tanya dia. “Oh, itu bulan namanya”, jawabku singkat.
“Om john, kalau yang kecil-kecil itu, apa namanya?”, tanya dia lagi.
“Kecil-kecil yang mana?”, jawabku pura-pura tidak memperhatikan benda-benda yang ditunjuknya.
“Itu yang kecil-kecil dan banyak dekat bulatan besar”, jelasnya.
“Kalau yang itu namanya bintang. Mereka itu teman bulan,” jelasku.

Dia rupanya belum puas dengan semua jawaban yang kuberikan, sehingga dia seperti ingin melanjutkan pertanyaannya.

“Om John, siapa yang buat bulan dan bintang? Kenapa mereka ada?”, tanyanya untuk kesekian kalinya.

Aku hanya bisa kagum dengan pertanyaan-pertanyaannya dan kemudian berusaha menjawab sedapat-dapatnya. Mudah-mudahan jawabanku bisa memuaskan hasrat ingin tahunya yang besar.

“Yang membuat bulan dan bintang itu Tuhan Allah. Bulan dan bintang ada di langit untuk membuat langit terang pada waktu malam seperti ini. Mereka seperti lampu listrik besar yang ada di rumah Ricky”, begitulah aku menjelaskannya.

Aku sendiri tidak tahu apakah dia memahami setiap jawaban yang aku berikan. Kali ini dia kelihatan menggeleng-gelengkan kepalanya. Aku hanya berharap agar dia mengerti. Aku hanya tersenyum memandang tingkah-lakunya yang lucu dan tidah jauh berbeda dengan seorang murid SD yang sedang mendengarkan penjelasan gurunya tentang Ilmu Pengetahuan Alam atau Antariksa.

Rupanya pertanyaan-pertanyaannya belum selesai sampai di sini. Dia kembali memandangku dan melontarkan pertanyaan lagi.

“Om John, Bapak Allah tinggal di mana?” tanyanya. Ini pertanyaan yang cukup sulit. Aku tidak mungkin menjawabnya secara teologis, karena dia tidak akan mungkin mengerti. Sebaiknya aku menjawabnya apa adanya saja.

“Bapak Allah tinggal di sana, di langit, dekat bulan dan bintang-bintang”, jawabku.
“Bapak Allah juga makan kue seperti Ricky ya?”, tanyanya lagi.

“Wah ini adalah pertanyaan yang sangat lucu”, kataku dalam hati. “Anak ini mulai berpikir bahwa Tuhan itu mempunyai tingkah-laku dan sifat yang presis seperti manusia, khususnya anak-anak”, gumanku.

“Ya, Bapak Allah juga makan kue seperti Ricky, tetapi tidak terlalu banyak karena takut sakit perut. Jadi Ricky harus makan nasi juga. Jangan makan kue saja, karena nanti bisa sakit perut”, jelasku sambil menyisipkan beberapa butir nasehat.

Ternyata jawabanku mengakhiri percakapan kami di bawah purnama di malam yang terang-benderang itu, karena pada saat itu juga ibu kosku memanggil putranya untuk makan malam dan kemudian tidur. Aku hanya bisa berharap agar nantinya dia lebih banyak makan nasi daripada kue yang bisa membuat kedua pipinya semakin menggelembung dan lucu.

Aku sendiri berjalan ke arah kamar kosku yang terletak tepat di belakang rumah mereka untuk makan malam. Saat itu jam tanganku menunjukkan pukul sembilan lewat tiga puluh menit. Sambil makan aku menyimpulkan bahwa ternyata manusia adalah ciptaan yang paling unik. Manusia memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar, sepanjang masa hidupnya, sehingga hidup ini seakan-akan hanya dipenuhi tanda tanya, sebanyak bintang-bintang yang bertaburan di langit. Dan, jagat raya sendiri pun unik, karena menyimpan suatu misteri yang belum kunjung terpecahkan. Ia adalah teka-teki yang dipertanyakan dan belum terjawab sampai saat Ricky dan aku bercakap-cakap di bawah purnama malam itu. Mungkin juga akan sampai pada kesudahannya. Semoga tidak pernah berkesudahan.

Yogyakarta, 4 Agustus 2002

Monday, March 29, 2010

At the Foot of Mount Merapi

Foto: https://fotopedia.com

By Yohanes Manhitu

As
usual, I ride my mountain bike out of the city of Yogyakarta when I feel bored of opening my English, French, and Spanish books and dictionaries and have nothing to do in my small rent room. I have been doing this activity very frequently since I bought a second-hand mountain bike in January this year. I was very tired at the first time I rode it, but later I found it very amusing because by doing this I can witness huge of clean places where pollution is rarely seen.


