Friday, February 15, 2008

Rubrik “Tapaleuk”, Sebuah Konsistensi demi Konservasi

Oleh: YOHANES MANHITU*

KONSISTENSI dapat bermakna suatu wujud keseriusan dan bukti tanggung jawab yang tidak setengah hati. Dan ia tak akan pudar dalam perjalanan waktu apabila komitmen awal misi yang dijalankan senantiasa dipelihara dan diperbarui dari masa ke masa. Konsistensi tidak selamanya berhubungan dengan hal-hal yang besar dan “menghebohkan” saja; hal-hal yang mungkin tampak sepele bagi orang tertentu pun membutuhkan konsistensi demi keberlanjutannya. Sebagai contoh yang sederhana saja, akan terasa sangat janggal apabila kita menyebut seseorang itu humoris padahal ia hanya kebetulan berhumor sehari tetapi selanjutnya menjadi cemberut, acuh tak acuh, dan bahkan menjengkelkan.

Dalam kaitannya dengan konsistensi, khususnya demi pelestarian dan kelestarian bahasa Melayu Kupang (selanjutnya disebut bahasa Kupang dalam tulisan ini), saya memandang rubrik “Tapaleuk” (yang walaupun dalam bahasa Kupang berarti berjalan ke sana kemari tanpa arah dan tujuan yang jelas, tujuan rubrik ini sendiri jelas) sebagai salah satu bukti nyata. Mengapa? Karena sejak beberapa tahun silam, tatkala saya pertama kali menginjakkan kaki di Kota Kupang untuk menuntut ilmu di bangku kuliah, hingga saat ini, ketika saya tinggal di pulau lain karena suratan takdir, rublik “Tapaleuk” sudah ada dan tetap menjadi bagian integral dari Harian Pos Kupang. Siapa pun yang telah menggagas keberadaannya, patut diberi acungan dua jempol sekaligus. Yang menarik bagi saya dari rubrik ini adalah kemampuan para penulisnya untuk meramu berita aktual dalam nuansa lokal dengan humor yang bisa membuat pembaca tertawa terkekeh-kekeh. Tetapi sayangnya humor segar itu hanya akan dapat dinikmati dengan sempurna jika pembaca sungguh-sungguh merasakannya dalam bahasa Kupang. Jika tidak, ia terpaksa harus menunda tawanya hingga ia betul-betul mengerti maksud tulisan tersebut. Salah satu cara yang baik untuk menimbulkan efek tawa adalah membaca setiap kata dengan intonasi yang tepat dan penuh penghayatan. Keterlambatan untuk memahami seperti ini wajar sifatnya, karena tak selamanya sesuatu yang lucu dalam suatu budaya (baca: bahasa) dapat secara otomatis dirasakan oleh seseorang yang bukan penutur bahasa itu, termasuk mereka yang sudah belajar dan mampu menggunakan bahasa tersebut, namun belum sungguh-sungguh menangkap jiwanya (belum sungguh-sungguh menyatu). Dalam percakapan sehari-hari keterlambatan untuk mengerti suatu lelucon (juga hal lain) biasanya disebut “telmi” (singkatan dari “telat mikir”, terlambat berpikir).

Setelah menilik sepintas rubrik “Tapaleuk” di Harian Pos Kupang, orang mungkin akan tergelitik untuk bertanya, “Mengapa rublik dalam bahasa lokal kok digabungkan dengan tulisan-tulisan lain dalam bahasa Indonesia, yang bersifat resmi dan standar? Apakah tidak akan lebih baik membuat media berbahasa lokal yang memuat rubrik seperti ini?” Tentu ini pertanyaan yang mengandung gagasan bagus sekaligus menantang dan layak dihargai. Tetapi jika sejauh ini hubungan rubrik “Tapaleuk” yang berbahasa Kupang dan bagian lain yang berbahasa Indonesia akur-akur saja, maka tidak ada alasan untuk mempersoalkannya. Boleh saja kita berharap agar suatu hari nanti gagasan di atas bisa terwujud di bumi NTT yang sangat kaya akan bahasa Nusantara (daerah). Wallahualam!

