Monday, October 27, 2014

"Omnia tempus habent" bagi yang terus berproses

Gambar: http://www.writebynight.net

Ada orang yang putus asa dan berhenti total menulis puisi karena setelah sekian lama, tak satu pun puisi karyanya berhasil diterbitkan di media massa, terutama koran. Melihat kenyataan ini, saya hanya bisa bertanya dalam hati, "Sebenarnya dia menulis puisi untuk apa? Menulis karena dia suka (menulis) puisi atau menulis sekadar untuk menerbitkannya?" Ini sama juga dengan orang yang putus asa menekuni sastra karena setelah sekian lama bersastra, ia tidak pernah diberi penghargaan. Mengharapkan perhargaan itu wajar dan manusiawi. Tetapi apabila belum layak untuk menerima penghargaan, harap sadar dan tidak usah paksa diri. Nanti malah terasa lucu dan menggelikan. Berpuisi, yang merupakan salah satu cara bersastra, adalah suatu modus untuk memahami dan melukiskan kehidupan. Mari terus berproses kreatif. "Omnia tempus habent" dan semuanya bakal ditambahkan seiring dengan waktu ke perbendaharaan orang-orang yang terus membuka ruang kreasi.

(Yohanes Manhitu, Yogyakarta, 26 Oktober 2014; dikutip dari status Facebook saya)

1 comment:

erni raster said...

setuju pak.. berkarya bukan untuk diberi penghargaan atau diakui keberadaannya, tapi berkarya karna masih diberi kehidupan dan menikmati setiap anugrah dalam hidup itu sendiri...