It was Friday, 15 June 2001 that this story took place. That morning I got up quite earlier than usual, about 5 o’clock. As soon as I washed my face and brushed my teeth – usually I do not take a shower before going cycling, because it is useless; one will be very sweaty. I will do it when I come back.

After that, I left my boarding house for my destination, which was Kaliadem: a village located very close to Mount Merapi (the most active volcano in Java Island). The village is well-known in Yogyakarta because there is a very beautiful big golf field in the area. It is Merapi Golf.

As the village is located at the foot of Merapi, the road is very sloping so it is difficult to get there by bicycle. In spite of this difficulty, I managed to get there in one and a half hour. So, I cycled for 30 kilometres to reach the village. It was not something new for me because I had ever cycled even farther than that – I cycled almost a whole day to and from Borobudur temple.

After pedaling through the mountainous road, I arrived at a point where I could see the golf field directly from its main entrance. There I could also view clearly and directly the beautiful natural panorama of the volcano which resembled to a non-stop smoking giant conical chimney. I saw a big group of white clouds passing by and mixing with the smoke coming up from the “stomach” of the volcano. Their mixture then became another new group of grey clouds. I could not image how frightening it would be, if the lava of the volcano flew directly to the nearest village and swept the inhabitants and their houses. Fortunately, this never happens until now. I pray it never happens until the moment that God Himself changes His Devine Mind. I did enjoy the beautiful natural view in that Friday morning. It was really amazing.

Several minutes after that, I tried to enter the golf field but, unfortunately, a security staff approached me and say: “I’m sorry, Sir, we can not allow anyone to enter the golf field while it is crowded because it is too dangerous for their life. It is very possible that the golf ball with hit them and we do not want to take any risk.” Thanking him for his advice I said, “It is very kind of you to tell me that. It is O.K.”

I, then, spent about thirty minutes talking with them at the main entrance, near their guard post. It seemed that they were very curious to know why I cycled to the place from the city in the early morning when the sun had not granted its shine. To the best of their knowledge, as they told me, I was probably the first person having pedaled for such a long distance and arrived at the mountainous village. Instead of presenting them a long explanation, I just said that I was doing it for fun only.

They continued to ask me about what I was doing in Yogyakarta and where I was originally from. “I am from Kupang, West Timor and I am taking several language courses in the city. I have been living there for almost one year.” I said. The two nodded their heads and said: “Well, you are luck to have chosen Yogyakarta as your place to study in because it is really suitable. Many facilities are available and the cost of living is relatively cheap. We hope that you will be successful with your courses.” “Thank you very much”, I responded.

While we were talking, one of them suddenly told me that his neighbour used to be a teacher in Timor but had moved to the village, and had been teaching in a district town called Wonosari, a sub-district city near the Indian Ocean. His name is Sarijo. I was surprised to hear that name, because it was the same as my Indonesian language teacher in Junior High School. He was a teacher in the East Timor’s enclave, Ambeno.

Being curious of what had just been said, I attacked the security staff with many key questions as if I was interrogating him.

“Does he teach in a Junior High School?”, I asked.
“Yes, he does”, responded the man.
“Is he short and black?” “Does he have straight hair, pimples in his face?” I asked.
“You are right”, he said.
I was not satisfied with these questions, so asked the man one more and I hope it was the last one.
“Was he still single when he moved here from Timor?” I asked. Surprisingly, he answered: “You get it. He has just got married two months ago with a staff of this golf field.”

Based on this information, I was certain that Mr. Sarijo was really my former teacher in the Secondary School. I told them that I wanted to meet Mr. Sarijo and I needed his address. I would like to prove whether or not it was true that he was my teacher. I was well prepared to be ashamed if you would be someone else.

“How far is his house from here?” I asked the security guard.
“About two kilometres”, he answered.
“Please go straight and then stop at the mosque to ask someone where the house is”, the man suggested.

Before going there, I went to have breakfast in a small mountain restaurant just next to the golf security post, bordered by a small creek full of wild bamboos. It was my first time to have my breakfast in a tiny restaurant at the foot of Mount Merapi. The day was nice. I saw the sun shine appearing from the trees. The sun seemed unable to sweep away a group of white clouds approaching the smoking mountain; it was like a procession of clouds that I was witnessing.