Dalam praktik kehidupan sehari-hari, kadang-kadang kita masih memandang dengan sebelah mata hal-hal yang “berbau” lokal, seolah-olah segala sesuatu yang baik hanya ada dalam dan satu paket dengan hal-hal yang bersifat nasional dan internasional. Patut disadari bahwa setiap gerak maju sekaligus bisa merupakan kemunduran. Jadi kita bisa maju selangkah dan pada saat yang sama kita mundur dua langkah atau lebih. Dan kehadiran rublik “Tapaleuk”, walaupun belum merupakan solusi final, menunjukkan bahwa kita masih terus mengapresiasi hal-hal baik yang kita miliki sambil berusaha menimba dengan tekun yang positif dari tempat lain guna memperkaya milik kita sendiri. Sebagai orang yang melek sejarah, kita tentu tidak akan mengatakan bahwa bahasa yang digunakan dalam rubrik ini adalah bahasa Indonesia rusak atau hancur, karena kenyataannya bahasa Kupang dan bahasa Indonesia adalah dua bahasa yang berbeda (terpisah), namun bersaudara (sama-sama Melayu). Kemungkinan besar karena “persaudaraan” mereka itulah kita terkadang tanpa berpikir panjang terlanjur memvonis bahasa Kupang sebagai bahasa rusak dari bahasa Indonesia. Saya tidak tahu bagaimana perkembangan saat ini, semoga sudah jauh lebih baik, tetapi beberapa puluh tahun silam ada orang tua tertentu melarang anak-anak mereka menggunakan bahasa Kupang, karena khawatir bahwa bahasa Indonesia mereka akan “rusak” atau “hancur” gara-gara berbicara bahasa Kupang. Dapat diduga bahwa kelalaian kitalah yang menimbulkan “ketidaknyamanan” ini. Perbedaan antara bentuk ini hari (bahasa Kupang) dan hari ini (bahasa Indonesia) terbilang di antara pokok-pokok yang perlu disadari sejak dini. Di kemudian hari, ketika anak-anak mulai belajar bahasa Inggris, penting untuk membiasakan mereka menggunakan frasa-frasa yang sederhana dengan tepat, misalnya padanan frasa this book dalam bahasa Kupang adalah ini buku dan dalam bahasa Indonesia adalah buku ini. Hal ini penting untuk mencegah kebingungan bahasa sejak dini. Semoga perbedaan-perbedaan seperti ini dapat diperjelas oleh rubrik “Tapaleuk” dan juga karya lain yang lebih serius dan memiliki “otoritas”, seperti Tuhan Allah Pung Janji Baru (Alkitab Perjanjian Baru dalam bahasa Kupang) yang sudah diluncurkan pada tanggal 7 September 2007. Yang terakhir ini adalah suatu karya besar yang patut disambut dengan gembira dan dapat dibaca sebagai kitab suci sekaligus referensi sastra tulis bahasa Kupang.

Sehubungan dengan apa yang telah disinggung di atas bahwa bahasa Kupang berbeda dari bahasa Indonesia dan secara historis sudah ada di Kupang dan sekitarnya sebelum bahasa Indonesia yang kita cintai ini lahir, baik de facto maupun de jure, saya ingin mengutip secara langsung beberapa baris kalimat dari buku Malay, World Language: a short history (Bahasa Melayu, Bahasa Dunia: Sejarah Singkat) karya James T. Collins yang diterjemahkan oleh Alma Evita Almanar dan diterbitkan Penerbit Obor (2005:89). Kutipan tersebut adalah sebagai berikut, “Pada tahun 1857, Alfred R. Wallace yang terkenal sebagai pemula life science dan teori evolusi terlibat dalam suatu percakapan ilmiah dengan menggunakan bahasa Melayu. Di tempat terpencil di Kupang, Timor, dia dan seorang pejabat kesehatan Jerman, Dr. Arndt. Pada mulanya (mereka) mengadakan pembicaraan dalam bahasa Prancis, namun tidak lama kemudian segera beralih memakai bahasa Melayu dan berbincang-bincang lama serta berdiskusi tentang sastra dan pertanyaan-pertanyaan ilmiah dan filsafat.” Berdasarkan kutipan langsung ini, hampir dapat dipastikan bahwa dialek Melayu yang digunakan Wallace dan Arndt adalah dialek Melayu Kupang, atau setidak-tidaknya bercampur dengan dialek ini walaupun mungkin yang digunakan adalah bahasa Melayu Tinggi (moyang bahasa Indonesia). Sayangnya tidak tersedia salinan percakapan yang dapat digunakan untuk membuktikan kebenaran hal ini. Namun terlepas dari benar atau tidaknya kedua ahli di atas menggunakan dialek Melayu Kupang dalam diskusi mereka, bahasa Kupang sudah lama memainkan peranan penting dalam kehidupan masyarakat Kupang dan sekitarnya, dan rubrik “Tapaleuk” serta tulisan-tulisan lain, baik yang sudah ada sebelumnya maupun yang akan datang, yang bersifat religius dan sekuler, melanjutkan suatu tradisi yang tak bisa dipandang remeh.

Akhirnya, saya berharap agar rublik kecil ini bisa tetap hadir dan senantiasa menjadi oasis yang tak kunjung kering bagi gagasan-gagasan dalam bahasa Kupang yang kental. Soal ukuran tidaklah serius asal tetap bermanfaat (biar sadiki sayur marungga, bisa bagi dengan tetangga). Adalah penting untuk banyak menulis dalam bahasa lain tentang suatu bahasa, tetapi kiranya jauh lebih penting untuk kemudian menulis dalam bahasa itu sendiri agar ia tetap lestari dalam kata-kata yang menari. Dan semoga rubrik “Tapaleuk” yang saat ini sudah hadir secara aktif di dunia maya bisa tetap mempertahankan hal ini..

-------------------------------------------
* Penulis adalah peminat dan pegiat bahasa dan sastra, tinggal di Yogyakarta

1 comment:

*Na*Ra (Natasha & Raynaldi ) said...

Terima kasih atas komentar Anda di Blog saya. terus terang puisi terjemahan Anda membantu saya dalam mengajarkan Sastra di sekolah.Ada lagi kesulitan saya, yaitu naskah drama terjemahan. bisakah Anda menuliskan drama terjemahan agar bisa saya jadikan referensi dalam mengajar.