Sunday, July 27, 2008

Hidup dengan Satu Bahasa Saja?

Oleh: YOHANES MANHITU

MASYARAKAT Indonesia dewasa ini pada umumnya bersifat dwibahasa (bilingual), artinya menggunakan dua buah bahasa secara bergantian dalam kehidupannnya sehari-hari. Barangkali di dalam keluarga, seseorang menggunakan bahasa daerah dan ketika berbicara dengan orang yang berlainan suku alias orang luar, ia menggunakan bahasa Indonesia. Tetapi, tidak sedikit orang yang hidup dengan satu bahasa saja sepanjang hayatnya. Pernahkan Anda membayangkan hidup sebagai seseorang yang ekabahasa (monolingual)? Bagi Anda yang sudah telanjur menjadi bilingual, tidak ada lagi kemungkinan untuk kembali menjadi monolingual, kecuali bahasa-bahasa yang lain dihapus dari otak. Di Indonesia, dewasa ini sudah banyak anak yang bilingual atau bahkan trilingual sejak masa kanak-kanak, tidak seperti kakek atau nenek mereka yang barangkali sepanjang hidup hanya mengenal bahasa daerah. Hal ini sangat mungkin apabila seorang anak memiliki orang tua yang berasal dari suatu suku dan kemudian tinggal di tempat lain sehingga si anak lahir dan tumbuh di sana. Jika mereka sepakat untuk mengajarkan bahasa ibu mereka ditambah dengan bahasa setempat dan bahasa nasional, si anak akan menjadi penutur tiga bahasa. Bahkan jika tak diajar secara langsung pun, dalam diri si anak akan tumbuh benih-benih poliglot (pengguna banyak bahasa) selama kedua orang tuanya terus-menerus menggunakan bahasa ibu mereka.

Di banyak negara maju, keekabahasaan (monolingualisme) bukan hal baru dan tidak menjadi masalah serius apabila bahasa yang digunakan adalah bahasa-bahasa mayor seperti bahasa Inggris atau bahasa Prancis karena keadaan tersebut tidak akan menghambat mereka untuk memperoleh informasi dan pengetahuan (modern). Hal ini sejajar dengan kondisi Indonesia yang hanya menggunakan bahasa Indonesia, tanpa memiliki kemampuan bahasa daerah atau pun bahasa asing. Tetapi akan lain ceritanya apabila bahasa yang digunakan secara monolingual adalah salah satu bahasa "minor" di Indonesia yang ruang lingkup penggunaannya (amat) sangat terbatas. Dapat dibayangkan betapa miskinnya akses informasi bagi kepentingan dan kemajuan hidup penutur tersebut. Tidak sekadar itu. Di Indonesia, umumnya orang-orang yang hanya menggunakan bahasa daerah – tanpa sedikit pun bahasa Indonesia atau bahasa asing – adalah orang-orang yang masih buta aksara alias tak bisa baca-tulis. Dan "monolingualisme lokal" identik dengan keterbelakangan dan kemiskinan, paling tidak pada tataran intelektual. Oleh karena itu, pemerintah perlu terus-menerus menggenjot usaha pemberantasan buta aksara guna mengikis kebutaaksaraan di tingkat masyarakat yang paling rendah. Namun, bila program ini sukses dan orang-orang belajar tersebut mulai dapat menggunakan bahasa Indonesia, maka dapat dipastikan bahwa jumlah orang yang monolingual akan berkurang. Sekali seseorang sanggup menggunakan bahasa kedua, dia tidak lagi menjadi monolingual, tetapi bilingual.

Terlepas dari kelemahan-kelemahan tersebut di atas, marilah kita secara sekilas melihat keunggulan-keunggulan yang terkandung dalam "monolingualisme lokal" ini. Seseorang yang monolingual biasanya merupakan pengguna intensif bahasa lokalnya karena tidak ada bahasa alternatif sebagai media ungkap. Dan bila orang tersebut berdiam di daerah yang sangat terpencil dan tidak memungkinkan kontak sosial dengan orang luar, kemurnian bahasanya relatif masih terjamin – belum tercemar oleh bahasa asing yang memungkinkan adanya bahasa gado-gado. Kondisi seperti ini sudah semakin berkurang pada zaman modern ini. Menurut hemat saya, keadaan ini menguntungkan para pemburu "bahasa perawan".

Pada zaman dahulu, keterbatasan akses informasi bagi seorang monolingual lokal mungkin tidak terasa. Namun, pada masa kini, ketika bahasa nasional dan bahasa "internasional" sudah merambah semua ranah kehidupan sosial, orang-orang yang monolingual merasa terdesak dan tersisih, bahkan kadang mereka menjadi rendah diri di tengah-tengah para penutur bilingual atau multilingual. Dapat dibayangkan betapa terasingnya seorang ibu yang mempunyai anak-anak yang semuanya berpendidikan (tinggi) dan cenderung menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa asing ketika berkumpul pada suatu acara keluarga. Menyadari keterbatasan seperti ini, banyak orang yang awalnya monolingual memotivasi diri untuk belajar bahasa kedua sehingga akhirnya menjadi bilingual juga. Kasus yang cukup menarik adalah di Timor-Leste. Di sana, jarang sekali ditemukan orang yang monolingual karena selain berbicara bahasa daerah, setiap orang bisa berbicara bahasa Tetun (agar bisa berbicara dengan orang dari suku lain). Dan mereka juga bisa bahasa Indonesia dan bahasa Portugis (paling kurang secara pasif). Maklum, negara ini mempunyai dua buah bahasa resmi (Tetun dan Portugis).

Melihat kenyataan ini, kita dapat memperkirakan bahwa globalisasi (bukan gombalisasi!) dan konsep dusun global akan secara perlahan namun pasti mengurangi jumlah penutur monolingual lokal di Indonesia dan juga di belahan bumi yang lain. Perkiraan ini tidak berlebihan karena generasi-generasi belakangan ini lebih banyak yang bilingual dan bahkan multilingual. Saya pikir, hal ini tidak perlu disesali apalagi ditangisi. Selama kita masih peduli terhadap bahasa-bahasa daerah kita yang memang terus-menerus memerlukan perhatian serius, terlebih pada masa sekarang, bilingualisme dan multilingualisme yang kita miliki justru akan menjadi teropong yang baik untuk mengamati secara akurat dan membantu pengembangan bahasa-bahasa daerah yang telah mengantarkan masyarakat kita ke pintu gerbang kemajuan. Ibarat bepergian dengan pesawat terbang, jangan kita membiarkan bahasa-bahasa daerah kita tinggal di landasan sedang kita secara acuh tak acuh tinggal landas dan lepas pergi.

Yogyakarta, 28 Juli 2008

No comments:

Post a Comment