After finishing a plate of rice and freshly fried fish, and a glass of water, I pedaled to find Mr. Sarijo’s house. The road was hilly and at both sides of it, I saw thick bushes and giant trees everywhere. The wind was blowing and the leaves of the trees were moving into all directions as if they were welcoming me along the way. I met almost no car, except one or two old motorcycles. The people I met starred me with curiosity. Maybe they asked why I was pedaling like crazy along the mountainous road. Luckily, none of them had stopped me to ask for my identity card. I take nothing with me at the time, except my Walkman, several cassettes and several bills.

Following the advice of the security guard at the gold field, I stopped for a while at the front of the mosque to ask someone about the house I was looking for. Thank God, someone knew the address and was willing to take me to the destination. I then knew that he was Mr. Sarjito’s neighbour.

When both arrived there, there was nobody home, except a half-aged woman admitting to be Mr. Sarjito’s elder sister. She was with her funny little boy whose name I never know. As soon as she knew that I was from Timor and was looking for her younger brother, she treated me very specially. She invited me to the living room where she soon served me a big glass of sweet tea and a plate full of cakes, while explaining me that her brother was still at school and he might be on the way home from school, and that he usually attended the Friday prayer (Muslim Friday Worship) at school.

It was quite difficult for me to talk to her fluently, because she could not speak fluent Indonesian. She asked me a number of short questions in Javanese. Perhaps she thought that I spoke the language. Fortunately, I managed to answer several questions containing most of the words that I had picked up from friends in my boarding house.

While enjoying the tea and the cakes, I insisted that I should see the teacher’s latest photos to ensure my own prediction. The kind woman entered a room and then come out with three photo albums. She opened one them said, “This is Mr. Sarjito’s latest photo”. I scrutinized the photo and the said, “No, this Mr. Sarijo is not my former secondary teacher, but seem to have met him in my campus in Kupang”. I was sure that the man he had been a student of an extension program in Nusa Cendana University. On the other hand, the woman was very confused with my explanation. I did not know it was a matter of language of what. She said that we better wait until her Mr. Sarijo arrived. I just agreed with her idea, and continue enjoying another glass of tea and the cakes. I did not know whether they were homemade or were bought somewhere. I guessed they had bought them in the city.

An hour later, several family members: Mr. Sarijo’s wife, the father, his younger bother, mother, and his nephew arrived. I shook hands with them and explained them why I was in their house. They were very pleased to meet me. Several minutes later, they invited me to lunch because it was about one o’clock and I knew that everyone was hungry. The foods and drinks were served in front of us. The father and I sat on the chairs and face a small table where the foods and drinks were served, while the other sad on a mat spread on the floor. They might think that I was shy so they said, “Make yourself at home please”. We are sorry; we do not have any delicious food to serve. Our food is very simple”. “Thank you very much! This is more than enough”, I said with a smile.

After lunch, I spent the time outside, just in front of the house looking at three big white cows kept in a small building under a big tree. They were fed with a kind of grass resembles to the leaves of sweet potato.

Mr. Sarijo arrived an hour later. He was very surprised to see me there, standing next to my mountain bicycle in the house yard. We shook hands and than chatted. He seems very curious about my presence. I told him everything and he was very happy to meet me. We automatically spoke Kupang Malay (a colloquial dialect used in Kupang) rather than formal Indonesian. It was funny because he mixed the language with Javanese accent.

Considering that it was about to rain, he insisted that I should spent the night with them in the village and return to Yogya in the next morning. However, I politely refused it by saying that I would have to attend a French class in the afternoon. He asked me to come back there the week after. “Thank you very much for your kindness. I will come back next time, if I have time”, I thanked them. “You are welcome. We are always happy to see you. Just come back at anytime, but if you want to meet me, please come on Sunday”, said Mr. Sarijo, speaking on behalf of the nice family.

When I was about to pedal home, the rain suddenly came; consequently, I had to stop and waited there until it stopped. As the rain stopped, I shook hands again with all the family members and started pedaling to Yoga. When I had left the house about a two kilometres, it rained again. It was raining cats and dogs when I was on my way home. I felt just someone was pouring a hundred buckets of water over my head.

I arrived at my boarding house in a soaking look. It was about seven thirty in the evening. So I spent almost three and a half hours on the way, including an hour stop, as the rain was too heavy for me to continue pedaling. That day, I felt like I had been doing a long journey to and from the sky.

Yogyakarta, 24 November 2001

Sunday, March 28, 2010

Choc culturel

Lempuyangan, Yogyakarta

Par Yohanes Manhitu

«Choc culturel» est une expression très connue. Pourquoi? Parce que tous les gens que viennent d’arriver dans un nouveau lieu, par exemple dans une ville, éprouvent toujours un choc typique qui s’appelle «Choc culturel». C’est à cause de la différence culturelle, différence à propos de la langue et de la nourriture qu’il trouve nouvelles ou étrangères.

J’ai déjà éprouvé la même chose quand je suis arrivé à Yogyakarta au début. Ça m’a rendu assez malheureux, parce qu’il y avait beaucoup de choses différentes de ce que j’avais connu. Personnellement, j’ai été particulièrement touché par la nouveauté de la langue et de la nourriture.

Bien que les Yogyakartanais soient Indonésiens, ils parlent le javanais plus que l’indonésien dans leurs discussions quotidiennes. À mon avis, c’est parce qu’ils doivent préserver leur langue qui est une partie importante de la culture javanaise. Peut-être le même phénomène se produit dans les autres parties du pays, mais je ne suis pas sûr, parce que je n’ai fait jamais de recherche sur ce sujet. Pourtant, je trouve que cet habitude me pose des problème ainsi que peut-être pour les autres nouveaux venus qui ont rencontré la même situation, mais ne savent comment y faire face.

À vrai dire, je trouve qu’il est difficile de nouer une relation sociale avec les Javanais, en général, et mes voisins, en particulier, parce qu’ils préférent parler leur langue plutôt que la langue nationale, l’Indonésien.

Il y a un mois, j’ai dit à un de mes voisins:«Peut-être vous pensez que je n’aime pas bavarder avec vous (mes voisins) quand vous vous asseyez ensemble. Je ne peux pas m’asseoir avec vous, parce que vous parlez toujours votre langue, et je ne la comprends pas”. Puis je lui ai dit encore:”Si tu étais à ma place, qu’est-ce que tu ferais?». Et il m’a dit:«Je ne sais pas. Je pense que tu as raison. C’est une situation difficile”.

Personnellement, je peux dire que comparés aux les gens que j’ai déjà mentionnés ci-dessus, les professeurs et les étudiants du Centre Culturel Français de Yogyakarta (LIP) sont très tolérants -- ils parlent toujours indonésien ainsi que français. En fait, la plupart d’entre eux sont originaires de Java, et en particulier de Yogyakarta. Je ne sais pas pourquoi ils sont si différents des autres. C’est parce que ce sont des intellectuels? La réponse reste difficile. Alors, j’espère que personne ne me forcera à répondre à cette question. Peut-être quelqu’un pourra m’aider à trouver la répondre. Je l’attends!

Au début, j’ai dit que la nourriture aussi peut causer un choc culturel pour des nouveaux venus dans un lieu ou une région. Est-ce que c’est logique et acceptable? Nous allons le prouver! D’habitude, quelqu’un ou un nouveau venu rencontre le problème à propos de la nourriture dans un lieu nouveau où il faut changer son goût. Cela se comprend, parce que changer de goût n’est pas une chose facile. Ça sera d’autant plus difficile, si la personne n’aime pas du tout la nouvelle nourriture.

J’ai vraiment trouvé ça difficile de changer mon goût, parce que les repas javanais, en général, soit très epicés, sucrés, et pimentés. Mais, maintenant, je suis bien habitué et sait quel plats sont sucrés ou non-sucrés. En realité, le repas javanais est délicieux, mais nous avons besoin de temps pour nous y habituer.

En dépit de ce choc culturel, j’aime Yogyakarta. Ici, il y a beaucoup de choses importantes que peut-être nous ne trouvons pas ailleurs en Indonésie. À vrai dire, Yogyakarta est une ville culturelle dans laquelle beaucoup de gens adorent la culture traditionelle ainsi que la culture moderne. Il y a beaucoup de festivals culturels un peu partout, et personne ne peut assister à tous les festivals à la fois et il faut décider prudemment quoi faire le lendemain dans la ville. C’est une realité. Yogyakarta est aussi très connue en tant que «La Ville d’Éducation». Je pense que c’est vrai. Personne n’a jamais pu compter exactement il y a combien d’universités ou d’étudiants dans cette ville, sauf le Département d’Éducation Régionale. Ainsi, je peux dire que Yogyakarta est comme une “petite Indonésie”. Est-ce que ça veut dire que tout marche bien ici? Je suis désolé! Je ne sais pas du tout, parce que je suis nouveau ici. Quelle vie!

Finalement, je voudrais suggérer que tous ceux qui veulent aller dans un nouveau lieu doivent savoir quelques choses importantes à propos de la vie du lieu avant de partir. Sinon, il connaîra beaucoup de tristesse, et pas de bonheur. Comme l’expression anglaise dit «While you are in Rome, do what the Romans do». Est-ce que vous êtes prêt? Bonne chance!

Yogyakarta, le 20 avril 2001

Monday, February 15, 2010

Sastra Lisan Pada Masa Kini: Sekilas Pandang

Oleh: YOHANES MANHITU*

BARANGKALI pembaca akan bertanya, apakah masih relevan membicarakan sesuatu yang berlabel ‘daerah’, seperti sastra lisan, pada zaman semodern ini. Masih relevankah sastra lisan (yang merupakan bagian dari sastra daerah) dalam alam modern ketika orang-orang seakan-akan sedang berlomba-lomba memberi label ‘internasional’ kepada hampir segala sesuatu (mulai dari terasi hingga sekolah)? Boleh jadi mengutak-atik hal-hal yang berbau ‘daerah’ dianggap sama dengan mudik ke dusun terpencil karena urusan mendesak setelah bertahun-tahun menetap di kota besar yang berfasilitas serba luks. Tulisan ini hanya mengulas sekilas tentang pengamatan penulis terhadap situasi sastra lisan hari ini.

Definisi Sastra Lisan
Menurut Prof. Dr. Chairil Effendy, M.S, Guru Besar Ilmu Sastra pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Tanjungpura Pontianak, Kalimantan Barat, sastra lisan merupakan fakta mental yang menggambarkan mimpi-mimpi, cita-cita, aspirasi, keinginan, harapan, keluh-kesah, dan sebagainya yang kesemuanya merupakan sistem pengetahuan masyarakat. Masyarakat pemiliknya mentransmisikan sastra lisan dari waktu ke waktu, dari generasi ke generasi, agar kandungan sastra lisan itu terinternalisasikan sebagai pedoman bagi hidup mereka dalam menyikapi tantangan kehidupan (Kompas.com, Selasa, 12 Mei 2009). Dongeng, pantun, teka-teki, dan ungkapan merupakan jenis-jenis sastra lisan yang paling banyak saya temui ketika berkunjung ke beberapa desa di wilayah Timor Barat. Sangat mungkin fakta yang sama terdapat di daerah-daerah lain di wilayah Nusa Tenggara Timur. Untuk memastikan, perlu dilakukan penelitian yang terencana dengan metode yang tepat.

Sepenggal Kisah
Berbicara tentang sastra lisan, saya teringat akan kisah masa kecil, ketika di bawah terang bulan purnama, saya dan teman-teman SD di salah satu pelosok daerah Dawan duduk melingkari api unggun dan membakar singkong. Sambil menunggu hingga singkong matang, kami mendongeng untuk mengisi waktu. Setiap anak laki-laki yang memperoleh kehangatan dari api unggun itu wajib mengisahkan sebuah dongeng secara bergantian, searah perputaran jarum jam. Anak-anak yang tidak bisa berdongeng bertugas membakar singkong untuk para pendongeng. Dongeng-dongeng yang diceritakan itu tentu bukan karangan kami sendiri tetapi kami dapatkan dengan gratis dari orang lain, entah dari orangtua kami atau orang-orang dewasa yang gemar mendongeng. Jadi, telah terbentuk satu rantai dongeng yang tidak putus hingga generasi kami. Setelah berdongeng, kami lanjutkan dengan berteka-teki. Tentu semuanya ini dilakukan dalam bahasa Dawan (Uab Meto)—salah satu bahasa daerah mayoritas di Timor Barat (NTT).

Kenyataan Sekarang
Puluhan tahun telah berlalu dan hari ini bukan lagi kemarin; perubahan telah terjadi dengan berjalannya waktu. Budaya menulis mulai mengemuka dan terus mendesak budaya lisan, televisi telah mengisi panggung cerita dan tampaknya diyakini sanggup menghilangkan dahaga ingin tahu dengan seribu satu kisah yang tidak jarang membuat benak makin gersang. Para datuk sastra lisan sepertinya telah kehilangan pengagum dan kehabisan kisah indah yang sanggup menarik minat pendengar mereka, yang lebih betah berlama-lama di depan ‘kotak ajaib’, atau asyik membaca komik asing yang laris bagai kacang goreng. Lebih parah lagi kalau mereka sampai dianggap sejajar dengan tukang jual obat yang hanya mampu menawarkan kisah-kisah bohong dan kumal yang telah usang dimakan zaman. Kenyataan ini membuat pelaku sastra lisan kehilangan selera untuk memelihara kisah lama dan mengemasnya dengan sampul baru agar tetap laris, seperti kacang tanah dari ladang sebelah desa yang setelah dikeringkan, dikemas dengan label ‘Kacang Super Gurih’ dari negeri sebelah. Dalam menggunakan bahasa daerah, kita mungkin sudah jarang menghiasi pembicaraan kita dengan pantun, yang struktur dan maknanya makin sulit dimengerti. Daripada malu karena disindir dengan ungkapan ‘sok pujangga lu’ lebih baik berbicara apa adanya saja, biar dangkal asal mudah dimengerti. Kemampuan berpantun daerah bila tidak diasah akan hilang dengan sendirinya. Ragam bahasa pantun yang sangat indah itu tidak akan sampai kepada generasi berikut bila tidak ada minat dan usaha nyata untuk mewariskannya.

Tanggung Jawab dan Langkah-Langkah Pelestarian
Pada suatu peristiwa, Ajip Rosidi, sastrawan Sunda dan Ketua Yayasan Kebudayaan Rancage, merasa prihatin atas keberadaan sastra dan bahasa daerah di Indonesia sekarang ini. Menuturnya, pemerintah nyaris tak memberi perhatian yang mamadai terhadap kehidupan sastra-sastra daerah tersebut. Padahal menurut konstitusi, hal itu termasuk tanggung jawab pemerintah (http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/a/ajip-rosidi/index.shtml). Jadi, pelestarian dan kelestarian sastra lisan adalah tanggung jawab bersama, baik pemilik sastra maupun pemerintah .

Untuk melestarikan sastra lisan, kiranya langkah-langkah berikut ini dapat ditempuh: (1) mendongeng kepada anak-anak sejak dini (misalnya ketika sebelum tidur); (2) memperkenalkan pantun dan teka-teki kepada generasi muda dan kalangan umum; (3) mengadakan pelatihan-pelatihan mendongeng kepada berbagai pihak, khususnya para orangtua; (4) menyelenggarakan perlombaan mendongeng dan berpantun; (5) memasukkan sastra lisan ke dalam kurikulum pendidikan dasar (sebagai muatan lokal).

Masih Tetap Relevan
Kita kembali kepada pertanyaan utama: Masih relevankah sastra lisan dalam alam modern? Sastra lisan adalah kekayaan budaya yang turut membentuk jati diri kita sebagai bangsa beradab. Begitu banyak nilai luhur yang terkandung dalam sastra lisan. Kita dapat menggali kembali nilai-nilai itu dari dongeng, kisah perjalanan suku, pantun, peribahasa, ungkapan, teka-teki, syair-syair lagu daerah, dll. Pada zaman modern ini, ketika kita berhadapan dengan arus globalisasi yang makin deras dan terus menawarkan nilai-nilai baru yang belum tentu cocok dengan kepribadian bangsa kita, sastra lisan sebagai suatu alternatif pencerahan dapat menjadi solusi yang tepat—obat mujarab untuk menyembuhkan penyakit zaman. Kearifan lokal yang terkandung di dalam berbagai jenis sastra lisan yang dikenal luas oleh masyarakat dapat dimanfaatkan untuk mencegah atau mengatasi persoalan dalam masyarakat. Ungkapan tmeup onlê ate henait tah onlê usif (bekerjalah laksana hamba supaya makan seperti raja) dalam masyarakat Dawan adalah salah satu dari khazanah ungkapan daerah yang mengandung kearifan lokal. Apabila makna ungkapan di atas sungguh-sungguh dijiwai oleh penuturnya, maka kita dapat berharap agar mentalitas instan cepat atau lambat boleh pupus dari masyarakat kita. Tentu masih banyak ungkapan kaya makna yang dapat ditemukan dalam bahasa-bahasa daerah lain di NTT. Nilai-nilai luhur yang masih relevan untuk zaman ini bertaburan di mana-mana laksana mutiara. Hanya insan yang tidak memahami nilai mutiara saja yang akan membiarkan barang berharga ini berceceran dan jatuh ke tangan orang lain.

Sastra lisan sebagai bagian dari sastra daerah tetap relevan untuk masa kini dan masa depan karena mengandung nilai-nilai yang tak lekang oleh waktu. Oleh karena itu, para pemilik sastra lisan dan pemerintah diharapkan selalu bergandengan tangan dalam upaya pelestarian sastra lisan, yang turut memberikan sumbangsih bagi perkembangan sastra daerah dan Indonesia. Yang bersifat lisan pun mengandung intan.

*) Peminat bahasa dan sastra, tinggal di Yogyakarta.

Disfrazado

Por: Yohanes Manhitu


Si puedo ir disfrazado

sólo para hazerte feliz,

me gustaría disfrazarme

de un hombre perfecto.


¿Peró por qué debo hacerlo

sólo para hacerte feliz?

¡Oye! la verdad es mucho major

porque me da libertad.


Si quieres ir disfrazada

sólo para hacerme feliz,

sugiría que te quites ahora

la máscara de vanidad.


Noemuti-Timor, jenero de 2010

Monday, January 25, 2010

Funu hasoru nakukun

Hosi: Yohanes Manhitu


Hori uluk ita toman tiha ona

rona ema ko’alia katak nakukun

fó fatin ba buat aat oin barak

mak bele falun ka tolan ema-moris.


Ne’e-duni nakukun sai funu-balun

ne'ebé ema hasoru ho kilat naroman nian.

Hahú hosi fatuk-ahi to’o eletrisidade,

ema buka dalan hodi manán nakukun.


Agora maski kalan ladún nakukun ona,

nia sei nafatin sai tempu naruk ida

atu ema funu hasoru nakukun,

maski fulan naroman no fitun nabilan.


Hori uluk ita toman tiha ona

duni nakukun ne’ebé falun isin

maibé dala barak liu ita haluha

funu hasoru nakukun be iha laran.


Noemuti-Timor, 14-15 novembru 2009

----------------------------------------------------


Memerangi kegelapan


Sejak dahulu kita telah terbiasa

mendengar orang berkata bahwa kegelapan

memberi peluang bagi beragam hal buruk

yang bisa meliputi atau menelan manusia.


Karena itu, kegelapan menjadi musuh

yang dihadapi dengan senjata terang.

Dari batu api hingga lampu listrik,

manusia mencari jalan ‘tuk kalahkan kegelapan.


Kini walaupun malam sudah tak begitu gelap,

ia tetap menjadi suatu saat panjang

bagi orang ‘tuk memerangi kegelapan,

meski bulan bersinar dan bintang bercahaya.


Sejak dahulu kita telah terbiasa

menghalau kegelapan yang membungkus tubuh

tetapi kita jauh lebih banyak lupa

memerangi kegelapan di dalam hati.

Buka naroman nafatin

Hosi: Yohanes Manhitu

Hosi tempu iha inan doben nia knotak
ita hein ona atu hetan naroman loos,
ne’ebé sei kona ita-nia matan nurak.
Ne’e mai hosi loromatan no fulan.

Iha naroman ida be boot liuhotu,
naroman ne’ebé sei leno ita-nia dalan
nu’udar ahi-knulu ida be nunka mate.
Ne’e mak naroman hosi Maromak.

Matenek mós naroman, be mosu mai
hosi neon be nabilan hanesan fitun sira.
Maibé naroman ida-ne’e bele lakon
se anin baruk nian boot demais.

Noemuti-Timor, 28 outubru 2009
------------------------------

Senantiasa mencari terang

Sejak masa di rahim bunda tercinta,

kita telah menantikan datangnya terang sejati,

yang mengenai mata muda kita.

Datangnya dari mentari dan rembulan.


Ada sebuah terang yang paling besar,

cahaya yang akan menerangi jalan kita

laksana obor nan tak kunjung padam.
Inilah terang dari Sang Terang.


Pengetahuan itu pun terang, yang timbul

dari akal budi yang bersinar bagai bintang-bintang.

Namun terang ini bisa lenyap

bila angin kemalasan terlampau kencang.

Wednesday, December 23, 2009

Merry Christmas and Happy New Year!

Selamat Natal dan Bahagia Tahun Baru!
Tabê Natal ma Mlilê Ton Feü!
Bosfesta Natál no Tinan Foun Kmanek!
Salamat Natal dan Bahagia Taon Baru!
Sugeng Natal lan Sugeng Warsa Enggal!
Merry Christmas and Happy New Year!
Joyeux Noël et bonne année!
¡Feliz Navidad y próspero año nuevo!
Feliz Natal e Feliz Ano Novo!
Buon Natale e felice anno nuovo!
Fröhliche Weihnachten und ein gutes neues Jahr!
Natale hilare et annum faustum!

Bonan Kristnaskon kaj feliĉan novan jaron!

.

Kupang-West Timor, 24-12-2009



Litani Penantian di Bait Puisi

Oleh: Yohanes Manhitu

“Maranatha!”

Dorongan hati ini tak dapat kukekang
untuk siulkan nada-nada pengharapan
akan sebuah negeri elok bebas nestapa,
akan satu bumi yang damai sejahtera,
akan bayi-bayi yang terlahir selamat,
akan kanak-kanak bebas tersenyum,
akan perempuan yang aman di rantau
akan rimba raya yang hilang berganti,
akan sawah-sawah tak pernah mandul,
akan kepala-kepala berpikiran Salomo
akan terompet perang yang membisu.

Dorongan hati ini tak dapat kukekang
untuk putar lembut kidung penantian
akan Sang Raja pembawa kedamaian:
damai bagi manusia, pria dan wanita,
damai bagi burung-burung di angkasa,
damai bagi tumbuhan di hamparan bumi,
damai bagi ikan-ikan yang mabuk minyak,
damai bagi kota-kota yang dihantui ledakan,
damai bagi dusun-dusun yang kian tergusur,
damai bagi kawanan ternak di sabana tipis,
damai bagi semua yang diciptakan-Nya.

Dorongan hati ini tak dapat kukekang
‘tuk coba luruskan lekukan jalan-jalanku
dan coba padamkan nyala obor kerapuhan
ketika tersiar berita akan datangnya Sang Raja
lewat corong di langit-langit rumah kudus-Nya,
lewat memori akan ulang tahun yang dinantikan,
lewat percakapan ibu-ibu di pojok toko swalayan,
lewat bujukan merayu dua bocah di toko pakaian,
lewat iklan-iklan Sinterklas yang janjikan diskon,
lewat tawaran kartu virtual di halaman website
pada awal bulan penutup segala bulan dilalui.
Datanglah, datanglah Raja Damai Terjanji!

Pugeran Timur-Yogyakarta
6 Desember 2004

Saturday, December 19, 2009

Ai-funan papél


Hosi: Yohanes Manhitu

Furak ema hetan iha fatin hotu,

hetan mós iha ai-funan papél,
ne’ebé ema halo ho liman rua,
lika-tuir ai-funan be naturál.

Furak mós ita hetan iha sasán falsu.
Se ita la hatene ne’ebé mak orijinál,
iha loron ohin ka aban-bainrua
buat-falsu sei parese naturál.

Noemuti-Timor, 13 novembru 2009
-----------------------------

Bunga kertas

Keindahan ada di mana-mana,

terdapat juga pada bunga kertas,
yang dibuat dengan kedua tangan,
dengan meniru bunga yang alami.

Keindahan pun ada pada benda palsu.
Jika kita tak kenali mana yang asli,
pada hari ini ataupun esok lusa,
kepalsuan bakal tampak alami.

Dansa

Hosi: Yohanes Manhitu

Ha’u la hatene bainhira hahú
kostume ida-ne’e iha ami-nia rai:
feto ho mane, ferik no klosan
kaer malu, la’o kapás tuir múzika.

Iha festa ida, han-hemu hamutuk,
inan-aman, maun-alin haksolok.
Festa sei fó ema lembransa furak
se múzika hakonu kalan naruk.

Ho dansa ema hakat ida tuir ritmu,
isin oin-ketak sai ida iha movimentu.
Se mundu hala’o folin di’ak ida-ne’e,
ema hotu sei bele moris iha dame.

Noemuti-Timor, 16 novembru 2009

---------------------------

Dansa

Aku tak tahu sejak kapan

kebiasaan ini bermula di tanah kami:

pria dan wanita, tua dan muda

bergandengan, melangkah indah dengan musik.


Pada suatu pesta, makan-minum bersama,

ayah-ibu, kakak-beradik bergembira.

Pesta akan memberi kenangan indah,

bila musik memenuhi malam panjang.

Dengan berdansa orang selangkah menurut irama,

tubuh tak sama menyatu dalam gerak.

Bila dunia mengamalkan nilai baik ini,

semua orang bakal hidup dalam damai.